My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Titisan setan/orang maksiat



"Gue kira Marcell gak bisa bahasa Korea/Jepang, eh taunya dia malah nyahut, " sahut Nanda.


"Gue lupa gak nanya, " sahut Putri.


"Iya, padahal kan lu berdua dari tadi sama Angga Ihsan, " sahut Rara.


"Yak maaf, gue juga lupa nanyain, padahal kan di situ pas banget, " sahut Dinda.


"Tadi Ihsan gak percaya kalo lu bisa bahasa negara lain, " sahut Putri.


"Tapi kalo udah tau tadi, yak udah, " sahut Dinda.


"Kayak nya nyerah, " sahut Nanda.


"Yoi, " sahut Putri.


"Btw, lu beneran mau ikut kita pulang naik angkot?" tanya Rara.


"Iyalah masa engga, dari pada yang di sisi ini pacaran mulu, " sahut Putri.


"Dinda mah gitu... " sahut Rara.


"Apa?" tanya Dinda.


"Gak mau bagi-bagi cowok, " sahut Nanda.


"Lah kan elu udah punya Marcell, sedang kan si anak monyet ini udah punya Agung, " sahut Dinda.


"Kalo gue sama siapa? gue jomblo, " sahut Putri.


"Jadian aja sama Ihsan apa susah nya... " sahut Dinda.


"Emang lu pikir, gue ngapain aja sedari tadi di taman sama Ihsan... cuma nyimak obrolan kalian berdua, pelukan sebelum berpisah, terus kalo gak ada gue sama Ihsan, nih anak udah ciuman, " sahut Putri.


Dinda pura-pura tak mendengar ucapan Putri barusan, dengan santainya Dinda balik badan menghadap papan tulis.


"What?!..." sahut Rara tertawa.


"Haha... gue gak nyangka lu hampir mau ciuman sama Angga... haha...ngakak.. " sahut Nanda tak percaya.


"Bisa gak lu, jangan di perjelas, " sahut Dinda.


"Yak maaf, gue kan udah terlanjur kesel sama lu, " sahut Putri.


"Lain kali put, lu ikut kita berdua saja jangan ikut orang yang mau berbuat maksiat kayak dia.. " sahut Rara.


Nanda dan Putri hanya tertawa.


"Dari pada elu titisan setan, " sahut Dinda.


"Anj*rr... manusia maksiat nantang gue ndak... " tunjuk Rara.


"Haha....hajar Ra... " sahut Nanda.


"Lu ngebela titisan setan dari pada gue? jahat banget lu, " sahut Dinda.


"Kan ada Putri... " sahut Nanda.


"Engga makasih, gue ngebela titisan setan aja dari pada orang maksiat, " sahut Putri.


Nanda dkk tertawa bersama. Menikmati masa tawa bersama teman sebelum mereka pergi meninggalkan mu, karena setelah mereka pergi kau tak kan bisa merasakan canda tawa bersama-sama lagi.


"Btw, nanti malem kalian ikut kan balap motor?" tanya Rara.


"Gue mah pasti ikut, tinggal ijin sama bunda, " sahut Nanda.


"Gue juga ikut, udah lama gak ketemu sama yang laen, " sahut Putri.


"Gue gak bisa, " sahut Dinda.


"Hah?!"


"Lah tumben lu gak bisa?" tanya Nanda kaget.


"Apa jangan-jangan ada yang ngancem lu? Ortu lu ngelarang lagi?" tanya Rara.


"Engga buka gitu, " sahut


"Terus apa?" tanya Nanda.


"Dia gak di bolehin sama Angga, " sahut Putri.


"Pantesan, " sahut Nanda tak aneh lagi.


"Ucapan Angga nurut, kalo ucapan ortu lu bantah aneh gue.. " sahut Rara.


"Bukan urusan lu titisan setan, " sahut Dinda.


"Kan gue cuma ngomong apa ada nya... " sahut Rara.


"Diem lu.. " sahut Putri membungkam mulut Rara.


"Mm!! Mmpamsimmm.... " Rara terus memberontak. Putri dengan kesal melepaskan mulut Rara.


"Lu sayang sama ortu atau sama Angga?" tanya Nanda.


"Yak gue sayang dua-duanya lah... " sahut Dinda.


"Gak, harus pilih satu, " sahut Putri.


"G-gue sayang sama... ortu, " sahut Dinda.


"Kok kayak bohong yah... " sahut Rara.


"Bener?" tanya Nanda.


"Iya bener, " sahut Dinda.


"Kalo gitu lu bantah omongan Angga, " sahut Nanda.


"Mana mungkin... " sahut Dinda tak setuju.


"Nah kan... berarti lu lebih sayang sama Angga di banding sama ortu, " sahut Nanda.


"Oke gue bakal tunjukin kalo gue sayang sama ortu gue, " sahut Dinda.


"Okeh, gue tunggu lu di beskem jam 8 malem, " sahut Nanda.


"Kayak nya bakal seru nih, " sahut Putri.


"Pastii... Nanda nantang Dinda... " sahut Rara.


