My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Tidur di luar



Nanda masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Dan terduduk di bawah, masih dengan rasa kesal kepada Marcell yang telah mengotori dan berusaha membuang boneka kesayangan nya itu.


"Jahad banget sih lu cell... gak cukup apa emang setiap malem lu suka meluk gue, " ucap Nanda dengan suara kecil.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu sampai Nanda kaget sendiri.


Tok... tok... tok...


"Nanda... dengerin gue dulu, " ucap Marcell dari luar.


Nanti hanya bisa diam, saat ini dia sedang tidak mau mendengar kan apa pun, apa lagi masalah boneka ini... menurut kalian emang ini masalah sepele tapi tetep aja, barang yang kita sayang, gak mau kehilangan tiba-tiba ada orang yang mau ngilangin barang itu dan yang lebih parah nya lagi mau di buang.


Masih untung, boneka monyet Nanda ada di atas pohon mangga, jadi penunggu. Jadi bisa ketahuan sama orang kalau ada yang manjat.


Di luar sana, Marcell masih dengan mengetuk pintu tapi Nanda merasa bodoamat dan masih dengan perasaan yang sama.


"Gue benci sama lu cell, " gumam Nanda.


"Nanda.. sayang... jangan benci Aa Marcell atuh, " sahut Marcell.


Mata Nanda melotot. "Dia bisa denger gumaman gue?" gumam Nanda.


"Nanda... plis maafin gue.. gue bisa jelasin, " sahut Marcell menempelkan pipi nya di pintu.


Jelasin jelasin, pasti jelasin nya gak jelas, terus nanti banyak alasan ini ituu... - batin Nanda sudah bisa menebak.


"Ndak, plis jangan gitu lah.. " ucap Marcell masih berusaha membujuk Nanda.


"Tidur di luar, " teriak Nanda tiba-tiba.


Mendengar tidur di luar seketika Marcell membuka pintu kamar dengan paksa. Nanda yang ada di dalam kamar, mendorong pintu agar tak bisa di buka.


"Nandaaa.. " teriak Marcell sambil berusaha membuka pintu.


"Amit-amit tujuh keturunan... lu jangan sampe ngerusak nih pintu, kalo engga kita tauran!" ancam Nanda.


Pintu pun berhenti terdorong. Nanda yang sudah berhenti menahan, menempelkan telinga di pintu untuk mendengar suara.


"Kayaknya tuh anak udah gak ada, " gumam Nanda.


Nanda pun membuka pintu perlahan, saat mengintip tak ada seorang pun yang ada di depan pintu. Saat Nanda keluar tiba-tiba ada yang memeluk nya dari belakang.


"Marcell?" gumam Nanda.


"Maafin gue, gue gak sengaja, " ucap Marcell dengan lembut di telinga Nanda.


"Yah lagian apa sih masalah lu sampe boneka gue di simpen di atas pohon? mana di pohon mangga lagi, " sahut Nanda.


"Yahh.. awalnya gue mau buang tuh boneka tapi karena kita langsung main pergi ke Bandung, ujung-ujungnya gue lupa kalo naro boneka lu di pohon mangga, " sahut Marcell.


Nanda menarik napas panjang. "Intinya gue gak mau... lu... tidur di luar, "


"Eh tap--"


"Titik, gak ada koma, " potong Nanda tegas dengan mata melotot ke arah Marcell.


Nanda kemudian turun untuk melihat boneka nya. "Aduh... pake tidur di luar segala... masa iya peluk guling, mendingan meluk guling idup dari pada meluk guling biasa, " gumam Marcell kesal.


"Semua nya gara-gara si supri, boneka sialan itu, " gumam Marcell geram.


Di luar rumah. Bu Sri masih mencuci boneka itu dan di bantu oleh pak wawat. Sedangkan Pak Toni dan Ayah sudah pergi lagi, tadi pulang cuma ngambil berkas yang ketinggalan aja.


"Itu bisa bersih gak bi?" tanya Nanda.


"Kayaknya gak bisa deh non, saya udah sikat beberapa kali pun kotorannya gak mau ilang, " sahut bi Sri.


"Oalah gitu ya.. ya udah deh buang aja, " sahut Nanda pasrah.


"Iya non, " sahut Pak wawat dan Bu Sri barengan.


