
Setelah selesai belajar, bel sekolah akhirnya berbunyi. Semua anak murid berlarian ke sana ke mari untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Begitupun dengan Nanda dan kawan-kawan nya.
"Ndak gue duluan yah, " ucap Dinda.
"Iya... " sahut Nanda dan Rara.
"Enak yah yang udah punya pacar, bisa di anterin di jemput, " sahut Rara iri.
"Woy, kalian berdua... " ucap Agung menepuk punggung Nanda.
"Keterlaluan banget lu, mukul punggung orang, " sahut Marcell.
"Oh iya maaf.... maaf yah nyonya Alfatizky... " sahut Agung.
"Kebiasaan... " gumam Nanda.
"Lu pulang sama siapa ra?" tanya Lukman
"Biasa naik angkot, " jawab Rara.
"Kenapa gak bareng sama Agung aja, kan kalian satu jalan, " sahut Ihsan.
"Nah iya bener, sekalian aja lagian rumah Rara kan di deket jalan, " sahut Lukman.
Agung hanya diam saja mendengar semuanya. Rara tak peduli dengan ucapan semua orang yang ada di samping nya itu.
Marcell berjalan lebih dulu menyusul Nanda. Nanda menyadari kalo Marcell sekarang ada di samping nya, mereka berjalan bersama tanpa ada yang mengganggu.
"Gue duluan, " sahut Agung berjalan menjauh.
"Lah kenapa tuh anak, gak kayak biasanya, " sahut Ihsan.
"Kayaknya lagi bete, " sahut Lukman.
Kenapa sih dia? Biasanya suka ngajak bareng kan lumayan gue irit ongkos, - batin Rara.
Nanda memutar badannya dan menghadap ke arah Rara. "Lu jangan berharap ra, " sahut Nanda.
Rara melirik, "Gue? Berharap sama anak baby? Gak, " sahut Rara.
"Eeeaaa.... anak baby, " sahut Lukman.
"Udah ada panggilan masing-masing nih.. " sahut Ihsan.
"Kalian berdua kalo gak ada kerjaan mending tunguin gue sampe dapet angkot, " sahut Rara.
"Gue sibuk, gue duluan, " sahut Lukman.
"Bilang aja gak mau, " sahut Rara.
"Kalo gue ada kerkom sekarang, " sahut Ihsan.
"Sama siapa?" tanya Nanda.
"Sama Citra, " jawab Ihsan.
"Oh si wakil OSIS itu... " sahut Nanda tau.
"Lu kenal sama Citra?" tanya Marcell.
"Yah taulah kan rumah dia deket sama rumah gue, bersebrangan, " jawab Nanda.
Setelah mereka sampai di parkiran Nanda masuk ke dalam mobil Marcell disusul oleh Marcell sendiri, sedangkan Rara meminjam motor Nanda yang terparkir di dekat pos.
"Nanda... gue duluan yah, makasih udah mau minjemin gue motor lu, " sahut Rara.
Nanda membuka kaca mobil, "Iya sama-sama nanti ku harus balikin yah, " sahut Nanda.
"Iya tenang aja... "
"Sama jangan lupa, lu isiin bensin nya, " sahut Nanda menutup kaca mobil segera.
"Eh buset... gue minjem gue juga yang harus isiin bensin, " sahut Rara kesal.
Tapi apa boleh buat, karena Nanda yang sudah meminjamkan motornya untuk Rara agar tak telat pulang dia harus mengisinya.
.
.
.
.
.
Di mobil hanya terdapat kesunyian tak ada yang mulai berbicara atau bertanya. Nanda yang sudah mulai bosan, mulai menyalakan musik Bolbbagan4 lagu kesukaan Nanda.
Marcell hanya melirik dan menikmati, "Lu suka lagu ini?" tanya Marcell.
"Iya... lumayan suka lah, " jawab Nanda.
Nanda melihat ada yang menjual odading-cakue.
"Cell berhenti cell!!" teriak Nanda.
Dengan cepat Marcell mengerem mendadak dan membuat tubuh mereka terdorong ke depan untung saja mereka memaki sabuk pengaman.
Nanda dengan cepat membuka pintu mobil dan berlari ke penjual odading-cakue.
"Kenapa lu teri--ak, "
Marcell melihat Nanda dari kaca spion nya sedang membeli sesuatu.
Nanda dengan cepat kembali ke mobil, di tangannya terdapat kantung plastik berwarna putih.
