My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Roti Jepang



"Gung, ini sebenarnya kita mau ngebicarain apan sih?" tanya Lukman.


"Iya, dari tadi sembunyi mulu, udah sakit nih kaki gue, " sahut Ihsan.


"Gue mau minta tolong sama kalian berdua, " sahut Agung.


"Minta lontong apaan?" tanya Lukman.


"Tolong bang tolong, " sahut Ihsan.


"Nah itu maksudnya, " sahut Lukman.


Agung mulai berbisik, Lukman dan Ihsan hanya mendengar kan, "Gimana kalian mau kan?" tanya Agung.


"Oh kalo masalah itu mah beres, serahkan kepada detektif Lukman, " sahut Lukman bangga.


"Yakin lu? Gue mah percaya nya sama Ihsan, " tanya Agung.


"Yak kari, gue udah Cita-cita jadi detektif, masalah ginian gue gak bisa, " sahut Lukman dengan muka sedihnya.


"Yak udah kalo gitu jangan lupa, ikutin terus, gue mau tau dia suka cowok kayak gimana, " sahut Agung mengingat kan kembali.


"Iya, lu tenang aja, kita mah udah biasa ngadepin masalah cinta yang rumit kayak elu, " sahut Ihsan.


"Elu aja kali, gue mah engga, " sahut Lukman.


"Jangan ngancurin omongan gue napa, " sahut Ihsan.


"Udah, mending sekarang kita ke kantin, pasti udah pada nunggu di sana, " sahut Agung berdiri.


Lukman dan Ihsan ikut berdiri dan meregangkan kaki mereka.


"Lain kalo langsung aja ngomong, jangan sembunyi-sembunyi kayak gini, " sahut Lukman kapok.


"Gak papa kali kan mau jadi detektif, " sahut Ihsan.


Mereka bertiga keluar dari perpus dan berjalan menuju kantin tempat Marcell dan yang lain berada.


Sementara itu di kantin.


"Gue ngomong gak pernah didenger sama kalian semua, " sahut Rara kesal.


"Gue dengerin elu Ra... " sahut Dinda.


"Kalo elu mah pasti dengerin gue, ini Nanda sama Marcell yang dari tadi makan tross, " sahut Rara.


"Kan gue dah bilang kalo mereka bertemu pasti gan jnget sama dunia, " sahut Angga.


"Angga lu kenapa gak tembak aja Dinda?" tanya Rara.


Angga tersedak begitupun Dinda yang sedang menyuruput kuah baso.


Nanda dan Marcell memberikan minum pada mereka berdua, "Lu apaan si Ra, pdkt itu perlu waktu, " sahut Nanda.


"Nah ngomong juga nih anak, " sahut Rara.


"Kenapa lu nanya begituan ke gue?" tanya Angga.


"Karna kalian cocok kan, kalian anak geng motor, " cibit Rara.


Mata Dinda dan Angga melotot, Nanda dan Marcell menatap sinis pada Rara.


"Kenapa?" tanya Rara bingung.


Dinda dan Angga saling menatap satu sama lain.


"Lu anak geng motor?!" tanya Angga kaget.


"I-iya, lu sendiri juga anak geng motor, " jawab Dinda.


"Kalo gue kan cowok, sedangkan elu kan cewek, " sahut Angga.


"Ra, lu harus jaga omongan lu, " sahut Nanda.


"Yak sorry gue gak sengaja keceplosan, " sahut Rara.


BRAKK....


Agung memukul meja, sampai minuman Rara tumpah.


"Lu b*ngs*t, bisa gak sih datang gan ngagetin orang?!!" tanya Rara kesal.


"Kenapa emangnya?" tanya Agung.


"Muka tanpa dosa lu, " sahut Marcell kesal.


"Maaf kali bos, " sahut Agung meminta maaf.


"Eh ada nyonya Alfarizky, " sahut Lukman.


"Elu lagi elu lagi ada gak sih cowok yang nyapa gue selain elu berdua, " sahut Nanda.


