My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Ulangan



Setelah banyak drama, akhirnya Nanda kembali berjalan seperti biasa menuju kelasnya. Tapi saat berada di lapangan, dia melihat Marcell yang sedang menyiapkan perlengkapan sekolah.


Nanda menghampiri Marcell yang tengah sibuk itu.


"Marcell... " panggil Nanda.


Marcell menengok ke arah Nanda dan berjalan ke arahnya.


"Apa?" tanya Marcell.


"Jadi gak belajar di perpus nya?" tanya Nanda.


"Gak jadi, lu belajar aja di kelas sama yang lain, gue harus siap-siapin perlengkapan sekolah, " sahut Marcell.


"Oh yak udah, " sahut Nanda berjalan tanpa melirik Marcell sedikit pun.


Di kelas Nanda.


"Hallo gengs.... " ucap Nanda seraya membuka pintu.


Krik... Krik... Krik...


Tak ada yang menyahut ataupun melihat Nanda datang.


"Lah kok sepi? Biasanya juga banyak yang gosip sama gibah, " gumam Nanda lalu berjalan menuju mejanya.


Brukk...


Nanda menaruh tasnya di atas meja dan dirinya duduk di kursi. Nanda melihat ke sekeliling kelasnya banyak anak-anak siswa kelas IPS 3 memang rajin belajar dan juga sering mendapat juara. Tapi kali ini mereka akan menghadapi ulangan IPA, tentunya bukan keahlian mereka. Maka dari itu mereka semua belajar sungguh-sungguh.


"Mike, " panggil Nanda.


"Apa?" tanya Mike tanpa menoleh.


"Lu bukannya belajar malah baca komik, " sahut Nanda.


"Otak gue capek, liat semua rumus sama angke terus dari kemarin, " sahut Mike.


"Lu sendiri gak belajar?" tanya Mike.


"Gak, gue males, " sahut Nanda.


Seketika semua orang melihat Nanda tak percaya.


"Apa? Kok ngeliatin gue kayak gitu? Biasa aja kali, " sahut Nanda.


Salsa menghampiri Nanda, "Ini beneran elu ndak?" tanya Salsa sambil memegang pipi Nanda.


"Iya ini gue... " sahut Nanda.


"Yakin ini Nanda yang kita kenal... Masa sih seorang Nanda males belajar, " sahut Salsa kaget tak percaya.


"Kayaknya gue salah orang... Ini bukan Nanda si ketua kelas IPS 3 tapi Nanda kelas sebelah ini.... " sahut Mike sambil menunjuk.


"HALLO GENGSS... PARA PEMBENCI PELAJARAN IPA.... " teriak seorang gadis dari depan pintu.


"Elu... Tau aja kalo kita semua benci pelajaran IPA.. " sahut Jilan.


"Oh iya dong... Harus... " sahut Dinda berjalan masuk.


"Nandaqu cayang.... Lu belajar gak semalam, pasti belajar lah... Nanda... " sahut Dinda.


"Gue gak belajar males, " sahut Nanda.


Seketika Dinda melihat Nanda dengan ekspresi tak percaya.


"Lu sahabat gue bukan? Masa iya seorang Nanda gak belajar... " sahut Dinda.


"Mike ini siswa kelas mana?" tanya Dinda pada Mike yang asik baca buku komik.


"Gak tau, dapet mulung, " sahut Mike tanpa menoleh sedikit pun dari komik.


"Dasar... Kalo udah megang komik lupa dunia, " sahut Dinda.


"Dari pada elu, kalo udah ada Angga lupa sama temen sendiri, " sahut Nanda.


"Heheh... Berasa dunia ini milik kita berdua... " sahut Dinda tertawa.


"Anj*rr bucin... " sahut Rara baru masuk kelas.


"Dari mana lu?" tanya Putri.


"Biasalah gue habis ngehajar anak ******, " sahut Rara.


"Anak ******? Siapa tuh?" tanya Dinda.


"Tuh Agung, " sahut Rara.


"Gak ada romantis-romantisnya lu jadi pacar... Panggil kek ayank, baby... Atau apa lah... Lah ini anak babi anak monyet, sekarang anak ******.... Adeeehh pusing gue..." sahut Dinda menepuk dahinya.


"Pusing? Minum baygon... " sahut Nanda.


"Lu pikir gue nyamuk, " sahut Dinda.


"Lu emang nyamuk yang suka ngisep darah orang ples suka ngeganggu, " sahut Putri.


"Oh iya gue emang nyamuk, gue bakal ngisep habis semua cinta Angga... " sahut Dinda.


"Gila nih anak, " gumam Rara.


"Makin pusing aja gue, " gumam Putri.


"Gak cowoknya gak ceweknya sama-sama gilaa, " sahut Nanda.


"Aaaaa..... Eh, btw lu beneran gak belajar?" tanya Dinda setelah teriak.


"Gak, gue belajar kok, cuma 10 menit, " sahut Nanda.


"Sudah ku duga, gue pikir lu gak belajar, " sahut Putri.


"Emang kenapa kalo gue gak belajar?" tanya Nanda.


