My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Menginap malam ini



Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Setelah mereka selesai makan daging yang di traktir oleh Marcell mereka akan pulang ke rumah mereka masing-masing. Tapi Nanda menyuruh mereka untuk menginap malam ini.


"Udah malem, gue mau pulang duluan ya, " sahut Agung setelah melihat jam tangan nya.


"Eh iya, gue juga harus pulang sekarang nanti emak gue ngamuk lagi, " sahut Putri.


"Ehh jangan pulang dulu, nginep kek di sini semalem aja.. " sahut Nanda.


Mendengar nya Marcell sudah tak setuju dengan perkataan Nanda.


"Yang bener nih? suami lu kayak yang gak suka gitu.. kalo kita nginep, " sahut Ihsan melihat Marcell.


"Boleh kan Marcell?" tanya Nanda dengan muka imut nya.


Awal nya Marcell sebal dengan tingkah Nanda yang seperti ini, tapi apa boleh buat, "Iya boleh, " sahut Marcell terpaksa.


"Nah kan boleh.. kita tidur berempat.. " sahut Nanda senang.


"Berempat?!" tanya Marcell.


"Iyalah, gue, Dinda, Rara, sama Putri, masa iya gue tidur sama elu malu kale ada tamu, lu tidur aja sama Angga, Agung, Lukman sama Ihsan di kamar tamu, " sahut Nanda.


Whayy.. gue di suruh tidur sama anak-anak dajjal?! yang bener aja.. - batin Marcell.


"Ya udah kalo gitu.. " sahut Dinda.


"Gue tidur gak mau di tengahh.. " sahut Rata segera berlari ke dalam rumah.


"Ehh.. gue juga gak mauu tidur di tengah.. " teriak Nanda segera beranjak dari duduk nya dan berlari menyusul Rara.


"Gue tidur.. di deket jendela aja yah.. " sahut Dinda.


"Noo.. gue yang tidur di deket jendela, " sahut Dinda.


"Enggak.. enggak enak aja.. gue.. " sahut Putri.


"Noo.. pokonya gue tidur di deket jendela.. koma.. " sahut Dinda.


"Titik eceu.. titik.. " sahut Putri.


"Iya itu maksudnya.. " sahut Dinda.


"Udah sana... kalian masuk aja ke dalem.. kalo bisa kalian tauran aja.. gara-gara pilih tempat tidur dong ribut, " sahut Lukman.


Dinda dan Putri diam sejenak, mereka menghampiri Lukman yang sedang duduk, mereka berdua mendekatkan mulut mereka ke telinga Lukman.


"Bodoamat!!" teriak Dinda dan Putri tepat di telinga Lukman.


"Nj*ss telinga gue.. " sahut Lukman memegang kedua telinga nya.


Setelah menyelesaikan misi mereka, Dinda dan Putri segera masuk ke dalam.


Sementara itu di kamar Nanda dan Marcell. Rara dan Nanda kekeuh gak mau tidur di tengah.


"Pokonya gue gak mau tidur di tengah!!" teriak Rara.


"Gue juga gak mau!" teriak Nanda.


"Btw, ndakk di rumah lu ada kasur yang gak kepake?" tanya Dinda.


"Ada sih.. " sahut Nanda.


"Ya udah bawa ke sini.. gue sama Dinda tidur di deket jendela, kalian tidur aja di kasur gede itu.. " sahut Putri.


"Bener juga, " sahut Nanda segera keluar kamar untuk membawa kasur satu nya lagi.


"Tumben lu pinter, " sahut Rara.


"Yeuuhh, dari dulu juga gue udah pinter, itu mau kalian aja yang kurang ngeh sama kepinteran gue, " sahut Putri.


"Iuuhh, " sahut Dinda.


"Hiling hiling, " sahut Rara.


Cklekk...


"Oy, jangan banyak bacot, nih tolong bantuin gue, " sahut Nanda.


"Nj*rr kasur nya gede amat.. " sahut Rara.


"Iya lah, " sahut Nanda.


Nanda dkk segera membawa kasur busa yang besar itu ke dalam. "Empuk banget nih kasur.. gue sama Putri tidur di kasur ini.. " sahut Dinda memeluk kasur itu.


"Ehh.. bantuin masukin dulu jangan dulu di peluk-peluk, " sahut Rara.


"Oh oke, " sahut Dinda.


Setelah berhasil memasukkan kasur besar itu ke dalam dan menggulingkan nya secara perlahan, Dinda dan Putri segera rebahan dan guling-guling.


