My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Berduka



Setelah acara perpisahan dan kelulusan selesai. Agung dan ibu nya pulang terlebih dahulu karena ada sesuatu yang harus dia tahu secara pribadi.


Sejak tadi ibu Agung tak berbicara atau pun mengajak ngobrol, dia tetap diam hanya melihat keluar jendela.


"Mah, kita sebenarnya mau kemana?" tanya Agung.


Tapi tak ada jawaban dari mulut sang ibu. Dia masih fokus dengan lamunan nya. Mobil pun berhenti di depan TPU. Agung merasa ada sesuatu yang aneh, kenapa mereka tiba-tiba berhenti di depan TPU?


"Ayo turun sayang, " sahut Mama Sella.


"I-Iya mah, " sahut Agung, dia pun turun dari mobil dan berjalan berdampingan dengan ibu nya.


Mereka berjalan menyusuri tempat pemakaman itu satu persatu, dan sampailah mereka di salah satu pemakaman.


"Kita ngapain ke sini mah?" tanya Agung penasaran.


"Kita udah sampai, " sahut Mama Sella.


Agung bingung dengan perkataan Mama nya barusan dan dia melihat batu nisan dengan nama seseorang yang dia kenal.


Air matanya tiba-tiba keluar tanpa Agung meminta. "Ini apa maksudnya mah?" tanya Agung masih melihat batu nisan itu.


"Ibu kamu.. Sofi.. dia udah tiada sayang, " sahut Mam Agung.


Agung pun berjongkok di depan makam Sofi dengan air mata yang terus mengalir tampa henti, tak ada suara yang keluar walau Agung berasa ingin sekali berteriak.


"Gak mungkin... gak mungkin Mama udah meninggal.. mah!... ini apa maksud nya?!?" tanya Agung.


"Ini benar sayang... Sofi tiada di tempat kejadian saat kami berusaha menangkap Ayah kamu Herman... " sahut Mama Sella menjelaskan secara perlahan kepada anak nya yang sedang berduka itu.


Ayah.. aku gak akan pernah memaafkan Ayah seumur hidup.. - batin Agung geram.


Agung mengepal tangan nya ingin sekali rasanya balas dendam atas perbuatan Herman kepada seorang wanita yang sangat dia cintai dan sayangi seperti seorang ibu.


"Hiks.. kamu yang sabar yah sayang.. hiks.. " sahut Mama Sella.


Suara tangisan itu terdengar sampai ke telinga Agung. Agung segera beranjak dan menghampiri ibu nya dan memeluk nya.


"Maafin aku mah.. " sahut Agung masih dengan memeluk ibu nya.


"Enggak.. harusnya Mama yang minta maaf, karna gak bisa melindungi seorang ibu yang udah ngebesarin kamu.. hiks.. hiks.. " sahut Mama Sella.


Agung hanya menggeleng pelan di pelukan Mama nya. "Maafin Mama.. hiks hikss.. " sahut Mama Sella.


"Engga mah, ini bukan salah Mama.. ini salah lelaki jahat itu mah.. " sahut Agung berusaha menenangkan ibu nya ya h terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


Apa yang di perbuat lelaki itu terhadap Mama? sampai Mama terus menyalahkan diri sendiri?! - batin Agung bertanya.


Herman Johannes.. liat aja gue bakal bikin lu menderita, sama seperti yang di alami Mama Sella dan juga Mama sofi.. gue gak akan membiarkan lu bebas.. - batin Agung semakin geram.


Agung berusaha tegar seperti yang di katakan ibu nya Sofi Ayuhira. Agung masih ingat ucapan terakhir dari Mama Sofi untuk nya walau di telfon.


*🗣️ : Agung sayang.. kamu harus tegar yah.. jangan suka membantah perkataan Mama kamu yah.. nak..


: Maksud Mamah?


🗣️ : Ahh bukan apa-apa nak.. walau dalam keadaan yang begitu menyakitkan kamu harus tetap tegar, karna laki-laki gak boleh nangis...


: I-Iya mah..


tuutt.. tuutt.. tuutt*..


Perkataan dari seseorang yang begitu menyakitkan. Apa ini yang di maksud dengan perkataan Mamah? walau dalam keadaan yang begitu menyakitkan harus tetap tegar, karna laki-laki gak boleh nangis?


Suara terakhir yang Agung dengar dari seorang wanita di balik telpon itu. Walau Agung tak begitu mengerti dengan ucapan nya. Tapi kali ini dia mengerti arti dalam perkataan nya itu.


Ingatan tentang ibu nya Sofi, dia harus mengubur nya dalam-dalam. Walau ini sangat lah menyakitkan, tak bisa untuk melupakan seorang ibu yang begitu sangat menyayangi nya selama ini. Sampai akhirnya harus melepas rindu yang begitu besar.


...Mamah......


