My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Hampir Ketauan



Pagi ini Marcell dan Nanda sudah bangun jam 4 subuh karena ada yang membangunkan mereka dari mimpi indah.


"Cell... Cepetan bungkus itu... " sahut Bunda.


"Iya Bunda, ini juga lagi di masuk-masukin ke kotaknya, " sahut Marcell.


"Nanda, jangan lupa buah-buahan nya... " sahut Ayah.


"Hoaamm... Iya ayah, " sahut Nanda menguap.


"Jangan lupa hitung lagi, udah ada berapa kotak, nanti kebablasan lagi, " sahut Ayah.


Marcell menghitung kembali kotak yang sudah jadi yang berisi makanan.


Sementara itu Nanda masih mengemasi makanan ke dalam kotak.


"Udah ada 56 kotak yah, " sahut Marcell.


"Baru sedikit, " sahut Ayah.


"Emang ini buat apa sih yah, sampe kita di bangunin jam 4 , " tanya Nanda.


"Hari ini kita ada berbagi sesama, " sahut Bunda.


"Berbagi sesama?" tanya Marcell tak paham.


"Iya, masa kamu lupa, kan sekarang tanggal 25, " sahut Bunda.


Marcell tampak masih berpikir dan seketika mata nya menjadi ngantuk.


"Bangun bambang, bantuin, " sahut Nanda menepuk pelan pundak Marcell.


"Gue gak tidur, " sahut Marcell mengucek-ngucek matanya.


"Maaf yak kalo kita bangunin kalian berdua jam segini... " sahut Bunda.


"Gak papa kok bund, " sahut Nanda dan Marcell barengan.


"Kalo gitu berarti Bunda boleh dong, bangunin kalian setiap hari jam 4? " tanya Bunda.


"Yak tapi gak usah setiap hari, " sahut Marcell.


"Loh kok gitu?" tanya Bunda.


"Gak papa, " sahut Marcell.


"Gak nyambung yak bun, " sahut Nanda.


Bunda hanya geleng-geleng kepala sambil mengemasi semua kotak yang sudah selesai.


Ngapain sih dibangunin jam segini.. Kan gue masih ngantuk, apalagi sekarang gue ada ulangan harian lagi, belum ngapalin, - batin Nanda.


"Kalo Bunda gak salah, Nanda kamu sekarang ada ulangan harian yah?" tanya Bunda.


"Iya, Bunda, kenapa?" tanya Nanda.


"Gak papa, udah selesai sama kotak itu, kamu langsung mandi, terus belajar, udah itu sarapan sama Marcell berdua, Bunda sama Ayah mau nerusin ini, " sahut Bunda.


"Iya Bunda, " sahut Nanda.


Setelah menyelesaikan kotak terakhir, Nanda berjalan pergi menaiki tangga menuju kamarnya untuk mandi, dan juga belajar.


Sudah beberapa menit, Nanda gak kunjung turun juga dari kamar. Marcell bertujuan melihat Nanda sedang apa. Tapi Bunda mencegah Marcell.


Marcell berdiri dan berjalan menuju tangga.


"Mau kemana kamu cell?" tanya Bunda.


"Mau liat Nanda bun belum turun-turun, " sahut Marcell.


"Nanda mungkin lagi belajar, udah kamu jangan ganggu, sini bantuin Ayah masukin semua kotak-kotak ini ke mobil, " sahut Ayah.


"Iya yah, " sahut Marcell membantu Ayah.


Marcell pasrah dan membantu Ayah memasukan semua kotak berisi makanan itu ke dalam mobil. Sedangkan Bunda sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga tercinta.


.


.


.


.


.


Sementara itu Nanda yang masih ada di kamar sedang membaca buku.


"Omg, gue lupa rumus ini lagi... Harus minta bantuan Marcell kalo soal ini, " gumam Nanda menggaruk kepala nya yang tak gatal.


Boro-boro minta bantuin, dia mau ke sini aja gak di bolehin sama Ayah - batin Nanda.


Akhirnya Nanda menyelesaikan soal-soal IPA itu dengan caranya sendiri.


"Dan akhirnya.... Gue salah rumus ples salah jawab.... " gumam Nanda pasrah.


Ini gimana nyelesain nya? Gue gak ngertii... - batin Nanda.


"Marcell... " teriak Nanda.


Cklekk...


"Apa?"


"@#&"@!??!!, "


"Ngomong apa sih?" tanya Marcell masuk ke dalam.


"Gak, " sahut Nanda.


"Dih, gak jelas, " sahut Marcell.


Marcell pergi ke arah kasur dan mulai rebahan.


"Mandi sana... Bentar lagi berangkat sekolah, " sahut Nanda.


"Lu ulangan apa hari ini?" tanya Marcell bangun dari kasur.


"IPA, sama Fisika, " jawab Nanda sambil membaca.


Marcell menghampiri Nanda yang sedang belajar dan melihat semua coretan du kertas yang berisi angka-angka.