"Ini tempat gue.. " sahut Dinda melebarkan tangannya.


"Gue di sini.. buka pintu balkon nya dong.. panas.. " sahut Putri.


"Kan ada AC.. " sahut Rara.


"Bentar gue ambil bantal sama guling buat kalian berdua.. " sahut Nanda berjalan keluar.


"Sama jangan lupa, nyalain AC nya.. " sahut Rara.


"Oke.. " sahut Nanda.


Tak lama setelah Nanda keluar datang lah sekumpulan anak-anak titisan neraka yang tak ingin di lihat tapi malah datang masuk.


"Widiww.. kamar nya bagus ***.. " sahut Lukman berjalan masuk.


"Iihh apaan sih.. keluar kalian semua.. " sahut Rara


"Kenapa sih? emang gak boleh?" tanya Ihsan.


"Karna kamar ini sudah di kuasai oleh para gadis.. kalian gak boleh seenaknya keluar masuk, " sahut Rara.


"Ehh, kata siapa kalian semua ini para gadis.. di sini udah gak ada yang perawan.. " sahut Lukman.


"Ehh iya bener... kan Nanda udah gak perawan.. xixixi.. " sahut Ihsan.


Ihsan dan Lukman masih tertawa, sedangkan Marcell, Agung dan Angga hanya berkeliling ruangan.


"Cell btw Nanda udah gak perawan ya?" tanya Lukman.


Tapi Marcell tak mempedulikan pertanyaan dari Lukman itu. "Oi, cell.. " panggil Lukman.


Marcell berbalik ke arah Lukman dan melihat ada seorang wanita yang sedang berdiri di belakang dengan wajah seram sambil memegang sapu di tangan kanannya sedang kan tangan kiri nya ada bantal dan juga guling.


Tiba-tiba Marcell segera berjalan ke arah balkon dan berdiam diri di sana.


"Lah ngapa tuu bocah? tadi nengok ke sini tapi langsung lari ketakutan gitu kayak liat setan aja.. " sahut Lukman terkekeh pelan.


"Tau, emang kenapa sih?" tanya Ihsan.


Agung dan yang lain tak bisa berbuat apa-apa, karena takut oleh satu makhluk yang ada di belakang Lukman dan Ihsan itu.


"Oi, Angga lu kenapa?" tanya Ihsan.


"Lu kayak yang ketakutan gitu? ada apa sih?" tanya Lukman.


Mereka berdua merasa bingung dengan perkataan Dinda, Lukman dan Ihsan segera berbalik tanpa berasa ada dosa.


"Wieett.. nj*rt setann!!" teriak Lukman kaget.


"Aduhh mamaee ada setan datang ke kamar para gadis yang tak boleh di lihat, mukanya kayak kertas amplas.. " sahut Ihsan bernyanyi, lalu mereka berdua tertawa.


"Waahh parah nih.. mereka nyari mati, " gumam Rara.


"Beg0 banget yah punya temen, " gumam Agung.


"Apa kata kalian barusan?!" tanya Nanda.


Nanda membuang barang-barang di tangan lalu meremas kedua tangan nya itu siapa untuk menghajar dua syaiton yang ada di depan nya.


"Eehh Nanda.. " sahut Lukman tersenyum.


"Apa kabar bu? baik kan? pasti baiklah, masa engga baik.. hahaha iya kan man.. " sahut Ihsan menepuk pundak Lukman.


"Iyaa.. hahaha.. " sahut Lukman tersenyum.


"Malah senyum-senyum gak jelas lagi, dasar anak-anak gilaa kalian berdua.. " sahut Nanda mengambil kembali sapu di lantai itu dan memukul pelan ke arah Lukman dan Ihsan.


"Mamaaahhh ampunn.. " teriak Lukman berlari ke sana ke sini.


"Mamaaa.. " teriak Ihsan segera keluar dari kamar.


"Pergi kalian para nyamuk aedis.. " sahut Nanda sambil memukul kaki Lukman.


Lukman pun menyerah dan keluar dari kamar. Nanda menengok ke arah Agung dan Angga, sapu itu mulai melayang ke arah mereka berdua.


"Kita pergi kita pergi.. " sahut Agung menarik tangan Angga.


"Mommy marah gays.. " sahut Angga.


"Banyak bacot lu, mau mati ku diem ae di sini.. " sahut Agung.


Setelah Agung dan Angga juga pergi, kini giliran Marcell yang diam di balkon. "Marcell.. " panggil Nanda.


