My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Melihat Nanda



Setelah sampai di restoran ala-ala Korea. Nanda turun dari motor dan melihat ke sekeliling restoran. "Ramai, " satu kata yang terucap dari mulut Nanda.


"Yuk masuk, " sahut Marcell.


"Rame gini.. emang kita bakal dapet duduk?" tanya Nanda.


"Tinggal nyari apa susahnya.. " sahut Marcell.


"Serahh lahh.. " sahut Nanda mengikuti Marcell dari belakang.


"Ey, berdampingan kek.. jangan jalan sendiri di depan, " sahut Nanda kesal.


Marcell berhenti dan menggandeng tangan Nanda. "Nah gitu kek, jadi kaya pasangan romantis.. " sahut Nanda menyenderkan kepalanya di bahu Marcell.


"Jangan kayak gitu.. geli gue.. " sahut Marcell.


"Oh oke.. "


"Selamat datang, " sahut para pelayan yang membuka pintu.


"Ada meja kosong?" tanya Marcell.


"Ada, untuk dua orang?"


"Iya, " jawab Marcell.


"Mari.. silakan ikuti sayaa.. "


Marcell hanya mengangguk dan berjalan mengikuti nya dari belakang bersama Nanda.


"Silahkan, " sahut pelayanan itu menunjukkan tempat duduk berdua untuk mereka.


"Iya terimakasih, " sahut Marcell.


Nanda dan Marcell segera duduk dan memesan makanan untuk mereka berdua. Datang seorang pelayan untuk melayani mereka berdua.


"Selamat datang.. silahkan mau pesan apa?" tanya pelayan itu siap untuk menulis pesanan mereka.


"Cell, lu mau pesen apa?" tanya Nanda.


"Terserah elu... gue ikut aja, " sahut Marcell.


"Oh yak udah, saya pesan budae jjigae, Tokebi, Kimbap, sama Maeun Dakbal udah itu aja, " sahut Nanda.


"Iya, silahkan ditunggu.. " sahut pelayan itu membawa buku dan berjalan pergi.


"Banyak amat pesennya, balas dendam lu selama di rumah sakit?" tanya Marcell memainkan ponselnya.


"Iyalah, di sana gue gak bisa makan enak.. " sahut Nanda.


"Mm.. " gumam Marcell.


"Btw, postingan lu banyak yang komen yah... " sahut Marcell.


"Hahaha.. iyalah.. udah biasa.. " sahut Nanda.


"Iya bagus.. tapi gak usah ada emot lope segala.. alay.. " sahut Marcell.


"Apa sih.. yang punya hapenya kan gue bukan elu, jadi gimana gue dong.. weeee.. " sahut Nanda.


"Iya iya, lu udah baca semua komennya?" tanya Marcell.


"Kagak usah, males gue baca semua komen, jadi biarin aja, " sahut Nanda tak peduli.


"Nanti para followers ilang, nangiss.. "


"Buat apa gue nangis soal followers? gak guna.. " sahut Nanda.


"Lu kasih apa ke mereka sampe mereka mau follow lu?" tanya Marcell melihat Nanda.


"Gue kasih mereka doa dari dukun.. "


Marcell hanya tersenyum, "Dukun santet?" tanya Marcell bercanda.


"Iyalah.. masa engga, bagi yang gak follow guee, gue santet, " sahut Nanda.


Tak lama makanan mereka datang, ada beberapa pelayan yang membawa nya. Marcell dan Nanda membenarkan posisi duduk mereka untuk siap menyantap makanan.


"Silakan dinikmati.. " sahut semua pelayan yang membawa makanan.


"Iya terimakasih, " sahut Nanda.


Pelayan itu segara berlari menjauh dari Nanda, banyak yang melihat Nanda entah apa yang mereka lihat. Marcell yang melihat mereka terus melihat Nanda dari jauh maupun dekat, pura-pura batuk.


"Ehem.. "


"Oh maaf.. " sahut para pelayan segera pergi.


"Kenapa?" tanya Nanda melihat Marcell.


"Gak bukan apa-apa, lu jangan terlalu murah senyum, " sahut Marcell.


"Emang kenapa sih? lu cemburu yaaahh.. "


"Diihh siapa yang cemburu, "


"Itu bukti nyaa.. lu bilang jangan terlalu murah senyum... " sahut Nanda menggigit sumpit.


"Lu mau makan sumpit atau makanan yang ada di depan?"


"Yah makan lah.. masa iya gue makan sumpit, lu pikir gue ini serangga, " sahut Nanda.


"Udah makan, " sahut Marcell.


"Eeee.. bentar.. gue mau poto dulu. jangan di ambil.. awass lu.. " sahut Nanda mengeluarkan ponselnya dan mulai poto semua makanan yang tersaji.


Melihat Nanda yang sibuk poto sana sini, Marcell mencomot sedikit Kimbap di meja. "Eeeehh elu.. gue bilang jangan dulu.. " sahut Nanda marah dan menyingkirkan tangan Marcell.


"Jangan lama-lama, laper guee.. " sahut Marcell.


"Bentar dulu.. dikit lagi.. " sahut Nanda.


