
Nanda mengantikan Bunda masak capcay untuk mereka makan, dan terkadang Nanda juga menambahkan sedikit garam dan gula karena merasa kalo ini belum di bumbui.
Tak lama setelah itu Bunda datang membawa bahan-bahan yang sekiranya di butuhkan.
"Gimana? udah di cobain?" tanya Bunda.
"Udan kok, udan di tambahin garam sama gula juga, " sahut Nanda.
"Oh bagus lah, "
Setalah selesai masak, Nanda menyiapkan meja makan untuk mereka berlima, dan Bunda memasukan semua makanan ke piring dan menyerahkan nya ke Nanda agar di tata yang rapih.
"Ayah... Marcell... Fauzan... " teriak Bunda memanggil mereka bertiga.
Ayah datang bersama Marcell yang habis mandi.
"Eh, kok cuma berdua? Mana Fauzan?" tanya Bunda sambil membawa piring ke meja makan.
"Gak tau, mungkin lagi maskeran, " sahut Marcell.
"Maskeran pake apa? Pake cabe?" tanya Nanda tertawa.
"Bisa jadi, "sahut Marcell ikut tertawa.
"Masa iya anak ayah yang paling ganteng maskeran pake cabe, gak mungkin, " sahut Ayah tak percaya.
"Masa ayah gak percaya, tadi aja dia ngambil jagung di kebun, " sahut Nanda.
"Masa sih?" tanya Ayah.
"Iya... tadi dia pake jubah putih gitu... " sahut Bunda.
"Yak udah biarin aja, biar dia makan sendiri di temenin sama Pak wawat sama bi sri, " sahut Ayah.
Dan mereka mulai makan malam bersama. Seperti biasa Nanda melayani Marcell terlebih dahulu seperti istri-istri lainnya. Setalah selesai melayani Marcell, Nanda pun mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.
"Gimana cell, enak gak buatan Nanda?" tanya Bunda.
"Oh ini buatan Nanda, pantesan aja enak, gurih, " sahut Ayah memuji.
"Makasih yah... " sahut Nanda.
"Kamu belajar masak dari siapa?" tanya Ayah.
"Dari mamah, dan terkadang kalo mamah gak ada, Nanda yang masakin buat adik-adik Nanda, " sahut Nanda.
"Pinter,, " sahut Ayah menunjukkan jari jempol nya.
"Gimana enak gak cell?" tanya Bunda sekali lagi.
"Lumayan, " sahut Marcell singkat.
"Ada yang kurang gak bumbunya?" tanya Bunda.
"Kalo ayah kurang nambah, " sahut Ayah mengambil capcay lagi.
"Kurang manis, kurang sayuran nya sama kurang di kasih air, " sahut Marcell.
"Masa sih, perasaan gue udah masukin air sama gula nya agak banyakan, " sahut Nanda.
"Itu menurut lu, tapi ini kan menurut lidah gue, " sahut Marcell.
"Awas lu kalo ketagihan sama masakan gue, " sahut Nanda.
"Bodoamat, " gumam Marcell.
"Udah makan, " sahut Ayah.
Mereka makan dengan tenang. Setalah selesai makan, Bunda menyuruh mereka pergi ke kamar untuk beristirahat.
"Cell kok lewat sini sih? gue takut, " sahut Nanda.
"Gak papa kale, dari pada lewat belakang udah males nanti ada yang nyulik lagi, gue lagi yang repot, " sahut Marcell.
"Iya juga sih, tapi gue mau lu pegang tangan gue, " sahut Nanda.
Langkah Marcell seketika berhenti dan berbalik ke hadapan Nanda.
"Lu beneran takut sana rumah gue?" tanya Marcell.
"Iya lah, banyak pintu, nanti gimana kalo ada hantu nya.. " sahut Nanda jujur.
"Gimana kalo kita pindah rumah, " ujar Marcell.
"Nanti di rumah itu cuma kita berdua doang gitu?" tanya Nanda.
"Iyalah, kalo lu mau ada asisten nya juga gak papa, " sahut Marcell meraih tangan Nanda dan mulai berjalan.
"Mm, nanti gue pikirin lagi, " sahut Nanda.
"Jangan lama-lama mikirnya, " sahut Marcell.
"Kenapa lu? udah gak kuat pengen tinggal berdua sama gue?" tanya Nanda menggoda.
"Amit-amit... gak, " sahut Marcell.
"Alaahh jangan mengelak gitu dong cell... " sahut Nanda mencolek dagu Marcell.
Marcell mulai bergidik geli saat Nanda mencolek dagu milik nya.
