My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Kuliah di Bandung



*maaf yah, kali ini gak ada acara pernikahan:( *


Beberapa bulan kemudian. Setelah menghadiri satu persatu teman-teman nya yang nikah, begitu pun dengan sahabat-sahabat mereka.


• Rara-Agung yang menikah pada tanggal 27 Agustus 202*


• Putri-Ihsan yang menikah pada tanggal 8 September 202*


• Dinda-Angga yang menikah pada tanggal 4 Desember 202*


• Dwi-Lukman yang menikah pada tanggal 26 Pebruari 202*


.


.


.


.


.


Hari ini adalah hari di mana Nanda dkk dan Marcell dkk berkumpul di restoran Marcell.


Kebetulan sekali ini adalah hari minggu, weekend. Restoran Marcell sedang sangat ramai makanya butuh karyawan tambahan untuk membantu para pegawai nya.


"Hey, kalian nanti kuliah mau dimana?" tanya Rara memulai obrolan.


"Gue sama Dwi di Jakarta aja, " jawab Lukman sambil minum juz coklat.


"Kalo gue sama Marcell setuju kuliah di Bandung, " sahut Nanda.


"Hah? Di bandung? Gak salah denger nih gue? Bukannya kuliahan yang bagus itu di Jakarta, kenapa lu jauh-jauh ke Bandung buat kuliah?" tanya Rara.


"Yah gimana gue lah, kan lu nanya mau kuliah di mana, yah gue jawab di Bandung, " sahut Nanda.


"Iya juga sih.. Kalo elu Din?" tanya Rara.


"Gue sama Angga kuliah di Jakarta, " jawab Dinda.


"Mm, kalo lu Ra?" tanya Putri.


"Gak tau, tanya aja sana suami gue, dia sama sekali belum ada rencana mau kuliah di mana, " sahut Rara.


"Kalo menurut gue mah sayang, mending kita kuliah di luar negeri aja, " sahut Agung.


"Kenapa harus di luar negeri sih? Kenapa gak di dalem negeri aja, buang-buang uang, " sahut Nanda.


"Gue juga sebenarnya gak mau sih kuliah di luar negeri, " sahut Rara.


"Lah???" sahut Agung penuh tanda tanya.


"Tapi karna lu sekarang suami gue.. Yah terpaksalah gue ikut, mau gimana lagi, " sahut Rara.


"Nahh.. Ini baru bener, " sahut Agung memeluk istri nya itu.


"Jijik ih liat kalian mesra, " sahut Nanda.


"Cell, istri mau katanya, " sahut Angga.


"Mau? Kan udah malem di kamar lama, " sahut Marcell.


"Uuuuuuu, "


"Ooouuuuuhhhhh, "


Nanda berhenti minum dan mencubit paha Marcell dengan kuat sampai dia meringis kesakitan.


"Aauu, "


"Bisa diem gak lu! Masalah malem kagak usah di bawah-bawa ke obrolan ini!!" bisik Nanda geram.


"Uuhhh, " sahut Agung.


"Awww.. Din... Di kamar, " sahut Putri.


"Iyoo, " sahut Dinda.


"Kenapa? Kan mereka semua udah nikah, " sahut Marcell.


"Mending diem deh lu, " sahut Nanda menutup mulut Marcell dengan tangan nya.


"Mm, it's okay, " sahut Marcell melepaskan tangan Nanda dari mulut nya.


"Enak banget yah, malem bisa romantis romantis.. Gue sama sekali gak bisa, " sahut Dinda.


"Kenapa?" tanya Rara.


"Ada yang ganggu ya, " sahut Nanda.


"Iyah, biasalah emak gue sama emak nya Angga, setiap gue sama Angga ada di kamar selalu ajaa ada yang ngintip di sela-sela pintu, " sahut Dinda.


"Ahahaha.. Masih enak nj*rt liat di sela-sela, lah gue di Fauzan liat tubuh mulu---aakkhh,, "


Nanda kembali mencubit paha Marcell dengan sekuat tenaga. Sedang kan Marcell hanya bisa melihat Nanda dengan tatapan membunuh nya.


"Bisa diem gak lu!!" bisik Nanda semakin geram.


"Oohh, begituhh, " sahut Agung udah tau.


"Oohh iya, " sahut Lukman.


"Lukman sekarang jadi jarang ngelawak yah, " sahut Dinda.


"Mm? Oh iya, " sahut Putri.


"Lah emang gue sering ngelawak? Perasaan kagak pernah dah, " sahut Lukman.


"Sering nj*m, setiap lu ngomong pasti ada ajah yang ketawa, " sahut Nanda.


"Lah itu mah kalian aja yang lagi bahagiakan, " sahut Lukman.


"Hemm, " sahut Agung.


"Eh, Dwi ngobrol lah, " sahut Putri.


"Ahha.. Iya, " sahut Dwi malu-malu.


"Btw, Putri sama Ihsan kuliah di mana?" tanya Nanda.


"Di Jakarta, " jawab Putri.


"Ooh, "


"Jujur aja gue pengen nya di Korea, tapi karna istri gue pengen nya di Jakarta yah gue turutin apa mau nya, " sahut Ihsan.


"Hemm, bersabarlah, " sahut Angga.


Sampai waktu nya habis, yaitu jam lima sore. Satu persatu teman mereka pulang ke rumah nya.