"Beli apaan sampe bikin kita hampir kecelakaan?" tanya Marcell.
Nanda memberikan salah satu kantung plastik itu kepada Marcell, dia menerima nya dengan tangan terbuka.
"Jangan jalan dulu, mending makan, " sahut Nanda.
"Mending dibawa pulang, " sahut Marcell.
"Jangan, enakan makan di sini, buka dong jendela atas biar ada angin masuk, " sahut Nanda.
Marcell membuka jendela atas mobilnya, dan melihat Nanda yang sedang menikmati makanannya. Marcell membuka kantung plastik itu dan mulai memakannya bersama.
"Gimana enak kan?" tanya Nanda
"Mm, lumayan, "
"Jangan bilang lumayan dong nanti ketagihan, "
"Terus gue harus bilang enak banget gitu?"
Nanda mengangguk pelan, "Beli minum gih gue haus, " sahut Nanda.
Marcell keluar dari mobil dan membeli minuman di pinggir jalan. Dan kembali masuk kedalam mobil, memberikan minuman itu kepada Nanda.
"Cell.... lu kan jago Fisika, "
"Mm... terus?"
"Lu ajarin gue Fisika dong, masa gue terus-terusan dapet nilai 80 mulu... bosen gue, "
"Dapet 80 itu udah lumayan, emang lu mau dapet nilai berapa?"
"90 kek atau kalo bisa 100 , " sahut Nanda cengengesan.
"Gue aja Fisika dapet 98 ... "
"Lah enak anj*rr, lu dapet 98 masa gue 80, gak adill, "
"Adill lah... orang lu kurang ngerti soal Fisika, "
"Noo... pokoknya gue harus dapet nilai 100 harus lebih dari elu... valid no debat, "
Marcell hanya tersenyum mendengar nya, "Mau kapan belajar nya?" tanya Marcell.
"Kalo lu ada masa luang, yak datang aja ke rumah gue, "
"Gue mah selalu ada waktu luang, "
"Waktu luang nya gue isi yak boleh gak?"
"Mau di isi sama apa?" tanya Marcell
"Sama perasaan cinta gue ke elu... " jawab Nanda tertawa.
"Anj*rr... " gumam Marcell memalingkan wajahnya je luar jendela.
"Ahhh... jangan baper lah bambang, " sahut Nanda mencolek tangan Marcell.
"Jangan colek-colek belum halal, " sahut Marcell melajukan mobilnya.
"Apa aja yang gak boleh di lakuin kalo belum halal? Satu?"
"Gak boleh pegang-pegang, "
"Lu tadi pagi gendong gue, berarti lu megang gue dong, Dua?"
"Gak boleh saling memandang, kalo udah sah gak papa, "
"Waktu gue nginep di rumah lu, lu mandang gue lama kan, Tiga?"
"Gak boleh berduaan, "
"Kan ini kita lagi berdua, "
Marcell melihat kebelakang, "Dibelakang setan, "
Nanda tertawa bersama Marcell, mereka bercanda bersama bahkan Nanda terkadang menyuapi Marcell dengan tangannya.
Nanda keluar dari mobil Marcell, "Hati-hati dijalan cell, " sahut Nanda.
"Iya... " sahut Marcell.
"Jangan lupa makan odading-cakue nya.. " sahut Nanda.
"Iya... pasti gue makan kok, " sahut Marcell.
Nanda melambaikan tangan nya ke arah mobil Marcell, dia melihat mobil itu sudah semakin menjauh.
Lalu Nanda masuk ke dalam dia melihat orangtuanya sedang mengintip di jendela.
"Mamah sama Ayah lagi ngapain disitu?" tanya Nanda.
"Yahh.. ketahuan.. "
Orangtua Nanda menghampiri Nanda.
"Anak mamah udah gede... " ucap mamah mengelus rambut putrinya.
"Bentar lagi kita bakal dapet cucu yang cantik/ganteng, " sahut Ayah senang.
"Apaan si yah, orang cuma dianter doang kok sama Marcell gak lebih, "
Nanda berjalan menuju tangga dan merebahkan tubuhnya di atas kasur, rebahan adalah hal yang paling menyenangkan di kehidupan Nanda saat ini.
Nanda dengan segera mandi dan mengganti baju menggunakan baju tidurnya. Dia berjalan ke bawah untuk ikut makan malam bersama keluarga.
"Oh iya kak, Betly sama Firza pulang 2 hari lagi, " ucap mamah.
