
Setelah selesai makan batagor, mereka berdua langsung membicarakan sesuatu. Sedangkan adik-adik Marcell hanya scroll tiktok.
Tak lama setelah itu. Agung dan Marcell memutuskan untuk kembali ke kamar istri mereka. Lagi pula Marcell sudah mendapat izin dari ortu nya dan mertuanya untuk membawa Nanda pulang hari ini.
Di lorong.
"Gue ke kamar dulu ye, " sahut Agung.
"Lu pikir Rara ada di mana sekarang?" tanya Marcell.
Seketika langkah Agung terhenti di depan pintu 105. "Ahaha, gue lupa, pasti tuh anak udah main kabur aja ke kamar orang, " sahut Agung.
"Tau juga lu, jadi percuma kalo lu masuk ke kamar lu, "
"Ya udah ayoo ke kamar Nanda, " sahut Agung.
Betly membuka pintu. Dan benar saja Agung melihat istrinya sedang mengobrol dengan Nanda di ranjang sambil makan buah dari kotak bekal yang Marcell bawa tadi pagi.
"Mm... enak, " ucap Agung berjalan ke arah ranjang.
"Eh ayank, " sahut Rara tersenyum.
Agung duduk di sofa yang ada di pinggir kasur. Rara dan Nanda hanya melihat Agung. Sedangkan Marcell melihat baju-baju Nanda yang belum di kemas.
Tak lama datanglah ketiga adik yang sangat rusuh. Yang satu lagi ngevlog, yang satu video-in orang yang lagi tiktokan, siapa lagi kalau bukan Betly dan Fauzan.
"Hallo gays, assalamu'alaikum, " sahut Firza ngevlog.
"Tenenett.. tnenett, " sahut Fauzan nyanyi ngaco.
"Diem lu.. tuh kan jadi lupa gimana gerakan nya, " sahut Betly kesal berhenti joget-joget gak jelas.
"Woy, kalian bertiga... dari pada ngomong gak nyambung, sama joget-joget gak jelas, mending bantuin gue masuk-masukin baju Nanda ke dalam koper, " sahut Marcell.
"Okeh, " sahut Betly berjalan ke arah Marcell dan membantu nya.
"Siap kak, " sahut Firza berhenti memvideo.
Lah tumben, adik-adik gue pada baik semua, biasa nya juga 'ogah ah males' atau engga 'maless.. Peweee' sedangkan iniii... luar biasa entah sogokan apa yang lu pake buat mereka cell.. kagum gue - batin Nanda.
"Lah lu mau kemana?" tanya Rara.
"Pulang, " jawab Nanda santai.
"Lah kok pulang? gue sendiri dong, " sahut Rara manyun bebek.
"Kan ada suami lu, "
"Iya kan tetep aja, sepii, " sahut Rara.
"Maafin, gue udah bosen di rumah sakit terus kali-kali bumil jalan-jalan ke luar negeri kayak orang lain yekan, " sahut Nanda.
"Ahahaha, bener bener, " sahut Rara tertawa.
"Siapa yang jalan-jalan ke luar negeri?" tanya Agung.
"Siapa lagi kalo bukan si buaya darat, " sahut Nanda.
"Angga?" tanya Agung.
"Iyap, " jawab Rara.
"Gilak, emang Dinda udah hamil?" tanya Agung.
"Udah, malah lebih dulu hamil nya di banding Nanda, " sahut Rara.
"Bagus lah, biar tuh anak istighfar, biar gak nyari ciwi mulu, kan kasian sama Dinda nya... Kadang-kadang gue tuh kasian sama Dinda, si Angga suka nyapa ciwi setiap ada cewek lewat depan rumah nya, " sahut Agung.
Ahaha, gak sadar emang kalo itu dirinya sendiri.. hahaha.... kalo gue kasih tau pasti tuh anak ngeles - batin Rara.
"Masaaa, " sahut Nanda.
Agung melihat ke arah Nanda, "Ya.. ya gue udah insaf, " sahut Agung melihat ke arah lain.
"Tuh kan bisa aja ngeles nya, " gumam Rara.
"Nih kak, udah semua, " sahut Firza setelah selesai mengemasi barang-barang milik kakaknya itu.
