
Hari makin hari mereka berdua semakin akrab, dan terkadang Bunda memotokan mereka berdua yang sedang belajar bersama, makan berdua, bahkan terkadang mereka tidur bersama di ruang tamu.
"Ya ampun mereka semakin romantis aja, " gumam Bunda.
"Mau gimana gak romantis, mereka semakin sini semakin membuka hati satu sama lain, " sahut Ayah.
"Iya, gimana nanti yak, kalo kita punya cucu, " sahut Bunda menghayal.
"Udah bun, jangan ngehayal terus deh, nanti pas mereka udah masuk kuliah s1 ayah kasih mereka hadiah, " sahut Ayah.
"Hadiah apa yah?" tanya Bunda.
"Rumah, mobil, sama motor sport yang baru buat Marcell, " jawab Ayah.
"Yah, padahal Bunda juga mau kasih mereka rumah yah, gimana dong, " sahut Bunda.
"Emang Bunda mau ngasih mereka rumah di daerah mana?" tanya Ayah.
"Daerah perumahan yang dekat sama rumah Agung, " sahut Bunda.
"Lah itu mah ke deketan bun, yang jauh dikit, " sahut Ayah.
"Trus Ayah di daerah mana?"
"Daerah perumahan Sukabumi, "
"Jauh dong, sedang kan dari sini ke sana itu butuh waktu 2 jam, itu cuma baru nyampe di gerbang nya doang, belum ke rumahnya, " omel Bunda.
"Yak kan di sana deket sama kuliahan, " sahut Ayah.
"Iya juga sih, " sahut Bunda.
"Udah Ayah, Bunda mau ngasih mereka berdua selimut dulu, kasian, " sahut Bunda mengambil selimut.
"Kenapa bisa mereka sampe ketiduran gitu?" tanya Ayah.
"Yak karena kecapean lah Ayah, aneh-aneh aja, mereka juga sering kayak gini, " sahut Bunda.
"Oh yak, lain kalo Ayah harus meluangkan waktu huat liat mereka berdua, " sahut Ayah mengajak istrinya masuk ke kamar untuk tidur.
"Ayah terkadang suka mikir, kalo kita membuat kesalahan menjodohkan Marcell dan Nanda, " sahut Ayah.
"Kalo menurut Bunda ini bagus buat mereka berdua yah, soal nya kata bu Patmi, Nanda gak mau buka hati lagi untuk laki-laki, begitu pun Marcell, " jelas Bunda.
"Yak udah, kalo gitu kita tidur aja, " ajak Ayah.
Orang tua mereka sudah tidur.
.
.
.
.
.
05.00
"Nandaaa.... Marcell..... Bangunn!!" teriak Bunda.
"Apa bun... " sahut Marcell yang sedang berusaha membuka matanya.
Nanda ikut bangun, karena tubuh yang menjadi sanderan kepalanya bergerak.
"Ada apa ini?" tanya Nanda yang langsung duduk.
Bunda menghampiri mereka berdua, "Jangan banyak ngomong, udah sana kalian cepetan siap-siap, " sahut Bunda menarik selimut.
Nanda tersadar kalo dia semalam tidur bersama Marcell. "OMG!! LU KENAPA ADA DISINI?!!" Teriak Nanda meloncat dari sofa.
"ASTAGFIRULLAH!! BUNDA KENAPA GAK BANGUNIN AKU KALO AKU TIDUR DI SOFA BARENG Nanda... " teriak Marcell yang ikut terkejut.
"Bunda sama Ayah sengaja, " sahut Ayah yang sudah memaki jaz hitamnya sial untuk berangkat ke kantor.
"Yawloh.... " Nanda terduduk di sofa dan merasa kalo dirinya sudh tidak perawan lagi.
"Kenapa lu kayak yang kaget banget?" tanya Marcell.
"Mau gimana gak kaget, gue berarti udah gak perawan lagi, " sahut Nanda. Dia tak merasa kalo air matanya jatuh.
"Udah jangan nangis, gue sendiri juga gak sadar, kalo kita berdua udah di selimut, " sahut Marcell mengusap air mata Nanda.
"Siapa yang nyelamutin kita?" tanya Nanda.
"Bunda yang nyelamutin kalian berdua, " sahut Bunda merasa bersalah. Bunda lupa kalo Nanda itu sensitif kalo tidur sama orang lain yang bukan anggota keluarga nya.
"Oh bunda, Gak papa kok bund, " sahut Nanda.
"Yak udah kalo gitu, kalian sana cepetan siap-siap buat berangkat sekolah, " sahut Bunda.
