
Selama di angkot Nanda hanya manyun bebek. Rara dan Putri hanya terdiam dan asik dengan jalanan yang mereka lewati.
"Kiri.. " ucap Nanda.
"Gue duluan.. " sahut Nanda
"Iya.. ati-ati... " sahut Putri.
Di angkot hanya ada Putri karena Rara sudah turun dari tadi.
Nanda turun dari angkot dan memberikan uang pada pak supir. Setelah itu Nanda berjalan santai menikmati indahnya senja di sore hari.
"Ahh... Marcell bikin gue kesel aja... awas aja nanti kalo pulang, " gumam Nanda kesal
Sampai di depan gerbang rumah Marcell, hanya ada pak satpam yang sedang berjaga.
"Pak buka, " ucap Nanda.
Pak satpam dengan cepat membuka pintu gerbang dan mempersilahkan masuk.
"Silahkan non.. " sahut Pak satpam.
"Iya maksih pak... " sahut Nanda berjalan ke dalam rumah.
"Kok non pulang sendiri? Kemana Aden Marcell?" tanya pak satpam.
"Masikh di sekolah... katanya ada urusan.. " jawab Nanda berjalan menuju pintu rumah.
Cklekk
"Assalamu'alaikum... "
"Waalaikumsalam... " jawab Bunda yang sedang berkerja di ruang tamu.
"Kok kamu sendiri? Mana Marcell?" tanya Bunda.
"Katanya lagi ada acara di sekolah buat study tour nanti, " jawab Nanda berjalan menaiki tangga.
"Yak udah kalo gitu, udah bebersih cepetan turun terus makan sama Fauzan, " sahut Bunda.
"Iya Bunda... " sahut Nanda.
Di kamar Marcell.
Cklekk..
Nanda segera menghempaskan tubuhnya ke atas kasur miliknya dan Marcell.
"Awas lu cell... kalo tidur meluk gue.. " gumam Nanda semakin kesal.
Nanda segera bangkit dan mengambil handuk untuk mandi. Setelah selesai mandi Nanda mengeringkan rambu nya menggunakan hairdryer.
"Kok belum pulang sih udah jam segini?" tanya Nanda khawatir.
Tok... tok... tok...
"Masuk.. " sahut Nanda.
Cklekk..
"Aaahhh... capek banget tubuh gue.. " ucap Marcell seraya membaringkan tubuhnya ke kasur.
"Baru pulang?" tanya Nanda.
"Menurut lu?"
"Nanya doang... " sahut Nanda mematikan hairdryer itu dan segera turun ke bawah tanpa melirik Marcell sedikit pun.
Brakk..
"Lah napa tuh?" tanya Marcell bingung.
Tanpa berpikir panjang, Marcell segera pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya yang lengket oleh keringat.
Setelah selesai, Marcell mengeringkan rambut menggunakan handuk dan sesekali Marcell bersenandung pelan.
Marcell membuka pintu dan ternyata dua berpapasan dengan Nanda yang akan membuka pintu.
"Mau kemana lu?" tanya Marcell.
"Masuk lah, " sahut Nanda cuek.
"Kita mau makan, sanah balik ke meja makan, " sahut Marcell.
"Gue mau ambil hp, awas.. " sahut Nanda emosi.
"Lu aja yang awas, gue mau keluar nyari udara segar, " sahut Marcell tak mau kalah.
"Lu yang awas... "
"Lu aja yang awas, "
"Lu, "
"Lu, "
"Lu, "
"Lu, "
"Ehemm... "
Pandangan mereka beralih pada seorang lelaki yang sedang berdiri menikmati keributan.
"Apa?" tanya Marcell dan Nanda barengan.
"Kalian itu yak, adik mu ini bakal pergi ke Tasikmalaya bukannya kasih kabar gembira kek apa gimana... malah ribut... " sahut Fauzan.
"Bodoamat, "
"Bodoamat, "
Nanda masuk ke dalam kamar sedangkan Marcell keluar dari kamar dan dengan cepat menuruni tangga.
"Lah kok ngamok? Salah gue apa?" tanya Fauzan.
"Kok gue berasa jadi orang ketiga yak di antara mereka berdua... amit-amit jangan sampe.. " gumam Fauzan berjalan masuk ke kamarnya.
Marcell di halaman depan.
"Kenapa sih tuh anak, kelakuan nya berubah mulu, gue jadi makin bingung kan harus gimana... " gumam Marcell kesal.
"Apa coba salah gue... apa mungkin dia lagi datang bulan kali yak... ah masa bodo.. "
"Nanti juga ujung-ujungnya minta di beliin inilah itulah... bikin repot aja bisanya... "
"Aahh.. kesel gue... tuh anak udah berani banget jadi orang, bukannya minta maaf apa kek, "
"Malah main nyelonong aja... mana gue lagi datang bulan lagi, makin kesel kan jadinya... " sahut Nanda kebawa emosi.
"Nanda... Marcell... Fauzan.. sini ke maja makan.. " teriak Bunda.
"Buset dah itu Bunda pake toa atau pake mikrofon kenceng amat, untung semua anaknya laki kalo engga nanti ini rumah hancur, " gumam Nanda kaget dan segera keluar kamar.
Di meja makan.