"Uhuuk... uhukk.. "
Ayah dengan cepat memberikan minum kepada Nanda.
"Makasih yah, "
"Gimana udah enakan?" tanya mamah khawatir.
"I-iya udah kok, " sahut Nanda.
"Mah kok mereka pulang cepet banget?" tanya Nanda.
"Apa maksud kamu, kan sekarang udah tanggal 10 masa kamu lupa, " sahut mamah.
"I-iya aku lupa, soalnya aku gak pernah liat tanggal, " sahut Nanda.
"Ayah sama mamah mau ngasih tau orangtua Marcell, " sahut Ayah.
Nanda semakin bingung, bagaimana kalo mereka akan mempercepat pernikahan mereka berdua.
"Ayah aku belum siap untuk menikah, " sahut Nanda seraya berdiri.
"Apa maksud kamu? kamu udah nerima lamaran nya kan jangan di gugat lagi dong, " sahut mamah.
"Ayah gak mau tau, kalian berdua harus menikah valid no debat, " sahut Ayah.
"Ishh... Ayah nurutin kata-kata aku... huuh.. " sahut Nanda.
"Makasih atas makanannya. Aku mau belajar, " sahut Nanda berjalan pergi.
Orang tua Nanda tak tega jika harus menikahkan Nanda secerah paksa seperti ini, tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa karena ini adalah wasiat dari kakek Nanda, ayah dari mamah Nanda.
"Ayah..... "
"Udah jangan di pikirin lagi.... Karna sebentar lagi ayah.... "
"Gimana soal pernikahan Betly?"
"Keluarga nya udah setuju, jadi kita bisa tenang, "
"Iya bagus lah, kalo siap Firza kita harus gimana?" tanya mamah.
"Kalo soal itu... Ayah belum nyari yang cocok sama yang Firza mau.. " jawab Ayah lesu.
.
.
.
.
.
Nanda segera menaiki tangga dengan langkah kasarnya. Dan mengunci pintu.
"Heeuuuh, kenapa harus pulang sekarang sih.... " ucap Nanda kesal.
Nanda mengambil bantal dan melempar nya ke lantai dengan keras. Nanda rebahan di kasurnya dan memukul-mukul kasurnya.
"Ihhhhh...... sebeell!!" jerit Nanda.
Ting....
Nanda melihat ponselnya, ada sebuah notifikasi di ponselnya. Nanda melihat ternyata itu adalah Marcell.
**Marcell
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Marcell**
Ndak, lu tau gak?
^^^Nanda^^^
^^^Gak^^^
Marcell
Adik-adik lu kok mau pulang sih? perasaan 3 bulan lagi mereka pulang kenapa pulang minggu sekarang?
^^^Nanda^^^
^^^3 bulan pala lu peang^^^
Marcell
Gue serius!!
^^^Nanda^^^
Gue juga serius, makanya jangan suka clear grup!!
Marcell
Yak maaf, jadi ini bener?
^^^Nanda^^^
^^^Iya bener, gue juga kaget dengernya.. ^^^
Marcell
Lu udah siap?!
^^^Nanda^^^
^^^Kalo soal itu..... 🙁^^^
Marcell
Tenang, nanti kalo tidur bersama gue gak akan berani nyentuh lu kok😏
^^^Nanda^^^
^^^Ketikan yang tak meyakinkan... ^^^
Marcell
Heheheh😅
Setelah chatan dengan Marcell, Nanda sudah merasa lega.
Gue masih belum yakin, kalo lu bakal ngejagain gue cell, - batin Nanda masih belum yakin
"Kalo emang lu bisa ngejagain gue- bakal nganggap kalo lu itu suami gue nantinya... " gumam Nanda.
Nanda menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
Tok... tok... tok...
"Iya masuk... "
"Nanda... mamah minta maaf kalo soal barusan, "
"Gak papa kok mah, aku ngerti... "
"Kamu udah siap buat nerima Marcell apa adanya?"
Aduuhh maahh Marcell itu kan kayak, anak Sultan aku bisa beli apa aja, tinggal gesek kartu doang... - batin Nanda tersenyum sendiri
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Mamah.
"Gak papa kok mah, aku baik, " jawab Nanda.
"Mamah keluar dulu yah... Kamu sana tidur... besok kamu harus sekolah, " sahut Mamah seraya berdiri dari kasur dan menutup pintu.
Nanda segera mematikan lampu dan tidur di tengah malam yang dingin hanya sinar sang rembulan yang mau menerangi kamar Nanda yang gelap.