My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Mila?



Jam istirahat pertama telah berbunyi, semua anak murid sekolah Payudira keluar dari kelas menuju kantin.


Begitupun dengan Nanda dkk sedang menuju kantin. Saat mereka lorong banyak rombongan yang sedang bergosip.


Rara yang mulai kepo mulai bertanya kepada salah satu siswa yang ada di sana.


"Maaf, ini ada apa yak? Kok malah berkumpul kayak gini? " tanya Rara.


"Ini kak, ada kak Mila, bukannya dia udah keluar dari sekolah ini yak? "


Rara yang mendengar nya pun kaget dan segera menghampiri Nanda dan Dinda.


"Apa katanya? " tanya Dinda.


"Mila, " sahut Rara.


"Mila? Siapa Mila? " tanya Nanda.


"Aahh pura-pura gak tau lu... Itu Mila.... Aduh siapa yak gue lupa nama panjang nya... " sahut Rara menggaruk kepala nya yang tak gatal.


"Sama aja lu... " sahut Dinda.


Nanda melihat seorang gadis yang berjalan ke arah nya sambil membawa tas di tangannya, rambut dia berwarna merah dan wajah yang tampak glowing.


Nanda hanya melihat gadis itu melewati nya begitu saja. Dan seketika Nanda mulai tersadar kalo itu adalah Mila Jesika Ryan.


"Mila... " panggil Nanda.


Mila berbalik dan menghadap Nanda.


"Apa? " tanya Mila.


Mereka saling menatap tanpa berkedip, banyak siswa-siswi yang melihat mereka. Mereka tau kalo Mila itu sangat benci kepada Nanda yang sudah merebut Marcell dari nya.


Dinda dan Rara menghampiri Nanda agar tak terjadi apa-apa.


Nanda tersenyum, "Apa kabar lu? Baru masuk sekolah sekarang, " sahut Nanda.


"Gue baik, " sahut Mila memeluk Nanda.


"HAH?!!!"


Satu sekolah kaget melihat pemandangan ini terutama Rara dan Dinda.


"Din.. Gue ada di dunia mana din? " tanya Rara kaget setengah mati.


"Lu ada di planet pluto... " Sahut Dinda, matanya tak beralih dari Nanda dan Mila yang masih berpelukan.


"Gue salah masuk dunia... " ucap Rara semakin ngaco.


Dan tak lama Mila melepaskan pelukan mereka dan berjalan pergi.


Nanda berbalik dan menggandeng tangan kedua sahabat nya itu menuju kantin.


"Yuk put... " ajak Nanda.


Putri berjalan bersama Nanda, Rara dan Dinda masih kaget tak percaya dan berusaha menerima semua adegan barusan.


"Siapa dia ndak? " tanya Putri.


"Oh yang tadi itu temen gue... " Jawab Nanda santai.


"What.... Temen? Sejak kapan? " gumam Rara.


"Barusan... Lu gak liat, gue pelukan sama Mila... " sahut Nanda.


Dinda mempercepat jalannya dan menghadap Nanda.


"Tangan gue ada berapa? " tanya Dinda.


"Lima, " jawab Nanda.


Dinda memegang kening Nanda memeriksa apa dia sakit apa engga.


"Lu sehat ndak? " tanya Dinda.


"Gue sehat... Udah jangan banyak drama lagi, tuh ayank gue udah nunggu di kantin.. " sahut Nanda jalan duluan.


"Din... Lu denger gak tadi Nanda bilang apa? " tanya Rara.


"Katanya ayank dia udah nunggu di kantin, " jawab Dinda.


"Bukan itu.... " teriak Rara.


"Yak gak usah teriak juga... Ntar lama-lama telinga gue rusak, gendang telinga nya... " sahut Dinda menutupi telinganya.


"Mana Putri? Mana Putri?" tanya Rara celingak-celinguk .


"Dia udah duluan sama Nanda... Udah ayok... Nanti ayank gue marah lagi... " sahut Dinda menarik tangan Rara.


Rara hanya bisa pasrah tangannya di tarik oleh Dinda sampai kantin, bahkan sampai meja Nanda dkk.


Di kantin.


"Sorry, gue telat... " sahut Dinda duduk di samping Angga.


"Gak papa... Kok tumben kamu telat datang, biasanya juga kamu duluan yang datang, " sahut Angga.


"Jangan salahin aku... Tuh salahin aja pacarnya Agung... " tunjuk Dinda.


"Kenapa sama pacar gue?" tanya Agung baru datang.


"Tanya aja sendiri sama orang nya.. " sahut Dinda.


"Mm.. Nanti aja lah, dia lagi ngehalu, " sahut Agung.


