
"Sayang" ujar Ranti saat melihat Bram duduk sendirian di ruangannya yang lumayan besar itu.
Bram melihat kepada Ranti yang dengan tiba tiba masuk dan memanggil sayang kepada dirinya. Sesuatu yang rasanya agak sedikit janggal dilakukan oleh seorang Ranti dalam keadaan mendadak seperti ini.
"Masuk bentar ya. Aku siap siap sebentar" ujar Bram seraya mengambil tas laptopnya dan berencana untuk menyimpan laptop tersebut.
"Sayang, ada yang mau aku omongin" ujar Ranti sambil menatap ke arah Bram dan tersenyum memohon kepada kekasihnya itu untuk mendengarkan dirinya.
Bram melihat ada sesuatu yang penting yang harus diberitahukan oleh Ranti kepada dirinya. Bram menatap lembut ke arah Ranti.
"Ada apa?" ujar Bram sambil menghentikan kegiatannya memasukkan semua barang barang ke dalam tas kantor miliknya itu.
Ranti terlihat sedikit ragu untuk menyampaikan apa yang harus disampaikannya kepada Bram. Tetapi dia tetap harus menyampaikan hal itu kepada Bram.
"Jadi gini sayang. Aku sebenarnya mau minta izin kepada kamu, untuk tidak pulang bersama kamu" ujar Ranti yang pada akhirnya bisa menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan oleh Ranti kepada Bram walau dengan menunduk. Ranti takut melihat ekspresi Bram saat ini. Ranti tau Bram sedikit berduka dengan keputusannya itu.
"Hay kenapa harus menundukkan kepala sayang?" ujar Bram sambil menatap ke arah Ranti.
Ranti menunduk saat mengatakan ke pada Bram apa yang ada di minta oleh dirinya kepada Bram.
"Aku takut kamu kecewa dan marah sama aku" ujar Ranti mengatakan kepada Bram apa yang menyebabkan dirinya menunduk seperti itu.
"Serius kamu nggak marah sayang?" tanya Ranti meyakinkan dirinya kalau Bram sama sekali tidak marah dan bisa menerima keputusan Ranti untuk pulang bersama dengan Rinjani ke kos kosan mereka.
"Serius sayang. Aku tidak marah. Sepertinya Rinjani memang membutuhkan sahabatnya saat ini" kata Bram meyakinkan Ranti kalau dia sama sekali tida marah atau kecewa dengan apa yang diminta oleh Ranti kepada dirinya.
"Makasi sayang. Aku akan pulang dengan Rinjani. Aku mencintaimu" ujar Ranti sambil berlari dan memeluk Bram dengan sangat kuat
"Okelah kalau begitu. Kamu pulang dengan Rinjani. Aku mau melanjutkan menulis sebentar" ujar Bram sambil tersenyum ke arah Ranti yang meminta izin untuk menemani Rinjani berjalan kaki kembali ke kos mereka saat setelah mengikuti perkuliahan.
Bram tidak menyangka hanya dengan memberikan izin kepada Ranti untuk memperbolehkan Ranti pulang dengan Rinjani, bisa membuat Ranti sebahagia itu.
"Makasi sayangku. Kamu memang terbaik" ujar Ranti sambil memberikan kode tangan terbaik kepada Bram yang sudah mengaktifkan kembali laptop yang tadi sudah mau di simpan olehnya.
Bram tidak mau memperlihatkan kekecewaannya kepada Ranti. Bram tahu kalau Ranti dan Rinjani sama sama ada saat salah satu dari mereka sedang kesusahan.
Ranti kemudian berjalan keluar dari dalam ruangan dosen tersebut. Dia akan menuju Rinjani yang sedang duduk di ruang tunggu bagian depan ruangan itu.
"Aku memang kecewa, tetapi kekecewaan aku itu langsung sirna saat aku melihat senyum kebahagiaan kamu, saat aku memberikan izin kepada kamu untuk bisa pulang dan berbagi cerita dengan sahabat kamu sayang" ujar Bram sambil tersenyum kecil ke arah Ranti yang sudah hilang di telan ruangan dosen.
"Jani, ayuk pulang" ujar Ranti yang sudah berada di depan Rinjani saat ini.
Tadi Rinjani sudah bakal berpikir kalau dia akan pulang sendirian ke kos. Tetapi ternyata Ranti berhasil meminta izin kepada Bram untuk menemani dirinya berjalan pulang ke kos.
"Wow, kamu berhasil meminta izin kepada dosen itu?" ujar Rinjani melihat ke arah Ranti yang berada di depannya saat ini.
