My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Suasana hati



Kicauan burung masih terdengar disekitar wilayah sekolah. Banyak murid yang berjalan santai untuk memasuki gerbang. Masuk sekolah masih lima belas menit lagi, jadi tidak ada salahnya kalau berjalan santai menikmati pagi.


"Nandaa!!" teriak seseorang menganggu kesenangan Nanda saja. Nanda berbalik dan itu ternyata Rara.


"Apaa?!" tanya Nanda


"Temenin gue ke ruang OSIS yukk... " rengeknya.


"Mau apa lu ke ruang OSIS jam segini?" tanya Nanda.


"Gue mau nyerahin laporan PMR, elu ketua pmr kenapa gue yang harus ngerjain, " sahut Rara.


"Gue lagi males kalo ngerjain apa-apa dari kemarin, " sahut Nanda berjalan.


"Eumm... padahal di sana kan ada Marcell, "


"Truss?"


"Yah gue kira lu bakal semangat kalo ada Marcell , tapi ini mah sebaliknya.... Nanda gak seruu... "


Rara berjalan sendirian ke ruang OSIS, sedangkan Nanda terus berjalan ke arah kelasnya tiba-tiba..


Brukk..


Nanda menabrak seorang lelaki sampai terjatuh ke bawah. "Adduuuhhh siapa sih?!" tanya Nanda kesal.


"S-Sorry gue gak liat lu... " sahut lelaki itu dan membantu Nanda berdiri.


"Iya gak papa, "sahut Nanda baik hati.


"Lu gak ada yang luka kan?"


"Gak ada kok, "


"Oh iya kenalin nama gue Bagas, " ucapnya dengan senyum manis nya dan mengulurkan tangannya.


Nanda meraih tangan itu, "Gue Nanda kelas IPS 3,"


"Oh lu kelas IPS 3 gue kelas IPS 2," sahut Bagas.


"Oh.. " sahut Nanda singkat.


"Lu mau kemana?"


"Gue mau ke kelas lah kemana lagi, sorry gue udah telat ada panggilan negara, " sahut Nanda berjalan pergi.


Bagas hanya melihat Nanda yang semakin menjauh itu dan jarak yang semakin melebar memisahkan mereka berdua.


Padahal baru ngobrol sebentar.... - batin Bagas.


Flasback..


Bagas berjalan santai melewati setiap kelas yang ada, hampir semua siswi melihatnya karena Bagas menang terkenal di kalangan wanita.


Bagas menghentikan langkahnya dan melihat seorang wanita sedang berjalan sendirian setalah ditinggal oleh temannya.


"Maaf itu siapa yah?" tanya Bagas bertanya.


"Mm... oh itu Nanda kelas IPS 3, " jawab seorang siswa.


"Oh yak udah makasih yah... " sahut Bagas menepuk pelan pundaknya.


"Akhirnya gue nemuin lu juga, " gumam Bagas mempercepat langkahnya menyusul Nanda.


Dan dia berhenti tepat di depan Nanda, sengaja agar Nanda menabrak nya.


Brukk...


.


.


.


.


.


Nanda berada di kelas sedang membaca buku membentuk dunianya sendiri dengan kelas yang sangat berisik, ada yang mengobrol, ngemusik, ada yang main bulutangkis di kelas, tapi Nanda tak merasa terganggu sama sekali.


Mike yang baru datang melihat kelas yang begitu kacau seperti kapal pecah yang habis ketabrak gunung. Mike celingak-celinguk mencari Nanda.


"Wwoyy berhentii!!" teriak Mike dan ajaibnya semua murid diam.


Mike menghampiri Nanda yang asik sendiri membaca buku. "Ndak lu kok diem aja sih, lu liat nih kelas kayak kapal pecah, " tunjuk Mike.


Nanda melirik Mike dengan malas dan melihat keseliling kelasnya. "Siapa yang sekarang piket kelas, beresin semuanya, " sahut Nanda sikat dan kembali ke dunianya.


