
Nanda segera pergi ke kelas dengan langkah kasarnya. Dan menendang pintu dengan keras sehingga membuat semua yang ada di dalam kaget olehnya.
BRAKK...
Mike yang melihat nya keheranan, dan Salsa yang baru saja kembali dari kantin melihatnya bingung sendiri.
"Lu kenapa ndak?" tanya Mike.
"Gue kesel.. " sahut Nanda kesal.
"Kesel kenapa lagi?" tanya Salsa.
"Tau ahh, pikir aja sendiri, " sahut Nanda.
Mike dan Salsa saling memandang satu sama lain. Tak lama Rara datang sambil berlari ke arah Nanda.
"Lu jahat ninggalin gue... " sahut Rara ngos-ngosan.
"Kenapa lagi sama lu Ra?" tanya Salsa.
"Gue ditinggal sama Nanda terus gue di cegat sana Mila, " jawab Rara mengambil napas.
"Mila? Si jamet?" tanya Salsa.
"Iya di cabe burik.. " sahut Rara.
"Mana si Mila, gue lagi pengen baku hantam!!" sahut Nanda berdiri.
"Dia ada di depan kelas Marcell, " sahut Witri yang baru kembali.
Mike, Salsa, dan Rara menatap sinis ke arah Witri.
"Kenapa? Emang bener kan?" sahut Witri.
Salsa dengan cepat membungkam mulut Witri dengan kertas yang ada di kolong meja.
"Jijik anj*ng... pwaahh, " sahut Witri mengusap mulutnya dengan tangan.
Nanda mendengar nya, menjadi sangat kesal, dia sudah siap untuk menghajar siapa saja. Nanda segera berlari ke kelas Marcell.
"Ehh... Ndak lu mau ngapain?!!" tanya Rara.
"Lu susul dia deh Ra... gue khawatir... " sahut Salsa.
"Lu juga ikut lah Mike, gue gak bisa nahan Nanda... " sahut Rara.
Mike dan Rara segera menyusul Nanda dengan cepat. Mereka berdua sudah sampai di kelas Marcell tapi sayang tidak ada Nanda, Mila atau pun Marcell di kelas itu.
BRAKK...
"ADA YANG LIAT NANDA DARI KELAS IPS 3?!!" teriak Mike bertanya.
Semua murid kelas IPA diam saja, karena mereka tak melihatnya.
"JAWAB.... BUKANNYA DIEM AJA!!" Teriak Rara.
"ANAK MONYET LU GAK BISA DIEM KITA LAGI BACA BUKU ADA ULANGAN!!" Teriak Agung kesal.
"Gue mah bodoamat sama ulangan lu, gue lebih mentingin sahabat gue!!" sahut Rara.
"Ra kayaknya mereka gak ada disini, mending kita nyari ke seluruh sekolah aja, " sahut Mike.
"Emang Nanda kemana?" tanya Angga.
"Ceritanya panjang, mending kalian bantu nyari dari pada bacot gak jelas, " sahut Mike.
"Ehh... Elu Angga... Mana Dinda?" tanya Rara.
"Dia udah balek ke kelas, " sahut Angga.
Rara dan Mike keluar dari kelas IPA, untuk melanjutkan mencari.
"Lu mau ikut nyari?" tanya Angga.
"Kalo masalah Nanda sama Marcell....Ikut aja deh.. " sahut Agung berdiri.
Angga pun ikut keluar kelas, untuk membantu mencari.
"Kalian gak akan belajar?"
"Nanti lagi, ketua kelasnya aja gak ada, " sahut Angga.
"WOYY, KALIAN BERDUA.. TUNGGUIN!!" Teriak Agung.
"Lah katanya gak akan ikut nyari, mau belajar ada ulangan, " sahut Rara.
"Masalah itu nanti, sekarang masalah Nanda and Marcell dulu, " sahut Agung.
"Marcell kemana?" tanya Mike.
"Kalo di jam sekarang ada di depan gerbang, " sahut Angga.
"Tadi kalian liat Mila gak di depan kelas kalain?" tanya Rara.
"Mila? siapa Mila?" tanya Angga.
"Atau ada yang nanya keberadaan Marcell gitu, perempuan?" tanya Mike.
"Oh kalo itu sih ada yang nanya Marcell kemana, " jawab Agung.
Mereke semua langsung berlari menuju gerbang sekolah, dan benar saja di sana ada Mila yang sedang di tahan oleh geng nya dan di sisi lain Dinda dan Marcell berusaha menenangkan Nanda.
Rara, Agung dan yang lain segera menghampiri Nanda. Rara memeluk Nanda dengan kuat dan mengusap punggung nya.
.
.
.
.
.
Nanda yang sedang berlari mencari Marcell dan Mila. Dia menghampiri kelas Marcell.
"Ada yang liat Marcell gak?" tanya Nanda.
Agung dan Angga yang mendengar nya tapi tak bisa melihat wajahnya karena mereka duduk di belakang.
