My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Ketemu Betly n Firza



"Udah lah, nanti lagi debat nya.. gue mau pulang, yuk cell.. " ajak Nanda naik ke motor.


"Lu kuat gak kalo naik motor?" tanya Marcell.


"Kuat kok beb, " sahut Nanda memeluk pinggang Marcell.


Seketika tubuh Marcell bergidik geli mendengar kata 'beb' yang terucap dari mulut Nanda.


"Kenapa sih beb, kok kamu bergidik ngeri gitu kayak yang gak suka, " sahut Nanda.


"B-bukan gitu, gue cuma gak terbiasa dibilang beb sama orang lain, " sahut Marcell.


"Kan gue ini bakal jadi istri lu, masa gue gak boleh bilang beb sih ke suami sendiri?" sahut Nanda dengan manyun bebeknya.


"Udah kalian juga sama dong jangan ngebacot mulu, ayok jalan, " sahut Dinda.


Motor mereka melaju dengan kecepatan sedang agar tak terjadi kecelakaan. Angga mengantar Dinda pulang ke rumah nya sedang kan Agung dan Rara pergi ke sebuah Cafe di jalan Pondok 06 .


Nanda hanya terdiam di jok belakang motor Marcell masih dengan memeluk pinggangnya karena takut jatuh dari motor dan bibir indahnya takut mencium jalan.


"Betly sama Firza ada di rumah?" tanya Marcell.


"Masih... " jawab Nanda.


"Hooh, Kira-kira gue harus bawa apa yah, buat mereka?" tanya Marcell.


"Lu bawa nyawa aja yang banyak, " sahut Nanda.


"Napa gitu?"


"Mereka kali ketemu sama yang ganteng/cantik gak sensitif orang nya apa lagi Betly, " sahut Nanda.


Marcell hanya terkekeh kecil mendengar nya. Sesampainya mereka di perumahan Sukamulya kini Marcell menuju blok rumah Nanda Blok-F08.


Marcell memakirkan motornya di depan gerbang, Nanda langsung saja turun dan masuk bersama-sama menyiapkan telinga dan juga mentalnya.


"Assalamu'alaikum, "


"Waalaikumsalam, " jawab semua orang yang ada di rumah.


"Nah, pulang juga nih anak dua, " sahut Bunda menghampiri Nanda Marcell.


"Kakak kok gak bilang kalo mau pergi sama Marcell?" tanya Mamah.


"Iya mah soalnya Marcell ngajak nya pas malem, " jawab Nanda.


"Yaudah, sana ajak Marcell ke kamar, " sahut mamah.


"I-iya mah... " sahut Nanda berjalan menuju tangga bersama Marcell.


Sampai di rumah masih belum terlihat dua makhluk astral yang muncul tiba-tiba di hadapan mereka berdua masih aman. Tetapi setibanya mereka di kamar Nanda.


"DAAAARRR!!" Teriak Betly berhasil membuat Nanda jantungan.


"Ya ampun baru juga gue senang gak ada makhluk astral di bawah, tiba-tiba muncul di kamar gue... " gumam Nanda.


"Apaa?!" tanya Betly.


"Bukan apa-apa... anak kecil jangan suka kepo, " sahut Nanda berjalan masuk.


"Gimana kabar lu?" tanya Nanda.


"Alhamdulillah baik, kakak gimana baik apa engga?" tanya Betly dengan senyum nakal.


"Maksut lu apa?" tanya Nanda memandang Betly singkat.


"Engga kok, " sahut Betly.


Betly melirik seorang pria yang sedang duduk di kursi dekat jendela, dia langsung terpesona oleh ketampanan pria itu. Tanpa berpikir panjang Betly langsung saja menghampiri pria itu.


"Hay, " sapa Betly basa basi.


"Oh iya hay, kamu Betly kan?" tanya Marcell.


"I-iya, kakak ganteng kok bisa tau sih nama aku?" tanya balik Betly.


"Ahh, aku tau dari Nanda kakak kamu, " jawab Marcell sopan.


Marcell belum terlalu mengenal Betly dengan baik kalo sudah mengenal nya pasti ingin cepat-cepat pergi dari sini.


"Kakak jangan malu-malu, "


"Saya gak malu-malu kok, cuma kamu jangan bicara kayak yang mau ngegoda gitu, " sahut Marcell.


"Ahh masa siih... " sahut Betly mendekat kan wajahnya ke Marcell.


Untung Marcell tinggi jadi Betly hanya setinggi dagunya saja, kalo Nanda setinggi matanya.


Nanda berbalik melihat ekpresi Marcell ingin melarikan diri dari hadapan Betly sekarang. Nanda hanya tertawa melihat tingkah Marcell yang terus saja Betly goda.


"Udah cukup, jangan ganggu calon suami orang, " ucap Nanda menarik tangan Betly menjauh dari Marcell.


