My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Ke Garut tiba-tiba?!



Selepas pelajaran yang hampir setengahnya membuat orang gila atau stress. Bel pulang pun berbunyi.


DING.. DONG.. DING.. DONG..


Anak-anak murid sekolah SMAN Margana 1 pun bubar dari kelas mereka masing-masing. Nanda dkk dan Marcell dkk segera pergi ke parkiran.


Seperti biasa Marcell yang kaki nya masih sakit masih di bantu oleh teman baik nya Agung dan Angga.


"Berat amat lu cell.. lu naik berat badan yah semenjak kawin sama Nanda?" tanya Agung capek.


"Nikah gung nikah, mereka belum kawin, " sahut Angga.


"Masa? lu belum main kuda-kuda?" tanya Agung.


"Pertanyaan lu bikin orang stress.. " sahut Marcell.


"Gue nanya, lu belum main kuda-kuda sama Nanda?" tanya Agung sekali lagi.


Dukk..


Entah dari mana pukulan berasal tapi itu berhasil membuat Agung kesakitan dan memegangi kepala nya yang sakit.


"Woi!! nj*rtt!! ini siapa yang mukul gue?!" tanya Agung celingak-celinguk.


"Gue.. kenapa?" tanya Nanda melotot ke arah Agung.


"Eehh ada nyonya Alfarizky.. " sahut Agung.


"Eehh ada nyonya Alfarizky... " sahut Nanda meniru suara Agung.


"Heheh.. apa kabar nyonya? " tanya Agung.


"Baik.. tadi lu nanya apa sama Marcell? Hah?! belum main kuda-kuda?" tanya Nanda.


"Iya nyonya.. hehehe biasalah penyakit bawaan.. " sahut Agung cengengesan.


"Iihhss... dasar.. Iya gue sama Marcell gak akan main kuda-kuda.. "


"Gak akan?" tanya Marcell.


"Ehh gak akan.. belum main kuda-kuda.. nanti aja.. " sahut Nanda.


"Nah itu baru bener.. " sahut Marcell mengangguk.


"Anj*yy yang belum main kuda-kuda.. nanti kalo udah ceritain yang sayy.. terkadang gue kepo sama permainan ituuu.. " sahut Rara.


"Sama aja lu.. kayak Agung kepo.. dasar penyakit bawaan keluarga, " sahut Nanda kesal.


"Awokawok.. sorry, " sahut Rara.


"Mohon di maklumi aja yah ndakk.. " sahut Dinda.


"Yank ayoo kita pulang.. " sahut Dinda.


"Oh bentar yank.. " sahut Angga.


Angga segera mendudukkan Marcell di lantai/di lapangan. Sedangkan Agung berjongkok di samping Marcell.


"Ayoo yank kita pulang.. " sahut Angga menggandeng tangan Dinda.


"Heh! lu pikir gue ini barang apa? main simpen di mana aja.. " sahut Marcell.


"Kalo iii.. " Angga belum menyelesaikan perkataan setelah melihat mata Nanda yang siap membunuh nya malam ini.


"Bentar dulu.. tangan gue sakit.. ayoo bangun, " sahut Angga kembali menghampiri Marcell dan memindahkan nya ke motor Nanda-Marcell.


Angga pun segera mengeluarkan motor nya dan Dinda naik di belakang. Dinda sedikit berbalik ke belakang. "Oke gays.. aku duluan yah.. buat kalian yang baik motor atau naik angkot ati-ati.. " sahut Dinda.


"Iyaa.. " sahut Nanda dkk dan Marcell dkk.


"Lu pulang naik apa Ra?" tanya Putri.


"Naik angkot, " jawab Rara.


"Bareng yuk.. " sahut Putri.


"Okay, " sahut Rara.


"Gue sama Marcell duluan.. bye.. " sahut Nanda naik ke motornya dan pergi dari lingkungan sekolah bersama dengan Marcell.


"Sekarang giliran gue, gue pulang duluan broo.. buat para ciwi semoga selamat di jalan.. bye.. " sahut Lukman segera pergi dengan motor sport nya.


"Iya bye.. " sahut Rara dan Putri barengan sambil melambaikan tangan ke arah Lukman.


"Put kalo lu mau pulang bareng gue boleh.. kebetulan gue solo, " sahut Ihsan.


"Engga sekarang san, gue mau pulang bareng sama Rara aja.. lagian udah lama juga gua gak naik angkot, " sahut Putri.


"Oh ya udah kalo gitu.. yok gung pulang.. " sahut Ihsan memakai helm nya.


Agung masih melihat Rara sedang kan Rara berusaha tak melihat Agung agar kontak mata mereka tak bertemu.


"Gung.. " panggil Ihsan.


"Eh iya.. ayoo.. " sahut Agung tersadar dari lamunannya.


Ihsan sudah berada di depan gerbang sekolah bersama Agung menaiki motor masing-masing.


"Kita duluan, Hati-hati buat kalean berdua.. bye.. " sahut Ihsan melajukan motornya.


"Yaa.. " sahut Putri dan Rara barengan.


"Gue duluan.. " sahut Agung.


"Iya, " sahut Rara.


Setelah motor Ihsan dan Agung tak terlihat, Rara dan Putri segera menyebrang jalan untuk menunggu angkot lewat.


.


.


.


.


.


Di jalan Nanda melajukan motor dengan kecepatan sedang. Selama dalam perjalanan Marcell terus berkomentar untuk sedikit ngebut agar cepat sampai rumah.


"Agak cepetan dikit.. lama.." sahut Marcell.