"Di jam sekarang dia lagi ada di gerbang, "
"Oh iya makasih.. " sahut Nanda berjalan pergi menuju gerbang sekolah.
Nanda sebenarnya tak ingin membuat keributan soal Mila tapi dia ingin bertanya langsung kepada Marcell.
Gue bakal tau, kenapa sikap lu berubah banget - batin Nanda.
Nanda melihat Marcell yang sedang berdiri sambil memegang buku dia tersenyum. Tanpa aba-aba ada yang mendorong dia ke depan dengan kuat sampai Nanda terjatuh.
Marcell yang melihatnya langsung menghampiri Nanda yang berusaha berdiri.
"Lu gak papa?" tanya Marcell.
"I-iya.. tapi lutut gue sakit... " sahut Nanda.
Marcell membawa Nanda untuk duduk di kursi satpam dan mengelus rambutnya. Mila yang melihatnya kesal dan segera menghampiri Nanda dan menarik rambutnya kuat.
"AWW!!" Teriak Nanda.
Marcell berusaha melepaskan tangan Mila dari rambut Nanda. "Lepasin gak lu?!!" tegas Marcell.
Mila melepaskan rambut Nanda, "Lu lebih memilih wanita murahan ini dari pada gue?" tanya Mila.
"Maksud lu apaan?" tanya Marcell.
"Gue suka sama lu cell, tapi kenapa lu lebih milih wanita muraha jnj dari pada gue?" ulang Mila.
Marcell hanya diam karena tak mengerti apa yang di maksud oleh Mila sebenarnya. Nanda berdiri memegang tangan Marcell. Mila semakin geram melihat nya.
Dia mencakar tangan Nanda sampai berdarah, Marcell yang sejak itu membantu Nanda berdiri, langsung mendorong Mila menjauh.
"APA-APAAN LU?!" tanya Marcell dengan nada tegas.
"DASAR PELAKOR!!" teriak Mila.
"GUE BUKAN PELAKOR!!" Sahut Nanda.
"LU UDAH NGEREBUT MARCELL DARIN GUE!:" sahut Mila.
"Gue gak peduli soal itu... " sahut Nanda menahan nyeri.
"HEUUHH!!" Mila maju dan menarik rambut Nanda lagi.
Nanda yang sudah kehilangan kesabaran menendang kaki kiri Mila sampai dia terjatuh.
Karena sudah tak tahan lagi dengan perilaku Mila, Nanda maju dan terjadilah perkelahian antar Nanda dan Mila di gerbang sekolah.
Marcell dengan berusaha keras memisahkan mereka berdua, dia tak tega melihat luka di tangan Nanda yang terus saja menetes.
Dinda yang habis keluar dari ruang Bk mengambil absen, melihat Nanda dan Mila. Dia langsung menghampiri mereka semua.
"Ini kenapa cell?!!" tanya Dinda membantu.
"Ceritanya panjang mending bantuin gue misahin mereka dulu!!" sahut Marcell.
Rambut Nanda yang sudah terlepas dari tangan Mila, langsung mendorong Nanda menjauh, Dinda memeluk Nanda dengan kuat.
"JANGAN MENJAUH LU!! SINI LU!!" Teriak Mila kembali maju.
Tapi Marcell dengan cepat menahan tangan Mila dengan kuat, "Diem lu, jangan berani nya lu ngedeketin Nanda lagi!!" ucapan Marcell tegas.
Caca dan yang lain menarik tanya Mila. Tapi Mila memberontak dan tetap memanggil Nanda 'pelakor'.
"LEPASIN GUE!!" Teriak Mila.
"Mila.. lu gak liat... ada Marcell, " sahut Caca.
Mila berhenti memberontak dan mendengar ucapan Caca barusan.
"Terus apa untungnya buat gue? Gue harus ngehajar pelakor itu!!"
"Kalo lu tetep bersikap kayak gini, yang ada Marcell lebih memilih Nanda dari pada elu yang anggun, " sahut Caca.
Mila mulai tenang dan menarik napas panjang. "Oke gue bakal bersikap anggun, " sahut Mila.
"Udah ndak, lu tenang, " sahut Dinda melepas pelukan nya.
"Gue gak bisa diem aja, kalo dia berani main fisik gue juga berani, " sahut Nanda.
"Lu harus tenangin diri lu, " sahut Marcell.
"Tujuan lu kesini mau apa?" tanya Dinda lembut.
"Gue cuma mau ketemu sama Marcell dong, eh dia langsung ngedorong gue tanpa alasan, " sahut Nanda.
"Jadi cell ini salah Mila bukan Nanda, " sahut Rara.
"Iya gue liat kok, disini ada CCTV jadi kita bisa kasii bukti ke Bk, " sahut Marcell.
Nanda berusaha tenang dan menarik napas panjang.
"Udah tenang?" tanya Dinda.
