My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Tertampar kata-kata



Sudah hampir setengah jam mereka berkumpul di restoran itu, Nanda mengajak teman-teman nya untuk pergi ke rumah nya untuk main.


"Gue bosen cuy, main kemana dong? masa iya setiap kali ketemu di restoran mulu, " sahut Rara.


"Ke rumah gue aja, main, " sahut Nanda.


"Ke rumah elu? atau ke rumah Marcell?" tanya Dinda.


"Iihh, bukan ini rumah kita berdua, " sahut Nanda.


"Weeiitss, lu udah punya rumah aje, kapan belum nya?" tanya Putri.


"Udah empat tahun yang lalu, " sahut Nanda.


"Kagak bilang lu sama kita-kita, " sahut Rata.


"Yah maaf aja, " sahut Nanda.


"Jadi gak nih, kita pergi ke rumah lu? lumayan dapet cemilan gratis, " sahut Dinda sambil menaikan kedua alis nya.


"Ngemil mulu, tapi badan tetep kecil, " sahut Putri.


"Masih bagus, badan gue gak besar-besar, dari pada nanti gue gendutt, suami gue nanti gak minat lagi nyentuh gue, " sahut Dinda.


"Ehem, "


"Si angga udah mulai berani nyentuh sahabat gue, " sahut Nanda.


"Nj*rr Angga, semangat, " sahut Ihsan.


"Bentar bentar... Sayang kalo mau ngebahas itu jangan di depan mereka, tau kan kamu kalau mereka otak nya mesum, " sahut Angga.


"Ahahaha, " semua orang tertawa.


Dinda hanya tersenyum tipis dan duduk menghadap Putri.


"Sabarr, maklum kalo emak-emak udah kumpul langsung nyosor ngobrol nya, " sahut Lukman.


"Elu juga sama nj*m, " sahut Agung.


"Lah, kok gue?" tanya Lukman.


"Kamu juga sama Lukman, " sahut Dwi.


"Nahh, akhirnya... "


"Bersuara juga lu wi, " sahut Nanda.


"Sayang, mana nungguin lho, kamu bersuara, " sahut Lukman.


Dwi hanya tersenyum. "Iyalah kali-kali gue denger suara orang, dari pada suara elu sama suami gue mulu yang denger, capek, " sahut Nanda.


"Lu udah bosen denger suara gue?" tanya Marcell.


"Iyalah bosen, kali-kali gue mau denger suara cowok lain, " sahut Nanda.


"Awas lu! Pulang-pulang gue mutilasi! Jangan berani nya lu kabur!" sahut Marcell.


"Bodoo amaaatt, " sahut Nanda.


"Udah woy, hayu lah ke rumah kalean, gue pengen liat, sapa tau nanti gue beli rumah di sana juga, " sahut Rara.


"Gak bosen lu sama deket sama gue mulu? Gak dari kecil sampe sekarang, " sahut Nanda.


"Hehehe, biar nanti anak gue punya temen, " sahut Rara.


"Btw, kalian udah ada rencana mau punya anak berapa?" tanya Dinda tiba-tiba.


"3, " jawab Agung.


"Guee gak perlu banyak banyak, cukup 6 aja, " sahut Lukman.


"Gue gak mau serakah, gue cukup 10 aja, " sahut Ihsan.


"Ahaha, yakin mau sepuluh? Gak mau nambah?" tanya Putri.


"Anj*yy, San di tanya itu, " sahut Angga.


"Tuh san, katanya yakin mau sepuluh? Gak mau nambah, " sahut Agung.


"Goyang truss, " sahut Lukman.


"Stress gue punya suami, " gumam Dwi.


Setelah lama bercakap-cakap. Mereka langsung saja pergi ke rumah Nanda Marcell untuk main, duduk, nongkrong, dan minta makan.


Motor dan mobil mereka mengikuti mobil Marcell yang terlebih dahulu jalan di depan.


Setelah sampai, mereka langsung terdiam. "Ini rumah gue, " sahut Nanda.


"Yee, kalo rumah yang ini gue tau, gue kira ada lagi rumah yang lain, " sahut Rara.


"Ahaha, suami gue pelit, gak mau beli rumah lain, " sahut Nanda.


"Parah lu cell, " sahut Putri.


"Tega lu sama sahabat gue, " sahut Dinda.


"Gue mulu yang di salahin, kenapa gak Nanda kek, " sahut Marcell.


"Kalo masalah ini elu yang salah, bukan Nanda, " sahut Dinda.


"Masaa, " sahut Nanda tak percaya.


Mereka semua masuk ke dalam. Seperti yang di perkirakan Nanda, tak ada seorang pun yang ada di rumah. Sepi, kosong.


"Btw, di rumah sebesar ini, kalian cuma tinggal berdua?" tanya Rara melihat ke sekeliling rumah.


"Setelah gue masuk ke ruang keluarga, rumah nya beneran gede banget, " sahut Lukman.


"Iyalah, kayak yang gak tau aja lu, keluarga Alfarizky sama keluarga Nusyrandi kalo nyatu money no limit, " sahut Ihsan.


"Bener, " sahut Agung.


"Bendull, " sahut Agung mengacungkan jempol.