"Ini salah rumus, " sahut Marcell sambil melihat kertas.


"Gue gak ngerti..." sahut Nanda.


"Terus selama pelajaran IPA sama Fisika lu kemana aja? Masa soal segampang ini lu gak bisa jawab, " sahut Marcell.


"Bolos, "


"Apa?"


"Bukan apa-apa... " sahut Nanda senyum-senyum.


Hampir ketauan kalo gue sering bolos sama tuh tiga pelajaran..... Untung telinganya budek dikit, kalo engga gue udah les privat, - batin Nanda.


"Nanti di sekolah, gue ajarin lu Fisika, " sahut Marcell pergi.


"Dimana belajar nya?" tanya Nanda.


"Perpus, " sahut Marcell masuk ke kamar mandi.


"Males banget gue kalo pergi ke perpus di jam segini... " gumam Nanda.


Mentang-mentang gue pinter, tapi lu harus tau gue benci mencium bau buku di pagi hari... - batin Nanda.


Nanda menyenderkan dirinya ke kursi dan mendengarkan musik dari ponselnya sambil bergumam.


"Nanda... Marcell, sarapan, " teriak Bunda.


"Iyah syiap Bunda... " sahut Nanda.


Cklekk...


"Aahh seger... "


Nanda sedikit menengok ke arah Marcell dan tak sengaja melihat otot-otot Marcell yang terpampang nyata di hadapan nya.


Emaaakkk itu suami siapa makkk... Ganteng amaat... - batin Nanda menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.


"Liatin apa lu?" tanya Marcell saat akan mengambil baju seragamnya dari lemari.


"Ganteng banget jodoh orang, " gumam Nanda terus melihat Marcell.


"Gue bukan jodoh orang, tapi suami lu, " sahut Marcell.


"Engga mungkin, suami gue ganteng banget... Eeee... " sahut Nanda teriak pelan.


"Udah sadar... Woy.., " sahut Marcell menggoyang-goyangkan tubuh Nanda.


"Hah? Apa?" tanya Nanda linglung.


"Lu turun duluan, gue mau pake baju dulu, " sahut Marcell masuk kembali ke kamar mandi.


Nanda mengambil tasnya dan segera turun ke bawah menghampiri Bunda dan Ayah yang sudah menunggu di meja makan.


"Pagii.... Bunda... Ayah.... " sapa Nanda.


"Pagi juga sayang.... "


"Pagi... Mana Marcell?" tanya Ayah.


"Masih pake baju di kamar, " jawab Nanda duduk di kursi.


"Kamu gak ngiler liat perut Marcell?" tanya Ayah.


Nanda terdiam dan melihat Ayah tanpa ekspresi.


Siapa bilang gak ngiler, malah ngiler berlebihan.... Atau engga bisa di bilang hampir mimisan, - batin Nanda.


"Aku gak tau... Gak liat, " sahut Nanda mengambil roti.


"Mm.. Padahal perut Marcell itu kotak-kotak ples bersih, mulus, putih... Pokonya nurun deh ke Ayah, " sahut Ayah.


Nanda hanya tersenyum mendengar nya.


"Ayah udah dong... Jangan gitu, kasian Nanda...." sahut Bunda.


Bunda... Engkau memang lah penyelamatan ku... Dan selalu berpihak pada menantu mu ini~ - batin Nanda senang.


"Nanti kalo Nanda sama Marcell udah siap punya anak, baru deh Nanda bisa liat otot-otot Marcell... " lanjut Bunda.


Gak suami gak istri... Sama-sama stress... - batin Nanda penuh kesabaran.


"Nanda, " panggil Marcell menuju meja makan.


"Mm... Apa?" tanya Nanda yang sedang mengunyah roti.


"Kita berangkat sekarang, nanti di jalan kita sarapan, " sahut Marcell membawa tas Nanda


"Mm? Loh gak makan dulu cell?" tanya Bunda bingung.


"Engga Bunda, nanti aja di jalan aku makan sama Nanda, " sahut Marcell.


Nanda pamit ke Bunda dan Ayah lalu menyusul Marcell dari belakang sampai ke mobil.


Anehnya tumben Marcell mengajak Nanda makan di luar, padahal Bunda sudah menyiapkan makanan untuk mereka berdua.


Entah karena hari ini Nanda ada ulangan jadi Marcell yang bersemangat mengajar Nanda atau lagi pengen makan berdua di luar.


"Kita mau kemana?" tanya Nanda.


"Kita ke toko buku, udah itu kita makan di warung nasi goreng, " sahut Marcell.


"Terus?" tanya Nanda.


"Kita belajar di perpus sampai bel masuk, " sahut Marcell tersenyum.


Lu mau ngebunuh gue keseringan belajar apa gimana? Itu lagi senyum nya bikin orang pengen bunuh diri sekarang... Serem amat.. - batin Nanda ngeri.