My Cool Ketos My Husband

My Cool Ketos My Husband
Acara keluarga/Lamaran



Tak terasa sudah waktu berlalu begitu sangat cepat. Sudah waktunya Agung melamar seorang gadis pujaan hati nya. Yaitu Rara Farisya, yang akan menjadi teman hidup nya di masa yang akan datang.


Agung dan Mama Sella sudah berangkat dari rumah dari pagi, kini mereka sedang ada dalam perjalanan ke rumah Rara. Agung yang gugup semakin minta berhenti untuk menghirup udara segar.


"Tenangin diri kamu, jangan gugup, " sahut Mama Sella.


"Iya mah, huuhh.. " jawab Agung.


Perjalanan mereka begitu lancar, padahal Agung berharap macet, ada kecelakaan lalu lintas dan sebagainya, pikirannya mulai aktif yang bun.


Sepuluh menit kemudian, mereka akhirnya sampai di rumah Rara. Rumah itu sudah di dekorasi sedemikian rupa. Mama Sella dan Agung sudah di sambut meriah oleh keluarga Rara. Terlihat di sana ada Bunda Ikne, Bang Thoriq bahkan nenek kakek Rara pun hadir.


Melihat nya Agung semakin gugup untuk melamar Rara saat ini. Arrrggghhh rasanya ingin sekali pulang dan mengunci diri di kamar.


"Assalamu'alaikum, " sahut Mama Sella.


"Waalaikumsalam, " sambut keluarga Rara.


Mama Sella dan Bunda Ikne bersalaman dan masuk ke dalam bersama Agung. Mereka duduk di ruang tamu, sambil menunggu Rara turun dari kamar, Mama Sella ngobrol-ngobrol terlebih dahulu dengan nenek kakek nya Rara.


Tak lama kemudian, datang lah bang Thoriq yang habis membeli buah untuk tamu. Bang Thoriq salim kepada Mama Sella dan tersenyum kepada Agung. Bang Thoriq duduk di samping nenek nya.


"Jadi ini Sulaiman?" tanya nenek Rara.


"Namanya udah di ganti jadi Agung Tresna, " sahut Mama Sella.


"Kok bisa?" tanya kakek Rara.


"Iya, dulu ada beberapa masalah, tapi sekarang sudah tak ada lagi, maaf kalo saya baru memberitahu nya sekarang, " sahut Mama Sella.


"Iya gak papa, eh, mana ini Ikne, Ikne mana Rara?" tanya nenek Rara.


"Iya mah sebentar, " sahut Bunda Ikne di lantai dua.


Sementara itu di kamar Rara.


Rara masih mengunci diri nya di kamar dan tak mau keluar sedari tadi. Padahal Bunda Ikne sudah bilang kalo sebentar lagi Agung dan keluarga nya akan datang. Tapi Rara sama sekali tak peduli, baru kali ini Rara merasa gugup menghadapi pertunangan nya dengan mantan.


"Aduh, ini jantung gak bisa kontrol banget sih!! ini lagi si Agung, bukan nya bilang udah dekat gitu.. jadi kan gue gak jantungan kayak gini, " gumam Rara kesel.


Tok.. tok.. tok..


"Rara, ayo turun, calon suami kamu udah nunggu itu, " sahut Bunda Ikne dari luar.


"I-Iya mah, sebentar, " sahut Rara.


Rara menarik napas panjang dan bersikap tenang dan dingin. Secara perlahan Rara membuka pintu kamar nya dan menghadap Bunda.


"Jangan gugup yah sayang, " sahut Bunda Ikne mengelus kepala putri nya itu.


"Iya Bunda, " sahut Rara.


Rara dan Bunda Ikne menuruni tanggal satu persatu dengan hati-hati. Jantung Rara tak berhentilah berdebar-debar, karna saking gugup nya untuk bertemu dengan Agung dan keluarga nya.