"Iya gue masih bisa nahan emosi, tapi kalo dia berani main fisik gue juga bisa, " sahut Nanda.
"DASAR PELAKOR!!" Teriak Mila.
"Lu pelakor, " sahut Nanda.
"Lu!"
"Lu!"
"Lu!"
Marcell membungkam mulut Nanda dengan tangan nya, dan Caca membungkam mulut Mila.
"Udah kalian bisa diem gak si?!" ucap Dinda.
"Huuh dasar lu, lu ngerebut Angga dari gue!!" sahut Caca.
Mila melihat nya tak percaya.
Katanya harus tenang, tapi lu sendiri malah ngungkit masalah - batin Mila.
"Gue salah apa?" tanya Dinda.
"Jangan sok polos lu din... dasar anak motor, " sahut Caca.
"Biasa anak motor, sikapnya gak di didik sama ortunya, " sahut Mila ikut-ikutan.
Dinda semakin kesal, dia menhampiri Caca dan tamparan mendarat di pipi mulus Caca.
PLAKK..
"EH ELU JAGA TANGAN LU... DASAR ANAK MOTOR!!" Teriak Mila.
Marcell meraih tangan Dinda dan membawanya mendekati Nanda.
"Lu harus tau ini sekolah, " sahut Marcell.
Dinda memalingkan wajahnya dari Marcell, dan fokus dengan luka di tangan Nanda.
Kebetulan Rara, Angga dan yang lain lewat mereka segera menghampiri Nanda dan Marcell. Rara memeluk Nanda kuat.
"Lu kenapa bisa gini sih ndak?" tanya Rara.
"DASAR PELAKOR!!" teriak Mila.
Lagi-lagi Mila mulai mencari keributan, teman yang satu lagi yaitu Melodi hanya diam saja, sedangkan Mila dan Caca tak kuat melihat Angga di dekat Dinda terus.
"GUE BUKAN PELAKOR, GUE GAK PUNYA DOSA LU DORONG GUE... LU CAKAR TANGAN GUE SAMPE BERDARAH!!" Teriak Nanda sambil menangis.
"Nanda, liat gue... " sahut Marcell berusaha memalingkan wajah Nanda ke arahnya.
"Lu lagi... lu mau apaa?!!" teriak Nanda kepada Marcell.
"Pliss lu tenang dulu... " sahut Marcell.
"Gue gak bisa tenang kayak gini cell, dia udah kelewatan bangett!!" tunjuk Nanda.
"Iya gue tau, lu harus tenang dulu gak boleh kebawa emosi kayak gini... " sahut Marcell.
"Gue benci sama lu cell... " sahut Nanda.
Rara melepas kan pelukan nya dan melihat tangan Nanda yang berdarah akibat cakaran dari tangan Mila.
"Kalian gak bosen nyari masalah terus?!" teriak Rara.
"Udah anak monyet Jangan diungkit mulu, " sahut Agung.
Rara melihat tangan kanan Nanda yang berdarah.
"Mila lu apain tangan sahabat gue?!" tanya Rara kesal.
"Temennya pelakor udah pasti semua nya pelakor, " sahut Caca.
"Lu bilang kalo lu suka kan sama Angga, Nah ini Angga nya udah dateng, " sahut Dinda.
"Dasar anak motor, "
Angga menatap Caca dengan tatapan sinis nya. Caca memandang nya dengan wajah sok polos.
Lukman dan Ihsan lewat dan segera menghampiri.
"Ada apa ini?" tanya Ihsan.
"Tangan lu kenapa ndak?!" tanya Lukman.
"Dia dicakar katanya sama Mila, " sahut Rara.
"Mil, kayaknya kita harus mundur deh, " bisik Melodi.
"Napa si?" tanya Mila.
"Ada Lukman sama Ihsan, lu tau kan mereka jago kalo soal berantem gak masalah itu cowok atau cewek, " sahut Melodi.
Mila mendengus kesal, "Cabut, " sahut Mila.
Geng Mila berjalan pergi, kini Nanda sudah bisa tenang karena tidak ada yang memancing emosinya.
"Bentar gue bawa kotak P3K, " sahut Ihsan berlari menuju UKS.
"Malah ke UKS, lu pikir kita bakal diem aja di depan gerbang apa, " sahut Rara.
Marcell menggendong Nanda di punggung nya dan membawa nya ke UKS. Nanda tak bisa melakukan apa-apa kalo sudah di gendong oleh seseorang.
Ini semua salah gue... gue harusnya gak diemin lu kayak gini ndak, gue harus tanggung jawab, - batin Marcell kesal.
"Lu gak usah khawatir soal masalah ginian kok cell, ini bukan salah lu, " ucap Nanda.
"Lu bisa nebak isi pikiran gue?" tanya Marcell.
"Engga, gue cuma nebak dong, " sahut Nanda.
Marcell membaringkan tubuh Nanda di kasur, dan segera mencari obat untuk mengobati luka di tangannya.