
Pagi harinya Rinjani dan Aleza telat bangun. Mereka berdua bangun tepat pukul tujuh pagi. Itupun karena pintu kamar Aleza sudah di gedor gedor oleh teman tetangga kamar. Aleza memang selalu meminta tetangga kamarnya untuk menggedor pintu kamar Aleza setiap dia masuk pagi.
Rinjani melihat jam dinding yang terpasang di dinding kamar Aleza. Mata Rinjani membulat membesar saat melihat jarum jam menunjukkan angka berapa pada jam itu.
"Hah? Serius itu jam. Gue nggak salah nengok kan ya? Masak jam tujuh pagi?" ujar Rinjani sambil mengucek matanya memastikan kalau jam itu beneran bergerak dan menunjukkan angka tujuh.
"Hah? Bener ternyata jam tujuh. Mampus lah gue. Bisa telat gue kampus. Mana masuk jam setengah lapan lagi" ujar Rinjani kesal dengan dirinya sendiri. Kenapa dia bisa ketiduran begitu lamanya. sehingga telat untuk mandi pagi.
Aleza yang baru selesai mandi memberikan handuk kepada Rinjani yang kali ini sama sekali tidak membawa handuk, karena berencana untuk menginap di hotel.
Rinjani menyambar handuk yang diberikan oleh Aleza. Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan berusaha mandi selamat mungkin. Dia nggak mau terlambat sampai di kampus.
Tidak membutuhkan waktu lebih dari sepuluh menit, Rinjani telah menyelesaikan ritual mandinya yang benar benar super duper kilat untuk kali ini.
"Loe mandi apa cuci muka doang Jani?" tanya Aleza yang melihat dan menatap heran ke Rinjani.
Aleza sangat tahu kalau Rinjani adalah tipe perempuan mandi dalam waktu yang lama. Bukan seperti sekarang ini. Rinjani mandi selesai dalam waktu super duper kilat. Kayak mandi kucing saja.
"Loe tumben cepat banget mandinya. Kenapa?" tanya Aleza yang melihat Rinjani udah selesai saja mandi.
"Yah gimana lagi. Loe tau sendirilah udah jam berapa ini" jawab Rinjani yang terus melakukan kegiatannya sambil menjawab pertanyaan dari Aleza.
"Haha haha haha. Sama, gue juga masuk pagi" ujar Aleza.
Akhirnya dalam waktu singkat, kedua wanita cantik itu telah selesai berdandan dan merapikan penampilan mereka. Rinjani sudah mengucir setengah rambut panjangnya. Dia benar benar terlihat cantik hari ini.
"Wow loe cantik banget" ujar Aleza kepada Rinjani.
"Biasa aja. Elo luar biasa juga cantiknya" jawab Rinjani sambil menatap Aleza.
"Yuk jalan. Nanti makin telat gara gara perihal cantik nggak cantik" ujar Rinjani.
Rinjani dan Aleza berjalan menuju kampus. Jarak kampus dengan kontrakan Aleza tidaklah begitu jauh hanya memakan waktu sepuluh menit kurang, kalau berjalan kaki.
"Nanti gue ke tempat loe latihan ya. Di studio biasakan?" tanya Rinjani sesaat sebelum berpisah dengan Aleza.
"Yup" jawab Aleza.
"Yakin loe nggak dicariin sama Bayu?" ujar Aleza mengingatkan Rinjani kepada kekasihnya itu.
"Nggak tau juga. Dia ntah sadar ntah ndak, gue udah nggak di hotel lagi" ujar Rinjani.
"Ponsel loe aktif nggak?" tanya Aleza yang melihat Rinjani tidak ada menggunakan ponselnya sama sekali dari tadi.
"Nggak kayaknya. Kan gue charger semalam, dan sama sekali belum gue lihat lihat" ujar Rinjani lagi sambil mengambil ponselnya dari dalam saku celana.
Rinjani melihat ponsel tersebut, ternyata memang dalam keadaan tidak aktif. Rinjani kemudian mengaktifkan ponselnya. Mereka berdua tetap berjalan ke kampus.
"Nggak ada apa apa. Kayaknya dia juga kehabisan batrai ponsel semalam. Pesan chat gue aja masih centang satu" ujar Rinjani sambil melihat pesan chat yang dikirim ke Bayu.
Mereka akhirnya sampai juga di depan gerbang masuk kampus yang sangat mewah dan elegan itu. Saat sampai di gerbang kampus itulah Rinjani dan Aleza berpisah. Aleza harus ke kampus jurusan musik sedangkan Rinjani akan ke ruangan dosen.
"Biarin ajalah, kalau dia sayang gue, pasti dia akan cari gue ke sini. Dia kan tau, aktifitas gue beberapa hari ini di sini. Nggak dimana mana" ujar Rinjani kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana.
"Wah Bu Rinjani cantik sekali hari ini" sapa salah satu dosen yang selalu iri dengan penampilan Rinjani.
"Biasa aja Bu. Ibu lebih cantik hari ini dari pada saya. Barang barang yang ibu pakai mewah semua" ujar Rinjani.