Akhirnya mereka keluar dari labirin pintu yang saling berdekatan. Sekarang mereka menuju kamar Marcell untuk beristirahat.
Di kamar.
"Cell lu beneran mau pindah rumah?" tanya Nanda duduk di atas kasur.
"Terserah lu, kalo lu mau pindah yak oke, " jawab Marcell bermain gitar.
Jreng... jreng... jreng...
"Lu bisa main gitar gak sih? gak enak gue denger nya... " sahut Nanda tertawa.
"Gue masih belajar, " sahut Marcell.
"Oh, nanti kalo lu udah bisa main gitar sama sekalian nyanyi, jangan lupa kasih tau gue, gue juga mau denger, " sahut Nanda.
"Emang lu mau jadi yang pertama denger suara nyanyian gue?" tanya Marcell tak yakin.
"Iya gue mau, makanya cepetan belajar, " sahut Nanda.
"Sabar kek neng, " sahut Marcell.
Tok... tok... tok...
"Masuk, pintu gak di kunci, " sahut Marcell.
Cklekk...
"Marcell Nanda... besok kalian sekolah yah, " sahut Bunda.
"Nanti kalo pernikahan kita ketahuan gimana?!" tanya Nanda.
"Gak akan ketahuan kalian tenang aja, " sahut Bunda.
"Rahasiain pernikahan kita, nanti kalo udah lulus dari SMA baru bocorin, " sahut Marcell.
"Oh, okeh, " sahut Nanda setuju.
"Gitu aja di bawa ribet, " sahut Marcell.
"Gimana gue dong, " sahut Nanda kesal.
"Bunda keluar dulu yah, oh yak cell kamu sama Nanda harus satu ranjang yah... " sahut Bunda berjalan pergi keluar kamar.
"Iih bunda... " sahut Nanda malu.
"Yawloh punya Bunda gini-gini amat dah, " gumam Marcell.
Jreng... jreng... jreng...
"Udah cell berisik, mending tidur, " sahut Nanda.
Marcell pun akhirnya menyerah dan tidur di samping Nanda yang hanay di pisahkan oleh guling di tengah-tengah mereka.
Nanda mulai menutup matanya perlahan dan tertidur lelap. Sedangkan Marcell mengelus pipi Nanda secara lembut dan sedikit mencium kening nya.
"Selamat malam my baby, " bisik Marcell.
Cup..
Marcell pun mematikan lampu tidur nya dan tertidur nyenyak.
Kring... kring... kring..
Jam alarm berbunyi yang membuat Nanda terbangun dari mimpi indah nya. Dan dengan segara mematikan alarm di meja.
"Hoaamm, astaga.. apa ini kok berat banget.. " gumam Nanda membuka selimut.
Dan ternyata ada tangan seseorang yang melingkar di pinggang nya.
"Astaga..sejak kapan, ini tangan ada pinggang gue?" gumam Nanda.
Nanda mengangkat tangan Marcell perlahan dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, Nanda lupa membawa baju dalamnya ke kamar mandi, dengan berat hati, Nanda berjalan menuju lemari perlahan-lahan.
Kriitt...
Astagaa... ini lemari gak mau kerja sama... - batin Nanda.
Nanda dengan segera memakai pakaian dalamnya satu persatu di depan lemari. Karna lupa di situ masih ada Marcell.
"Astagafirullah... " ucap Marcell melihat punggung Nanda tepat di depan matanya.
Dengan cepat Nanda segera menutupi badannya dengan handuk, dan melilitkan nya.
"L-lu kapan bangun?" tanya Nanda kaget.
"Baru, " jawab Marcell masih menutupi wajah nya dengan selimut.
"Kenapa lu tutupin muka lu pake selimut?" tanya Nanda.
"Lu udah pake baju apa belum?" tanya Marcell.
"Udah kok, " sahut Nanda.
Marcell membuka selimut sedikit demi sedikit memastikan kalo Nanda benar sudah pakai baju.
"Udah kan, " sahut Nanda.
"Iya udah, " sahut Marcell.
"Udah sana... mandi... " sahut Nanda menarik selimut.
"Iya iya... ini juga mau otw, " sahut Marcell.
"Otw otw tapi orangnya masih ada di kasur, " sahut Nanda.
"Nyawa yang udah otw, " sahut Marcell.
"Nyawa lu di mana? biar gue balikin, " sahut Nanda.
"Tuh di kamar mandi, sanah ambilin, gue mau tidur lagi, " sahut Marcell yang masih tiduran di kasur.
"Cepetan bambang.... " sahut Nanda kesal.
"Aahh... iya iya... " sahut Marcell beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Tol... tok... tok...
