
"Jangan lupa kalo ketemu sama dokter atau perawat guanteng lpc kita... " teriak Dinda.
"Heh!! Dinda... " teriak Angga.
"Ups... " sahut Dinda menutup mulut nya dengan tangan.
"Jangan keras-keras kalo ngomong kayak gitu.. " sahut Nanda.
"Oh iya gue lupa... " sahut Dinda.
"Syuutt... " sahut Putri.
"Mereka udah pergi put?" tanya Nanda kepada Putri yang mengawasi Marcell dkk sedari tadi dari balik pintu.
"Udah.. hayuu gas.. " sahut Putri jalan duluan.
"Kemoonn... " sahut Nanda berdiri dan berjalan bersama Dinda dan Rara.
"Dokter guanteng, kami datang~~, " sahut Rara.
"Berisik anj*rr.. " sahut Nanda.
"Wehh suara gue bagus nj*rr.. " sahut Rara.
"Jangan nyanyi lu.. nanti kuping gue budek seketika, " sahut Dinda.
"Gue nyanyi pasti semua orang bakal memuji gue... " sahut Rara.
"Kalo emang suara lu sebagus lesty atau siapa pun itu.. lu boleh nyanyi... ini suara kayak burung keselek batu aja bangga, " sahut Putri.
"Jahat banget lu an.. " sahut Rara manyun bebek.
"Nusuk banget sih omongan lu, " sahut Dinda.
"Mulutnya pedes kaya gula, " sahut Nanda.
"Cabek sayang cabek, kalo gula manis... " sahut Rara.
"Nah Nanda aja tau, kalo omongan gue ini pedes kayak bawang, " sahut Putri.
"Bawang bikin mata seseorang itu menangis, " sahut Rara.
"Lu mah bawang Bombay... " sahut Nanda.
"Serah kalian lah, " sahut Putri.
"Mana ini? katanya di sini, tapi kok ada keliatan? di mana sih ra?" tanya Dinda.
"Bentar, gue tanya dulu ke perawat yang ada di sana, " sahut Rara berjalan pergi menghampirimu seorang perawat.
"Kalo dia udah pulang gimana?" tanya Putri.
"Yahh gak seruu... " sahut Nanda.
"Minta nomor nya kek atau minta poto sekali aja, biar pulang gak bawa tangan hampa kita.. " sahut Dinda.
"Nah iya bener.. " sahut Putri.
Tak lama Rara kembali sambil berlari kecil. "Katanya dia ada di ruangannya.. " sahut Rara.
"Dimana ruangan nya?" tanya Nanda.
"Ikut gue.. " sahut Rara jalan duluan, Nanda dkk menyusul dari belakang.
"Jauh gak ra?" tanya Nanda.
"Yaelah ndak kita baru juga lima langkah dari tempat sebelumnya, udah bilang jauh nggak, " sahut Rara menengok kebelakang.
"Gue udah capek, " sahut Nanda.
"Sabar ndak kota harus ketemu sama dokter ganteng itu, masa Rara doang yang enak, kita juga mau, " sahut Putri.
"Nyari dokter ganteng... okehlah gue udah semanget hayuu.. " sahut Nanda kembali berjalan di depan Rara.
Nanda terus berjalan lurus, sedangkan Rara, Dinda, dan Putri belok ke kiri.
"Ini lurus aja nih? udah mentok lho.. " sahut Nanda, saat Nanda berbalik tidak ada siapa pun.
"Rara? Dinda? Putri? kalian dimana?" panggil Nanda celingak-celinguk.
"DAARR... "
"Astagfirullah... jantung gue... " teriak Nanda kaget sampai jatuh ke lantai.
Dinda, Putri hanya tertawa melihat Nanda yang kaget. Rara hanya geleng-geleng kepala pelan, dan berjalan membantu Nanda berdiri.
"Dasar anak-anak gilaa... " sahut Rara.
"Hahahaha... maaff... " sahut Dinda, Putri barengan sambil tertawa.
"Lu gak papa kan ndak?" tanya Rara.
"Iya gue gak papa, " sahut Nanda sudah berdiri.
Dinda dan Putri masih tertawa ngakak. "Anak gila kalian berdua... sini.. " sahut Nanda marah.
"Kabur ada kambing hitam ngejar... " sahut Putri berlari.
"Tunggu... gue ikut... " sahut Dinda ikut berlari.
Karena Nanda tidak bisa berlari karena masih sakit, akhirnya Nanda melepaskan mereka berdua.
"Berani-beraninya lu bilang gue ini kambing hitam, " sahut Nanda melotot.
"Udah sabar sabar... " sahut Rara mengelus pundak Nanda.
"Secantik, seimut ini di bilang kambing.... " sahut Nanda menunjukkan dirinya sendiri.
"Sabar sabar... biarin aja mereka berdua emang titisan neraka jadi maklum... " sahut Rara.
Mereka berjalan terus sampai disalah satu ruangan yang sering didatangi oleh para suster perempuan lain.
"Ini ruangannya?" tanya Nanda.
"Iya, itu buktinya banyak suster lain yang kesini... perempuan semua lagi, " sahut Rara.
"Mm.. iya juga sih, " sahut Nanda.
"Emang seganteng apa sih dokternya? gue kepo, " sahut Dinda.
"Gantengan Ihsan.. ehh.. " sahut Putri keceplosan.
"Jadian dong sama Ihsan.. " sahut Dinda.
"Jangan di pendem mulu, jangan sok jual mahal.. " sahut Rara mencolek tangan Putri.
