
Setelah dokter memperbolehkan keluarga Nanda masuk. Mamah Patmi segera menghampiri Nanda yang masih terbaring lemas di sana.
"Nanda!!! Lu kenapa?!!" teriak Marcell khawatir. Dengan kecepatan penuh, Marcell mengantar Nanda ke rumah sakit terdekat.
Sambil menyetir dia menelpon ibu mertuanya dan juga orang tuanya untuk segera datang ke rumah sakit yang di tuju oleh Marcell.
Setelah berhasil menelpon ibu mertua nya, kini giliran orangtua Marcell yang tak mengangkat telpon nya sejak tadi. Marcell semakin khawatir pada keadaan Nanda, dia tak pernah melihat Nanda yang demam secara tiba-tiba, padahal mereka hampir setiap jam minum air.
"Kenapa lu bisa sampe kayak gini sih ndak?! Apa jangan-jangan gara-gara coklat silverqueen lagi!!" gumam Marcell semakin merasa bersalah.
"Nggak mungkin... tapi kalo ini emang bener salah coklat itu, gue bajak tutup perusahaan yang bikin coklat silverqueen itu!!" ucap Marcell mempercepat mobil nya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Marcell sampai di rumah sakit terdekat. Dia segera memanggil beberapa suster untuk menolongnya.
Nanda sedang mendapatkan napas buatan dan juga tangannya di infus. Sedangkan Marcell berjalan ke sana kemari sambil berusaha menghubungi orangtua nya.
Tak lama dokternya keluar dari kamar Nanda, "Ini keluarga Nanda Nusyrandi?" tanya dokter.
"Iya dok, saya suami nya, " sahut Marcell.
Dokter pun bingung sendiri mendengar kalo lelaki ini adalah suami dari perempuan yang baru berusia 17 tahun.
"Yak sudah kalo gitu, keadaan Nanda sekarang dia baik-baik aja, tapi anehnya trauma nya kambuh lagi, " sahut dokter.
"Trauma!?" tanya Marcell kaget.
"Iya benar, kalo bisa tolong hubungi orang tuanya yah, biar saya jelaskan secara detail nya di ruangan saya, saya permisi, " sahut dokter berjalan pergi.
"Iya dok, terimakasih, " sahut Marcell.
Marcell terus berusaha menelpon orang tuanya. Tak lama, orang tua Nanda datang sambil berlari menghampiri Marcell yang sedang kebingungan itu.
"Marcell!!"
Marcell menengok, "Mamah... Ayah... " sahut Marcell.
"Marcell sayang, gimana keadaan Nanda?!" tanya mamah memegang tangan menantunya itu.
"Kata dokter trauma Nanda kambuh, " sahut Marcell.
Mamah yang mendengar nya hampir saja pingsan, tapi untungnya segera di tangkap oleh sang suami.
"Kamu gak papa kan?" tanya Ayah Endi.
"Iya aku gak papa, Ayah.. Nanda... " sahut Mamah.
"Iya, saya tau, kita harus ketemu sama dokter dulu, cell kamu tau ruangan dokter yang periksa Nanda dimana?" tanya Ayah.
"Iya ayah aku tau, buat aku anter, " sahut Marcell menunjukkan jalan.
"Kamu mau disini aja atau mau ikut ke ruangan dokter?" tanya Ayah Endi.
"Aku disini aja, aku tunggu Shera datang, " sahut mamah.
"Yak udah kalo gitu, ayok cell, " sahut Ayah.
"Iya yah, " sahut Marcell.
Setelah suami nya pergi bersama Marcell, mamah Patmi terus menangis di kursi, "Hikss... Nanda... " gumam mamah dalam hati.
"Kenapa kamu sampai bisa trauma lagi sayang? Marcell gak mungkin bikin kamu kayak gini... "
"Patmi... " panggil seseorang.
Mamah Patmi menengok dan memeluk wanita itu sambil menangis dalam pelukan.
"Shera... hiks.. hiks.. Nanda Shera... " ucap mamah Patmi menangis dalam pelukan.
"Iya Patmi... aku paham, " sahut Bunda Shera membalas pelukan mamah Patmi.
"Sekarang gimana keadaan Nanda?" tanya Ayah Budi.
"Aku gak tau, kita masih belum diperbolehkan masuk sama dokter atau pun perawat lain yang ada di kamar, " jelas mamah Patmi.
Ayah Budi tampak cemas, dia terus berjalan ke sana kemari karena takut terjadi apa-apa sama anak perempuan nya itu.
Tak lama Ayah Endi dan juga Marcell datang bersama dokter.