Sesampainya mereka berdua di ruang tamu Terlihat di sana Agung yang sedang menundukkan kepala nya sambil mengepal kuat-kuat tangan nya sendiri.


Tuh anak mau ngelamar gue atau ngajak berantem? - tanya batin Rara.


Rara pun di suruh duduk di deket Bunda Ikne. Kakek nenek Rara mulai membicarakan soal pernikahan dan tanggal yang tepat untuk cucu mereka. Acara lamaran Rara pun di mulai.


.


.


.


.


.


Setelag acara lamaran itu selesai, Agung izin untuk keluar sebentar untuk menghirup udara segar. Bang Thoriq yang penasaran dengan Agung, menyusul nya ke depan.


"Woi, assalamu'alaikum, " sahut bang Thoriq.


"Eh! bang, waalaikumsalam, " jawab Agung sedikit kaget.


"Selamat yah bro, lu udah ngelamar Rara, sebentar lagi lu bakal nikah sama dia, semoga lu bisa jadi suami yang baik buat adek kecil gue, " sahut bang Thoriq.


"Iya bang, bissmillah, " sahut Agung.


Mereka berdua berjalan-jalan sebentar sambil mengobrol. "Rara itu orang nya manja, cuek, sok dingin ke orang gitu, jadi maklum lah, " sahut bang Thoriq.


Agung hanya tersenyum. "Sebenarnya Rara itu gak setomboy yang lu pikirin, dulu Rara feminim banget, "


"Trus kenapa sekarang Rara jadi tomboy bang?"


"Nah kalo masalah itu... abang pun tak tau, kau tanya lah sendiri, " sahut gang Thoriq.


Cukup lama mereka mengobrol sambil jalan-jalan. Setelah selesai keliling tiga komplek, Bang Thoriq memutuskan untuk pulang, Agung hanya ngikut aja.


Sampai di rumah Rara. "Oh iye, jangan lupa yah kalo dah nikah langsung aja malam pertama, gini-gini Rara itu seksi lho, " bisik bang Thoriq.


"Kurang ajar! sini lu bang!!" sahut Rara mengambil sapu.


"Eeh.. kabur.. " sahut bang Thoriq masuk ke dalam rumah lewat garasi.


"Isshh.. awas lu yah kalo ketangkep, gue gantung lu di pohon mangga, " sahut Rara kesal.


"Iya bun, "


"Masuk sayang, ada yang mah kita bicarain, "


"Iyaa, yuk masuk, " sahut Rara mengajak Agung masuk ke dalam.


Di rumah tamu.


"Jadi tanggal pernikahan kalian udah di tentuin, " sahut Bunda Ikne.


"Kami pengen kalian menikah secepatnya, " sahut nenek Rara.


"What!! oke gak masalah, tanggal berapa? bulan berapa? tahun berapa?" tanya Rara.


"Bukan bulan atau pun tahun, pernikahan kalian tanggal 27, dua minggu setelah pernikahan nya Nanda, Marcell, " jelas Mama Sella.


"Gak kecepatan mah?" tanya Agung.


"Ini bukan permintaan Mama sama Tante Ikne tapi ini nenek kakek nya Rara, " sahut Mama Sella.


"Oh oke, " sahut Agung pasrah menerima.


"Jadi gimana Rara?" tanya Bunda Ikne.


"Mm.. ya udah, iya, " sahut Rara setuju.


"Alhamdulillah, " sahut Bunda Ikne dan Mama Sella barengan.


"Sekarang kalian tinggal memutuskan mau nikah di negera mana? Thailand, Filipina, Inggris, Amerika, Australia, Eropa, Belanda, Paris--"


"Paris, " potong Rara dan Agung.


"Oke, sudah di putuskan, kalo gini masalah tiket pesawat dan lain-lain biar Bunda sama Tante Sella yang urus, " sahut Bunda Ikne.


"Sebentar Ikne, bukan nya masalah ini harusnya mereka yang urus? kenapa malah kalian? emang Agung, kamu gak punya modal?" tanya nenek Rara.