"Ish kakak ganggu aja, " sahut Betly kesal.


"Lu sendiri yang salah, ini namanya Marcell, dia kakak ipar elu, " sahut Nanda.


"Iya kok aku tau, aku suka sama Marcell, kakak batal aja nikah biar aku aja yang nikah sama Marcell ganteng, " sahut Betly berjalan pergi sambil memanyunkan bibir nya.


"Dasar makhluk astral, " gumam Nanda.


"Adik lu kenapa?" tanya Marcell mengambil napas.


"Kenapa lu? sakit jantung liat kelakuan adik gue?" tanya Nanda tersenyum.


"Lu baru ketemu satu, satu lagi gak tau kemana, mungkin udah mati, " sahut Nanda.


"Kakak gak ada adab di bilang adik yang satu udah mati, " sahut Marcell.


Baru saja Nanda n Marcell membicarakan Firza, dia berlari menuju kamar kakaknya dengan semangat membara.


"KAKAK!!" Teriak Firza meloncat ke tubuh Nanda.


"Aaaaa.... "


Untungnya Nanda duduk di kasur yang empuk dan lembut jadi gak terlalu tersiksa. Marcell hanya melihat adik kakak itu saling berpelukan di kasur.


"Posisinya meresahkan, " ucap Marcell.


"Tau nih, minggir lu... " sahut Nanda mendorong tubuh Firza menjauh.


"Gak mau.... " sahut Firza mempererat pelukan nya pada perut Nanda yang kecil.


"MAMAAHH!!" teriak Nanda.


"FIRZA JANGAN GANGGU KAKAK!!" Teriak mamah dari bawah.


"Yah gegara kakak mau punya suami aku jadi gak bisa meluk, " sahut Firza melepaskan pelukan nya dari perut Nanda.


Nanda kembali duduk di pinggir kasur, menjauh dari Firza. Marcell terus melihat Firza yang terus saja mengoceh.


"Ini semua salah calon suami kakak, "


"Dia salah, "


"Gak mau tak dia salah pokonya, kenapa malah milih kakak aku yang paling cantik, imut, langsing, kurus, gak pernah gendut-gendut... " Oceh Firza semakin menjadi.


"Lu ngebela gue apa ngatain?" tanya Nanda dengan tatapan sinis.


"Ehh... heheh... dua-duanya... " jawab Firza cengengesan.


"Idiee... " sahut Nanda memutar bola mata malas.


"Mana kak, calon kakak ipar aku? dia ganteng apa engga?" tanya Firza celingak-celinguk.


Nanda memegang kepala Firza dan mengarahkan nya ke arah Marcell yang masih duduk di kursi.


Omg, ganteng bet... gue kalah... - batin Firza.


"Kenapa lu?" tanya Nanda.


"Gak papa kok, cuma terpesona melihat kegantengan, " sahut Firza.


"Ke.gantengan siapa?" tanya Nanda.


"Siapa lagi kalo bukan kegantengan diriku sendiri... haha... " cibir Firza tertawa.


"Anak dajjal mah bedaa... " cibir Nanda.


"Kau setan, "


"Kau iblis, "


Firza berdiri dan turun dari kasur menuju pintu. Nanda n Marcell hanya melihat nya sampai dia menghilang dari kamar.


"Mau kemana lu?" tanya Nanda.


"Mau main sama Fauzan adiknya Marcell, " sahut Firza.


"Emang udah akrab sama adik gue?" tanya Marcell.


"Udah... " sahut Firza dari bawah.


Sekarang Marcell sudah bertemu dengan adik-adik Nanda yang super duper gesrek.


"Mental lu kuat juga yah, ngehadepin kelakuan adik lu yang gesrek, " ucap Marcell.


"Makanya lu jangan kalo hidup sebagai gue enak, " sahut Nanda.


"Iya deh iya... " sahut Marcell memainkan ponsel nya.


Cklekk...


Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat lah makhluk astral yang sedang berdiri di depan pintu sambil tersenyum nakal.


"Ngapain lu di situ?" tanya Nanda.


"Gue cuma mau mastiin dong, " sahut Betly.


"Mastiin apa?" tanya Marcell.


"Kalo kalian berdua gak ngelakuin anu anu, kan belum sah, hahah... " sahut Betly tertawa.


Dengan cepat Nanda mengambil bantal love nya dan melemparnya tepat di muka Betly.


"Heuuhh dasar kakak gak ada akhlak, " sahut Betly kembali melemparkan bantal love milik kakaknya.


"Jangan ngelakuin anu anu... " sahut Betly menutup pintu.


"Anu anu anu... mulut lu yang anu anu... " sahut Nanda


Marcell hanya tertawa melihat mereka bertengkar lebih dari Marcell n Fauzan.


"Kenapa lu ketawa?" tanya Nanda.


"Gak, " jawab Marcell singkat.