"Bawa ke mobil... nih kuncinya, " sahut Marcell menyerahkan kunci mobil nya.
"Awass, nanti kita di tinggalin, " sahut Nanda.
"Yah gak akan lah kak, kapan juga gue ninggalin elu di jalan, yekan za, " sahut Betly kepada Firza.
"Iyee, kita mah anak baek-baek, " sahut Firza.
Nanda hanya bisa diam dan tak dapat bicara apa-apa, tiba-tiba ada ingatan yang terlintas dalam pikiran nya.
Nanda ingat betul, sewaktu dia kecil dia pernah di tinggal pergi oleh Betly naik ojek. Padahal waktu itu Nanda turun hanya untuk menemani Firza yang ingin ke toilet. Tapi alangkah terkejutnya mereka berdua malah meninggalkan Nanda yang habis keluar dari toilet.
Dan untuk Firza, waktu itu Nanda masih menginjak SMP kelas 2. Nanda mengajak Firza ke mall bersama nya untuk belanja keperluan sekolah naik taksi. Di tengah-tengah perjalanan, Firza tiba-tiba merengek ingin minum boba, Nanda pun turun, tapi alangkah terkejutnya dia Firza malah meninggalkan Nanda yang masih memesan boba untuk Firza.
Dan mulai hari itu, Nanda sama sekali gak percaya kalo Betly dan Firza akan menunggu nya kali ini. Tapi siapa tau kalo ada Marcell mereka bakalan menciut.
Setelah selesai mengganti baju. Nanda membawa tas yang memiliki barang-barang pribadi nya yang berisi make up.
Rara dan Agung sudah pergi lebih dulu dan mengucapkan selamat jalan kepada mereka semua. Dan kembali ke kamar 105 kamar Rara. Mereka semua pergi turun menaiki lift yang kebetulan kosong. Firza membawa koper milik kakaknya itu, sedangkan Fauzan fokus bermain ponsel, dan Betly... *lagi tiktokan-_-
Setelah sampai di lantai satu. Betly langsung saja lebih dulu ke tempat parkir dan membawa mobil ke depan, agar lebih cepat.
Sambil menunggu Betly membawa mobil, Marcell membawakan Nanda air mineral yang ada di tas nya. Nanda yang mudah kecapean itu hanya duduk di tempat yang lumayan teduh sambil di temani oleh Firza dan Fauzan yang tiba-tiba baik, tak receh, rusuh, dan barbar.
"Nih, minum, " ucap Marcell menyerah kan botol air mineral kepada Nanda.
"Iya makasih, " sahut Nanda menerima botol itu dan meminum nya.
"Kak, sekarang lagi panas banget... kita pulang sekarang atau nanti aja? Soalnya panas nya lumayan tinggi, " sahut Fauzan.
"Lu mau sekarang pulang atau nanti?" tanya Marcell kepada Nanda.
"Sekarang aja, siapa tau nanti kalo udah nyampe rumah jadi adem, kan tinggal nyalain AC, " sahut Nanda.
"Ya udah, " sahut Marcell.
Marcell mulai menjalankan mobil nya pergi dari lingkungan rumah sakit menuju rumah nya.
.
.
.
.
.
Setelah sampai di rumah mereka berdua. Seperti biasa Marcell memasukkan mobil nya ke dalam garasi. Setelah selesai parkir, semua beban keluar satu persatu.
Nanda yang baru keluar awal nya mau mengeluarkan koper nya, tapi koper nya sudah ada di bawah, sudah di turun kan oleh Fauzan.
"Hah?! ini adik-adik gue bukan sih? masa iya mereka serajin ini?" gumam Nanda bertanya.
"Ayo kak, " sahut Firza membuka pintu dekat garasi.
"I-Iya, " sahut Nanda.
Mereka masuk ke dalam rumah, Nanda, Betly, dan Fauzan langsung duduk di sofa di ruang keluarga. Marcell dan Firza pergi ke dapur mengambil air minum.
Nanda melihat ke sekeliling, semua rapih, tak ada debu, tidak berantakan. Masa iya Betly sama yang lain beres-beres? kan gak mungkin.
"Ini siapa yang beres-beres?" tanya Nanda.