"Ehem.. udah aahh ayok kita masuk ke ruangannya.. " sahut Putri salting.
Sekarang mereka berada di depan pintu ruangan dokter itu. Saat Rara akan mengetik tiba-tiba pintu sudah terbuka dari dalam, dan terlihat lah seorang dokter tampan yang tersenyum tipis saat melihat mereka berempat.
"Uhukk ganteng... " gumam Nanda keselek ludah sendiri.
Dinda melongo melihat dokter itu yang terus tersenyum, "Ini gue ada dimana?" tanya Dinda dengan suara kecil.
Kyyaaaa ganteng bangettt gak sia-sia gue datang ke rumah sakit terus ngusir para syaiton itu... - batin Putri menggigit bibir bawah nya.
"Ada keperluan apa yah?" tanya dokter itu.
Nanda yang sadar menyenggol tangan Rara yang melongo melihat ketampanan dokter itu.
"Eeh iya, dokter boleh minta nomor hapenya.. mmm, " sahut Rara, tapi untungnya Putri segera membungkam mulut Rara dengan tangannya.
"Maaf dok, kebiasaan... hehhe.. " sahut Putri cengengesan.
"Iya gak papa, ada keperluan apa kalian ke sini?" tanya dokter itu sekali lagi.
Adduuhh ngomong nya aja sopan bener... - batin Nanda.
Aaaaahhh meleleh gue... - batin Dinda berteriak.
"Ini dok, Nanda katanya mau di periksa, " sahut Rara mendorong maju tubuh Nanda.
"Eeh kok gue?" tanya Nanda menunjuk dirinya sendiri.
"Syuut... " sahut Rara tersenyum kepada dokter itu.
"Kalau begitu.. silahkan masuk, " sahut dokter itu mempersilahkan masuk ke ruangannya.
"Iya dok, terimakasih.. " sahut Rara.
Mereka berempat masuk ke dalam dan duduk di kursi yang sudah disiapkan.
"Ada masalah apa Nanda?" tanya dokter.
"Hah? dokter tau nama saya?" tanya Nanda.
"Iya, saya tau, saya yang bertugas memeriksa keadaan kamu saat kamu tidur.. " jawab dokter.
"Oh gitu.. ini dok, Nanda kan mau jalan-jalan, tapi kakinya sakit padahal baru juga jalan lima langkah, " sahut Dinda.
"Ohh, boleh saya lihat?" tanya dokter.
"Boleh banget dok... dokter mau liat hati aku aja boleh... " sahut Putri.
"Hehehe.. maaf yah dok, kebiasaan... " sahut Rara.
Dokter itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis, senyuman nya itu membuat Nanda dkk meleleh.
"Nanda ini... terkena trauma lagi yah?" tanya dokter.
"Iy-- "
"Iya dok.. tapi ini bisa sembuh kan?" potong Rara.
"Iya, kalo trauma terjadi yang kedua kalinya.. kamu bisa mengingat seseorang yang telah membuat mu trauma kalo gak salah, " sahut dokter.
Nanda tampak berpikir sejenak, dokter itu terus memeriksa Nanda tanpa ada bagian yang terlewat kan.
Kalo gak salah, pas gue pingsan tiba-tiba inget sama Bagas, - batin Nanda.
"Oke sudah selesai, " sahut dokter.
"Iya dok, makasih... " sahut Nanda.
"Iya sama-sama, jangan lupa untuk terus istirahat, jangan suka bergadang, jangan makan makanan yang berminyak, " sahut dokter.
Nanda dkk hanya mengangguk. "Tapi dok Nanda boleh sekolah gak besok atau lusa?" tanya Putri.
"Boleh kalau keadaan nya sudah stabil.. " sahut dokter.
"Kalo gitu dok, kami pergi dulu.. " sahut Dinda.
"Iya, silahkan.. " sahut dokter.
Rara membuka pintu dan keluar duluan, disusul oleh Nanda, Dinda, Putri, bahkan dokter pun mengantar mereka keluar.
"Jaga diri kamu yah Nanda.. yang paling penting jangan dulu melakukan 'itu' " sahut dokter.
Nanda dkk terdiam sejenak 'itu' maksud nya apa? Mereka sama sekali tak mengerti dengan apa yang dimaksud kan oleh dokternya itu.
"Maksud dokter?" tanya Dinda.
"Bukan apa-apa, silahkan... " sahut dokter.
"Iya dok, " sahut Nanda berjalan pergi.
"Dok, boleh minta nomor hapenya nggak?" tanya Rara.
Putri melihat Rara, "Niat banget nih anak, " gumam Putri.
"Syuut.. jangan lupa bagi-bagi, " bisik Dinda.
"Santuy kek bambang, ini juga belum tentu, " bisik Rara.
"Boleh, mana hape kamu?" tanya dokter itu.
Seketika Rara dkk kaget, Rara segera memberikan ponselnya, dan dokter itu menuliskan nomor nya.
"Ini, nama kamu Rara Farisya, cantik namanya sama kayak orang nya, " sahut dokter sambil membenarkan rambut nya.
Beeehhh damagenya... - batin Rara.
Mamah ganteng... - batin Putri.
Ini gue ada di dongeng mana sih? perasaan gak ada deh dongeng yang damagenya mantep gini... - batin Nanda.
Astagfirullah... asupan pagi... - batin Putri.
Nanda dkk segera pergi dari hadapan dokter itu dengan perlahan. Dokter itu hanya tersenyum dan melambaikan tangan kepada mereka.