
"Kapan kalian balek?" tanya Dinda.
"Barusan, trus kita liat Lerry sama suami nya di sini, " sahut Rara.
"Ooh, "
"Gimana gimana, sampe mana kalian lari?" tanya Angga sambil tersenyum lebar.
"Sampe... Mau keluar lah pokoknya, " sahut Agung ikut tersenyum.
"Ahaha, aneh-aneh ae, " sahut Dinda.
.
.
.
.
.
Entah karana suara musik yang romantis atau yang lain, Marcell seperti sudah terbawa suasana.
Marcell melihat Nanda yang sedari tadi asik mengobrol dengan Caca dan Melodi sampai tertawa terbahak-bahak. Marcell yang kesal karena tak mendapatkan perhatian Nanda, dia memutuskan untuk Mengibaskan tangan nya kebelakang.
Nanda yang kesal karana perilaku Marcell, dia melihat Marcell dengan tatapan aneh, "Ck. Apa?" tanya Nanda kesal.
Marcell sedikit mendekat ke arah Nanda dan berbisik. "Siap-siap karena gue bakal minta jatah sekarang, "
Nanda yang mendengar kaget, seketika mata nya melotot. "Lu gila ya? ngebiarin itu di sini, gak ada akhlak emang, " sahut Nanda berbisik.
"Em, Nanda.. gue sama Caca mau ambil minum, kalian juga mau minum gak?" tanya Melodi.
"Enggak makasih, " sahut Marcell.
"Enggak usah, " sahut Nanda.
"Oh ya udah kalo gitu, gue sama Caca pergi dulu yah, lain kali kita ngobrol lagi, " sahut Melodi berjalan pergi bersama Caca.
Nanda hanya mengangguk, kemudian Marcell dengan tatapan membunuh karena mengganggu kesenangan nya.
"Ikut gue, " sahut Marcell memegang tangan Nanda dan membawa nya ke suatu tempat.
"Mau kemana sih?" tanya Nanda.
"Kamar, " jawab Marcell santai.
What!! yang bener aja, masa iya mau sekarang? tapi kan ini masih ada pesta pernikahan gue sama dia, - batin Nanda terkejut.
Marcell langsung saja pergi tanpa pamit kepada Bunda maupun Ayah, mereka pergi menggunakan mobil milik Marcell yang sudah di hias sedemikian rupa.
Marcell membukakan pintu mobil. "Masuk, " sahut Marcell.
Nanda tak tau harus berbuat apa lagi, dia hanya bisa menurut atas permintaan suami nya itu.
Masa iya harus teriak dan meminta tolong gak sopan banget gue sebagai istri, suami gue jadi penculik, - batin Nanda.
Marcell melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Di mobil itu tak ada yang berani bertanya maupun berbicara. Nanda yang semakin gugup hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan membuangnya.
"Huuhh, "
"Gak usah gugup, sakit nya cuma sebentar kok nanti juga ilang sendiri, " sahut Marcell dengan wajah memerah.
"Idih, siapa juga yang gugup, kagak ada, " sahut Nanda.
"Mm, "
"Eh bentar, tau dari mana lu, kalo nanti bakal sakit? terus sakit nya cuma sebentar?" tanya Nanda.
"I-Ituu.. mm.. ada lah, pokonya lu siap-siap aja, jangan suka membantah kalo sakit bilang gue bakal pelan-pelan, " sahut Marcell.
"Ini karena lu pengan punya anak atau.. ".
"Atau apa?"
"Mm.. enggak ah, nanti ngamok lagi, " sahut Nanda.
Marcell hanya bisa geleng-geleng kepala. "Nanti sampe di rumah, lu cepetan ganti baju pake baju tidur, temui gue di kamar, " sahut Marcell.
"Kenapa harus pake baju tidur segala sih, kan nanti juga di buka, " sahut Nanda.
Ckiitt..
Marcell kaget dan tiba-tiba dia mengerem mendadak membuat tubuh mereka maju ke depan untuknya mereka memakai sabuk pengaman kalau tidak mungkin sudah di larikan ke rumah sakit.
"Eehh, lu bisa nyetir gak sih?! hampir aja kecelakaan, untung nih jalan sepi, " sahut Nanda kesal dan membenarkan posisi duduk nya.
