
"Hah?! Kamu punya pacar de?!!" tanya bang toriq.
Rara hanya mengangguk dan mengalihkan pandangan nya ke luar jendela.
"Siapa nama pacarnya?" tanya bang toriq.
"Agung... " jawab Nanda dan Dinda barengan.
"Oh, " sahut bang toriq kembali melajukan mobilnya.
Hah? Masa cuma oh doang? Aneh dah gue sama kakaknya Rara... - batin Nanda.
Masa iya seorang kakak cuma bilang oh? Bang toriq niat gak sih punya adik? - batin Dinda.
"Bang kok cuma oh doang?" tanya Nanda.
"Terus abang harus bilang apa wow gitu?" tanya balik bang toriq.
"Nggak juga, " sahut Nanda diam.
Sampai di rumah Rara.
Nanda dkk dan juga bang toriq membantu Rara berjalan masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah hanya ada bang toriq karena Tante ikne sedang berkerja di butik sampai sore.
"Silahkan duduk, abang mau ambil dulu minum buat kalian bertiga, " sahut bang toriq.
"Aku mau jus stoberi, " sahut Nanda.
"Kalo aku mau lemon tea, " sahut Dinda.
"Kalian pikir ini restoran? Kalo mau ambil sendiri, lagian gue mau ambil kalian air putih, " sahut bang toriq.
"Huuu, " sahut Nanda.
"Gak seru banget dah... Kan abang toriq kaya, " sahut Dinda.
"Kaya apa?" tanya bang toriq.
"Kaya monyet, " sahut Nanda tertawa, Dinda juga ikut tertawa karena tawa Nanda nular.
Rara ikut tersenyum, "Kalian ini gue lagi berduka, malah bercanda, " sahut Rara.
"Akhirnya.... Bidadari jatuh dari kali ikut bicara juga, " sahut Nanda.
"Dasar lu... Gak ada akhlak bener, masa cewek secantik ini jatuh dari kali, " sahut Rara.
"Terus lu mau jatuh dari mana, dari solokan?" tanya Nanda tertawa.
"Lu aja itu... Gue mah bidadari jatuh dari surga, " sahut Rara.
"Amiinn.. " sahut Nanda, Dinda barengan.
Tak lama bang toriq datang membawa air putih. Rara hanya tersenyum.
"Lah ini mah beneran di kasih air putih doang, " sahut Nanda saat bang toriq meletakkan gelas di meja.
"Masih untung gue kasih air buat kalian kalo engga udah gue kasih racun, " sahut bang toriq.
"Makasih bang, udah mau jemput adek, " sahut Rara.
"Iya sama-sama... Lain kali kali mau pacaran bilang, " sahut bang toriq.
"Emang mau langsung di nikahin?" tanya Dinda sambil minum.
"Engga, mau abang hajar, " sahut bang toriq.
"Siapa bilang boleh pacaran sama adik abang.... Gak boleh, apalagi dia sampe nembak pake kalung segala, " lanjut bang toriq.
Rara teringat kalo dia masih memakai kaling pemberian Agung. Rara segara melepaskan kalung dari lehernya dan menaruhnya di atas meja.
"Ini kalung pemberian dia?" tanya bang toriq. Dan di jawab dengan anggukan Rara.
"Boleh abang yang simpen?" tanya bang toriq.
"Simpen aja... Gue juga gak butuh, " sahut Rara.
"Cepet amat lu move on, " sahut Nanda menggedor tangan Rara.
"Capek gue... Mending move on aja... " sahut Rara.
"Nah ini baru Rara yang gue kenal, iya gak ndak, " sahut Dinda. Nanda hanya menaikan kedua alisnya ke atas menyahut perkataan Dinda.
"Emang lu mau diapain sama tuh kalung?" tanya Rara.
"Mau gue kasih mantra, biar Agung kena santet, " sahut Bang toriq melihat kalung pemberian Agung.
"Wah... Pake dukun apa bang?" tanya Nanda.