Semua anak mulai membereskan semua sampah dan mulai menyapu.


"Hebat banget lu, sekali merintah langsung pada ngerjain... pake dukun apaan?" tanya Mike.


Nanda hanya diam tak berkutik.


"Kebiasaan kalo udah megang buku pasti lupa dunia, " gumam Mike.


BRAKK....


Rara menendang pintu dengan kuat dan membuat semua anak yang ada di dalam kelas kaget, ada yang udah biasa kayak Nanda.


"Ndak!!!"


"Apaa... ?" tanya Nanda santai.


Rara menghampiri Nanda dengan langkah terburu-buru. "Lu tau gak?"


"Gak tau, "


"Sekarang kita belajar Fisika sama kelas IPA 2!!"


"Terusss... "


"Lu gak kaget?"


"Gak... "


"Percuma lu bilang kayak gitu kalo dia lagi megang buku, " sahut Dinda baru datang.


"Iya juga sih, kalo gak megang buku pasti sifat bobrok nya keluar, " sahut Rara.


"Kita bakal belajar Fisika sama anak IPA 2 kan?" tanya Dinda.


"Iya.... apalagi kita sekelompok sama Marcell, " jawab Rara.


"OMG... pasti yayank bebeb gue ada dong?!" tanya Dinda girang.


"Yang bener lu ra... "


"Iya.... dia sekelompok sama Marcell, dimana ada Marcell pasti Angga sama Agung selalu ada, " sahut Rara.


"Fisika pelajaran keberapa?" tanya Mike.


"Pelajaran pertama, kayanya sih lima hari ini kita bakal belajar Fisika terus... " sahut Rara.


"Tau gini gue gak akan bawa buku banyak-banyak, " sahut Dinda.


"Semua PR dikumpulin seperti biasa?" tanya Nanda.


"Kalo soal PR masih dikumpulin siih... cuma kita gak akan belajar selama 5 hari ini... " sahut Rara.


"Ketua kelas mana.... Dipanggil sama guru walas di ruang guru, " sahut Salsa.


"Mike lu aja gue males, " sahut Nanda.


Mike pasrah dan berjalan menuju ruang guru.


...****************...


Jam istirahat pertama.


Nanda ddk berjalan menuju kantin, Rara dan Dinda senang bercanda dan tertawa bersama sedangkan Nanda diam saja menyimak semua obrolan.


"Lu kenapa ndak?" tanya Rara.


"Tau nih dari pagi mingkem mulu, gak seruu... " sahut Dinda.


"Gue baik-baik aja, kalian gak usah khawatir, " sahut Nanda.


Sesampainya mereka di kantin.


"Ndak lu mau pesen apa?" tanya Dinda bersemangat.


"Pesen minum aja sama roti nya 2 rasa coklat, " jawab Nanda.


"Gak mau makan baso atau apa gitu?" tanya Rara.


Nanda menggeleng pelan. Rara dan Dinda saling memandang satu sama lain tak mengerti ada apa dengan Nanda sebenarnya.


Dinda langsung saja memesankan pesanan teman-temannya. Dan menikmati nya bersama.


"Ndak lu sehat?" tanya Rara.


"Mm.. Iya gue sehat, gak usah khawatir, " jawab Nanda lesu.


"Kayaknya dia lagi ada masalah deh... " bisik Dinda.


"Iya... mending udah ini kita ke kelas Marcell tanya, " bisik Rara.


"Okeh aku setuju... " bisik Dinda.


Nanda yang melihat teman-temannya berbisik mulai curiga. "Kalian lagi ngebisikin apa?" tanya Nanda.


"Engga... " jawan Dinda dan Rara bersamaan.


Setelah selesai makan di kantin Nanda pergi menuju kelas sedangkan Dinda dan Rara pergi ke kelas Marcell.