"Iya bun, " Marcell segera berlari ke atas.
Disusul oleh Nanda yang berjalan santai. Tak lama Nanda sudah turun terlebih dahulu ke meja makan.
"Kenapa lu udah ada di meja makan lagi?" tanya Marcell.
"Emang kenapa?" tanya Nanda.
"Lu gak solat?" tanya Marcell ikut duduk di samping Nanda.
"Gue lagi halangan, " sahut Nanda.
"Hooh, pantesan tadi teriak-teriak gak jelas, " sahut Marcell.
Marcell mengambil roti dan mencampur kan nya dengan selai stoberi. "Mau berangkat sekarang apa nanti? " tanya Marcell.
"Kalo lu udah sarapan nya, yak sekarang aja, " sahut Nanda mencuci tangannya.
"Yak udah ayok, " ajak Marcell.
Mereka berdua berpamitan kepada Bunda dan Ayah. "Hati-hati di jalan, cell jangan ngebut, " sahut Ayah.
"Iya Ayah, tenang aja aku juga sadar kok kalo aku lagi bawa cewek, " sahut Marcell.
"Bukan cewek, tapi calon istri, " sahut Bunda.
Nanda sudah berjalan lebih dulu ke garasi meninggal Marcell yang masih mengobrol dengan bunda dan Ayah.
"Iya deh iya, calon istri yang bawel, banyak tingkah dan sebagainya, " sahut Marcell.
Bunda dan Ayah hanya menggeleng pelan atas jawaban Marcell.
Sedangkan itu Nanda masih menunggu Marcell di luar garasi.
"Kenapa lu pergi duluan aja, " sahut Marcell.
"Lu kelamaan, liat nih udah jam 6 lebih 5, " sahut Nanda sebari menunjukkan jamnya ke Marcell.
Marcell segera mengeluarkan mobil nya dan Nanda segera masuk ke dalam. Marcell melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Ngebut dikit lah, " sahut Nanda.
"Bukan gitu, gue gak mau nanti banyak siswa-siswi yang salah paham sama kita, " sahut Nanda.
"Salah paham kayak gimana?" tanya Marcell.
"Banyak yang ngira kalo kita berdua itu pacaran padahal enggak, " sahut Nanda.
Seketika hati Marcell sakit dengan ucapan Nanda barusan, dia tak mau melihat wajah Nanda untuk beberapa waktu ini.
"Kenapa lu diem?" tanya Nanda.
Tapi Marcell masih diam tak berkutik.
"Lu marah sama gue soal perkataan gue tadi?" tanya Nanda benar.
Udah tau malah nanya lagi - batin Marcell kesal.
"Yak udah deh, gue minta maaf soal tadi, gue janji gak akan ngulangin perkataan tadi, " sahut Nanda meminta maaf sambil memegang wajah Marcell agar melihat ke arah nya.
Deg.... deg... deg...
Seketika jantung Marcell sulit untuk di kontrol, karena wajah manis Nanda yang begitu cantik, dengan senyuman yang manis, hidung mungil dan bibir yang lembut kalo di sentuh.
Dengan sigap Marcell memalingkan wajah nya dan rasanya dia ingin sekali mencium Nanda.
Sabar Marcell ini ujian buat yang belum nikah, bentar lagi lu bisa dapetin segalanya.... - batin Marcell.
"Napa sih tuh anak?" gumam Nanda bingung.
"G-gue berentiin mobilnya di depan halte bus aja, " sahut Marcell.
"Lah kenapa? Kan gue bisa lari pas turun dari mobil, " tanya Nanda semakin bingung dengan tingkah Marcell.
"Kan katanya gak mau ketahuan, " sahut Marcell yang masih salah tingkah.
"Kan gue tau cuma bercanda doang, "
"Bukan masalah itu, gue udah ngelupain kejadian tadi sama perkataan nya, " sahut Marcell berhenti di halte bus sesuai dengan perkataan nya.
Nanda turun dari mobil dan berjalan kaki menuju gerbang sekolah. Sedangkan Marcell masih salah tingkah di dalam mobil.
"Yawloh itu muka kenapa imut banget siih ndakk... " gumam Marcell.
Terkadang juga Marcell memukul-mukul setir karena gemesh sendiri melihat wajah Nanda.
Tak lama setelah Nanda sudah masuk ke dalam gerbang, Marcell segera melajukan mobilnya.
"Marcell keluar dengan menggunakan kecamatan hitamnya dan bergaya keluar mobil.