"Iya iya gue keluar, " sahut Marcell berjalan ke arah Nanda dan keluar kamar.


"Pergi kalian wahai nyamuk aedis.. Lama-lama gue taburin garam nih di sini.. " sahut Nanda.


"Lu pikir mereka itu ular apa? sampe harus di taburin garem segala " sahut Putri.


"Iya mereka itu ular titisan dajjal, " sahut Nanda.


Nanda melempar sapu itu ke sembarang tempat dan masuk ke dalam.


Blamm..


"Awas aja tuh dua bocah kadal itu berani masuk, gue hajar mereka sampe mati, " sahut Nanda masih kesal.


"Kirim mereka ke alam baka ndakk.. biar mereka tersiksa di sana.. " sahut Rara ikut-ikutan.


"Btw, lu udah nyalain AC nya belum?" tanya Putri.


"Oh iya lupa, gue nyalain sekarang, " sahut Nanda membuka pintu dan berlari menuruni tangga.


"Ati-ati lu gak mau kan kayak adik ku Firza jatuh dari tangga sampe sekarang masih pitak gara-gara luka di kepala nya, " sahut Rara.


"Hahaha.. lu masih inget kejadian itu.. " sahut Dinda tertawa.


Rara ikut tertawa, "Iyalah kejadian itu gak akan pernah terlupakan seumur hidup, " sahut Rara.


"Emang kenapa adik nya Nanda?" tanya Putri.


"Kalo lu masih ada di indonesia, lu harus liat betapa ngakak nya melihat si Firza jatuh dari tangga, " sahut Rara.


"Iya bener.. sampe ibu nya Nanda ini.. nyari kapas ke warung.. padahal ada di kotak obat.. " sahut Dinda.


"Saking panik nya.. lupa matiin setrikaan, " sahut Rara.


"Syuutt... gue gak peduli sama baju gosong lah lupa matiin setrikaan lah apa lah.. ini gimana ceritanya Firza jatuh sampe kalian ketawa terbahak-bahak kayak gini?" tanya Putri.


"Jadi.. gini.. hahaha.. gue kalo nginget kejadian itu pengen ketawa mulu.. " sahut Rara.


"Sama.. nanti lah kita ceritain, " sahut Dinda.


"Oke, tapi kalian harus janji yah, ceritain kejadian itu ke gue, " sahut Putri.


"Iya lu tenang aja, " sahut Dinda.


"Kita mah selalu menepati janji, " sahut Rara.


"Hemm.. selalu menepati janji.. hemm.. " sahut Nanda bari datang.


"Apa sih.. " sahut Rara.


"Gakk.. " sahut Nanda.


"Idiihh gak jelas lu cok, " sahut Rara.


"Udah berisik tidur, tiga hari lagi ulangan kelulusan, " sahut Nanda sudah rebahan.


"Why? ulangan?" tanya Rara kaget.


"Oh iya, senin depan kita mulai ulangan buat kelulusan, " sahut Putri baru ingat.


"Mm.. oh iya bener.. " sahut Dinda.


"Aahh.. gue belum siap buat ulangan... Nanda cantik, baik hati dan tidak sombong nanti ulangan gue boleh nyontek yah nyontek?" tanya Rara.


"Kita beda ruangan cok, inisial yang di pake, " sahut Nanda.


"Yaaah terus gue nanti ulangan nyontek ke siap dongss.. " sahut Rara manyun bebek.


"Kalo gak salah, lu kayaknya bakal sekelas sama Putri deh, kalo gak salah.. " sahut Dinda.


"Yang bener nihh?" tanya Rara.


"Mungkin, tapi gak tau juga sih.. " sahut Putri.


"Isshh.. " desis Rara.


"Truss Nanda nanti sekelas sama Marcell, " sahut Dinda.


"Nj*yy persaingan antara suami istri ini.. seru nih seruu... " sahut Rara.


"Kayak yang mau nonton bola aja lu, seru nih seru.. " sahut Putri.


"Hehe.. niat gue liat yang beginian, " sahut Rara.


"Lu itu cuma butuh satu niat, lu harus niat ulangan sama belajar, biar jadi orang sukses nanti di masa depan, " sahut Nanda.


"Lu lama-lama kayak emak gue yehh nyeramahin gue mulu, " sahut Rara.


"Serah lah, tidur tidur, " sahut Nanda.


"Yang deket sama saklar lampu tolong matiin, " sahut Rara.


Dinda segera mematikan lampu dan tidur dengan tenang bersama Putri di sebelah nya.