My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Rengek



"Terus gue di curhatin tuh sama Bunda... gak boleh marah-marah sama suami sendiri, kalo kamu ada salah minta maaf baik-baik... jadi yak udah gue tadi ke kelasnya minta maaf... " jelas Nanda selesai cerita.


"Yak tapi cara lu minta maaf itu salah bambang... " sahut Rara.


"Salah gimana maksud lu?" tanya Nanda tak mengerti.


"Aduuh anak ini... gue harus diapain dulu baru bisa ngerti, " sahut Rara capek.


"Gue sama sekali gak ngerti, apa maksud lu, " sahut Nanda.


"Lu harus minta maaf yang bener, bukan kayak tadi, ancur semua barang-barang milik IPA 2, " sahut Dinda.


"Iya, untung Km nya Marcell... " sahut Rara lega.


"Yak kalo ancur, gantiin lah sama IPS 3 , apa susahnya... " sahut Nanda.


"Iiihh tuh mulut, ngejawab mulu, " sahut Rara.


"Hello gays!!!" teriak Putri. Berhasil membuat semua orang yang ada di kelas tersentak kaget oleh suaranya yang cempreng.


"Satu lagi suaranya cempreng, " gumam Nanda.


"Emang siapa yang ke 1 ?" tanya Rara.


"Yak gue lah, pake nanya... " sahut Nanda bangga.


Rara dan Dinda saling memandang satu sama lain. Dinda hanya menggeleng pelan, Rara hanya berdecak.


"Apa oy, gak usah ngegas gitu kalo mau masuk , beri salam kek apa gimana... " sahut Rara.


"Yak maaf... btw minta dong pje nya... " sahut Putri.


"Kalian semua udah tau?" tanya Rara.


"Udah dong... " sahut Nanda dan yang lain.


"Yaahh gak jadi deh... ngasih pjenya kalo kalian semua udah tau... " sahut Rara yang sudah mengeluarkan uang dari sakunya


"Eeettt... no no no... jangan di di simpen balik nanti lu kena karma, harus di kasih dulu sama kita bertiga... " sahut Nanda mencegah tangan Rara.


"Hehe... gue bercanda... nih buat kalian, masing-masing 5k ... " sahut Rara ngasih uang.


"Lu bekel betapa Ra... tumben lu kayak... " sahut Dinda.


"Kayak apa?" tanya Rara.


"Kayak simpanse...." sahut Putri tertawa. Dinda dan Nanda ikut tertawa juga karna ketawa Putri nular.


"Kok kalian malah ikut ketawa?" tanya Rara.


"Tawa nya nular... " sahut Nanda berhenti.


"Oke, pje Rara udah, tinggal satu lagi... " sahut Dinda.


"Iya elu, belum pje mingguan lu sama kita, " sahut Nanda.


"Waahh pje mingguan yang ada perusahaan bokap gue ancur kalo gue terus ngasih kalian pje setiap minggunya... " sahut Dinda.


"Nggak kok becanda... jadi yak malem sekarang... " sahut Putri.


"Jadii... " sahut Nanda bersemangat.


"Semangat banget lu hari ini, ada apa?" tanya Rara penasaran.


"Kenapa gak bahagia... gue kan pulang sekolah bakal langsung beli batagor... " sahut Nanda.


"Gue pikir ada apa... " sahut Rara melihat Dinda.


"Gue kira lu bahagia karna udah baikan sama Marcell, taunya lu seneng bakal di beliin batagor... ckck... " sahut Putri.


"Iya dong... harus.. " sahut Nanda.


"Iyain.. " sahut Dinda.


.


.


.


.


.


Pulang sekolah kali ini Nanda dkk yang sudah menunggu lebih dulu di parkiran. Dinda yang melihat Marcell dkk sedang berjalan ke arahnya.


"Eh itu Marcell sama yang lain, " tunjuk Dinda.


Nanda dkk menengok ke arah Marcell dkk.


"Tumben kalian udah ada di sini... " ucap Agung mengambil motornya.


"Iyalah.. Cell beliin batagor... " rengek Nanda menggoyang-goyangkan tangan Marcell.


"Iya iya.. " sahut Marcell pasrah.


"Mau beli sama tukang dagang nya gak?" tangan Marcell.


"Kalo lu mau yak silahkan aja.. " sahut Nanda membuka pintu mobil.


"Boleh boleh, boleh banget malah, demi kebahagiaan lu apa pun gue bakal berbuat apa aja, "sahut Marcell.


"Uuuu... sok romantis lu... " sahut Nanda.


"Gak romantis salah romantis juga salah, lu mau gue kayak gimana sih?" tanya Marcell masuk ke dalam mobil.


"Udah kalian berantem aja di dalem, gue mau pulang, " sahut Rara.


"Putri, lu sama siapa pulang?" tanya Lukman.


"Sama--"


"Sama gue... " potong Ihsan.


"Lah, gue sama siapa? Gue gak bawa motor lagi... " sahut Lukman.


"Naik angkot atau naik ojek kan bisa, " sahut Angga.


"Kalian bener-bener jahad sama gue... " sahut Lukman manyun bebek.


"Bodoamat... " sahut Agung mulai berjalan.