"Kenapa tuh anak, sejak kapan juga bawa kecamatan?" gumam Nanda semakin juriga.
"Hallo ndak, apa kabar?" tanya Marcell berjalan disamping nya.
"Katanya gak boleh bareng, tapi lu malah jalan bareng sama gue, kan aneh, " ucap Nanda.
"Gak papa, gue mau aja bareng sama lu, " sahut Marcell santai.
Nanda semakin curiga dengan sikap Marcell yang tiba-tiba berubah. "Lu sehat kan cell?" tanya Nanda.
"Mm, iya gue sehat walafiat, " jawab Marcell.
Nanda hanya mengangguk pelan, "Mangga, jagung bakar, sini... " teriak Nanda pada angga dan agung yang ada di depan mereka.
Tapi kali ini Mereka tak berdua, tapi ada dua orang teman bersama mereka. "Siapa mereka?" tanya Nanda.
"Mereka berdua Angga sama Agung, " sahut Marcell.
"Ngaco, kalo mangga sama jagung gue tau, itu mereka berdua yang jalan di samping Angga, " tunjuk Nanda.
"Oh mereka berdua itu Lukman sama Ihsan, temen-temen gue juga, kenapa emangnya?" tanya Marcell.
"Nggak papa, " sahut Nanda.
Sikap lu aneh, di tambah lagi ada temen-temen lu yang gesrek nya minta ampun, gue makin bingung - batin Nanda.
"Hey, " sapa Marcell.
Mereka berempat berbalik, "Heyoo Cell udah lama gak jumpa, apa kabat lu?" tanya Lukman.
"Gue kabarnya baik, oh iya kenalin ini calon istri gue, " sahut Marcell dengan lantang.
"Oh hay, " sahut Ihsan memberi salam pada Nanda.
Nanda hanya tersnyum dipaksa.
"Kalo gue denger, lu punya temen yang namanya Putri kan?" tanya Ihsan.
"Iya, tapi sayangnya dia gak di indo, dia ada Jerman, " jawab Nanda.
"Yah sayang sekali padahal dia bilang kalo dia bakal pulang ke Indonesia buat ketemu sama sahabat dekat nya, " sahut Ihsan.
"Omg, kapan?" tanya Nanda senang.
"7 bulan yang lalu, " sahut Ihsan tertawa.
"Heh, lu inget yak, ini istri gue, " sahut Marcell kesal karena Nanda di permainkan oleh Ihsan.
"Oh iya maaf, " sahut Ihsan.
Marcell menarik tangan Nanda menjauh dan pergi menuju kelas, "Kenapa sama temen-temen lu itu?" tanya Nanda.
"Dia emang setres, kalo Lukman dia biasa aja, " sahut Marcell.
"Kenapa sama Ihsan, dia kayak yang abis di gosting, " tebak Nanda.
Marcell mengentikan langkah nya, dan mendorong pelan Nanda ke tembok, "Dia emang selalu di gosting sama cewek, karena itu lah, gue jadi gak suka sama cewek karena dia, " sahut Marcell.
"O-oh, gue ngerti, tapi lu sadar gak kalo kita di liatin sama siswa-siswi lain, " tunjuk Nanda, Marcell mengikuti tangan nya dan benar saja, hampir semua siswa-siswi yang lewat melihat mereka.
"S-sorry gue gak sengaja, " sahut Marcell maminya maaf pada semua orang.
"Lu harus mikir lah, apa yang terjadi ke depannya kalo lu berani nyentuh gue lagi, " sahut Nanda.
Marcell mendekatkan kepalanya pada telinga Nanda dan berbisik, "Kan bentar lagi kita suami istri, kenpa lu takut?" tanya Marcell.
"Diem lu, kenapa lu berubah banget cell, siapa lu?!" tanya Nanda waspada.
"Gue Marcell Alfarizky, " ucap Marcell yang membuat Nanda semakin takut.
"Udah cell, istigfar lu kenapa sih?" tanya Angga yang langsung membungkam mulut Marcell.
Untung saja, merek semua datang tepat waktu, kalo engga gak tau apa yang akan di lakukan Marcell padanya yang belum sah.
Dinda dan Rara memegang tangan Nanda dan menenangkan nya, "Ndak lu gak papa kan?" tanya Dinda.
"I-iya gue gak papa, gue masih syok aja, " sahut Nanda.
"Tapi kenapa sama Marcell?" tanya Rara.
Angga dan Lukman memegangi Marcell dengan sekuat tenaga, dan Agung membacakan doa bersama Ihsan.