
Beberapa hari kemudian, tinggal dua hari lagi pernikahan Nanda dan Marcell akan di mulai. Mereka sudah membagikan undangan secara berurutan, mengubah gaya rambut, mencark gaun pernikahan, mencari GOR yang megah dan sebagainya.
Sekarang orang-tua mereka sedang menyiapkan tenda-tenda, kursi, makanan catering, pelayan, juru parkir, dan sebagai nya. Sebagai bantuan, Rara dkk dan Angga dkk ikut membantu keluarga Nanda, Marcell.
Rara dkk sedikit demi sedikit berjalan ke arah pintu keluar GOR. Mereka berencana untuk pergi dari GOR tanpa memberitahu siapa-siapa. Untuk bertemu dengan calon pengantin wanita yang sedang duduk di rumah bagaikan sang ratu.
"Hei, din, bisa minta bantuan gak? ini kotak gak kebawa, " sahut Angga memanggil Dinda meminta bantuan.
"Idihh, apaan sih.. masa cowok angkat kotak kecil gitu kagak bisa, cowok apaan lu? makanya nge-gim, " sahut Dinda.
"Masa iya nyuruh cewek sih ayank, gak mau ah, " sahut Dinda menolak manja.
Agung pun yang membawa kotak itu dengan tangan kanannya dan membawanya pergi, menaruhnya ke tempat nya.
"......." sahut Rara.
Agung sebenarnya berniat pamer otot ke Rara, tapi sayang nya Rara sama sekali tak peduli. Mau ada Agung kek mau engga, yang terpenting bagi Rara sekarang adalah kabur dari GOR dan pergi ke rumah Marcell untuk bertemu dengan Nanda.
"Ra, tuh tunangan, pamer otot, " sahut Putri yang merasa jijik sedari tadi karena melihat Agung.
"Masa bodo ah, " sahut Rara tak peduli.
"Udah jangan banyak bacot, tuh parkiran udah sepi.... ayok buruan naik ke mobil Putri, " sahut Dinda.
"Hokeh, " sahut Rara.
"Siap, " sahut Putri.
"Liat kondisi, aman gak?" tanya Rara.
"Aman aman, " sahut Dinda mengacungkan jempol.
Rara dkk berjalan ke arah mobil Putri dengan hati-hati agar tak ketahuan oleh Agung, Angga, Ihsan atau pun Lukman.
Setelah sampai di mobil. "Hei, kalian mau kemana?"
"Aaahhh!!" teriak Rara kaget.
"astagfirullah, anak setan lu bikin kaget aja, " sahut Dinda.
Putri yang gak kalah kaget nya dengan mereka berdua, segera meloncat dari kursi depan ke kursi belakang.
"Eh, lukman, lu bisa nggak sih, jangan suka ngagetin kita mulu, " sahut Putri.
"Ya sorry, " sahut Lukman.
"Lu mau ngapain di mobil Putri?" tanya Rara.
"Gue males bantuin mereka, yah gue rebahan lah di sini, apa lagi? sekalian gue wifi gak papa kale, " sahut Lukman.
"Iya iya gak papa, tapi lu muncul dari mana? perasaan mobil gue di kunci dah tadi, " sahut Putri heran.
"Ada lah, lu gak perlu tau put, " sahut Lukman.
"Jangan di hiraukan lagi put, dia ini jin titisan neraka, jadi maklum kalo dia muncul tiba-tiba enyah dari mana, " sahut Rara.
"Bener, di tambah lagi dia ini dapet bantuan dari dukun, " lanjut Dinda.
"Mm.. bener, " sahut Rara.
Putri hanya geleng-geleng kepala. Dan membuka pintu depan untuk Lukman keluar.
"Lah kenapa di buka put?" tanya Lukman.
"Sana lu keluar, bantuin mereka, " sahut Putri.
"Kalian mau kemana?" tanya Lukman.
"Kemana aja kek, jangan suka kepo lu, " sahut Rara kesal karana sedari tadi Lukman trus bertanya.
"Eh, gue beneran nanya ini, " sahut Lukman.
"Ke toilet, " sahut Rara asal bicara.
"Nah udah di jawab kan? udah sana.. jangan suka ganggu.. ini urusan para cewek, lu cowok sana.. " sahut Putri.
"Gue bukan cowok, " sahut Lukman.
"Tapi.. "
"Bencong, "
"Pantesan kelakukan nya kek dajjal, " sahut Dinda.
"Udah ya bye bye Lukman, " sahut Rara dkk melambaikan tangan mereka ke arah Lukman yang tengah bengong mencari tempat rebahan.
Mobil Putri pun berjalan meninggal kawasan GOR yang masih sangat ramai itu. Tanpa berpikir panjang, Lukman segera mencari tempat untuk bisa rebahan lagi, dari pada kerja tapi gak di gajih kan.. mending rebahan.
Sesampainya di rumah keluarga Marcell. Terlihat di sana ada banyak pelayan dan asisten rumah tangga yang sedang sibuk ke sana ke mari, menyiapkan semuanya dengan sempurna.
"Etdah, ini rumah atau tempat catering? banyak amat pelayan nya, " sahut Rara.
"Tau nih, emang siapa sih yang mau nikah? ratu?" tanya Putri.
"Ratu kerajaan cipendem, " sahut Rara.
"Ahahaha, " mereka bertiga tertawa.
"Yuk masuk girl, " sahut Dinda jalan duluan.
Meraka masuk ke dalam rumah Marcell, di sana sudah tertata rapih meja panjang di tambah dengan kursi dan karpet merah.
"Busett, ini mah pernikahan keluarga kerajaan, " sahut Rara kagum.
