
Istirahat ke-2 akhirnya datang juga.Tapi kali ini Nanda dkk tidak ke kantin. Karena mereka sudah kenyang. Kelas sudah kosong, hampir semua anak-anak kelas IPS 3 pergi ke keluar.
"Aahhh... gabut... " teriak Rara meregangkan tangannya ke atas.
"Mau ke kantin?" tanya Putri.
"Boro-boro ke kantin, keluar dari kelas aja gue males banget... " sahut Dinda.
"Mending tidur, " sahut Nanda.
"Molor mulu lu, gak bosen?" tanya Rara.
"Mending molor dari pada keluar kelas, " sahut Nanda sudah menutup mata.
"Astagaa... bisa-bisanya si Marcell milih cewek kayak dia... ckck... " sahut Rara ikut tidur.
"Tau nih, gak malu lu udah punya suami masih aja mikirin diri sendiri, samperin kek tuh suami ke kelasnya... yak kan ra.. " sahut Putri pada Rara. Tapi Rara sudah terlanjur tertidur di mejanya.
"Sama aja, " sahut Dinda.
"Din, lu mau kemana?" tanya Putri.
"Kalo lu mah ikut, kita ke kelas IPA 2, sama ke kelas IPA 3, " sahut Dinda.
"IPA 3 siapa?" tanya Putri.
"Kan Ihsan sama Lukman IPA 3, " jawab Dinda.
"Oh, okelah gue ikut lu aja, " sahut Putri berdiri.
"Yak udah ayok, " sahut Dinda berjalan keluar.
Putri n Dinda pergi ke kelas Angga IPA 2. Sedangkan dua makhluk yang lainnya tidur di kelas sampai jam istirahat selesai.
Banyak para siswa yang melihat Putri karena murid baru pindahan dari Jerman. Putri hanya cuek dan tak memedulikan mereka semua, terutama Dinda yang bodoamat.
"Din, dimana kelas nya?" tanya Putri.
"Tuh di depan, kenapa udan capek jalan lu?" tanya Dinda.
"Iyalah, mana dari tadi banyak siswa yang nyampe gue lagi, " sahut Putri duduk di kursi lapangan.
"Udah dong, cepetan nanti keburu udahan jam istirahat nya, " sahut Dinda.
"Sabar kek bang, " sahut Putri kembali berdiri.
Mereka berdua segera berjalan kembali melewati lapangan. Setelah sampai di depan kelas Angga, Dinda mengintip di jendela.
Ihsan yang melihat Dinda ada di depan, menyenggol Angga yang sedang main ML.
"Angga, " panggil Ihsan.
"Mm.. apa?" tanya Angga tanpa melirik ke Ihsan.
"Tuh ada yayank bebeb lu nungguin di depan, " sahut Ihsan.
Dengan cepat Angga menyudahi main game nya dan segara menghampiri Dinda yang sudah menunggu nya di depan.
"Yank kamu udah lama nunggu?" tanya Angga keluar kelas.
"Engga kok, " jawab Dinda.
Angga yang melirik Putri, "Ihsan, ini ada Putri, " teriak Angga.
Ihsan segera menghampiri Angga.
"Hey put, " sapa Ihsan.
Putri hanya tersenyum. "Kita mau ngapain lagi, kalo udah ini?" tanya Putri.
"Gue selalu ke taman belakang, lu mau ikut?" tanya Dinda.
"Kalo gue sendiri ogah, masa iya gue jadi nyamuk, " sahut Putri.
"Kalo gitu ajak Ihsan, " sahut Angga.
"Lu mau ikut apa engga san?" tanya Putri.
"Kalo sama lu mah hayu aja, " sahut Ihsan.
"Oke, kalo gitu gass, " sahut Angga berjalan bersama Dinda.
Putri dan Ihsan menyusul mereka dari belakang.
"Gue udah sama lu aja, serasa masih jadi nyamuk, " sahut Putri.
"Iya juga, apalagi gue, yang selalu melihat Lukman berduaan sama cewek nya, " sahut Ihsan.
"Emang Lukman punya cewek?" tanya Putri.
"Punya, tapi ceweknya nggak sekolah disini, " sahut Ihsan.
"Mm... "
Setelah mereka sampai di taman belakang, banyak orang yang pacaran, tapi dengan alasan lagi belajar bareng, kerja kelompok, dan sebagainya.
Angga dengan alasan kerkom IPA, ujian praktek IPA.
"Alasan yang bagus lu ngga, " sahut Ihsan takjub.
"Iya dong, harus, " sahut Angga.