"Udah.. yuk makan.. " sahut Nanda.


"Beres juga lu.. udah laper gue.. " sahut Marcell langsung ambil makanan dari ujung sampai ujung.


"Banyak amat, jangan cepet-cepet nanti keselek, " sahut Nanda.


"Biarin.. lebih baik gue keselek makanan dari pada nunguin lu poto makanan, " sahut Marcell.


"Bagus tau, hasil potonya.. lu harus liat pokoknya harus.. " sahut Nanda.


"Kalo gue gak mau?"


"Pokonya harus mau.. gue paksa, "


"Serah lu, " sahut Marcell melanjutkan makan.


Mereka makan dengan perasaan tenang tampa ada yang menganggu, kecuali.. para pelayan yang terus melihat Nanda dan itu membuat Marcell terganggu.


"Makan nya cepetan, " bisik Marcell.


"Hah? kenapaa emangnya?" tanya Nanda.


"Gak papa, gue cuma gak betah aja lama-lama disini.. " sahut Marcell.


"Lah, kan elu yang bawa gue ke sini.." sahut Nanda.


"Lu betah di sini.. yang banyak orang gini?"


"Yah engga juga sih.. dahlah makan cepet.. " sahut Nanda.


Setelah selesai makan, Marcell membayar makanan dan segera pergi meninggalkan restoran.


"Jangan cepet-cepet jalannya... " sahut Nanda


"Jangan banyak bacot, " sahut Marcell.


"Iiihh emang nya ada apaan sih?"


Sampai di parkiran, Marcell melepaskan tangan Nanda. "Lu kenapa sih cell? lu yang ngajak gue kesini, tapi malah elu yang gak betah, aneh gue.. " sahut Nanda.


Marcell hanya diam. "Apa jangan-jangan kesel sama para pelayan itu yah.. yang liatin gue mulu?" tanya Nanda benar.


"Lu tau dari nama?"


"Yah taulah, orang gue yang ngerasain, bukan belum doang yang kesel, gue juga sama.. " sahut Nanda.


"Hemm.. yak udah sekarang mau pulang atau mau jalan-jalan lagi?" tanya Marcell.


"Jalan-jalan laahh, gabut kalo di rumah mulu, " sahut Nanda.


"Yak udah, naik, " sahut Marcell.


"Okey, " sahut Nanda naik ke motor.


Mereka segera pergi meninggalkan restoran Korea itu dengan hati yang tenang.


Dengan gini gak akan ada yang liatin Nanda lagi kan? - batin Marcell bertanya.


Marcell melajukan motor nya dengan kecepatan tinggi. Nanda yang berada di belakang, memegang jaket Marcell kuat-kuat karana takut jatuh.


"Cell pelan dikit, lu bawa motor kayak gak bawa penumpang aja, " sahut Nanda sedikit berteriak.


Tapi sayangnya Marcell tak mendengar ucapan Nanda karena berisik oleh suara mesin motor dan juga ramainya jalanan saat itu.


Nanda yang semakin takut jatuh, dengan berat hati dia memeluk pinggang Marcell. Marcell yang merasa ada yang memeluknya dari belakang, mulai memperlambat kecepetan motornya.


"Ngapain lu meluk gue?" tanya Marcell.


"Gue takut jatuh, " jawab Nanda.


"Yah pegang aja jaket, gak usah peluk-peluk kayak gini.. malu diliatin orang, " sahut Marcell.


"Gue takut jatuh kalo megang jaket doang, "


"Yah tinggal bilang kek, jangan ngebut-ngebut, " sahut Marcell


"Gue udah bilang pelan-pelan, lu aja yang budek gak ngedenger, " sahut Nanda kesal.


"Masa? gue gak denger apa-apa, " sahut Marcell.


"Nah kan budek, makanya sebelum ajak orang jalan-jalan pake motor koreh dulu tuh telinga ly, " sahut Nanda.


"Elu yang maksa gue bawa motor, " sahut Marcell.


"Oh iya iya, kok gue bisa lupa, " sahut Nanda baru ingat.


"Makanya kalo omongan tuh tolong diingat, niat gak malu, " sahut Marcell.


"Bodoamat, kita mau kemana?" tanya Nanda.


"Yah jalan-jalan, "


"Maksud gue, tujuan kita kemana? masa cuma keliling jakarta, gak seruu.. " sahut Nanda.


"Yah terus lu mau kemana?" tanya Marcell.


"Keeee.. gak ada ide.. ke mall yuk, " ajak Nanda.


"Males, "


"Iihh kok maless, ayoo ke mall kita beli topi couple atau jaket atau baju atau sepatu gitu.. " sahut Nanda.


"Iya iya.. tapi jangan lama-lama, " sahut Marcell.


"Belum juga nyampe, udah ngomong sana sini.. "


"Mm, pegangan gue mau ngebut lagi biar cepet sampe, " sahut Marcell.


Mendengar ucapan Marcell barusan, Nanda segera memeluk pinggang Marcell lagi. Biasanya Marcell suka banyak bacot kalo Nanda memeluk pinggang nya kayak tadi, tapi kali ini Marcell pasrah dengan keadaan Nanda yang takut jatuh.