"Kayak istana aje nih rumah, " sahut Putri.
"Mm.. bukan lebih lagi, keluarga gue mah ketinggalan jauh kalo di bandingin sama keluarga Marcell, " sahut Putri.
"Ahahaha.. " Dinda hanya tertawa.
"Geblek, meja panjang oi, makanan nya pun banyak lah makan dulu yuk, laper, " sahut Rara.
"Makan mulu yang di otaknya udah buruan kita ke Nanda... tapi dimana kamar nya?" tanya Dinda.
"Dia jadi agak mirip sama Agung ye, " sahut Putri.
"Di otaknya cuma makanan makanan, kayak yang gak pernah di kasih makan ae lu sama Bunda lu, " sahut Dinda.
Sementara Putri dan Rara sedang mengobrol, Dinda memberanikan diri untuk bertanya ke seorang pelayan yang sedang membawa 20 piring di tangannya.
"Maaf, mau tanya, Nanda di mana yah?" tanya Dinda.
"Oh nona Nanda, ada di kamar nya, ini Dinda Davaela?" tanya pelayan itu.
"Iya benar, oh iya makasihh yah, "
"I-iya nona sama-sama, "
Dinda pun kembali ke tempat Rara dan Putri berada. Tapi... baru di tinggal dua menit tuh dia anak kembar udah hilang.
Dinda akhirnya dengan berat hati mencari Rara dan Putri berada. Dan di sana terlihat lah ada beberapa teman-teman Tante Shera dengan pakaian mewah, barang-barang mewah, dan di sebelah nya ada seseorang gadis seperti sedang memamerkan cincin atau kalung.
"Udah Rara... jangan suka ngegosip mulu, maaf yah Tante, " sahut Dinda langsung menggusur Rara menjauh dari biang gosip yaitu emak-emak.
"Aduh, pelan-pelan napa, " sahut Rara.
"Mentang-mentang lu dari keluarga suka gosip, jangan suka jadi biang gosip, " sahut Dinda.
Mereka berdua sudah ada di atas tangga. Rara yang hanya sibuk bermain ponsel nya sendiri tak peduli yang di katakan orang-orang. Sedangkan Dinda mencari Putri dari atas tangga.
"Mana tuh anak, mentang-mentang badan nya kecil kayak semut jadi susah nyarinya, " gumam Dinda.
"Gimana udah ketemu belum?" tanya Rara.
"Belum, makanya bantu nyari napa bukannya pacaran mulu sama Agung, mentang-mentang udah tunangan, " sahut Dinda.
"Gue juga gak mau kalah sama lu din, lu juga kan udah tunangan sama Angga, gue juga gak mau kalah, " sahut Rara.
"Serah lu dah, " sahut Dinda.
"Nah itu tuh Putri.. " sahut Rara sambil menunjuk ke arah seorang gadis yang habis keluar dari balik pintu dapur.
"Mana mana?" tanya Dinda.
"Itu.. yang rambut nya di gerai, trus pake baju putih panjang, sama levis biru langit, " jelas Rara.
"Mana.? .... oh iya.. PUTRI!!" teriak Dinda.
"Putri!!" teriak Rara.
"Budek tuh anak, " sahut Rara kesal.
"Terlalu lama gaul sama Ihsan jadi ikutan budek, " sahut Dinda.
"Putri Arkuela!! oi!! di sini buta huruf, " teriak Dinda yang kesal.
"Nj*yy buta huruf.. hahaha.. " sahut Rara tertawa.
"Kesel gue, " sahut Dinda.
Putri menengok ke arah tangga dan melihat Dinda yang melambaikan tangan nya ke arah dirinya. Dengan cepat Putri berlari ke arah mereka berdua sambil membawa kue di tangannya.
"Dari mana aja lu?" tanya Dinda.
"Tau nih, bisa nya bikin orang panik aja, " sahut Rara.
"Ya maaf, " sahut Putri sambil makan kue dengan garpu.
"Btw, lu dapet dari mana ini kue?" tanya Rara.
"Nyolong gue di dapur, " jawab Putri santai.
"G*bl" k, hehe.. bisa-bisa nya keluarga Arkuela nyolong kue di dapur, " sahut Rara.
"Maklum, keluarga gue kalo ada kue langsung main ambil aja, " sahut Putri.
"Gak akan di marahin ini?" tanya Dinda.
"Gak tau, "
"Ada yang memakan kue strawberry di dapur?!" teriak seorang koki kelas atas panik.
Mendengar nya Putri dengan cepat berlari dan membuka pintu asal. "Nj*rr gue di cari.. kabur kabur, " sahut Putri panik.
"Eh eh, kamar Nanda di sebelah kanan, ngapain lu buka pintu kamar orang, mau di amuk massal lu sama Fauzan?" tanya Dinda.
"Oh salah, " sahut Putri. Putri segera berpindah dengan cepat dan membuka pintu kamar Nanda.
BRAKK..
"Nanda my love for you guys are sick vs when girls cut they hair tonic!!" teriak Putri.
"Ngomong apaan tuh bocah?" tanya Rara
"Mana gue tau, " sahut Dinda.
Akhirnya meraka berhasil bertemu dengan Nanda walau ada beberapa hambatan yang membuat Dinda kelelahan. Tapi sekarang kelelahan itu sudah hilang karena Dinda dapat melihat kembali sosok seorang teman yang sudah lama tidak dia temui.
Mungkin sudah satu sampai dua bulan mereka tak bertemu. Walau meraka masih sering kumpul-kumpul di cafe, tapi yah tetep aja... kangen yah kangen.. gak bisa di ambil gugat titik.