Tanpa berpikir panjang Marcell kembali menjalankan mobil nya sampai ke rumah kediaman Alfarizky.
Sesampainya nya di rumah. Terlihat keadaan rumah yang sepi hanya ada dua atau tiga orang tukang kebun yang sedang menyirami tanaman.
"Ayo masuk, " sahut Marcell.
"Okeh, " sahut Nanda menurut.
Mereka masuk ke dalam rumah tepat seperti yang Nanda pikirkan rumah sebesar itu tak ada siapa pun kecuali tukang kebun yang sedang menyirami tanaman di depan.
"Aduh bahaya ini, " gumam Nanda.
"Apa yang bahaya?" tanya Marcell mendengar gumaman Nanda.
"Enggak.. " sahut Nanda.
"Sana lu naik ke atas, gue mau mandi di kamar mandi dapur, " sahut Marcell.
"Iya, " sahut Nanda.
Marcell sudah berjalan masuk ke dalam dapur dan mulai membersihkan diri dan menyirami mental. Sedangkan Nanda naik ke atas dengan pelan-pelan dengan perasaan gugup, jantung nya terus berdegup kencang.
Sampai di kamar Nanda segera melepaskan pakaian yang risih itu dan segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Aneh nya tubuh Nanda seperti sudah tau apa yang harus di lakukan.
Setelah selesai, aneh nya tangan Nanda memilih baju tidur yang agak seksi di tambah baju tidur itu sedikit transparan jadi kelihatan Nanda menggunakan tengtop berwana hitam.
Cklekk..
Marcell kembali dan melihat tubuh istri nya yang sedang bercermin di sana sambil menyisir rambut. Marcell tak peduli dengan rambut nya tapi yang dia lihat adalah tubuh Nanda yang seksi, kecil, dan mungil bahkan pakaian dalam yang Nanda pakai terlihat jelas oleh mata Marcell saat ini.
Tanpa berpikir panjang, Marcell menutup pintu dan mengunci nya. Mendengar ada yang mengunci pintu Nanda bangun dari duduknya dan berjalan ke arah Marcell.
Mereka saling menatap, kali ini Nanda hanya bisa pasrah untuk menjadi mama muda seperti yang ada di tiktok.
Mulai dari mana ya? peluk dulu kali yah? - batin Marcell bertanya.
Marcell memeluk Nanda yang kikuk itu dengan tangan besar nya. Nanda yang sedikit kaget hanya mendorong tubuh Marcell sedikit menjauh dengan tangan nya.
Karena gairah yang sudah tak bisa di tahan. Marcell akhirnya memberanikan diri untuk mencium Nanda terlebih dahulu.
"Mm!"
Baru kali ini Nanda merasakan rasa panas di mulut Marcell yang mulai menyusuri ke seluruh wajah nya dengan meninggal kan gairah panas di setiap bibir itu menyentuh nya.
Marcell kembali ke bibir Nanda dan mulai mel*mat nya dengan pelan-pelan. Nanda hanya bisa diam dan merasakan lidah Marcell yang bergerak bebas di dalam nya.
Tanpa Nanda sadari dia mulai mengeluarkan desahan demi desahan. Marcell yang senang mendengar nya kembali mel*mat bibir Nanda dengan tekanan yang lebih mendesak. Tangan Marcell memegang pinggang Nanda dan membawanya semakin mendekat dengan dirinya.
Nanda yang sudah saling bersentuhan dengan Marcell merasakan ada sesuatu yang mengganjal di pahanya, dan itu semakin mengeras. Nanda yang sudah mulai terbawa oleh permainan Marcell mencoba menerima dan membalas ciuman Marcell itu.
Tangan Nanda menyentuh dada Marcell yang sangat lebar itu dan membuka kancing baju Marcell dengan tak sabar, ingin sekali rasanya merasakan otot perut Marcell yang sudah terbentuk.
Melihat Nanda sudah menikmati ciuman mereka Marcell membopong tubuh kecil Nanda ke atas kasur dan merebahkan nya di sana tanpa ciuman yang teralihkan.
.
.
Eeett... hayoo😂 udah dulu yah sampai sini, dosa lho dosaa😂😂
.
.