"Kenapa sih si nyonya marah-marah mulu, " sahut Ihsan.


"Ngapain juga kalian manggil gue sama sebutan 'nyonya' ?" tanya Nanda.


"Kan elu... " Lukman dan Ihsan mendekat dan berbisik di telinga Nanda dan Marcell.


"Mau jadi suami istri, "bisik Lukman.


"Tau dari mana lu?" tanya Marcell.


"Lah bener, padahal gue cuma asal nebak doang, " sahut Lukman.


"Kena jebakan kita, " gumam Nanda.


Agung ikut duduk di samping Rara, Lukman dan Ihsan memesankan makanan untuk mereka bertiga.


Setelah selesai makan, mereka segera kembali ke kelas dan belajar seperti biasa sampai jam pulang.


.


.


.


.


.


Bel pulang berbunyi semua anak-anak bubar menuju gerbang sekolah.


Marcell menunggu Nanda di parkiran, "Lama amat dah nih anak, kemana dulu sih?!" gumam Marcell kesal.


Dia melihat Nanda, Rara, Dinda yang berjalan menuju ke arah nya, "Sorry tadi gue lama, soalnya ada pemberitahuan dari ketua PMR, " sahut Nanda.


"Iya gak papa, masuk, " sahut Marcell.


Nanda hanya menurut saja, sedangkan Dinda dan Rara mereka mau naik angkot saja.


"Kalian berdua mau kemana?" tanya Lukman.


"Kita mau nunggu angkot kenapa?" sahut Dinda.


"Din... Lu bareng aja sama gue, " sahut Angga.


"Terus gue ditinggal gitu?" tanya Rara.


"Lu sama gue aja, kalo lu mau, " sahut Agung.


"Yaudah hayuu, lumayan awet ongkos, " sahut Rara.


Rara dan Dinda naik ke motor Angga dan Agung, Lukman nebeng ke motor Ihsan, Marcell dan Nanda ada di dalam mobil, dan mereka pergi dari kawasan kesengsaraan.


Mobil Marcell sudah berpisah dengan motor Angga, Agung, dan Ihsan.


"Kan kemarin kita udah kesana, mau beli apa lagi?" tanya Marcell.


"Gue mau beli roti, " sahut Nanda.


"Roti?Kan ada di rumah, " sahut Marcell.


"Roti Jepang, " sahut Nanda kesal.


"Lu kalo mau roti Jepang, nunggu sampe kita nikah baru gue ajak lu ke Jepang buat makan roti di sana, " sahut Marcell.


"Ish... Lu gak ngerti masalah cewek, " dengus Nanda kesal.


"Masalah cewek?Emang apaan?" tanya Marcell.


Nanda semakin bingung bagaimana menjelaskan nya. Mobil Marcell berhenti di depan Minimarket.


"Udah sana turun, katanya mau beli roti, jangan lupa beli selai nya juga sekalian, " sahut Marcell.


Nanda merasa tenang, dia segera turun dari mobil dan membeli roti Jepang, roti tawar dan selai.


Nanda segera masuk ke dalam, "Udah? cepet amat, " sahut Marcell.


Marcell melihat ada 2 kantung kresek, "Ini yang satu lagi isi nya apaan?" tanya Marcell membuka kresek berikut nya.


"Bukan apa-apa, jangan suka kepo lu, " sahut Nanda, menjauhkan tanya Marcell dari kantung tersebut, dan Nanda menyembunyikan nya di dalam tasnya.


"Emang apaan sih isinya?" tanya Marcell.


"Roti Jepang, " jawab Nanda malu.


"Roti Jepang itu apaan?" tanya Marcell.


"Udah cepetan majuin mobilnya, " pinta Nanda.


"Jawab dulu, kalo ini roti sama selai yang itu jenis roti apaan?" tanya Marcell.


Aduhhh.... Gue harus ngejelasin nya kayak gimana coba?? Nggak ngerti-ngerti dari tadi, - batin Nanda bingung.


"Kenapa bingung?" tanya Marcell.


