My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Kalah Taruhan



"Ngapain lu pake cabe segala?... Haha... " tanya Nanda masih tertawa terbahak-bahak.


"Gak bermanfaat banget maskeran pake cabe... haha... " sahut Marcell tertawa.


"Biar glowing.... " sahut Fauzan tersenyum malu.


"Astagfirullah anak ku sayang... " sahut Bunda mengelus kepala Fauzan lembut.


"Yah awal nya gue kita itu bagus buat muka... " sahut Fauzan polos.


"Itu cabe buat masak, buat ujian praktek atau apalah, " sahut Nanda berhenti tertawa karena capek.


"Iya iya, maaf... " sahut Fauzan malu.


"Udah, Nanda Marcell sana kalian berangkat sekolah, nanti telat lagi, " sahut Bunda.


"Iya.. Bunda... " sahut Nanda mengambil tasnya dan tas Marcell.


"Makasih, " sahut Marcell mengambil tas nya dari tangan Nanda.


"Kami berangkat dulu yak Bun, Ayah.. assalamu'alaikum, " sahut Marcell pamit.


"Waalaikumsalam, " jawab Ayah dan Bunda.


Nanda dan Marcell segera menuju mobil yang sudah di siapkan.


Di dalam mobil.


"Cell... " panggil Nanda.


"Mm.. "


"Lu masih ingetkan, gue ngasih lu taruhan?"


"Iya, lalu?"


"Lu kalah, " sahut Nanda.


Marcell mengernyit kening nya tak paham.


"Masa lu lupa, gak seru lu, " sahut Nanda cemberut.


"Hha.. Gue gak lupa, gue inget, " sahut Marcell.


"Lagian kan itu cuma kebetulan doang, gak mungkin adik gue set*l*l itu, " sahut Marcell.


"Masih gak mau ngaku, "


"Kan gue itu butuh bukti, kalo bukti nya gak jelas yak maaf saja, "


"Cita-cita lu jadi hakim apa jadi dokter?"


"Dokter lah, ngapain gue masuk IPA kalo cita-cita jadi hakim, " sahut Marcell.


"Iya juga sih, tapi lu harus ngaku kalah taruhan sama gue, " sahut Nanda dengan nada sedikit meninggi.


"Gak mau kalo belum ada bukti, " sahut Marcell.


"Aahh... " teriak Nanda kesal.


Awas aja lu cell, - batin Nanda kesal.


Coba aja kalo lu bisa bikin gue kalah, gak akan bisa - batin Marcell percaya diri.


Sampai nya mereka di sekolah.


Baru saja Nanda keluar dari mobil, tiba-tiba ada yang memeluk Nanda dari belakang. Nanda berusaha menengok ke belakang, namun matanya tiba-tiba di tutupi oleh tangan seseorang.


"Ini siapa sih?!" tanya Nanda.


"Coba tebak, "


Marcell hanya melihat mereka berdua, namun Marcell juga tak kenal dengan gadis yang sedang menutupi mata Nanda itu.


Siapa dia? murid baru? - batin Marcell bertanya.


"Gue gak kenal sama lu, "sahut Nanda berusaha melepaskan tangan tersebut dengan paksa.


"Surprise... " sahut gadis itu sambil meloncat.


"Lu siapa?" tanya Nanda mundur beberapa langkah.


"Masa lu lupa sama gue sih ndak, " sahut gadis itu sedih.


"Maaf, gue emang gak kenal sama lu, permisi, " sahut Nanda berjalan pergi.


Gadis itu melirik Marcell yang masih terdiam melihat nya.


"Hai Marcell... " sapa tadi itu.


"Maaf, lu murid baru?" tanya Marcell.


"Yap, baru pindah kemarin, gue tau lu ketos kan? makanya gue minta lu tolong bantuin gue masuk ke kalas IPS 3, " pinta gadis itu dengan wajah imut nya.


IPS 3? Bukannya itu kelas Nanda? Ngapain dia mau sekelas sama Nanda? - batin Marcell.


"Jadi mau gak lu bantuin gue pindah ke kelas IPS 3 ? Oy!!" teriak gadis itu.


"Gak usah teriak-teriak gue masih bisa denger, " sahut Marcell.


"Jadi mau gak lu?"


"Iya oke, gue bantu lu, mau sekarang apa besok?"


"Taun depan, "


"Udah lulus dong, yak udah nanti taun depan, "


"Yah sekarang lah bambang, buruan... " sahut gadis itu mendorong Marcell segera pergi ke ruang guru.


Beberapa menit kemudian. Akhirnya Marcell keluar dengan surat pindah kelas.


"Nih, isi, terus kasih ke guru kesiswaan, " ucap Marcell seraya menyerahkan surat itu ke tangan gadis tersebut.


"Oke makasih, " sahut gadi tersebut.


Marcell pun berjalan pergi dari ruang guru, menuju kelas nya. Dan gadis itu masih mengisi surat pemindahan kelas.


Gak kenalin diri dulu, malah langsung minta bantuan, gak jelas banget... - batin Marcell.