"Kalo bisa bersih, saya mau kasih aja ke anak jalanan atau yatim piatu kan lumayan... tapi.. ya udah deh nanti aja, " sahut Nanda termenung.


Tak lama Marcell datang sambil membawa kunci mobil nya. "Ndak.. lets go.. kita pergi ke mall, " sahut Marcell.


"Gak mau, gue lagi males pergi-pergi, " sahut Nanda menolak.


Merasa sakit hati, Marcell menghampiri Nanda dan menarik tangan nya. "Ayoo sebentar, gue mau kasih lu suprise, " sahut Marcell.


"Enggak, " sahut Nanda menarik kembali tangan nya.


"Sebentar, "


"Enggak, "


"Lima menit pala kau peang, dari sini ke mall itu butuh waktu sekiranya 10 menit, " sahut Nanda.


"Ya sebentar aja.. gak sampe mall ini.. ada lah di pinggir pinggir jalan gitu, "


"Panas, "


"Bawa payung "


"Ogah ribet, "


Bener-bener gue punya istri, susah banget di bujuk nya, mentang-mentang lagi hamil, - batin Marcell.


Masih berusaha membujuk Nanda untuk ikut bersama nya. Sampai-sampai Marcell berjanji akan membawa Nanda ke luar negeri bersama nya.


"Gak! gue lagi gak mau kemana-mana, titik, no debat!" ucap Nanda tegas.


"Hei, seb--"


Sebelum Marcell bisa menyelesaikan ucapan nya jari Nanda sudah menempel di bibir nya untuk menghentikan Marcell berbicara.


"Syuutt, gue lagi mau kemana-mana cell... tolong peka dikit, " bisik Nanda.


Marcell akhirnya paham dan hanya mengangguk untuk menanggapi ucapan Nanda barusan.


Saat telunjuk Nanda lepas dari bibir Marcell, Nanda langsung saja berjalan ke rumah. Dan untuk Marcell....


"Heh, lu boneka sialan... gak abis-abis nya lu ngancurin mood istri gue, " ucap Marcell kepada boneka.


Boneka itu hanya diam. Marcell kemudian menendang boneka itu dan berjalan pergi.


Pak wawat dan Bi Sri yang menyaksikan Marcell dari jarak aman, sudah bisa dibilang kalo Aden Marcell udah gila.


Setelah itu, Bi Sri dan Pak wawat mengeluarkan boneka buduk itu dan memasukkan nya ke truk sampah yang kebetulan lewat.


.


.


.


.


.


Di dalam rumah.


"Nanda... bisa bantu bunda sebentar?" tanya Bunda dari dapur.


"Iya bun, " sahut Nanda yang baru saja masuk.


Untungnya saat Nanda masuk bunda manggil kalo engga wah bisa-bisa nyawa terancam lagi.


Nanda berjalan ke arah dapur. "Iya bun?" tanya Nanda.


"Bisa tolong potong-potong bawang sayang? bunda lagi masak sayur buat makan siang sama makan malam nanti, " sahut Bunda melihat sekilas ke arah Nanda.


"Bisa bun.. butuh berapa bawang putih?"


"Tiga aja cukup, "


"Kalo bawang merah?"


"Empat aja deh, jangan lupa kasih kunyit, "


"Ini buat ayam ya?" tanya Nanda.


"Iya.. kok kamu tau?" tanya balik Bunda.


"Biasalah bun, aku kan sering bantuin mama masak di dapur, "


"Oh.. bagus lah jadi bunda gak usah khawatir sama keadaan Marcell, "


"Maksud bunda?" tanya Nanda tak paham.


"iya bunda khawatir Marcell gan di kasih makan, bunda takut kamu masih belum bisa masak, jadi kalo mau makan beli beli beli aja, " jawab Bunda kemudian tersenyum.


"Yah enggak lah bun.. aku sering kok di dapur masak ini itu buat Marcell... kalo engga percaya tanya aja sama Marcell nya sendiri, "


"Gak usah... bunda udah percaya sama kamu kok ndak, " sahut Bunda.


Mereka berdua asik mengobrol di dapur sambil masak. Marcell yang kebetulan lewat hanya melihat dan tersenyum melihat menantu dan mertua akrab.