"Mah, Agung bukannya gak mampu, tapi untuk sementara waktu biar kami yang urus, soal taksi, hotel, dan makanan, gaun pengantin, dan acara nya biar Agung yang urus, kami hanya menyiapkan tiket pesawat, " jelas Bunda Ikne.


Nenek Rara membuang muka, "Agung, bukannya kamu dapet warisan dari ibu tiri kamu itu kan?"


"I-Iya nek, " jawab Agung.


"Pake uang itu untuk tiket pesawat dan lain-lain nya, jangan sampai calon mertua kamu dan Mama kamu mengeluarkan uang sepeserpun, atau saya tak akan segan-segan membatalkan pernikahan ini!" jelas nenek Rara.


"I-Iya nek, nanti saya akan membeli tiket pesawat dan lainnya, biar saya yang tanggung semua nya, kalian gak usah khawatir, " sahut Agung percaya diri.


Rara nampak kasihan kenapa Agung, nenek nya benar-benar terlalu menekan Agung. Di saat seperti ini rasanya Rara ingin sekali marah dan menjelaskan semua nya kenapa nenek nya yang keras kepala dan tak mau mengerti apa maksud dari ucapan Bunda.


Di sisi lain. Bang Thoriq yang hendak ke dapur, tak sengaja mendengar percakapan mereka di ruang tamu. "Apa ini? dasar keras kepala!!" gumam bang Thoriq kesal.


"Dasar nenek tua, gak denger barusan Agung yang akan tanggung semua nya saat sampai di Paris! marah-marah gak jelas cuma karena Bunda sama Tante Sella yang tanggung tiket pesawat! dasar lu nenek tua, untung lu lebih tua dari gue, kalo engga udah gue ajak berantem tuh di lapangan, " gumam Bang Thoriq semakin geram.


"Au ah gelap, " gumam bang Thoriq dan berjalan ke arah dapur.


Acara keluarga dan lamaran pun selesai, semua lancar walau tadi ada sedikit masalah. Nenek Kakek Rara pamit terlebih dahulu.


"Bunda, Tante, aku sama Agung mau keluar sebentar, " sahut Rara.


"Oh iya, " sahut Bunda.


"Hati-hati yah, " sahut Tante.


"Iya Tante, assalamu'alaikum, " sahut Rara.


"Waalaikumsalam, "


"Ada apa?" tanya Agung.


"Lu gak usah mikirin omongan nenek gue, dia emang kayak gitu, maklum, " sahut Rara.


"Mm... iya, tapi bener juga katanya, gue yang harus nya nanggung semua nya, kalo kita mau nikah, " sahut Agung.


"Soal pernikahan tiga minggu lagi, lu udah siap?"


"Oh iya lah siap selalu saya mah, mau malam pertama sekarang juga hayuu, " sahut Agung cengengesan.


"Iiihh apaan sih.. main hayu hayu hayu aja, " sahut Rara memutar bola mata malas nya.


"Canda Ra, canda.. kagak usah di ambil hati, " sahut Agung.


"Hemm.. iya-in kasian, "


"Jangan terlalu maksain diri lu buat nanggung semua nya, kalo bisa... gue juga mau bantu, " sahut Rara.


"Gak boleh, lu cuma boleh duduk diem, siapkan diri untuk kita malam pertama nanti di hotel.. makan malam romantis... " sahut Agung sambil merangkul Rara.


Bukk..


Rara memukul tangan Agung kuat-kuat. Sampai Agung meringis kesakitan. "Aahh.. sakit ***, "


Rara tak menghiraukan Agung dan berjalan mendahului Agung. "Badan lu kecil tapi tenaga kayak hulk, aneh gue.. Ra tungguin... my beby, oi, jalan nya pelan-pelan, " teriak Agung berlari menyusul Rara.


"Berisik lu!!" teriak Agung.