"Nanda.. Marcell.. bangun.. kalian mau berangkat sekolah atau engga?" teriak Bunda dari balik pintu.
"Marcell lagi mandi bund... "sahut Nanda.
"Oh yak udah, nanti kalo udah selesai langsung pergi ke maja makan yah... " sahut Bunda.
"Iya Bunda siaapp.. " sahut Nanda.
Tak lama Marcell keluar dari kamar mandi, dan memakai handuk di pinggang sampai atas lutut.
"Astagaa.. kenapa gak di bawa bajunya sih... " sahut Nanda menutup mata.
"Dari pada elu, pake BH di depan mata gue... eh.. " sahut Marcell keceplosan.
"Hah? Apa?!" tanya Nanda.
"Gak, awas gue mau ambil baju, " sahut Marcell.
"Isshh, sabar kale.. " dengus Nanda kesal.
Nanda menyingkir dari depan lemari dan memasukkan buku-buku ke dalam tas.
Setelah selesai menggunakan baju seragam, dan sudah mempersiapkan buku-buku, Nanda dan Marcell segera turun untuk sarapan bersama.
"Pagi~~, "
"Pagi sayang... " sahut Bunda.
"Pagi... ayo kita langsung saja makan, " sahut Ayah.
Nanda dan Marcell pun duduk dan sarapan dengan lahap.
"Bunda mana Fauzan?" tanya Nanda.
"Fauzan masii tidur, " jawab Bunda.
"Perasaan dari kemari gak liat Fauzan, " sahut Ayah.
"Ayah kangen sama Fauzan?" tanya Bunda.
"Enggak, malah Ayah seneng tuh anak gak stres lagi, " sahut Ayah.
Mereka tertawa bersama-sama di meja makan. Dan juga terkadang para asisten yang mendengar nya ikut tertawa juga.
Sedang asyik sarapan dengan tenang, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak sangat kencang, dan hampir membuat telinga satu rumah itu sakit.
"AAAAAAAA!!!"
"Astagfirullah... siapa itu?" tanya Ayah kaget.
Nanda yang sedang minum hampir saja tersedak air. Tapi untungnya tangan Marcell dengan cepat menepuk-nepuk pundak Nanda.
"AAAA!! BUNDA!!! PANASSSS!!" Teriak seorang lelaki yang menuruni tangga dengan cepat.
"Fauzan?!" sahut Bunda kaget dan segera menghampiri anaknya itu.
"Kenapa tuh?"
Mereka semua segera menghampiri Fauzan yang sedang kepedihan oleh sesuatu.
"Fauzan!! kenapa kamu?!!" tanya Bunda khawatir.
"Nanti aku jelasin bunda, mending ini dulu basuh muka aku kepanasan sama pediihh di mana!!" teriak Fauzan.
Dengan cepat Marcell mengambil es batu dan air dingin, dan segara menyiram ke arah Fauzan.
"Kakak!! pelan-pelan!!" teriak Fauzan.
"Masih untung sama gue di bantu lu!!" sahut Marcell.
Nanda dan Ayah hanya melihat di depan pintu, tanoe membantu atau membawakan apa pun. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Fauzan bisa tenang dan menarik napas panjang.
"Lu kenapa bisa gini?" tanya Marcell membawa Fauzan duduk di sofa.
"Kenapa lagi sih zan.. kamu ngapain di kamar?" tanya Bunda membawa es batu.
"Aku tuh lagi maskeran bunda di kamar dari kamarin, " sahut Fauzan.
"Pake apa?" tanya Bunda dan Nanda barengan.
"Pake cabe... " jawab Fauzan.
"Bwaahhhaa.... t*l*l.. hahah... " sahut Nanda tertawa.
"Lol nj*r.... " sahut Marcell ikut tertawa.
"Ngapain kamu pake cabe sayang? kan kamu tau kalo cabe itu panas, " sahut Bunda menahan tawa.
"Yawloh punya anak gak ada yang bener satu pun, " sahut Ayah tertawa.
"Ngapain lu pake cabe segala?... Haha... " tanya Nanda masih tertawa terbahak-bahak.
"Gak bermanfaat banget maskeran pake cabe... haha... " sahut Marcell tertawa.
"Biar glowing.... " sahut Fauzan tersenyum malu.
"Astagfirullah anak ku sayang... " sahut Bunda mengelus kepala Fauzan lembut.
"Yah awal nya gue kita itu bagus buat muka... " sahut Fauzan polos.
"Itu cabe buat masak, buat ujian praktek atau apalah, " sahut Nanda berhenti tertawa karena capek.
"Iya iya, maaf... " sahut Fauzan malu.