"Nanti kalo penjaga sekolah bilang ke guru kalo Angga sering datang ke taman dengan alasan praktek IPA gimana?" tanya Putri.
"Entah lah, sampai sekarang tuh penjaga belum ngasi tau ke guru, " sahut Angga.
"Pantesan, kenapa pak Haji udah biasa aja sama kita berdua, " sahut Dinda.
"Nah iya bener, " sahut Putri.
Angga mengajak Dinda untuk duduk di bangku taman. Sedangkan Ihsan dan Putri duduk di pinggir jalan. Jarak aman.
Di antara Angga dan Dinda mungkin sudah tidak ada kecanggungan, tetapi Ihsan dan Putri sangat canggung.
"Ehemm... lu kapan balik ke indo?" tanya Ihsan mulai berbicara.
"Seminggu yang lalu, " sahut Putri.
"Oh, "
"Iya, "
Anj*rr canggung, gue harus ngobrol apa lagi? - batin Ihsan bingung.
"Lu gak usah bingung mau ngobrol apa sama gue, gue masih tetep jadi Putri yang dulu kok, " sahut Putri.
"O-oh, gue... "
"Iya?"
"Gue kesel sama lu, gak bilang ke gue kalo lu bakal pulang, guejuga manusia, gue punya perasaan, " sahut Ihsan.
"Gue minta maaf, kan rencana gue mau ngasih suprise, " sahut Putri.
"Lu mau beli minum gak?" tanya Ihsan.
"Nggak usah, gue gak haus, "
"Oh yak udah sama, gue juga gak haus, "
"Mm.. "
Sedangkan Angga dan Dinda.
"Yank tumben kamu samperin aku lebih dulu, kan bisanya aku yang samperin kamu duluan, " sahut Angga.
"Emang kalo aku samperin kamu duluan salah?" tahta Dinda.
"Engga gak salah kok, cuma aku jadi gak enak aja sama kamu, " sahut Angga.
"Perasaan aku mah biasa aja, "
"Iya kamu yang biasa aja, tapi ini mah aku yank aku.. " tunjuk Angga pada dirinya sendiri.
Dinda hanya terkekeh kecil mendengar nya. Angga yang melihatnya mulai tersenyum manis.
"Iihhh gemesh banget sih muka kamu... " sahut Dinda mencubit pipi Angga.
"Aaawww... yank sakit!!" teriak Angga.
Dinda melepaskan cubitan nya dan mulai mengusap pelan.
"Maaf maaf, aku gak sengaja, "
"Emangnya aku gemesin?"
"Iy, kamu itu gemesh bangettt... " sahut Dinda mencubit lagi pipi Angga tapi kali ini lebih keras.
"Sayang sakit...." teriak Angga.
"Siapa sih yang udah buatin anak kayak kamu... gemesin banget tau, " sahut Dinda manyun bebek.
"Yak Papi sama Mami lah, siapa lagi kalo bukan mereka, " sahut Angga.
"Mm... "
Angga sedikit mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda. Sedangkan Dinda hanya menutup mata entah apa yang akan di lakukan Angga pada nya.
Angga mau ngapain? - batin Dinda.
Deg... deg... deg...
Tiba-tiba Angga tersadar dan mulai menjauh dari Dinda untuk menjaga jarak aman.
"Sorry gue gak sengaja, " sahut Angga.
"Ah? Oh iya, " sahut Dinda membuka mata.
"Kamu gak papa kan?"
"Iya aku gak papa kok, "
"Balik ke kelas yuk, 10 menit lagi bel, " ajak Angga.
Dinda hanya mengangguk dan berpegang tangan dengan Angga. Ihsan dan Putri yang sedang bercanda melihat mereka dan ikut pergi juga.
"Kalian kok nggak lanjutin aja bercandanya?" tanya Dinda.
"Gak papa, gue cuma gak mau dilaporin, " sahut Putri.
"Nah iya bener, " sahut Ihsan.
"Mm... waktu itu lu tauran sampe masuk BK sama di skor 3 hari, tapi kok tumben sekarang gak mau lagi masuk BK?" tanya Angga.
"Gak papa, " sahut Ihsan.
"Apa jangan-jangan karna ada Putri lu malu kan... haha... " tebak Dinda.
"Eng-nggak kok, " sahut Ihsan.
"Oh yak udah, gak masalah sih kalo lu gak mau jujur, " sahut Dinda.
Iya karna ada Putri, gue suka sama dia, makanya gue bakal berubah demi dia.. - batin Ihsan.