Mereka makan dengan tenang menciptakan keheningan sesaat. Hanya suara air mendidih yang siap mengisi keheningan tersebut.
"Cell kamu di sekolah ada acara apa sampe Nanda pulang sendiri?" tanya Bunda.
"Persiapan buat studytour sama buat nanti senin upacara, " jawab Marcell.
Bunda hanya mengangguk pelan. Ayah berhenti makan dan mengelap mulut dengan tisu.
"Kalo kamu ada urusan di sekolah, kamu telpon dong supir pribadi kamu, suruh dia jemput Nanda.. " sahut Ayah.
"Iya yah, tadi Marcell lupa.. " sahut Marcell.
Lupa... alasan yang bagus... pasti semua orang langsung aja percaya... - batin Nanda kesal.
Setelah selesai makan Nanda dan Bunda membereskan meja makan dan mencuci piring. Marcell segera naik ke atas menuju kamarnya bersama Fauzan.
"Kamu denger kan tadi, Marcell lupa.... " sahut Bunda.
Sudah ku duga, semua langsung aja percaya.. - batin Nanda.
"Iya Bunda... Bunda bisa gak hari ini Nanda tidur di kamar tamu?" tanya Nanda.
"Loh kok, kan kamu istri nya Marcell, yak harus tidur bareng dong sayang.. " sahut Bunda.
"Oh yak udah deh, bun aku keatas dulu mau rebahan, " sahut Nanda.
"Iya... " sahut Bunda.
Nanda berjalan menuju kamar nya dengan rasa kesal.
Cklekk..
Pintu terbuka Nanda melihat Marcell sedang menunggu nya tepat di depan pintu.
"Lagi apa lu di sini?" tanya Nanda melewati Marcell begitu saja.
"Lu kenapa?" tanya Marcell.
"Gue gak papa... "
Marcell menarik tangan Nanda, "Kalo gue nanya yak jawab, jangan di diemin kayak gini... lu itu istri gue... "
"Udah ahh lepasin, gue lagi gak mood aja ngobrol sama lu... udah sana lu belajar aja, gue mau tidur ngantuk, "
"Ini baru jam 7, sedangkan lu udah ngantuk, dasar kebo.. "
"Bodo.. "
Sementara Nanda yang sudah tidur lelap, Marcell belajar sampai jam 10 malam, karena itu adalah batas waktu Marcell.
Setelah selesai, Marcell kembali ke tempat tidur, dia melihat ada sebuah guling yang menghalangi nya antara Nanda dan Marcell. Dengan kesal Marcell melempar guling itu sampai menabrak pintu dan terjatuh ke bawah.
Marcell mendekat dan mulai memeluk Nanda. Awalnya Nanda tak bisa tidur, tapi karena sudah dipeluk oleh Marcell, dia jadi bisa tidur nyenyak sampai pagi.
Cip... cip... cip...
Suara burung dan suara alarm itu membangun Nanda yang tertidur lelap. Nanda meregangkan semua badannya sampai ada sesuatu yang berat di perutnya.
Nanda segera membuka selimut dan ternyata itu adalah tangan Marcell yang melingkar di perutnya. Awalnya Nanda akan memindahkan pelan tapi karena nasib kesal dia menghempas tangan Marcell sampai membentur meja.
Duk..
"Aaahh.. " teriak Marcell bangun dan segera memegang tangan nya yang sakit.
Nanda turun dari tempat tidur dan mengikat rambut nya yang panjang.
"Maksud lu apa sih?" tanya Marcell.
"Kan gue udah bilang, jangan meluk gue kalo tidur, itu balasan nya... hahah... " sahut Nanda tertawa seperti orang gila.
"Stress lu... udah sana lu mandi duluan, gue mau ngobatin dulu tangan gue yang biru... " sahut Marcell.
Nanda berjalan menuju toilet, karena hari ini adalah hari libur jadi Nanda dan Marcell tak ada kegiatan apa-apa.
.
.
.
.
.
Marcell dan Nanda sedang menonton TV di ruang keluarga. Seharusnya mereka mengantar Fauzan ke halte bus, karena lagi pewe jadi Bunda sama Ayah yang pergi.
Gabut ini enaknya makan batagor nih... tapi gue males banget keluar rumah di jam segini... nyuruh Marcell.. gue nya masih marah... - batin Nanda.
"Kenapa lu liatin gue kayak gitu?" tanya Marcell.
"Ge-er.... Cell lu gabut gak?" tanya Nanda.
"Gak... " jawab Marcell singkat.
"Beliin gue martabak dong... gue lagi pengen martabak...... " pinta Nanda.
"Ogah, beli aja sana sendiri... "
"Gak mau... males... "
"Yak udah gak usah... "
"Isshh.. lu mah gak peka... "
"Sana lu beli sendiri, kunci mobil sama motor ada di kamar... ambil sendiri terus berangkat sendiri, makam sendiri.. " sahut Marcell.
"Lagian mana ada yang jual martabak sama batagor di jam segini yang ada tuh nanti malem... " lanjut Marcell sambil mengganti saluran televisi.
"Nanti malem malming kuy, " ajak Nanda.
"Gak mau males, " sahut Marcell.
"Ahh... au ah h gue kesel sama lu.., " sahut Nanda beranjak dah sofa menuju kamar nya.