"Kalo gue menang lu harus ikutin semua perkataan ortu lu terus lu gak boleh nurut satu pun sama perkataan Angga... kalo lu berani... " sahut Nanda.


"Oke, kalo gue menang lu harus cium pipi Marcell di hadapan kita semua secara langsung, " sahut Dinda.


"Naaahh... Dinda gue dukung lu... " teriak Putri.


"Gue dukung lu Din... gue setuju... " teriak Rara di sertai suara meja.


"Anj*rr kok dukung dia, berarti nanti gue kalah dong... " sahut Nanda.


"Bodoamat, " sahut Putri dan Rara barengan.


Nanda hanya berdecak melihat kelakuan ke 3 sahabat nya itu. Nanda melihat Agung yang sedari tadi mengintip kedalam kelas.


"Eh titisan setan tuh anak baby mu datang, " sahut Nanda.


Rara menengok ke arah pintu, ternyata ada Agung. Rara segara menghampiri Agung.


"Mau apa lu di kelas gue?" tanya Rara.


"Bukan apa-apa, kepo banget sih lu jadi orang, " sahut Agung.


"Gue bukannya kepo, tapi ini kan kelas gue, " sahut Rara.


Agung mengeluarkan sebuah kotak coklat yang dipakai kan pita.


"Tolong lu kasih ini ke Salsa temen lu, dari gue, " sahut Agung.


"Salsa gak masuk hari ini, " sahut Rara.


"Besok aja napa si, dibawa ribet mulu hidup lu anak monyet, " sahut Agung.


Melihat nya Rara sudah sakit saat menerima kotak tersebut dan harus memberikan ini kepada Salsa temannya besok.


"Oke, " sahut Rara berjalan masuk kelas.


Lu bakal terkejut pas liat isi kotak nya Ra, - batin Agung.


Agung pun berlalu dari kelas Rara dkk dan berjalan menuju kelasnya. Agung tak tahu kalau dia dibuntuti oleh Ihsan dan Lukman yang di berikan perintah langsung oleh Marcell.


"Wahh, ngasih apaan tuh ke Rara... xixixi... " ucap Ihsan berbisik.


"Jangan keras-keras, nanti kedengeran, " bisik Lukman.


"Gak akan kedengaran, lagian jaraknya 4 kelas dari tempat Agung berada, gimana sih lu, " sahut Ihsan.


"Oh iya, " sahut Lukman.


"Agung udah pergi tuh... mau ke kelasnya Rara kagak lu?" tanya Ihsan.


"Kalo lu mau, yak hayuu gas, " sahut Lukman.


Awalnya Ihsan kepo dan ingin pergi ke kelas Rara, tapi 4 detik kemudian, dia berbalik dan berjalan menuju kelas nya sendiri.


"Lah kok balik lagi?" tanya Lukman heran.


"Gak jadi jadi orang gak boleh suka kepo, " sahut Ihsan.


"Mm, pasti ini gegara Putri kan? Lu suka sama dia kan? Jawab yang jujur, jangan suka boong, " sahut Lukman memaksa.


"Iya... gue suka sama Putri, tapi awas lu kalo bocorin rahasia gue, " sahut Ihsan.


"Iya tenang aja, gue cuma bakal kasih tau Marcell, Agung, Angga, Dinda, Rara, Nanda... eee siapaa lagii yah... " sahut Lukman sambil menghitung jari.


"Anak dajjal emang, " gumam Ihsan pergi meninggal kan Lukman sendirian.


"Eh san, tungguin, " sahut Lukman pergi menyusul.


.


.


.


.


.


Sementara itu di kelas Nanda dkk.


"Waahh dapet hadiah apaan tuh Ra?" tanya Dinda.


"Gak usah kepo, " sahut Rara.


"Emangnya kenapa? Apa jangan -jangan Agung nembak lu yaahh... ciee... " sahut Dinda.


"Alah gak usah cie cie.. ini kotak buat di kasih ke Salsa, kayaknya Agung suka sama Salsa, " sahut Rara.


"Waahh, parah nih si Agung, " sahut Putri.


"Yang sabar Ra... lu harus kuat, " sahut Nanda sambil mengelus-elus pundak Rara.


"Apaan sih ini, lepasin, " sahut Rara kesal.


"Lah kok ngamok?" tanya Dinda.


"Gue gak ngamok, lu aja yang terlalu posesif, " sahut Rara.


"Lah, kok ke gue?" tunjuk Nanda pada dirinya sendiri.


"Udah biarin aja, dia lagi butuh waktu sendiri, " sahut Putri membiarkan Rara pergi sendiri.


"Gue kepo sama kotak ini, buka kuy, " ajak Nanda.


"Ehh... gak boleh gitu... dosa jangan di tanggung sendiri gue juga mau liat, " sahut Putri.


"Lah anj*rr kalian berdua emang gak ada akhlak, " sahut Dinda mulai kepo, dan ikut melihat isi kotak tersebut.


Nanda membuka pita kotak tersebut perlahan, dan Dinda membuka kotak yang di atas. Mereka terkejut saat melihat isi kotak tersebut. Dan si benak mereka ada banyak pertanyaan.