Tanpa bertanya Marcell mulai melakukan mobilnya.


"Lu tau kan gue lagi gak solat?" tanya Nanda.


"Iya terus, "


"Gue beli pembalut buat nyetok di rumah elu, " sahut Nanda.


Marcell kaget dan seketika tubuhnya menjadi kaku.


"O-oh, pantesan aja sikap lu aneh, bilang aja mau beli anu, " sahut Marcell.


"Gue malu, " sahut Nanda.


"Tumben malu, biasanya juga malu-maluin, " sahut Marcell.


"Enak aja, "


"Trus lu beli roti tawas nya berapa?"


"Gue beli 3 roti ples selai nya 1 rasa coklat, " jawab Nanda.


"Mm, lu suka sama coklat?"


"Bukan suka lagi, gue kalo lagi frustasi atau pusing mikirin tugas, gue selalu makan coklat, "


"Oh, "


Marcell sekarang jadi tau cemilan yang membuat Nanda tenang.


"Kalo elu sendiri cell, lu suka apa?" tanya Nanda.


"Gue suka semuanya, " jawab Marcell.


"Jangan boong lu, setiap manusia pasti ada makanan yang paling dia gak suka, contoh nya kayak gue, "


"Lu emang gak suka makanan apa?"


"Peuyeum, " jawab Nanda.


"Kalo peuyeum itu makanan kesukaan gue, " sahut Marcell.


"Iiihhh... Gue paling gak suka sama peuyeum rasanya aneh sama baunya gak suka, " sahut Nanda.


"Walau baunya gak enak, tapi rasanya bikin ngieler, " sahut Marcell.


Dan percakapan pun berakhir. Mereka sudah sampai di kawasan rumah Marcell dan mereka melihat Bunda yang sedang menyiram tanaman.


Nanda turun dari mobil, "Bunda lagi ngapain?" tanya Nanda.


"Oh Nanda selamat datang, bunda lagi nyiram tanaman, " jawab Bunda dengan senyuman.


"Kan ada pak wawat, " sahut Nanda.


"Gak papa kale ndak, kali-kali Bunda pengen nyiram tanaman, " sahut Bunda.


Nanda hanya mengangguk.


"Udah sana kamu masuk, mandi, makan, tuh Marcell udah duluan masuk, " ucap Bunda.


"Iya bun, kalo gitu aku masuk dulu, " sahut Nanda berjalan pergi ke arah pintu.


Bunda melihat Nanda masuk dan melanjutkan menyiram tanaman di halaman.


"Pak wawat, " panggil Bunda.


"Iya nyonya?"


"Tolong terusin nyiram tanaman nya pak, saya mau masuk mau nyiapin makanan buat anak-anak saya, "


"Oh, iya siap nya, " sahut Pak Wawat mengambil alih.


Bunda masuk ke dalam rumah, dan menyiapkan makanan untuk Nanda dan Marcell. Tak lama setelah Bunda menyiapkan makanan di atas meja, mereka berdua turun bersamaan.


"Kalian makan dulu yah, Bunda mau ke kamar, " sahut Bunda berjalan pergi


Nanda dan Marcell menyantap makanan tersebut.


"Lu gak ada niat buat nyemangatin gue nanti?" tanya Marcell.


"Emang lu mau kemana?" tanya Nanda.


"Gue kan mau tanding 3 hari lagi, " jawab Marcell.


"Oh iya, gue bakal nyemangatin elu di kursi penonton, " sahut Nanda.


"Bukannya elu pemandu sorak?" tanya Marcell.


"Kata siapa?" tanya Nanda.


"Waktu itu, lu bilang, "


"Kapan ?"


"Halah pikun, "


Marcell selesai makan, dia berjalan pergi meninggalkan Nanda yang masih makan.


"Kapan gue bilang, kalo gue ini pemandu sorak coba?" gumam Nanda bingung.


"Yakk gak jadi dong, gue ngasih suprise, " gumam Nanda kesal.


Setelah makan dia pergi ke kamar dan bermain ponselnya.