"Berisik lu.. cmen mulu, masih untung sama gue lu di ajak pulang, nanti lama-lama gue tinggalin di sekolah, " sahut Nanda.


"Astagaa.. jahat amat punya istri.. " sahut Marcell.


"Makanya diem jangan suka komen yang jelas, nanti di rumah lu langsung aja mandi, udah itu gue kompres luka di kepala lu.. " sahut Nanda.


"Pake apa?" tanya Marcell.


"Pake cengekk.. yah pake es batu lah, pake nanya lagi lu, aneh gue.. " sahut Nanda mulai kesal.


"Kale aja lu mau ngebunuh gue.. " sahut Marcell.


"Lu pikir gue ini psikopat?"


"Iya, "


"Gue tabrak tiang lagi nih lama-lama.. ngejawab mulu.. " sahut Nanda.


"Ehh jangan lah.. gak puas lu liat gue kena karma?"


"Kalo menurut gue.. kurang.. "


"Emang beda istri gue ini.. unik.. " sahut Marcell.


Sesampainya mereka di rumah Nanda. Marcell turun dari motor dan membukakan pager agar Nanda bisa memasukan motor nya.


Saat Nanda dan Marcell akan masuk ke dalam mereka melihat ada beberapa koper yang di depan pintu.


"Ini ada apa sih? kok banyak koper ya?" tanya Nanda.


Marcell melihat bunda yang sedari tadi bulak-balik ke atas. "Bunda.. " panggil Marcell.


Bunda berbalik dan segera turun kembali menghampiri Nanda dan Marcell yang ada di depan pintu.


"Kalian udah pulang ternyata.. " sahut Bunda.


"Iya bunda.. btw bun, ini koper kenapa ada di sini?" tanya Nanda.


"Iya jadi gini.. mama sama Bunda mau ke garut.. ada urusan yang penting di sana.. " sahut Bunda.


"Nyusul Ayah Endi yah bun, " tebak Nanda.


"Iya sayang.. jadi kalian berdua baik-baik yah di rumah, jaga rumah.. " sahut Bunda mengeluarkan rambut Nanda.


"Masa ke garut tiba-tiba?!" tanya Nanda kaget.


"Nanda.. kamu mau tidur di rumah mana? mau di sini atau di rumah Marcell?" tanya mama habis dari luar.


"Mah, kalian beneran mau ke garut?" tanya Nanda.


"Iya sayang.. bukan cuma kami aja yang ke garut.. tante sofi sama sama tante Ikne pun ikut ke sana.. " sahut Mama.


"Mama ke sana mau ngapain?" tanya Marcell.


"Ada urusan yang penting di sana.. jadi kami harus ke sana.. " sahut Bunda.


"Mama sama Bunda ke sana bawa tante sofi sama tante Ikne mau ngegosip kan? bukan ada urusan.. " tanya Nanda.


"Hahaha... kamu memang kenal banget sama mama.. hohoho.. " sahut Mama.


"Udah gue duga.. " gumam Nanda.


Maaf sayang, kami harus berbohong sama kamu, Bagas menyuruh kami untuk menyembunyikan semua ini dari kamu.. - batin Bunda.


"Marcell tolong jaga Nanda yah.. mama sama Bunda sama Ayah endi, ayah Budi akan segera pulang secepatnya, " sahut mama.


"Oh iya Ayah perasaan gak pulang-pulang deh bun.. " sahut Marcell.


"Ayah nyusul Ayah Endi ke sana.. kata nya khawatir gak bisa nyelesain tugas sebagai Jaksa.. takut nya butuh bantuan, " sahut Bunda.


"Oh gitu.. " sahut Marcell.


"Marcell.. ini kenapa tangan sama kepala kamu kok luka-luka gini?!" tanya Bunda khawatir segera memegang tangan Marcell.


"Jatuh bun, " sahut Marcell.


"Jatuh di mana? tapi Nanda gak papa kan?" tanya Bunda.


"Aku jatuh ke selokan kalo Nanda jatuh ke semak-semak jadi aman.. " sahut Marcell.


"Oh gitu.. Bunda mau ngurus luka-luka kamu, tapi sayang bunda sama mama harus pergi sekarang.. maaf kalo mendadak yah.. " sahut Bunda mengambil kopernya dan memasukan nya ke dalam bagasi mobil.


"Kalo Nanda mau ke rumah ini.. nih kunci nya, jangan ilang yah.. " sahut Mama memberikan kunci rumah.


"Iya mah.. " sahut Nanda menerima kunci itu.


"Maaf kalo ini agak mendadak.. oh iya sama jangan lupa ajak Rara nginep di sini yah.. soalnya bang toriq ada di kosan nya.. " sahut mama.


"Iyaahh mamahh.. " sahut Nanda.


"Udah.. kita berangkat yah.. assalamu'alaikum.. " sahut Bunda mengendarai mobil itu keluar dari rumah Nanda.


Setelah mobil itu semakin mengecil dan menghilang dari hadapan mereka berdua, Nanda segera masuk ke dalam bersamaan dengan Marcell.


"Sana lu mandi.. gue mau nelpon Rara dulu kasian dia sendirian, " sahut Nanda.


"Iya, gue mandi duluan, " sahut Marcell menaiki tangga.


"Mm.. "


"Nanda.. " panggil Marcell.


"Apa lagi?" tanya Nanda melihat Marcell.


"Kalo Rara mau nginep di sini, ajak aja Dinda sama Putri ke sini.. sama Angga, Agung, Ihsan, Lukman, "


"Sekalian aja satu sekolah suruh nginep di sini.. "


"Nah boleh tuh biar ramee.. "


"Enak aja.. kagak kagak.. " sahut Nanda.