
Ding.. dong... ding... dong..
Suara alarm itu membangunkan Marcell yang masih tidur. Marcell mengucek matanya dan melihat ke arah meja yang terdapat jam alarm itu.
Dengan malas nya Marcell menggapai jam itu dan mematikan nya, lalu kembali tidur sambil memeluk Nanda.
Nanda yang merasa ini sudah siang, mulai membuka matanya perlahan dan melihat ke jendela.
Sambil mengubah mengumpulkan nyawa, Nanda menguap beberapa kali, dan melihat jam dinding di depannya.
"Jam... set tujuh.. " gumam Nanda, masih dengan mengumpulkan nyawa.
Sesaat Nanda masih terdiam, tapi saat melihat Marcell berbalik ke arah sebaliknya, Nanda tiba-tiba terkejut dan dengan cepat kilat melompat dari atas kasur.
"WOY!! BANGUN!! UDAH JAM SET TUJUHH!!" teriak Nanda menarik selimut itu.
Marcell yang terganggu, akhirnya bangun dan melihat Nanda, "Apaan sih? ini masih pagii, " sahut Marcell malas.
"Pagi mata mu.. ini udah siang ege.. " teriak Nanda masuk ke kamar mandi.
Blamm..
"Hah siang? masa sih?" tanya Marcell kenapa Nanda, tapi Nanda sudah tak ada di tempat, dia sudah lebih dulu mandi.
Marcell pun mengambil posisi duduk dan melihat ke arah jam dinding di depannya. Tiba-tiba dia melotot dan segera meloncat dari atas kasur.
Tok.. tok.. tok...
"buruannn.. jangan lama-lama... " teriak Marcell panik terus mengetok.
Cklekk..
"Apaan si?! sabar kek bambang, gue juga baru masuk, " sahut Nanda melihat Marcell dengan tubuh yang masih menggunakan handuk.
Marcell dengan paksa masuk ke dalam. "eh eh eh... apaan nih, gak sopan banget lu, gue belum beress mandii.. " sahut Nanda menahan pintu
"Udah lama lu.. gue juga mau mandi... " sahut Marcell berusaha masuk.
"Nggak bisa.. gue juga belum basahh... nanti lu.. " sahut Nanda.
"Enggak engga enggaa... lama lu.. gue masukkk.. " sahut Marcell akhirnya Marcell bisa masuk ke dalam dan menutup pintu.
Blamm...
"Eh, lu udah gak otak yah?!" tanya Nanda.
"Apa sih?"
"Apa sih apa sih... lu gak liat sekarang kita berdua ada di dalam kamar mandi.. gue masih pake handuk, sedangkan elu mau buka baju di sini?"
"Emang kenapa sih? lagian kita kan udah suami istri, "
"Iya tapi kan.. "
Ucapan Nanda tiba-tiba berhenti saat Marcell mulai membuka baju nya satu persatu. Wajah Nanda tiba-tiba memerah, semakin merah, seperti tomat rebus.
"Kyaaa.. orang sintingg... " teriak Nanda menutupi wajahnya dan berbalik.
"Gue mandi duluan, mau langsung berangkat, " sahut Marcell.
"Teruus gue gimana?" tanya Nanda masih menutup matanya.
"Ya kalo lu gak mau telat yak udah mandi bareng aja, " sahut Marcell merasa malu mengatakan itu.
"Tapi kan.. lu udah buka baju, "
"Gue cuma buka baju aja, gak buka celana ini, " sahut Marcell.
"Bener?" tanya Nanda.
"Iya bener, udah cepetan kesiangan nih.. " sahut Marcell.
Nanda membuka matanya perlahan dan benar saja Marcell hanya membuka baju saja, sedangkan celana nya masih di pakai.
Nanda berjalan mendekati Marcell. Marcell pun menyalakan shower di depannya dan mulai mandi seperti biasa. Sedangkan Nanda masih malu-malu, karena ini hal pertama dia pernah mandi bareng dengan seorang lelaki.
"Kenapa lu? udan cepetan mandi, atau gue tinggal, " sahut Marcell.
"Bukan masalah sih lu mau ninggali gue mau engga juga, ini gimana gue mandi nya?" tanya Nanda menunjukkan handuk yang di pakainya.
"Berasa gak dosa lu, padahal elu yang nerobos duluan, " sahut Nanda.