"Dukun hot, " sahut bang toriq.
Nanda, Dinda, Rara tertawa bersamaan.
"Dukun hot emang ada?" tanya Dinda yang masih tertawa.
"Ada banyak, " sahut Bang toriq.
"Nanti kalo udah di santet jangan lupa bilang, gue mau ngehajar dia.. " sahut Rara.
"Tenang ra... Agung udah gue hajar habis-habisan sama Nanda, " sahut Dinda.
"Lu tendang intinya gak?" tanya Rara.
"Yak iyalah, " jawab Dinda.
"Kalo engga di tendang berasa kurang mantap, " sahut Nanda.
"Woy udah udah yang dengernya aja ngilu, " sahut bang toriq.
"Abang mau di tendang gak intinya?" tanya Nanda.
"Wah gak bener nih anak... Nggak makasih... Saya mau punya anak banyak, jangan di tendang, " sahut bang toriq melipat kakinya.
"Pasti sakit yah bang, kalo di tendang intinya?" tanya Rara.
"Menurut lu? Lu gak akan bisa ngerti gak punya burung, " sahut bang toriq.
"Yee.. Kan gue nanya, " sahut Rara.
"Udah, kalian kalo gak ada kerjaan mending ke kamar Rara sana, gue mau masukin mobil, " sahut bang toriq berdiri.
"Lu gak kuliah?" tanya Rara.
"Libur, " sahut bang toriq berjalan keluar.
"Kampusnya yang libur atau bang toriq yang meliburkan diri?" tanya Nanda.
"Gue yang meliburkan diri, " sahut bang toriq dari luar.
"Gue kasih tau bunda lho yak... " sahut Rara.
"Yah kagak lah, kampusnya yang libur, lagian masa anak rajin kayak gue bisa-bisa nya bolos, " sahut bang toriq.
Rara mengajak Nanda, Dinda menuju kamarnya. Sampai di kamar Rara, Nanda melihat banyak foto-foto Agung yang terpajang di dinding.
"Ra... Ini semua foto Agung?" tanya Dinda menyentuh salah satu foto itu.
"Iya, kalian liat kan, kalo gue sayang banget sama Agung, tapi apa dia mutusin gue.. " sahut Rara.
"Sekarang kalian berdua bantuin gue lepasin semua foto-foto Agung, gue mau pajang poto gue, " sahut Rara.
Nanda, Dinda pun membantu Rara melepaskan poto Agung dari dinding nya, dan juga semua kenangan yang di lewati bersama, Rara sudah tidak ingin mengingat nya lagi.
Nanda membuka sebuah laci di bawah TV dan melihat ada tidak boneka beruang.
"Iiihh... Lucu... " teriak pelan Nanda.
Rara menengok ke arah Nanda, dan menghampiri nya.
"Ini boneka pemberian siapa ra? Lucu banget, " sahut Dinda mengelus boneka itu.
"Itu juga pemberian dari Agung, kalian masukin boneka itu ke dalam kardus, gue mau bakar, " sahut Rara.
Nanda dan Dinda hanya memandang satu sama lain.
"Boleh gak, dua boneka ini buat kita?" tanya Nanda.
"Kalo kalian mau, yak silahkan aja, " sahut Rara keluar kamar.
"Gue merasa kasian sama Rara... " sahut Dinda.
"Dia kalo udah sayang banget sama seseorang pasti ada aja yang di tempel di dinding, " sahut Nanda melihat ke sekeliling tembok yang sudah bersih tanpa bingkai foto sama sekali.
"Nah ini, poto Agung tolong masukin ke sini.., " sahut Rara.
"Lu mau apain semua poto Agung?" tanya Nanda membantu.
"Bakar lah, gak guna banget gue simpen poto mantan, " jawab Rara.
"Dan juga gue bakal ganti hpe, kalian jangan lupa sve, " lanjut Rara.
"Emang hpe lu yang itu kenapa?" tanya Dinda.
