My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Makan bareng



"Ndak, awas aja lu kalo lu gak beli lontong sayur gue, gue bakal jualan besok, " sahut Delisa.


"Gue bakal sembunyi, gak bakal gue beli lontong sayur lu itu, " sahut Nanda.


"Gue masukin lontong sayur gue ke mulut lu secara paksa, " sahut Delisa geram.


"Coba aja kalo lu bisa... " sahut Nanda.


"Liat aja besok, " sahut Delisa pergi.


"Lu beneran bakal bawa lontong sayur del?" tanya Mike.


"Iya, emang kenapa?" tanya delisa.


"Nggak papa, nanti aku beli deh, " sahut Mike.


Delisa keluar kelas menuju kantin.


"Alah bilang aja mau dapetin hati nya kan?" tebak Rara.


"Kalo lu udah tau kenapa lu make nanya segala, " sahut Mike jujur.


"Lu gak sadar bilang gitu, " sahut Nanda.


"Emang kena--" Mike berbalik ke arah Nanda dan ia terkejut melihat Delisa yang sedang berdiri di depan pintu.


"Mmm, terciduk suka nya, " sahut Dinda.


"Del, lu denger semuanya?" tanya Rara.


Delisa hanya mengangguk dan memalingkan wajah nya dari Mike.


"Astagfirullah, gue udah ketahuan, sekarang gue harus gimana ndak?" tanya Mike kebingungan.


"Hah!? Lu malah nanya ke gue, tanya aja sama Playgirl yang tau harus berbuat apa, " sahut Nanda.


"Sini... Sini... sama mbah playgirl, " sahut Rara mengibaskan tangannya kemari ke arah Mike.


"Lu mau samperin Delisa nggak?" tanya Dinda.


"Mau apa samperin dia?" tanya balik Nanda.


"Yak kale aja dia mau cerita gitu.. " sahut Dinda.


"Ogah, mending gue baca buku dari pada ngurusin masalah orang, " sahut Nanda.


"Lu bener-bener gak ada ahklak, " sahut Dinda.


"Bodoamat, gue mending belajar biar bisa ngalahin si Mike, " sahut Nanda yang berusaha fokus ke buku.


"Tenang aja napa ndak, si Mike aja lagi kesusahan, " sahut Rara.


"Kesusahan kenapa emangnya?" tanya Nanda.


"Hadehh pikun, " gumam Dinda.


"Masalah cinta... Bertepuk sebelah tangan, " sahut Rara.


"Hooh, kasian amat yak idul lu.. " sahut Nanda.


"Ketua kelas gak ada ahklak katanya harus ada solidaritas tinggi tapi lu sendiri, bukannya bantuin gue kek apa gimana, " sahut Mike kesal.


"Gue malah seneng, gue bisa ambil posisi juara satu, " sahut Nanda kembali membuka buku.


"Serah lu, mau ambil posisi gue apa gimana juga, " sahut Mike yang sudah terlalu kesal.


"Gue penasaran kenapa Marcell bertahan sama cewek kayak elu, " sahut Farisa.


"Kenapa emang nya?" tanya Nanda.


"Yak gak papa, gue malah aneh aja gitu sama selera dia terhadap cewek, " sahut Farisa.


"Udah ndak dia mah cuma mancing emosi elu, " sahut Dinda.


"Gue mah yak bodoamat, " sahut Nanda tak peduli.


"Nah kan aneh, " sahut Farisa pergi menuju mejanya.


"Lu sabar amat ndak, kalo gue udah baku hantam sama Farisa, " sahut Rara.


"Tau nih, lama-lama gue jadi pengen ngeluarin dia dari sekolah ini, " sahut Dinda.


Dinda melirik ke arah Nanda, "Yawloh gue kira lu ngedengerin, " sahut Dinda.


Nanda masih tak peduli dengan ucapan orang-orang.


"Dia mah kalo udah megang buku, lupa dunia, " sahut Rara.


"Udah mending sekar--" Dinda belum menyelesaikan ucapannya, ada yang memanggilnya.


"Din... Dinda... " panggilan seseorang dari luar.


"Siapa tuh din?" tanya Rara.


"Mana gue tau, " sahut Dinda.


Mike berjalan untuk melihat, dan ternyata itu adalah....


"Angga?"


"Gue mau ketemu sama Dinda, ada?" tanya Angga.


"Oh, Dinda lagi keluar, " sahut Rara.


"Keluar kemana?" tanya Angga.


"ke toilet, " jawab Mike.


"lagi apa dia di toilet?"


"Lagi ganti pembalut, " jawaban lancang dari mulut Rara.


Mike berjalan mundur perlahan, dan kabur menuju mejanya untuk belajar.


"O-oh oke, kalo gitu nanti tolong kasihin ini dari Marcell buat Nanda, " sahut Angga seraya memberikan surat ke pada Rara.


"Buat nanda? Oh oke lah kalo gitu, Makasih, " sahut Rara.


Brukk..


"APAAA?!!" Tanya Nanda kesal.


"INI ADA SURAT BUAT ELU...DARI Marcell, " sahut Rara.


Nanda mengambil surat dari tangan Rara dan membacanya.


*MAKAN SIANG DI KANTIN BARENG, AWAS AJA KALO ELU DULUAN!!!


GUE SAMPERIN ELU LANGSUNG KE KELAS!!


-Marcell ganteng*


"Anj*ss, ngapain pake surat menyurat segala sih, kan bisa chatan, " gumam Nanda kesal.


"Anj*y anak Sultan, duduk di mana aja yang penting senang, " cibir Rara.


"Biasalah, " sahut Dinda.


"Ndak lu gak ada niatan buat bales surat dari Marcell?" tanya Rara.