"Asisten rumah tangga, " jawab Betly.
Mm.. udah gue duga, gak mungkin mereka yang beres-beres, - batin Nanda.
"Tapi kalo yang cuci piring sama cuci baju, kita sendiri-sendiri gak nyuruh asisten, " " sahut Fauzan.
Mata Nanda seketika melotot tak percaya, masa iya seorang Betly dan Firza mencuci piring dan mencuci baju sendiri? kan mereka itu dari lahir sampai sekarang masih jadi pemalas, kenapa tiba-tiba?
"Bentar-bentar, gue masih belum percaya ini sama kelakuan kalian.. sebenarnya kalian di sogok apa sama Marcell?" tanya Nanda.
"Gak di apa-apain kok, " sahut Fauzan pura-pura baik-baik saja.
Betly hanya tertawa di dalam hati. Tak lama kemudian datanglah Marcell dan Firza yang membawa minum untuk mereka semua.
"Oh iya kak, itu koper kakak udah aku masukin ke dalam kamar kalian, " sahut Firza.
"Iya, thanks, " sahut Nanda.
Marcell duduk di samping Nanda sambil minum. Nanda yang penasaran mendekati Marcell.
"Cell, " panggil Nanda.
"Mm?" gumam Marcell menanggapi ucapan Nanda.
"Lu sogok apaan? sampe mereka tiba-tiba mandiri gitu?.. maksud gue Betly sama Firza kalo Fauzan mah gue udah biasa, dia emang mandiri dari dulu nya juga, " sahut Nanda.
Marcell melihat langit-langit dan berpikir.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
*5 hari setelah mengantar Nanda ke rumah sakit.
"kak, main ml kuy, " ajak Firza.
"Enggak ah males, gue pengen rebahan, " sahut Betly menolak.
"Yaelah cuma main ml doang kan bisa sambil rebahan juga, "
"Yah pokona gak mau, gue males, "
"Wahai adik-adik ku yang paling cantik, ganteng, manis, lucuu, tolong bantuin gue ngejemur semua pakaian kalian, " sahut Marcell membawa keranjang berisi pakaian mereka semua.
"Nanti yah Kak, gue lagi males bangett, " sahut Betly lanjut nonton TV.
"zaa, " panggil Marcell kepada Firza.
"Gue mau main ml, naekin rank, " sahut Firza.
"Oh gituu.. ya udah nanti gue mau hanymoon ke Italia, kalian gak boleh ikut, " sahut Marcell.
Tanpa peringatan sekali pun, keranjang yang awalnya ada di hadapan Marcell menghilang begitu saja. Dan kedua bocah yang ada di sofa tiba-tiba menghilang.
Marcell berjalan ke arah dapur, melihat Fauzan yang setia membantu membereskan rumah bersama nya. Fauzan lagi nyuci piring.
Saat Marcell berjalan ke luar, terlihat di sana Firza dan Betly sedang menjemur pakaian mereka. Betly menyiram tanaman.
"Mm.. kan gini enak liat nya, Lama-lama gue buat mereka mandiri juga ini, " gumam Marcell.
2 hari kemudian.
Sudah beberapa hari ini Marcell selalu tegas kepada mereka bertiga, untuk belajar mandiri.
"Elap lantai nya!"
"iya kak, " sahut Betly.
"Yang bener Betly, "
"iya kak, astagfirullah... sabar ini juga lagi di lap, emang kakak yang gak ada kerjaan aam sekali, cuma ngawasin kita-kita aja dari beberapa hari yang lalu, " sahut Betly melawan.
"Oh melawan.. ya udah, lu sama Firza gue cabut balek tiket pesawat ke Italia, termasuk visa, hotel--"
"Ahh iya iya... za yang bener, " sahut Betly menyuruh Firza mengelap lantai dengan benar.
"Iya kak iya, " sahut Firza*.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Gak di apa-apain, " sahut Marcell.
Nanda hanya manyun bebek ke arah Marcell. Nanda masih belum percaya dengan ucapan mereka semua.
Tapi apa boleh buat, Nanda sudah tak peduli mau di apa-in juga, mau di rukiah sampe mampus pun dia tak peduli.