My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
First kiss



Nanda segara masuk ke dalam bersama Marcell dan duduk di meja panjang yang sudah disiapkan.


"Nah, Nanda silahkan di mulai... " sahut Dinda.


"Awas lu din... " sahut Nanda malu.


"Jangan malu-malu kan suami sendiri, udah sah.. " sahut Rara.


"Oke jangan dulu deh, mending biar lebih seru, kita bikin permainan... " sahut Rara.


"Nah iya ide bagus... " sahut Putri setuju.


"Kita bakal main.... "


"Gimana kalo kita main truth or dare?" tanya Agung.


"Nah boleh tuh... " sahut Rara setuju dan tersenyum ke arah Nanda.


"Jangan macem-macem deh kalian semua.. " sahut Nanda.


"Gue ambil dulu botol kosongnya.. " sahut Lukman berjalan pergi mengambil botol.


Lukman kembali dan teman-temannya sudah membuat lingkaran di sekeliling botol. Agung yang mulai dulu memutar nya dan mengenai Dinda.


"Truth or dare?" tanya Agung.


"Mm.. truth aja deh, " jawab Dinda.


"Siapa orang yang paling lu sayang ortu atau Angga?" tanya Agung.


"Ortu lah, " jawab Dinda simple.


"Lu gak sayang sama Angga?" tanya Putri.


"Gue sayang sama Angga juga, cuma gue lebih sayang sama ortu gue... " sahut Dinda.


"Lanjut... " sahut Rara.


Kini yang memutar botol adalah Lukman dan mengenai Ihsan.


"truth or dare?" tanya Lukman.


"Dare, " jawab Ihsan.


"Pernah gak lu ngompol di celana? Dan ceritain gimana kejadian nya.." tanya Lukman sambil tertawa.


"Pernah... semua itu gegara elu... " sahut Ihsan menahan tawa.


"Haha... pernah ngompol di celana, gegara Lukman.. " sahut Putri mengingat masa lalu nya.


"Giliran gue... " sahut Rara.


Rara memutar botol dan mengenai Putri. Sekarang hampir semua orang yang ada di sekeliling botol sudah kena, kcuali Nanda dan Marcell.


"Oke yang belum kena siapa?" tanya Rara.


"Tuh Nanda sama Marcell, " jawab Putri.


"Ini kebetulan apa gimana?" tanya Dinda.


"Entah lah... " sahut Angga.


"Gue aja yang puter botolnya... " sahut Agung yang sudah siap memutar kembali botol itu.


Botol berpura dan ujung botol menunjuk pada Nanda.


"Akhirnya... " teriak Rara bahagia.


"Akhirnya, doa gue ke capai, " teriak Putri.


"Oke Nanda, siapa yang paling lu sayang, yang selama ini selalu menemani hari-hari lu dan melewati waktu demi waktu bersama... Terus lu harus cium pipinya... " sahut Agung mengigit bibir bawahnya menahan tawa.


Nanda tampak berpikir, Gue sebenarnya sayang sama Marcell, tapi masa iya gue harus cium dia di hadapan mereka... malu gue... - batin Nanda.


Nanda mendekatkan tubuh nya ke arah Marcell. Sedangkan Marcell masih diam tak berkutik.


Rara yang sudah memegang ponselnya untuk memotokan momen spesial ini. Dinda dkk mulai menyimak wajah Nanda yang sudah mulai semakin mendekat.


Marcell yang sadar, mulai menarik dagu Nanda dan membelokan posisi duduk Nanda.


Cup


Marcell menutupi wajah mereka yang sedang berciuman itu dengan tangan nya.



(Anggap aja kayak gini)


Rara dkk hanya melotot tak percaya. Rara dan Dinda hanya menutupi mata mereka, Putri memesan minuman lain, Agung dan yang lain segera pindah tempat duduk.


"Mmm... mmpphmm.. "


Ciuman mereka semakin lama dan semakin panas, Nanda berusaha mendorong tubuh Marcell menjauh dari nya, tapi sayangnya itu tak berhasil. Marcell terus ********* sampai Nanda hampir kehilangan napas.


Marcell menyudahi ciuman mereka dan Nanda segara mengambil napas.


"Ha... haaa... haaa... dasar sinting, " ucap Nanda.


"Kenapa?" tanya Marcell.


"Gak ada dosa lu... udah ambil first kiss gue, gak minta maaf lagi... gue itu berencana ngasih first kiss ini ke suami gue... " sahut Nanda kesal.


"Kan gue ini suami lu, yak jadi sesuai rencana elu dong.. " sahut Marcell memandang Nanda.


"Oh iya, " sahut Nanda.


"Tapi tetep saja lu salah... " teriak Nanda.


"Kenapa, mau lagi... " sahut Marcell.


"Enggak ma--"


Nanda belum menyelesaikan perkataan nya tapi Marcell sudah membungkam mulut Nanda dengan bibirnya.