Rara memukul tangan Agung pelan, "Gue gak ngehalu... Gak guna gue ngehalu kalo gue sendiri udah punya pacar... " sahut Rara tersadar.


"Eh... Cell gue tadi ketemu sama Mila..." sahut Lukman.


"Teruss?" tanya Marcell dingin.


"Apa maksud lu gue kena? " tanya Nanda yang baru datang sambil membawa nampan di tangannya.


"Itu... Barusan gue liat Mila... " sahut Lukman.


"Terus? Gue harus apa?" tanya Nanda tak peduli.


"Lah kok terus? Yak Marcell harus sewa bodyguard lah... " sahut Lukman.


"Gak usah khawatir, gue gak usah sewa-sewaan bodyguard segala.... " sahut Marcell.


"Lah napa gitu? " tanya Putri.


"Nih istri gue kalo udah ngamok gak bisa di apa-apain.. " sahut Marcell.


"Mm... Oke lah, tapi awas aja kalo sampe terjadi apa-apa sama Nanda, lu harus tanggungjawab... " sahut Lukman.


"Mau terjadi apa-apa sama Nanda juga dia selalu bertanggungjawab, apa lagi kalo sampe Nanda hamil... " sahut Agung.


"Prasetan kau... " sahut Nanda melempar plastik permen ke muka Agung.


"Eeiitt gak kena... " sahut Agung berhasil menghindar.


"Btw, kalian berdua gimana malem?" tanya Angga.


"Oh iya... Gimana malem udah masuk ronde berapa?" tanya Ihsan.


"Ronde?" tanya Marcell polos.


"Itu ronde, buat punya anak, " cibir Ihsan.


Bruuk...


Tiba-tiba kursi Ihsan terjatuh dan Angga dkk tertawa melihat nya.


"Kenapa lu? Kurang keseimbangan tubuh?" tanya Marcell Lukman.


"Entah lah... gue tiba-tiba jatuh... gak tau kenapa, " sahut Ihsan bangun.


"Tuh kaki Nanda yang buat lu jatuh, " sahut Putri.


"Yaelah elu Ndak... jahat amat sama gue, sampe gue jatuh.... " sahut Ihsan.


"Bodoamat... makanya jangan suka ngomong sembarangan... " sahut Nanda.


"Yak maaf... lagian gue gak sabar pengen cepet-cepet punya ponakan, " sahut Ihsan.


Rara ingin bertanya pada Nanda, tapi karena masih ada Marcell jadi nanti lagi. Saat Marcell pergi untuk membeli jajanan yang lain, Rara mulai mendekat.


"Ndak... lu mau bolos apa engga sekarang?" bisik Rara.


"Emang sekarang pelajaran apa?" tanya Nanda.


"Sekarang pelajaran matematika, " sahut Rara.


"Bolos aja bolos... syuutt... " bisik Nanda.


"Oh oke oke... " sahut Rara kembali ke tempat duduknya.


"Bisik-bisik apa tadi?" tanya Agung.


"Bukan apa-apa... gak usah kepo, " sahut Rara.


"Ohh lu mau bolos yak sama Nanda... " tebak Agung. benar.


"Enggak, kata siapa? Gue ngajak Nanda ke toilet buat pake lipstik gue yang baru beli kemarin malam, " sahut Rara.


"Oh... " sahut Agung percaya.


Mau aja lu percaya sama omongan gue... - batin Rara.


"Yuk pulang, gue udah kenyang, " sahut Lukman.


"Iyalah kenyang, gue yang traktir... " sahut Nanda.


"Hehehe... sesekali traktir anak mu ini... " sahut Lukman.


"Sejak kapan gue punya anak kayak elu?" tanya Nanda.


"Sejak mami dan papi berciuman di cafe... " sahut Lukman


"Bisa diem gak lu... lama-lama tuh bibir gue tampol pake pohon bambu... " sahut Nanda.


"Yak maaf, " sahut Lukman.


Nanda dkk berjalan keluar kantin, dan tak sengaja berpapasan dengan Mila dkk. Nanda berhenti begitupun dengan Mila.


"Lu udah selesai makan ndak?" tanya Mila.


"Udah.. lu mau ke kantin ya? Tumben, " sahut Nanda.


"Iya soalnya caca katanya pengen ke kantin... jadi yak gue ikut, " sahut Mila.


"Oh yak udah kalo gitu... gue duluan, " sahut Nanda.


"Oke... " sahut Mila.


Lah tumben gak ada perang? - batin Lukman merasa aneh.


Kok bisa gini yak? Bisanya juga terjadi petang dunia ke 2 kalo mereka ketemu... - batin Agung.


Tumben akrab, - batin Angga.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mila Jesika Ryan