"Gue sama sekali gak peduli... bye bye... " sahut Nanda melambaikan tangannya.


"Gue duluan yak sama yayank gue... " sahut Angga melaju.


Akhirnya Lukman pulang naik ojek sampai rumahnya.


Di mobil Marcell.


Kedua pasangan pasutri itu masih saling diam membuat dunia mereka sendiri.


"Lu masih marah sama gue?" tanya Marcell tanpa melirik Nanda.


"Kapan gue marah sama lu?" tanya balik Nanda.


"Kemarin, " jawab Marcell.


"Hehe... iya iya, gue salah maafin yak... " sahut Nanda meminta maaf.


"Hah... Apa? Bisa di ulangi lagi gak... gue gak denger, " sahut Marcell.


"Gue minta maaf yak... kemarin gue yang salah... " sahut Nanda.


"Sekali lagi, gue mau rekam, " sahut Marcell.


"Alaayy,, " sahut Nanda manyun bebek.


"Btw, jadi gak beli batagor nya?" tanya Marcell.


"Jadi, masa gak jadi, " sahut Nanda.


"Mau beli berapa?" tanya Marcell.


"Beli berapa aja terserah sih, mau beli 5k atau 10k juga gak masalah, " sahut Nanda.


"20k aja gimana?" tanya Marcell.


"Lu pikir perut gue ini perut karet... " sahut Nanda


"Haha... iya... " sahut Marcell.


Marcell melihat ada yang menjual batagor di pinggir jalan, dan Marcell berhenti.


"Mau sama gue atau sama elu yang belinya?" tanya Marcell.


"Sama lu aja, gue pewe, " sahut Nanda memainkan ponsel.


"Dasar... " sahut Marcell keluar mobil.


"Pak beli batagor nya campur sepuluh ribu, " ucap Marcell.


"Iya siap mas, silahkan di tunggu, "


Marcell duduk di kursi yang sudah di siapkan. Nanda hanya melihat Marcell dari balik kaca mobil.


"Marcell?"


Marcell menengok ke belakang dan segera berdiri, ternyata itu adalah Mila.


"Mila?!"


"Hay cell apa kabar?" tanya Mila duduk di samping Marcell.


"Gue baik, lu jangan deket-deket sama gue... " sahut Marcell berusaha menjaga jarak.


"Iya gue tau, nanti Nanda marah kan... Mana Nanda sekarang?" tanya Mila.


Lah bukannya dia benci sama Nanda, kenapa malah di cari? - tanya batin Marcell.


"Tuh di mobil, jangan macem-macem lu sama dia.. " sahut Marcell.


Mila hanya tersenyum, dan segera menghampiri Nanda di dalam mobil.


Ya Tuhan kenapa malah di samperin sih, malu tau kalo ada keributan di tengah jalan kayak gini... apalagi banyak orang... - batin Marcell segera berjalan menyusul Mila.


Tok... tok... tok...


Nanda menengok ke arah kaca, dan ternyata itu Mila. Nanda dengan segera keluar dari mobil dan menghampiri Mila.


"Apa?" tanya Nanda waspada.


"Gue cuma mau minta maaf sama lu, gue salah... " sahut Mila.


"Lu yakin minta maaf sama gue? Gue paling gak suka sama orang yang cuma pura-pura baik di depan tapi di belakang busuk, " sahut Nanda.


"Gue beneran minta maaf... " sahut Mila.


"Gue sama sekali gak dendam sama lu, tapi gue cuma minta satu hal sama lu... " sahut Nanda mendekatkan wajahnya ke telinga Mila.


"Gue minta lu jangan ambil perhatian Marcell, gue tau lu cuma pura-pura... " bisik Nanda.


Mila tersenyum, "Ternyata lu udah tau yak... " bisik Mila.


"Mau lu apa, biar gue bantu... " sahut Nanda menepuk pundak Mila.


"Gue minta, lu..... Lu ngerti kan sama perkataan gue barusan?" tanya Mila.


Nanda hanya tersenyum, "Gampang... lu tenang aja, biar gue urus, " sahut Nanda.


"Thanks, karna bapak lu seorang jaksa jadi lebih gampang... " sahut Mila berjalan pergi.


Marcell menghampiri Nanda setelah Mila pergi.


"Barusan kalian berbisik apa?" tanya Marcell.


"Gak usah kepo, ini urusan antara perempuan, " sahut Nanda kembali masuk ke mobil.


"Urusan perempuan... apa jangan-jangan..." Pikiran Marcell saat ini tentang siklus menstruasi.


"Nih batagor lu... " sahut Marcell memberikan batagor itu ke Nanda.


"Oke Thank's, sama cell sekarang kan ada balapan, gue ikut dong.... " sahut Nanda.


"Gak boleh, cewek harus diem di rumah, gak boleh keluar malam, " sahut Marcell.


"Marcell... " rengek Nanda dengan wajah imut nya.


Marcell hanya mengambil napas panjang, "Haaaaahhh... okee... tapi cuma sampe jam 2 malem aja ya... " sahut Marcell.


"Oke thank, " sahut Nanda senang.


"Mau jam berapa ke sana nya?" tanya Marcell.


"Jam delapan, " jawab Nanda.


"Okey lah... " sahut Marcell setuju.