"Assalamu'alaikum... "


"Walaikumsalam, " jawab semua siswa-siswi yang ada didalam kelas.


"Ada Marcell?" tanya Rara.


"Marcell gak ada dia lagi di ruang OSIS, "


"Omg, terus kita harus gimana?" tanya Rara.


"Mana gue tau.... gue sendiri aja bingung, " sahut Dinda.


"Mana Angga sama Agung?" tanya Rara.


"Mereka bertiga ikut Marcell ke ruangan OSIS, "


"Yah gak jadi ketemu sama yayank bebeb niih.. " goda Rara.


"Gak papa, hari masih panjang, " sahut Dinda.


"Udah nanti lagi, yuk ke kelas susul Nanda, " ajak Rara.


...****************...


Bel pulang sudah berbunyi.


Hari ini Nanda dan Marcell tidak pulang bersama merek sedang tidak mood. Beberapa kali teman-teman Nanda menghibur tapi Nanda hanya tersenyum dan menyimak saja. Begitu pun dengan Marcell.


"Ndak lu pulang bareng Marcell?" tanya Rara.


"Nggak gue naik angkot hari ini... " jawab Nanda.


Kayaknya suasana hati dia lagi buruk, - batin Rara


"Kalo gitu mau bareng sama gue gak? sekalian, " tanya Rara.


"Mm, " sahut Nanda singkat.


Nanda dan Rara sedang menunggu angkot lewat di halte biasa tempat anak-anak berkumpul. Nanda tak menyadari kalo Marcell juga tidak membawa mobil atau pun motornya.


Sedangkan Marcell berjalan tenang menyusuri trotoar. Alunan musik klasik keluar dari earphone-nya, mengiringi perjalanan pulang menuju rumahnya. Bagai tidak ada orang disekitarnya, dia terus berjalan tanpa menoleh kebelakang. Asyik sendiri dengan dunianya.


"Marcell!!" Teriak itu membuat langkahnya terhenti. Dia mendengus malas dan lepas earphone-nya terpaksa. Setengah hati dia berbalik dan mendapati seorang gadis berlari ke arahnya. Marcell sangat tahu siapa yang mengejarnya, dan benar saja itu adalah Mila.


"Lo pulang bareng siapa?" tanya gadis itu dengan senyum lebar.


"Menurut lo?" Marcell tanya balik dengan alis yang terangkat.


"Ayuk pulang bareng!" ajaknya kegirangan.


"Ogah.Ganggu lo, " ketus Marcell bergerak untuk meninggalkan Mila.


"Ya udah. Maaf deh kalo ganggu. Ati-ati ya, Marcell!" kata Mila dengan senang walau Marcell sudah berbalik badan dan memasang earphone-nya lagi.


Tanpa memedulikan apa pun dan berharap tidak diganggu siapa pun, Marcell melanjutkan perjalannya lagi. Dengan santai, dia melangkah sambil memandang sekeliling. Beberapa kendaraan lewat disampingnya, banyak juga yang berjalan kaki dan duduk-duduk di warung yang ia lewati.


Masih mengamati sekeliling, pandangannya tertumbuk pada seorang wanita yang sedang berdiri didepannya beberapa meter. Tampak dia sedang menunggu sesuatu dengan bosan. Tetap santai melangkah, Marcell sedikit melirik si gadis ketika jalan didepannya. Terlihat gadis itu kaget melihat Marcell yang berjalan didepannya. Marcell melepas lagi penglihatan nya dan melewati gadis itu tanpa berpikir apa pun


Terkadang Nanda merasa kesal ketika Mila menghampiri Marcell, dia melipat tangannya kuat-kuat menahan amarah yang mulai mengambil alih tubuhnya.


"Ndak tuh angkotnya udah dateng, ayok masuk, " ucap Rara menarik tangan Nanda.


Nanda hanya bisa mengikuti Rara karena tangannya menarik tubuh Nanda menaiki angkot.