"Ya maaf, nama nya juga telat bangun gara-gara mabar sampe malem, " sahut Marcell.
"Ye, " sahut Nanda singkat.
Akhirnya Nanda pun pasrah dan mandi bareng dengan Marcell walau ada jarak di antara mereka berdua.
Setelah selesai mandi, Nanda keluar duluan dan memakai baju di ruang ganti. Sedangkan Marcell mengambil baju nya terlebih dahulu dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai, mereka berdua masih canggung atas kejadian tadi. "Ehem, kita langsung aja berangkat, " sahut Marcell.
"I-Iya, " sahut Nanda canggung.
Mereka berdua berjalan keluar bersama-sama begitu pun turun tangga, layaknya pengantin baru yang baru saja malam pertama.
Nanda mempercepat jalan nya mendahului Marcell. Mama baru saja datang habis membeli nasi kuning untuk mereka berdua sarapan.
"Ehh, makan dulu.. " sahut mama memegang tangan Nanda yang hendak keluar.
"Gak bisa mah, udah telatt nanti Nanda di hukum lagi, " sahut Nanda berlari keluar rumah.
"Hah? telat?" gumam mama.
"Mah, aku sama Nanda berangkat dulu.. assalamu'alaikum, " sahut Marcell salim kepada mertua nya itu.
"Iya iya, waalaikumsalam, " sahut mama masih bingung.
"Cepatann cell... Marcell.. " teriak Nanda dari luar.
"Iya iya sabar kek.. ini juga lagi otwe keluar rumah, " sahut Marcell.
"Lama lu.. " sahut Nanda kesal.
Marcell segera mengeluarkan motor nya dari garasi. Baru saja Marcell akan memanaskan motor nya agar tak mati di tengah jalan, Nanda yang langsung loncat seperti jin setan tanpa sepengetahuan Marcell membuat Marcell sedikit goyang hampir jatuh bersamaan dengan motornya.
"Hati-hati nj*m... jatuuhh.. " teriak Nanda.
"Lagian elu main loncat-loncat aja ke motor, kayak setan yang gak sabar pengen ke akhirat aja... " sahut Marcell.
"Halahh bacott.. liat jam udah jam delapan, " sahut Nanda asal ngomong.
"Iya sabar.. ini gue manasin dulu motor biar gak mati di tengah jalan, "
"Aarrgghh lamaaa... " teriak Nanda.
Tangan Nanda dengan cepat memegang setang motor dan mulai menurunkan gas.
Brmm.. brmm... brmm..
Motor mereka pun maju dengan kecepatan penuh karena Nanda yang membawanya, walau pandangan nya di halangi oleh kepala Marcell yang ada di depannya.
"Eh ehh sabar g*bl*kk... " teriak Marcell kaget tiba-tiba motornya maju dengan kecepatan penuh.
"Kelamaan lu.. telatt nj*mm.. " teriak Nanda memukul-mukul kepala Marcell.
"Awasss kepala lu jangan halangin orang yang lagi bawa motor... " sahut Nanda.
"Anj*rr.. bahaya ndakk bahaya... " teriak Marcell.
Sementara itu di dalam rumah Nanda. Mama yang masih bingung dengan kedua anak nya itu, membiarkan mereka pergi ke sekolah, walau tadi nya ada sedikit keributan.
Bunda yang datang membawa ponsel di tangannya yang habis mandi. "Lho, jeng kami ngapain masih di sini? bangunin Marcell sama Nanda, " sahut Bunda.
"Mereka udah berangkat jeng, " sahut mama.
"Oh yah? terus ini.. kamu beli apa?" tanya Bunda menunjuk ke kresek berwarna putih.
"Tadi nya aku beli buat mereka sarapan, tapi mereka malah berangkat tanpa makan sedikit pun, roti juga gak di makan, katanya udah telat berangkat sekolah, " sahut mama.
"Hah? telat?" tanya Bunda bingung.
Bunda melihat ke sekeliling mencari jam dinding di dekat nya. Karena gak ketemu Bunda melihat ponsel nya, "Tapi kan ini masih jam enam kurang limabelas menit, " sahut Bunda.
"Gak tau lah jeng, dari pada mubazir kita makan aja nasi kuning nya, " sahut mama.
"Mm.. ya udah deh, " sahut Bunda.