"Nggak, gue males, ehh Ra gue pinjem pawer bank lu dong, " sahut Nanda.


Rara memberikan powerbank nya kepada Nanda. "Nanti balikin, " sahut Rara.


"Iyalah gue balikin, buat apa juga gue koleksi powerbank orang, " sahut Nanda.


"Gue cuma ngingetin doang, " sahut Rara.


Tak lama bel berbunyi, dan semua belajar seperti biasa. Dan kelas IPS 3 sedang mengadakan ulangan.


Bel istirahat berbunyi.


Marcell segera mengemasi barang-barang nya dan meninggalkan kelas bersama Angga dan Agung.


"Kita cepet-cepet mau kemana sih cell?" tanya Angga.


"Kan dia mah ketemu sama ayang bebeb nya, " sahut Agung tertawa.


Sesampainya mereka di sana, Marcell melihat Nanda yang serius mengerjakan ulangan.


"Udah kale cell jangan diliatin mulu, nanti kalo dia dapet nilai kecil gimana, " sahut Agung.


"Emang kenapa?" tanya Marcell.


"Dia itu anti nilai kecil, katanya sih gak boleh kurang dari 85/90 kata nya... " sahut Agung.


Inilah yang Marcell suka dari Nanda, selalu serius dalam mengerjakan ulangan dan selalu terlihat happy di jam biasa.


"Liatin tross, " sahut Angga.


Marcell memalingkan wajah nya dari jendela. "Kita ke kantin aja dulu, " sahut Marcell.


"Lah gak bakal nunggu mereka beres?" tanya Agung.


"Nggak usah, kita makan di kelas mereka aja, kalo kalian gak takut jatuh cinta, " sahut Marcell.


"Lu ngejek playboy?" tanya Agung.


"Nggak, itu sih bagi yang lemah mental, " sahut Marcell.


"Gue berani, gue bakal nembak Dinda di waktu yang tepat, " sahut Angga percaya diri.


Mereka bertiga menuju kantin dan membeli roti, minuman, seblak, spageti dan sebagai nya yang diperlukan.


Anak-anak IPS 3 telah menyelesaikan dan mereka sekarang sedang berada di dalam kelas.


"Gue nggak bisa no 5, lu bisa gak?" tanya Rara.


"Gue juga sama, gue gak tau jawabannya yak udah deh gue ngasal aja, " sahut Dinda.


"Kalo elu ndak gimana?" tanya Rara.


"Gue juga ngasal kalo no 5, " sahut Nanda dengan wajah sedihnya.


"Yee... Gue pikir lu bisa.. " sahut Rara.


"Udah jangan dipikir lagi, sekarang mending lu makan, "


Nanda melirik ke atas dan ternyata itu adalah Marcell yang sedang memberi dia roti dan botol minum air mineral.


"Iya makasih, " sahut Nanda.


"Kita boleh ikut duduk gak?" tanya Agung.


"Gak boleh, " sahut Rara bercanda.


Tanpa mendengar nya, Agung asal duduk. "Eh lu gak ada sopannya, ijin dulu kek sama yang punya meja, " sahut Rara.


"Kan gue udah minta ijin tadi, " sahut Agung.


Angga mah sans, karena ada Dinda yang kalem gak bobrok kaya mereka berdua.


"Gue pikir lu udah duluan pergi ke kantin, karena gue ulangan dulu, " sahut Nanda yang sedang makan roti pemberian Marcell.


"Makan dulu napa si, baru ngomong, " sahut Marcell memberikan air minum.


"Kalian berdua uwu banget dah, " sahut Rara.


"Napa lu, cemburu?" tanya Agung.


"Hah, apa, gue? Cemburu? Amit-amit, " sahut Rara bergidik.


"Biasa aja kale gak usah sehari bergidik juga, " sahut Agung.


"Uwu banget dah, kalian semua, sampe kalian gak sadar banyak ciwi tuh diluar, ada yang panas ada yang cemburu, " sahut Salsa.


Mereka melihat hampir semua siswi yang nge-fans berat sama Marcell, Angga, Agung ada di luar melihat mereka makan,


"Buset, yang mana fans lu gung?" tanya Rara.


"Napa lu, mau diapain fans gue?" tanya Agung.


"Gue mau bilang semua kejelekan lu, " sahut Rara tertawa.


"Kebiasaan lu, " sahut Agung.


"Kalian berdua diem bae, kenapa?" tanya Nanda pada Dinda.


"Gue paling gak suka kalo lagi makan ngobrol gak jelas, " sahut Dinda.


"Hooh iya gue lupa, kalo elu di siplin banget orang nya... " sahut Nanda dengan nada mengejek.


"Saling di siplin nya, ikut-ikutan balap liar, " sahut Rara.


Dinda menatap Rara dengan tatapan membunuh, "Lu bisa diem gak?" tanya Dinda.


"Oh iya maaf mbak, gak sengaja, " sahut Rara dan bersembunyi.


"Kalian bertiga keluar dulu deh, " ucap Mike.


"Napa sih elu? Ganggu aja bisanya, orang lagi seneng makan bareng, malah ngusir, " sahut Nanda.


"Bukan gitu, gue takut kalo para siswi lain malah demo ke kelas kita, " sahut Mike.


Nanda manarik napas panjang, "Yak udah kalo gitu cell, mending lu balik deh ke kelas lu, sama yang lain juga, " sahut Nanda.


"Yak udah kalo gitu, nih abisin spageti nya, sama jangan lupa semanget, " sahut Marcell berjalan keluar kelas bersama Angga fab Agung.


"Ganggu aja deh mereka semua, "sahut Rara kesal.


"Apalah gue, " sahut Nanda menatap sinis pada orang-orang yang melihat nya tak suka.


Orang-orang menekuk muka nya, dan berjalan pergi.