...Sebuah kata yang tak bisa ku ubah dalam waktu dekat, sebuah kata yang selalu ku pakai jika aku dalam masalah atau berusaha mencari jalan....


...Walaupun kau bukan ibu kandung ku, tapi rasa sayang mu kepada ku amat lah sangat besar, walau kau sering mendapat ejekan atau pun hinaan dari orang-orang.. kau tetap menyayangi ku. Terimakasih Mama......


from : Agung Tresna / Sulaiman


***


Sudah sangat lama mereka berdiam diri di depan makam itu sambil menangis tersedu-sedu. Agung membawa Mama Sella kembali ke mobil untuk menenangkan diri.


Di mobil


"Kita mau kemana bu?" tanya supir.


"Kita pulang ke rumah Pak Herman, " sahut Mama Sella.


Mobil pun berjalan menjauh dari TPU itu, tempat peristirahatan terakhir bagi Mama Sofi. Mama Sella melihat Agung yang sedang melamun itu.


Mama Sella memegang tangan anak nya itu dan tersenyum. Agung melihat ke arah Mama nya dan ikut tersenyum.


Mengingat kejadian yang begitu tak terduga, tiba-tiba terjadi begitu saja.


Beberapa hari kemudian.


Mama Sella dan Agung masih tinggal di rumah besar milik Pak Herman. Rencana nya Agung ingin sekali pindah dari tempat itu dan tinggal di rumah Mama Sella di Garut, karna rumah ini masih atas nama Herman.


Setelah selesai makan siang, ada seseorang yang datang ke kediaman mereka berdua. Salah satu asisten rumah tangga itu membukakan pintu dan memanggil Mama Sella untuk bertemu dengan lelaki di depan rumah nya itu.


Di ruang tamu.


"Apa benar ini dengan bu Sella Asusila dan Agung Tresna?" tanya pria itu.


"Iya benar, " sahut Sella.


"Saya datang ke sini, untuk memberikan harta warisan Sofi Ayuhira kepada Agung Tresna, "


Seketika mereka berdua kaget dan tak percaya, pria itu mengeluarkan beberapa berkas penting dan menunjukan nya kepada Bu Sella dan Agung.


Saat Bu Sella membuka berkas itu dan membacanya, ternyata benar semua hak waris Sofi Ayuhira di serahkan seutuhnya kepada Agung Tresna, hak asuh terhadap Agung pun telah di kembalikan kepada Sella Asusila. Bukan hanya itu rumah besar yang mereka tempati atas nama Herman telah diganti menjadi nama Sella Asusila.


"Jadi ini.. "


"Iya benar bu.. Selama Bu Sofi di Jawa, dia menyuruh saya memberikan semua warisan nya kepada Agung dan membenarkan hak asuh yang telah di curi oleh Pak Herman, untuk di kembalikan seutuhnya kepada Bu Sella, "


Jadi ini yang kamu lakuin selama ini Sofi.. untuk menanggung semua yang kamu perbuat, kamu pun melakukan ini demi kebaikan Agung.. terimakasih... - batin Bu Sella.


Setelah perbincangan mereka selesai. Lelaki itu pamit untuk pulang dan menyerahkan dokumen penting kepada Sella.


Mama Sella masih melihat semua berkas-berkas yang dia dapat dari lelaki barusan.


"Mah.. Mama gak papa?" tanya Agung.


"Ehh, iya sayang? Mama gak papa kok.. " sahut Mam Sella mengusap air mata nya.


"Udah mah jangan nangis lagi.. "


Mama Sella tersenyum, "Iya.. enggak kok, " sahut Mama Sella.


"Jadi rumah ini milik kita mah?" tanya Agung.


"Iyah.. rumah dan isinya, bahkan mobil yang ada di sini.. udah jadi milik kita seutuhnya, " sahut Mama Sella.


Agung hanya mengangguk. "Jadi menurut kamu, apa yang harus Mama lakuin untuk rumah yang di Garut?" tanya Mama.


"Di jadiin Villa aja mah, kan lumayan, nanti aku sama temen-temen bisa nginep di sana, kalo lagi pengen santai-santai, " sahut Agung.


"Mm... boleh juga, " sahut Mama Sella setuju.


"Kamu mirip banget sih sama Ayah kamu Irfan, selalu aja ambil keuntungan, " sahut Mama Sella mencubit pipi Agung gemes.


"Aauu sakit mah.. hehehe namanya juga anak Ayah Irfan, " sahut Agung tersenyum.


"Ck. udah, Mama mau istirahat dulu yah.. "


"Iya mah.. "


Agung berjalan ke depan dan duduk di samping pohon pisang. "Semua masalah udah selesai, Mama Sofi udah tenang di sana.. sekarang... Rara lagi ngapain yah?" tanya Agung.


"Aahh, kenapa gue selalu mikirin anak monyet itu sih.. gak penting... au ahh.. " sahut Agung kesal kepada diri nya sendiri dan berjalan masuk ke dalam rumah.