Rara mengeluarkan sebuah kantung plastik dadi tasnya dan mengeluarkan isinya, ternyata ponsel Rara yang sudah hancur.
"Lu mau ganti hpe pake hpe apa?" tanya Nanda.
Rara membuka laci di dekat kasur dan menunjukkan ponsel barunya.
"Lu bakal pake Redmi not 8A?" tanya Nanda.
"Iyalah, lagian gue gak ada hpe sekalian ini sama itu yang udah hancur, " sahut Rara.
"Gue mah sih yak terserah lu aja, yang penting lu harus move on dari Agung, " sahut Dinda.
"Iya iya.. Tenang aja, " sahut Rara.
"Awas lu yak, kalo kita berdua pulang, lu nangis, " sahut Nanda.
"Gak akan, buat apa juga gue nangisin mantan, gan guna banget sayang... " sahut Rara.
Nanda dan Dinda hanya mengangguk dah tersenyum.
"Kan gue cuma ngingetin lu doang, " sahut Dinda.
"Iya iya... Thanks buat kalian berdua yang selalu ada buat gue, " sahut Rara.
"Iya, kan kita ini bestfriend forever, " sahut Dinda.
Nanda dan Dinda ada di rumah Rara sampai jam sembilan malam. Rara bahagia karena sekarang dia ditemani oleh sahabat-sahabatnya.
Malam ini mereka mengadakan pesta di rumah Rara, bukannya hanya mereka bertiga, tapi bang toriq pun ikut.
"Maskeran kuy, " ajak Rara.
"Hayuu... Udah lama gue gak maskeran, " sahut Nanda.
"Lu punya suami kaya raya tapi gak pernah maskeran? Marcell yang gak mau beliin apa elu yang gak mau minta?" tanya Rara.
"Gue yang gak mau minta, " jawab Nanda.
"Lah ngapa? Kan harta suami itu termasuk harta istri juga dong, " sahut Dinda.
"Iya bener... Lu mah aneh, gue kalo dapet suami kayak Marcell auto abisin uangnya, " sahut Rara.
"Udah udah mana maskernya?" tanya Nanda.
"Tuh di dalem laci deket kasur, terserah mau yang mana aja, " sahut Rara mengambil peralatan kecantikan nya.
Mereka bertiga terus bercanda sambil menahan masker yang terus mengeras di wajah mereka. Rara yang terus bercanda sampai Nanda dan Dinda harus menahan tawa mereka agar masker yang mereka pakai tak rusak.
Drrtt.. Drrtt..
"Ndak ponsel lu tuh bunyi, " sahut Rara.
"Siapa?" tanya Nanda.
Rara melihat ponsel Nanda, "Ayank bebeb lu nelpon nih, " sahut Rara.
Nanda mengambil ponselnya dan menjawab telpon dari Marcell.
: Hallo apa? Lu ganggu aja orang lagi seneng
🗣️ : Astagfirullah... Inget pulang, sekarang udah jam sembilan lu belum pulang juga.
: Terus apa masalah lu kalo gue belum pulang?
🗣️ : Gue sih gak khawatir, cuma ini Bunda sana Ayah khawatir.
: Oh yak udah lu jemput gue di rumah Rara.
🗣️ : Ogah banget udah malem, naik taksi aja lah.
: Yak udah kalo lu gak mau jemput, gue nginep aja di rumah Rara.
🗣️ : .......
: Hallo, lu mau jemput gue apa engga?
🗣️ : Iya gue jemput lu sekarang, tungguin jangan ngacir kemana-mana lu... Awas..
: Iya iya bye..
Tuutt... Tuutt.. Tuutt..
"Di cari sama Marcell?" tanya Dinda.
"Engga, bunda sama Ayah yang nyari, kalo Marcell enggak nyari gue, " jawab Nanda.
"Kasian amat lu.. Gak di cariin sama suami, " sahut Rara.
"Bodoamat, ehh, gue duluan yak cuci muka... " sahut Nanda berjalan keluar kamar.
"Iya.. " sahut Rara, Dinda barengan.