"Mm... mmppphhmm.. " Nanda terus memberontak dan mendorong tubuh Marcell.


"Udah dong cell, gue panas, " sahut Agung kembali ke meja.


"Udah apa belum sih, mereka ciuman nya?" tanya Dinda masih menutup mata nya dengan tangan.


"Udah dong woyy, gue udah bulak balik sedari tadi, gue capek, " sahut Putri duduk.


"Dasar gak ada akhlak lu... " sahut Nanda berjalan pergi menjauh dari Marcell.


Marcell hanya tersenyum dan memainkan ponsel nya, pura-pura tak terjadi apa-apa.


"Gimana ndak enak gak?" tanya Rara.


"Gak ada akhlak, " sahut Nanda kesal.


"Udah dulu yak ciuman nya.. nanti di sambung lagi di rumah aja, " sahut Lukman.


"Gak akan pernah, " sahut Nanda.


"Kasian Marcell di tolak, " sahut Ihsan tertawa.


"Kasian gak di kasih jatah... haha.. " sahut Angga.


"Mau main lagi?" tanya Agung.


"Udah gak mood, liat mereka berdua.. " sahut Dinda.


"Pulang yuk, gue lagi gak mood diem lama-lama di cafe, " sahut Dinda.


"Ayuk gung, gue capek, " sahut Rara.


Agung mulai berdiri dan menggandeng tangan Rara keluar cafe.


"Mau kemana lu?" tanya Marcell.


"Kita berdua mau pulang udah gak mood deket-deket sama lu, " sahut Agung.


"Mau pulang gak lu?" tanya Marcell.


"Pulang ah.. gue capek, " jawab Nanda berdiri dan berjalan pergi.


Marcell menyusul di belakang dan segera pergi dari daerah cafe bersama Nanda.


Sedangkan yang masih di cafe.


"Aaaahhh....Marcell sama Nanda telah mengotori mata gue yang suci... " teriak Putri.


"Hahahaaa.... merekaa... ciuman... hha... " sahut Lukman.


"Gila lu... gue juga sama... haha.. " sahut Angga ikut tertawa bersama Lukman.


"Menurut kalian mereka bakal. di lanjutin gak di rumah?" tanya Putri.


"Kalo menurut gue... iya pasti.. " sahut Ihsan


"Asyiikk... kita bakal cepet nih di kasih ponakan, " sahut Dinda.


"Iya bener... " sahut Putri.


"Ehem... ehem.. gue gak sabar pen liat ponakan gue... " sahut Angga.


"Nah iya bener... " sahut Dinda.


.


.


.


.


.


Di jalan.


"Pegangan, nanti lu jatuh, " sahut Marcell.


"Gak mau, gue marah sama lu, " sahut Nanda.


"Terserah lu mau marah sama gue, yang penting lh pegangan nanti lu jatuh, gue lagi yang repot, " sahut Marcell.


Nanda akhirnya pasrah dan memeluk pinggang Marcell. Saat merasakan pelukan Nanda, Marcell mulai mempercepat motornya.


Sampai di rumah.


Nanda segera berlari ke dalam tanpa mengucapkan salam ke Bunda dan Ayah.


Brakk...


"Loh, Nanda kok udah pulang?" tanya Bunda.


Tapi Nanda tak mendengar dan terus berlari menuju kamar.


Ayah dan Bunda bingung, dan melihat Marcell yang terus berjalan sambil memegang bibir nya.


"Kenapa bibir kamu?" tanya Ayah menghampiri Marcell.


"Gak papa kok Yah, " sahut Marcell tersenyum.


"Kena gigitan serangga?" tanya Bunda berdiri dan menghampiri Marcell.


"Engga Bunda, bukan cumaa... "


"Cuma apa?" tanya Bunda.


"Cuma tadi pas di cafe sama temen aku cium bibir Nanda, "


Bunda dan Ayah tersenyum lebar dan bahagia.


"Terus gimana boy? Nanda nya nerima ciuman kamu apa engga?" tanya Ayah merangkul Marcell.


"Yak.. awalnya dia kaget terus nerima... cuma pas yang kedua kalinya dia nolak, " sahut Marcell.


"Pelan tapi pasti... " sahut Ayah bahagia.


"Aaahh.. Ayah bentar lagi bakal. kita dapet cucu... " sahut Bunda senang.


"Udah punya rencana buat anak belum boy?" tanya Ayah.


"Belum... belum saatnya... " sahut Marcell.


"Kita masih nunggu yah boy, kalo mau Hannymon ke luar negeri terus jangan lupa bilang dulu ke Bunda atau sama mamah mertua kamu.. " sahut Bunda.


"Iya, gimana nanti aja Bunda, Aku ke atas dulu yak bun, " sahut Marcell.


"Iya.. " sahut Bunda.