"Money no limit money no limit apa mu, setiap gue minta duit buat jalan-jalan, kagak pernah di kasih, " sahut Nanda.


"Mm.. Itu mulut enak bener ngomong gak pernah di kasih, " sahut Marcell duduk di atas tangga.


"Emang kenapa?" tanya Dwi.


"Orang setiap hari gue kasih duit 5 jete 5 jete, mata nya aja itu mah yang kurang, " sahut Marcell.


"Lu yang udah nikah bertahun-tahun kayak yang gak tau aja gimana istri lu, " sahut Rara.


"Nanda ini.. Mata duitan, harus pas kalo ngasih uang biar gak ngomong truss, " sahut Dinda.


"Mm... Bener banget tuh, " sahut Putri.


"Jadi gue ini harus ngasih berapa setiap hari? Menurut orang-orang luar yah setiap hari di kasih 5 juta itu udah gede banget, masa iya gue harus ngasih 5 M setiap hari nya, " sahut Marcell.


".... Boleh di coba, " sahut Rara.


"Aahhh, segitu mah kecilll.. kayak gue dong.. gue kasih uang bulanan buat Rara, " sahut Agung.


"Sekali ngasih berapa?" tanya Angga.


"Sekitar kurang lebih 200 juta lah, " sahut Agung.


"Sekali ngabisin berapa menit?" tanya Ihsan.


"Kurang lebih 15 menit, cuma di bawa ke mall, " sahut Agung.


"Oohh, " sahut Ihsan.


"Hebat.. pinter lu milih istri, " sahut Angga.


"Terlalu banyak harta, jadi milih istri yang boros, " sahut Lukman.


"Heh, sembarangan lu kalo ngomong, walau pun gue ini boros, tapi gue gak pernah korupsi... gak kayak elu, uang 50 ribu gue aja belum di balikin, " sahut Rara.


"Heh, masa lalu jangan lah kau ungkit kembali, " sahut Lukman.


"Gue serius, gue sekarang nagih, mana.. " sahut Rara..


"Aaahh, meress... nih nih, lunas kan?" sahut Lukman melempar dua selembar uang 100 ribu ke arah Rara.


"Asyikkkk... dapet tambahan buat nyalon rambut, " sahut Rara.


"Eh eh eh, kebanyakan! kembalian 150 , " sahut Lukman.


"Kacauu, " sahut Angga.


"Tragedi ini namanya, " sahut Ihsan.


"Minta tuh ke Agung, gue lagi gak megang duit, " sahut Rara.


"Mana Gung?" tanya Lukman.


"Kagak punya receh gue, " sahut Agung.


"Sombong sombong, " sahut Angga.


"Heh, yang punya money no limit aja kagak sombong, elu yang mentang-mentang dapet warisan no limit sombong, " sahut Ihsan.


Seketika Agung tertampar kata-kata Ihsan. Dia pun mengeluarkan dompet yang isinya money merah semua, begitu pun dengan ATM yang jumlah nya ada 5 .


"Nih, 150 , " sahut Agung menyerahkan uang selembar 100 ribu dan 50 ribu kepada Lukman yang sudah menunggu.


"Ini gays, minum, sorry di rumah ini gak ada makanan, " sahut Nanda.


"Gak papa, yang penting masih untung di kasih minum si rumah ini, dari pada gue datang ke rumah Angga sama Dinda kagak di kasih minum atau pun makanan, " sahut Ihsan.


Angga yang sedang minum tersedak, Dinda yang sedang makam kue salju pun sama-sama tersedak mendengar ucapan Ihsan barusan.


"Asiikk, ada yang tertampar kata-kata lagi nih, " sahut Lukman.


"Bagus lah biar mereka sadar, " sahut Ihsan lanjut minum jus jeruk buatan Nanda dan juga Dwi.


Marcell menghampiri Nanda, "Emang di kulkas gak ada roti?" tanya Marcell.


"Gak ada abis, lu kan tau siapa yang abisin malem, " sahut Nanda.


"Oh iya, " sahut Marcell ingat. Kalau Betly, Firza, Fauzan di tambah dengan pacar-pacar mereka yang ada di rumah ini lah yang menghabiskan semua roti dan makanan bulanan Nanda Marcell, sekali makan habis.


Di ruang keluarga rumah Nanda Marcell. Semua teman-teman nya sedang mengobrol sambil menikmati makan yang ada.


Tiba-tiba terdengar lah suara motor seseorang yang tepat berhenti di depan rumah mereka.


Semua teman-teman Nanda mengalihkan pandangan keluar dan menunggu seseorang masuk ke dalam dan memperkenalkan diri.


"ASSALAMU'ALAIKUM, " teriak seseorang.


"WA'ALAIKUMUSSALAM, " teriak mereka semua dari dalam menyaut yang berteriak sampai rumah itu bergetar karena gelombang yang sangat kuat.


"KAKAK NANDA MARCELL, ADA DI DALEM GAK?!" teriak nya lagi.


"ADA!!!" sahut mereka semua sama-sama berteriak.


Yah, seperti yang kalian tau, mereka semua sama sekali gak mau kalah bersaing sama siapa pun. Jika orang itu berteriak, maka mereka pun akan berteriak, jika orang itu ngegas mereka juga akan ngegas. Jadi maklum.