Sementara itu di GOR tempat pernikahan Nanda Marcell yang masih berlangsung sangat lama. Bunda yang mencari-cari Nanda ke sana kemari tak menemukannya sama sekali.
Bunda Shera terus berkeliling ke sana kemari. Ayah Budi yang melihat, menghampiri istri nya itu.
"Ada apa sayang?" tanya Ayah Budi.
"Aku dari tadi nyari Nanda, tapi kok gak ada yah? kemana tuh anak?" tanya Bunda.
"Udah tanya ke temen-temen nya?"
"Oh iya, sebentar, " sahut Bunda berlari mencari teman-teman Nanda.
Akhirnya Bunda menemukan teman-teman Nanda Marcell yang sedang mengobrol dan makan di sana.
"Rara, Dinda, " panggil Bunda.
"Eh iya Tante?" tanya Rara berbalik.
"Ada apa Tante?" tanya Dinda.
"Kalian liat Nanda gak?" tanya Bunda.
"Enggak Tante, kita udah gak sama mereka lagi pas DJ tadi beres, " jawab Rara.
"Aduh kemana yah, "
"Emang kenapa Tante?" tanya Dinda.
"Ini.. ada yang mau Bunda kasih tau ke Nanda, sahut Bunda.
"Oh, "
"Kalo gak salah, Marcell juga gak ada Tante, " sahut Angga.
"Lah iya, mereka gak ada, "
"Oh iya, "
"Iya juga yah, tuh dua mahluk ilang, kayak makhluk astral aje, " sahut Lukman.
"Syuutt, " sahut Agung menendang kaki Lukman.
"Apaan?" tanya Lukman.
"Ituu.. " bisik Agung menunjuk ke arah bunda.
"Eh, Tante.. eheheh.. maksud aku tuh buka makhluk astral tapi.. itu.. anuu... " sahut Lukman sadar kalo masih ada bunda Marcell di sini.
"Iya gak papa, udah yah Bunda harus nyari lagi, " sahut Bunda memaklumkan Lukman.
"Iya Tante, " sahut Lukman.
"Eh, Tante udah di coba di telpon?" tanya Putri.
"Udah tadi berkali-kali malahan, tapi hape nya gak aktif, " sahut Bunda.
"Paling di kamar... ye kan man?" tanya Ihsan.
"Mm.. bendull.. " sahut Lukman tersenyum.
"Di kamar?" tanya Bunda belum ngeh.
Rara, Dinda, Putri sudah mulai paham. Tiba-tiba Bunda melihat ke arah mereka semua dengan senyuman yang lebar.
"Oh iya.. di kamar.. heheh.. aduh lupa.. ahaha, " sahut Bunda tertawa lebar.
"Ahaha.. iya Tante di kamar, " sahut Putri.
"Gak nyangka yah Tante, mereka udah gede, " sahut Dinda.
"Ahaha, iya iya.. makasih yah Lukman, Ihsan sama yang lain juga, kalo gitu Bunda permisi dulu, " sahut Bunda pamit.
"Iya Tante, "
"Iya sama-sama, "
"Iya, Tante, "
Bunda Shera pun berlalu. "Wah gila si Marcell langsung nyosor ke kamar ae, " sahut Angga.
"Tanpa bilang pula ke Tante Shera, " sahut Ihsan.
"Ahaha, " mereka semua tertawa.
"Asyiiikk debay, " sahut Dinda.
"Moga debay nya cowok aminn, " sahut Rara berdoa.
"Cewek lah, cantik, " sahut Putri.
"Cowok lucuu.. " sahut Dinda.
"Oy, belum juga bikin, udah minta yang aneh-anah aje, sana bikin sama pasangan masing-masing, " sahut Angga.
"Ya udah sana lu dulu sama Dinda, " sahut Putri.
"Nanti.. sabar, sebulan lagi, " sahut Dinda.
"Iya.. sabarr.. " sahut Angga.
"Susah cuy, di suruh sabar nahan gairah, " sahut Lukman.
".... "
"..... "
".... "
"Anak kadal titisan buaya darat mah beda, " sahut Rara.
"Bener, tau semua nya.. " sahut Putri.
"Hehehe, " sahut Lukman cengengesan gak jelas.