Setelah yang terakhir pulang Dinda dan Angga. Nanda dan Marcell masih di restoran dan memperhatikan seluruh karyawan yang berkerja.


"Lu gak ada niatan ngasih mereka bonus?" tanya Nanda.


"Emang harus?" tanya Marcell.


"Oh... Ya udah sama lu aja ngasih bonus nya, " sahut Marcell.


"Maksud lu?" tanya Marcell tak mengerti.


"Lu aja yang ngatur keuangan mereka, gue lagi badmood, " sahut Marcell.


"Ada yah bos yang kayak beginian, " sahut Nanda geleng-geleng kepala.


"Males gue, " sahut


"Males apa nya?"


"Males ngurusin restoran, mana Ayah terus terusan ngasih gue tugas kantor, " sahut Marcell.


"Ohh, jadi restoran ini lu kasih ke gue?"


"Yah silahkan aja, " sahut Marcell santai.


"Widiww.. Gue punya usaha, " sahut Nanda senang.


Marcell hanya mengangguk pelan. "Tapi nanti kalo lu dapet gaji dari perusahaan ayah, tetep jadi yang istri juga yah, " sahut Nanda.


"Meres lu nj*m, " sahut Marcell.


"Ohoho, biasalah, " sahut Nanda tertawa.


"Jangan ketawa gitu lu, serem gue denger nya, " sahut Marcell.


"Yuk pulang, bunda udah nyiapin makan malam, " ucap Marcell.


"Yuk, " sahut Nanda.


"Sekalian kita bicarain soal tempat kampus, " sahut Marcell.


"Ayoo lah let's Go, " sahut Nanda.


Mereka berdua naik ke mobil sampai ke rumah kediaman keluarga Alfarizky.


.


.


.


.


.


Saat malam hari, tepat nya di ruang keluarga.


Ayah datang dan duduk di sofa di samping Bunda yang sedang menonton TV.


"Kalian nanti kuliah mau dimana?" tanya Ayah.


Ini dia, pertanyaan yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga.


"Kita udah punya rencana mau kuliah di Bandung, " jawab Marcell.


"Hah kok jauh banget? Kenapa gak di Jakarta aja?" tanya Bunda kaget.


"Gak papa kok bun, biar kita bisa mandiri, sekalian juga Nanda mau belajar ngurus Marcell sendiri, " sahut Nanda.


"Oh, emang di sini siapa yang ngurus Marcell setelah dia nikah?"


"Kan masih Bunda yang ngurus, aku sama Marcell, " sahut Nanda.


"Kan Bunda,, bukan Nanda, " sahut Marcell.


"Ouh, masa sih? Oh ya udah kalo gitu, " sahut Bunda setuju.


"Tapi... Tugas kantor masih kamu yang urus kan? Masa iya Ayah terus yang ngurus, " sahut Ayah.


"Iya ayah, aku bawa semua ke Bandung sekalian kuliah, sama... " sahut Marcell melihat Nanda.


"Apa? Sama apa?" tanya Nanda.


"Enggak bukan apa-apa, " sahut Marcell.


"Bun, kami pulang dulu yah, assalamu'alaikum, " pamit Marcell.


"Iyah, hati-hati yah cell, " sahut Bunda.


"Iya Bunda, " sahut Marcell.


.


.


.


.


.


Beberapa hari kemudian. Nanda dan Marcell sudah mendaftar di kampus UIN di bandung.


Kini mereka akan berangkat ke Bandung setelah mendapatkan izin dari kedua orang tua dan juga mertua.


"Mah, Ayah kita berangkat dulu je Bandung, " pamit Marcell kepada Ayah Endi dan Mama Patmi.


"Iya hati-hati yah, " sahut Ayah Endi.


"Apartemen di Bandung udah ada?" tanya Mama.


"Udah kok mah, " jawab Nanda.


"Kalau kalian kuliah di Bandung kan 4 tahun, kenapa gak beli aja rumah di sana?" tanya Mama.


"Enggak mah, Nanda katanya gak mau ada rumah di Bandung, cukup rumah di Jakarta aja, " sahut Marcell.


"Iyalah, rumah kalian di Jakarta banyak, rumah Bunda, Mama, terus rumah kalian berdua, " sahut Bunda.


"Ehehe iya, " sahut Marcell.


Setelah berpamitan dengan orang tua dan mertua, dan tak lupa dengan adik-adik mereka yang sangat senang jika Nanda dan Marcell tak pulang ke Jakarta selama kurang lebih 4 tahun.


"Rumah aman yah Kak, " ucap Betly.


"InsyaAllah, rumah aman, " sahut Firza.


"Hem, nih perasaan udah mulai gak enak kalo kalian ngomong katakan gitu, " sahut Nanda.


"Yee.. Beneran ini mah.. Rumah kalian aman kok, " sahut Betly.


"Iya-in, " sahut Marcell.


"Kasian, " sambung Nanda.


Nanda dan Marcell pun pergi naik mobil Marcell menuju Bandung.


Welcome to Bandung. Semua bahasa dan semua tempat menggunakan bahasa Sunda, banyak tempat-tempat pariwisata, jangan lupa mampir untuk minta poto di kebun teh. Banyak tukang baso di mana-mana ada, di pinggir jalan, di restoran dan di cafe ada, tak kalah sama Jakarta makanya mampir ke Bandung biar tau!!!