"Kalo lu gak belajar, nanti kita bertiga gimana mau nyontek, " cibir Rara.


"Gak usah kenceng-kenceng... Nanti kalo ketahuan sama yang lain, bakal ikutan nyontek jugaa... " sahut Dinda.


"Pelit kalian, masa kalian bertiga doang yang nyontek, kali-kali kita atuh di bagi... "


"Eaaa... " sahut Rara tertawa bersama Dinda.


"Anak siapa sih mereka?" tanya Putri.


"Gue anak angkat Nanda, " sahut Dinda berhenti tertawa.


"Kalo gue anak pungut... " sahut Rara.


"Ngejawab lagi... " gumam Putri.


Nanda hanya bisa geleng-geleng kepala nya pelan kali ini.


Akhirnya bel yang di benci anak IPS 3 berbunyi. Guru IPA masuk ke kelas dan mulai mengeluarkan selembar kertas dari map.


"Anak-anak kalian hari ini ada ulangan, "


"Iya bu... Kita semua udah tau... "


"Bagus... Kalo gitu silahkan ketua kelas bagikan selembar soal ini ke teman-temannya... "


Nanda berdiri dan mengambil semua soal-soal itu. Saat akan membagikan soal Nanda melihat soal di kertas itu hampir semua essay atau bisa di bilang tidak ada pg sama sekali.


Buset dah ini soal ulangan atau soal lamaran kerja... Banyak amat essay nya.. - batin Nanda.


Setelah selesai membagikan soal, Nanda kembali ke meja dan mulai mengisi dengan tenang.


Yang mana dulu? Yang gampang aja dulu atau yang susah dulu? Ehh bentar no 24 kok sama kayak soal yang di kasih Marcell di toko buku itu yah? Masa bodo... Mending isi aja.. - batin Nanda.


Waktu terus berjalan, bahkan sebentar lagi bel berbunyi dan pelajaran berikut nya akan segara datang.


Ini mah hampir semua soal yang Marcell kasih ada di sini... - batin Nanda.


.


.


.


.


.


Sementara itu Marcell.


"Cell lu ngajar Nanda gak semalem?" tanya Angga.


"Baru tadi pagi kita belajar bareng, " sahut Marcell.


"Lu ngasih soal-soal gak ke Nanda?" tanya Agung.


"Ngasih lah, gue malah hampir semua soal yang ada di kertas itu, gue kasih semua.. " sahut Marcell.


"Enak banget lu... Gue mau ngasih soal ke Dinda, eh dianya malah nolak, " sahut Angga.


"Kasian... Apalagi gue... Rara gak ngizinin gue ke rumahnya... " sahut Agung.


"Tambah kasian... " sahut Angga.


"Ckckckck... Yang sabar... " sahut Marcell menggelengkan kepalanya pelan.


"Gue itu terkadang bingung sama perasaan gue sendiri, " sahut Agung curhat.


"Maksud lu?" tanya Angga mulai jadi pendengar setia.


"Iya jadi, dia tuh mau gak sih sebenernya jadi pacar gue? Kalo gak mah terus kenapa dia pake kalung yang emas coba?"


"Mungkin dia itu suka sama elu... Cuma dia juga bingung mau gimana lagi... "


Mulai dah dua anak ini, yang satu terus curhat yang satu ngasih saran yang gak nyambung... - batin Marcell.


"Iya gue juga sama..... Gue terkadang pusing sama perasaan gue sendiri terhadap Rara... "


"Yang sabar... Nanti juga lu dapet apa yang lu mau... "


"Gue pusing gue harus gimana?"


"Lu harus kuat, tetap strong, "


"Masa iya gue harus putus sama Rara, gue gak mau... "


"Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untuk mu... "


"Thanks ga... Lu selalu jadi pendengar setia yang selalu denger semua curhatan gue... " sahut Agung memeluk Angga.


"Iya sama-sama... Lu harus tetep kuat, jangan suka nyerah gitu aja, " sahut Angga membalas pelukan Agung.


Kenapa gue sampe bisa temenan sama mereka sih? Bingung gue.. - batin Marcell.


Ding.. Dong... Ding... Dong...


Bel masuk sudah berbunyi, Marcell tak memedulikan mereka berdua yang masih berpelukan di belakang nya.


Tanpa mereka sadar Marcell sudah pergi lebih dulu menuju kelas.


"Thanks bro... Cell--" saat Agung akan berbalik ke arah Marcell, Marcell sudah tidak ada.


"Lah mana nih bocah?" tanya Agung celingak-celinguk.


"Tuh... Dia udah duluan... " tunjuk Angga ke arah depan.


"Dasar gak ada akhlak... Ninggalin kite berdua.. " sahut Agung.


Angga berjalan santai melewati Agung masih berbicara.


"Iya engga ga--"


Krikk... Krikk... Krikk...


Agung baru saja akan menoleh ke arah Angga, tapi Angga sudah tidak ada di tempat, malah sekarang dia ada di depan berjalan santai.


Emang yak kalian berdua.. Gak ada akhlak bener... - batin Agung.


Agung pun menyusul Angga sedangkan Marcell sudah duluan masuk ke dalam kelas.