"Tunggu sebentar yah, saya mau cek keadaan Nanda dulu, " sahut dokter berjalan masuk ke kamar.
"Iya dok, "
"Dok tolong selamatin Nanda, berapapun biayanya saya akan bayar, "
"Tolong dok, "
"Iya, bapak ibu tolong tenang dulu yah, saya masuk untuk memeriksa keadaan Nanda sebentar, " sahut dokter.
Setelah dokter masuk, keadaan orangtua Marcell maupun mertuanya semakin memburuk. Begitupun dengan Marcell yang semakin cemas akan keadaan Nanda.
Marcell membuka ponselnya dan melihat beberapa chat di whatsapp nya. Marcell melihat ada 2 pesan dari Bagas.
**Bagas
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bagas**
Woy, lu dari mana aja, ini Mila nyari lu, kenapa lu gak matiin hape lu?!!!
^^^Marcell^^^
Marcell belum mengirim kan pesan kepada Bagas, lalu menghapus pesan itu kembali.
^^^Marcell^^^
Sorry, tadi Nanda minjem hape gue...
Bagas
Oh, yak udah gak masalah, gue udah bawa Mila pulang
^^^Marcell^^^
^^^Syukur lah, kalo gitu...^^^
^^^Read by Bagas^^^
Dokter keluar dari ruangan Nanda dan mulai bicara kepada orang tua Marcell.
Marcell tak mendengarkan ucapan dokter barusan, karena dia sibuk memainkan ponselnya.
"Marcell... " panggil mamah Patmi.
Marcell melirik mamah Patmi dan berjalan menghampiri nya. "Apa mah?" tanya Marcell.
"Kata dokter, kita udah boleh liat Nanda ke dalam, tapi gak boleh bertanya itu ini... karena tubuh nya masih lemas, " sahut mamah Patmi.
"Oh iya mah, " sahut Marcell singkat.
"Kamu mau liat keadaan Nanda apa enggak?" tanya Bunda menghampiri mereka berdua.
"Iya aku mau, tapi kenpa Nanda sampe bisa pingsan?" tanya Marcell.
"Trauma kambuh, " sahut mamah Patmi.
"Hah?! aku gak ngelakuin apa-apa, sampe trauma kambuh mah, " sahut Marcell.
"Bukan enggak, tapi belum, " sahut Ayah Endi.
"Aku serius yah, " sahut Marcell.
"Ayah juga serius, masa kalian gak bakalan lakuin itu, kan kita semua juga pengen punya cucu, " sahut Ayah Budi.
Kenapa gue dilahirkan di keluarga ini - batin Marcell.
"Kalo bisa cucunya perempuan, " sahut Bunda Shera.
"Iya, kan cantik kayak ibunya... " sahut Ayah Budi
"Eehh... Malah saya berharap anaknya Nanda cowok lho, " sahut mamah Patmi.
"Kan cowok udah punya tiga, sedangkan cewek kan belum punya, " sahut Ayah Budi.
"Lah terus itu siapa yang ada di kamar?" tanya Mamah Patmi.
"Ehh iya iya... "
"Huuh dasar... "
"Anak saya berasa di anggap... "
"Bukan gak dianggap lupa, "
"Malah ngegosip, " gumam Marcell.
Orang-tua Marcell dan juga orang-tua Nanda masih berbicara tentang masa depan mereka nantinya.
"Ehem, bunda sama mamah mau liat Nanda apa engga?" tanya Marcell. Seketika mereka berempat berhenti berbicara dan membahas topik lain.
"Jadilah masa engga, " sahut bunda Shera.
"Yak udah kalo gitu, masuk, " sahut Marcell.
"Emang kenpa kita gak boleh ngomongin soal calon cucu?" tanya mamah Patmi.
"Bukan itu maksud aku, jangan sekarang, " sahut Marcell.
"Eiitt, 'jangan sekarang' berarti nanti kalian bakal ngasih cucu... " sahut Ayah Endi.
"Eee... bukan itu maksudnya... duh gimana jelasin nya... " gumam Marcell.
"Haha... kita bercanda kok cell... "
"Tenang aja, gak usah terburu-buru ngasi kita cucu... "
"Mohon tenang.. jangan terburu-buru nanti malah kebablasan, kalian belum lulus SMA, "
"Kalo udah lulus berarti boleh?" tanya bunda Shera.
"Bunda... " sahut Marcell malu.
"Haha... maaf cell bunda cuma bercanda kok, jangan di bawa serius, " sahut Bunda Shera.
"Udak ayo masuk... " lanjut bunda Shera.