.


.


.


.


.


"Gadis aneh, masa iya gue kenal sama dia, mungkin salah satu bagian dari fans gue... " gumam Nanda.


Nanda terus berjalan sampai di depan kelas. Di sana sudah di sambut dengan suara teriakan dan sebagainya.


"Kenapa ini?!!" tanya Nanda masuk kedalam.


"Nanda.. jangan masuk, ada kecoa!!" teriak Dinda berdiri di atas meja.


"Iiihh gue jijik... cepetan buang kek Mike, lu kan cowok, " sahut Rara yang berdiri di meja bersama Mike.


"Gue geli ******, " sahut Mike bergidik geli.


"Cowok lemah lu, masa takut sama kecoa, " sahut Rara.


"Emang lu gak takut?!" tanya Mike.


"Gue kan cewek, " sahut Rara.


"Mana kecoa nya?" tanya Nanda berjalan masuk dan menutup pintu.


"Gak tau, dia tadi terbang, " sahut Witri.


"Astagaa... mana Jilan dia seksi kebersihan?" tanya Nanda.


"Belum datang, " sahut Salsa.


Tiba-tiba ada yang merayap di kaki Nanda dengan perlahan, Nanda yang merasakan langsung menengok ke bawah kakinya, ternyata itu kecoa.


"Aaaaaaa!! Awas lu gue geli kalo lu nyentuh kaki gue!! aaaaaaa...... " teriak Nanda histeris, berlari dan berdiri di meja Guru.


"Ketua kelas gak ada akhlak, " gumam Dinda.


"Ngapain lu berdiri di meja guru?" tanya Rara tertawa.


"Ada kecoa bambang, gue paling gak suka kalo itu kecoa nyentuh kaki gue... iihhh.. " sahut Nanda bergidik geli.


Cklekk..


Pintu terbuka lebar dan terlihat lah di sana ada seorang gadis yang melihat ke sekeliling. Ternyata itu adalah Jilan seksi kebersihan.


"Ngapain kalian berdiri di atas meja?" tanya Jilan berjalan masuk.


"Ada kecoa!!" teriak Dinda.


"Kecoa? Mana?" tanya Jilan.


"Ih orang mah lari ini malah di cari... " sahut Rara.


"Biasalah.. " sahut Jilan mengambil sapu.


Saat Jilan menemukan kecoa tersebut berjalan menuju meja guru dengan cepat Jilan memukul kecoa itu dengan sapu dan membuangnya ke tempat sampah.


"Udah beres, semua turun... " sahut Jilan.


Semua anak-anak murid mulai berjatuhan ke lantai, dan melaksanakan aktivitas mereka masing-masing. Kecuali Nanda yang masih berdiri di meja guru.


"Udah gak ada? Yakin?" tanya Nanda.


"Iya, udan gak ada, " sahut Jilan.


Nanda pun turun dengan perlahan dan berjalan menuju mejanya.


"Uluuhh neneng yang takut sama kecoa... " ejek Rara.


"Diem lu.. " sahut Nanda.


"Hahah.. bercanda gue, " sahut Rara.


"Gimana, malem pertama lu sam Marcell? dia udah ngapain aja?" tanya Rara.


"Gak usah kepo lu, " sahut Nanda.


"Uunncc, tapi gue kepo bangett... " sahut Rara mencubit pipi Nanda gemesh.


"Eh poto yuk, " sahut Dinda.


"Poto apaan, poto prewedding?" tanya Nanda bercanda.


"Bukan, ini loh yang lagi viral, poto bertiga tangan kita ngebentuk love, " sahut Dinda menunjukkan poto.


"Hayuu gass.. " sahut Rara bersemangat.


"Eh bentar gue pake jaket dulu, " sahut Dinda.


"Yuk ndak, " ajak Dinda.


"Hayuu... " sahut Nanda berdiri.


"Mike potoin, " sahut Rara.


"Okeh, tapi habis ini kalian traktir gue yak, " sahut Mike.


"Okelah, belum juga poto udah main traktir-traktir aja, " sahut Nanda.


Rara, Nanda, dan Dinda mengambil posisi dan mulai bergaya, Mike hanya menjadi fotografer pribadi Rara.



Rara Farisya, Nanda Nusyrandi, Dinda Davaela.


"Gays, duduk ada guru, " teriak Salsa.


Mereka pun segera pergi ke meja dan duduk dengan tenang.


"Okeh, anak-anak kita kedatangan murid baru, " sahut Pak Abdul.


"Siapa pak?"


"Cantik gak pak?"


"Cewek cowok pak?"


"Kok malah nanya sama bapak yak kalian liat lah sendiri, dia cewek apa cowok, " sahut Pak Abdul.


Gadis itu masih berada di luar kelas, karena belum di persilahkan masuk oleh Pak Abdul. Nanda yang kepo mulai mengintip di jendela, Nanda terkejut melihat murid baru itu.


Itu kan cewek yang tadi... - batin Nanda.