"Berhasil lah. Masak ndak. Kamu meragukan aku?" ujar Ranti sambil menatap ke arah Rinjani dengan tatapan geli karena Rinjani meragukan dirinya.
"Oke, mari kita pulang. Gue udah laper" ujar Rinjani menatap ke arah Ranti dengan tatapan aku udah capek, mari pulang.
"Aku beneran capek Ranti" ujar Rinjani berkata sambil menatap ke arah Ranti yang menendang nendang batu batu kecil sambil berjalan menuju kos mereka berdua.
"Capek kenapa? Kalau capek karena kuliah nggak mungkin" ujar Ranti sambil menatap ke arah Rinjani yang baru saja mengatakan kalau dia capek.
"Capek karena mikirin sesuatu" jawab Rinjani sambil menatap ke arah Ranti.
"Apa?" ujar Ranti menyambar dengan cepat peluang yang diberikan oleh Rinjani kepada dirinya.
"Ya itu" jawab Rinjani sambil melongos tidak percaya dengan apa yang akan diucapkan oleh dirinya.
"Apa yang ya itu?" lanjut Ranti yang penasaran dengan apa yang akan diucapkan oleh Rinjani kepada dirinya.
"Gue, ribut dengan Bayu" ujar Rinjani akhirnya mengatakan apa yang membuat dirinya menjadi terbebani.
"Hah? Kenapa?" ujar Ranti yang mulai penasaran dengan penyebab kenapa Rinjani bisa marahan dengan Bayu.
Padahal selama ini Ranti sangat tahu kalau Rinjani dan Bayu merupakan pasangan yang serasi. Mereka berdua sangat jarang terlihat meributkan sesuatu.
"Tumben loe ribut dengan Bayu? Ada masalah apa?" kata Ranti yang mengulang pertanyaannya kembali kepada Rinjani yang terlihat agak sedikit teralihkan pikirannya.
"Waktu gue pergi makan malam itu, Bayu mengatakan ke gue kalau dia akan pergi ke daerah perbatasan yang sedang ada konflik tersebut." kata Rinjani menjawab pertanyaan dari Ranti yang sudah dua kali menanyakan hal yang sama kepada Rinjani.
"Terus loe marah hanya gara gara itu?" tanya Ranti sambil menatap tidak percaya ke arah Rinjani.
Rinjani mengangguk. Dia tau dia salah. Tetapi karena rasa sayang dia kepada Bayu, yang membuat dia menjadi seperti itu.
Tak terasa mereka berdua telah sampai di rumah kos. Rinjani dan Ranti langsung masuk saja ke dalam rumah lewat pintu belakang kos kosan mereka.
Beberapa anak kos terlihat sedang duduk duduk menikmati waktu sore hari mereka. Ada juga beberapa yang berdiri di luar pagar, karena baru saja diantarkan oleh kekasih mereka, saat pulang dari kampus.
Rinjani membuka pintu kamar mereka. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam kamar yang tidak besar itu. Rinjani kemudian mengambil segelas air minum. Dia kemudian duduk di kasur, hal yang sama juga dilakukan oleh Ranti.
"Jadi, terus gimana lanjutan cerita tadi?" kata Ranti saat melihat Rinjani sudah mulai tenang dan tidak terlihat sedang lelah lagi
Rinjani menatap ke arah Ranti. Ranti mengangguk menandakan kalau Rinjani harus menyelesaikan ceritanya tadi. Karena Ranti sudah penasaran dengan kelanjutannya.
"Gue mandi dulu. Nanti di sambung ya. Gue mau mandi kerama, kebetulan kamar mandi kosong. Jadi bisa lama lama" kata Rinjani yang kembali menunda waktu pembicaraan masalahnya kepada Ranti.
"Gile loe. Kalau tau hanya setengah ngomong mending nggak aja tadi" ujar Ranti yang langsung ngamuk ngamuk saat Rinjani ngomong dia mau mandi dulu.
"Siap mandi cerita. Loe juga mandi sana. Jadi enak ceritanya nanti" ujar Rinjani yang tau Ranti sudah banyak berkorban kepada dirinya hari ini.
"oke kita mandi. Awas loe masih ndak ngomong nanti ya" ujar Ranti mengancam Rinjani.
"Sip" jawab Rinjani.
Kedua mahasiswi cantik itu, kemudian pergi menuju kamar mandi. Mereka berdua akan membersihkan tubuh mereka yang sudah berkeringat dari pagi. Rutinitas yang padat membuat mereka cukup lelah dan perlu di terapi air dingin. Mereka berdua sepakat untuk melanjutkan pembicaraan setelah mandi.