"Makasi Ibu Rinjani. Saya masuk kelas dulu ya. Takut telat" ujar dosen itu sambil berjalan meninggalkan ruangan dosen.
Rinjani mengambil map kehadiran mahasiswanya. Hari ini dia akan mengajar empat sks secara berurutan. Dua sks lagi besok ternyata bukan siang nanti.
Rinjani berjalan menuju ruang kuliahnya. Terlihat semua mahasiswa Rinjani sudah menunggu di depan pintu. Rata rata mereka semua berusia di atas usia Rinjani. Mereka semua bukan karena tidak pintar, tetapi rata rata malas untuk mengerjakan mata kuliah umum itu.
Rinjani kemudian melakukan aktifitasnya. Dia terlihat sangat bersemangat sekali untuk mengajar pada hari itu. Apalagi mahasiswa Rinjani juga semangat hari ini untuk kuliah. Suatu hal yang sangat jarang terjadi. Makanya Rinjani semakin semangat untuk mengajar. Akhirnya setelah empat sks berturut turut mengajar, tibalah jam istirahat bagi Rinjani. Dia melihat jam tangannya.
"Saatnya ke tempat Aleza, semoga tu anak nggak ngacir duluan" ujar Rinjani sambil berjalan keluar dari ruang kelas.
"Ibuk, ini ada bunga mawar" ujar salah seorang mahasiswi ntah dari jurusan apa Rinjani sama sekali tidak hafal.
"Wah dalam rangka apa?" tanya Rinjani kepada mahasiswi itu.
"Nggak dalam rangka apa apa" jawab mahasiswi itu dan langsung menghilang dari hadapan Rinjani.
Rinjani hanya bisa geleng geleng kepala saja. Rinjani kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ruangan dosen.
Tiba tiba. "Ibuk ada bunga dari kami" ujar suara serempak beberapa orang mahasiswa dan mahasiswi yang sedang duduk duduk di Koridor kampus.
"Dalam rangka apa? Awas kalau mengatakan tidak dalam rangka apa apa" ujar Rinjani kepada mahasiswi dan mahasiswa itu.
"Karena ibuk cantik hari ini" jawab salah seorang mahasiswa.
Rinjani hanya bisa menggeleng saja. Dia kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruangan dosen.
"Ibuk ini" teriak salah seorang mahasiswa memberikan buket coklat ternama kepada Rinjani.
Belum sempat Rinjani bertanya dari siapa, mahasiswa tersebut telah menghilang dari hadapan Rinjani.
"Lah main kabur aja siap ngasih buket" ujar Rinjani menatap punggung mahasiswa itu.
"Ada ada aja lah kejadian" ujar Rinjani.
Rinjani kemudian masuk ke dalam ruang dosen. Dia meletakkan map kehadiran mahasiswa. Rinjani kemudian kembali keluar menuju tempat Aleza berada.
"Awas aja kalau ada lagi mawar. Gue buang ke tong sampah" ujar Rinjani sambil mengeluh menatap mawar dan buket coklat yang ada di tangannya saat ini.
Ternyata bukan mawar ataupun buket coklat yang diterima oleh Rinjani. Tetapi sekotak chess cake dan coklat cake kesukaan dirinya yang di terima oleh Rinjani sepanjang perjalanan menuju studio Aleza.
Tapi ternyata hal gila itu tidak berakhir sampai di sana. Saat Rinjani membuka pintu ruang studio. Dengan serentak terdengar alunan musik favorit Rinjani. Rinjani cukup lama terdiam di depan pintu studio. Rinjani menatap ke dalam ruangan.
Rinjani kemudian di bawa masuk oleh dua orang mahasiswi jurusan musik. Siapa lagi kalau bukan Aleza dan seorang temannya.
"Ada apa Za?" tanya Rinjani kepada Aleza.
Rinjani terlihat sangat bingung dengan keadaan yang terjadi saat ini. Rinjani tidak mengerti sama sekali.
"Jangan banyak tanya. Nikmati aja" jawab Aleza sambil menutup mata Rinjani dengan sebuah pita berwarna biru tua.
Rinjani akhirnya hanya bisa pasrah saja. Dia sama sekali tidak melawan apa yang dilakukan oleh Aleza kepada dirinya. Rinjani mengikuti langkah Aleza dengan sedikit susah karena matanya yang ditutup rapat.
Saat sampai di tengah tengah panggung menurut penghitungan Rinjani. Aleza membuka penutup mata Rinjani. Rinjani berusaha menyesuaikan pancaran cahaya lampu dengan matanya. Rinjani mengerjap ngerjapkan mata cantiknya itu.
Saat dia berhasil menyesuaikan cahaya lampu dengan matanya. Rinjani melihat sesosok pria berpakaian tentara lengkap berdiri di depannya dengan menekukkan satu kakinya.
Tentara tampan itu memegang se buket bunga mawar putih kesukaan Rinjani. Pria itu memberikan buket bunga tersebut sambil tersenyum.
"Maafkan aku" ujar tentara itu kepada Rinjani.
Rinjani membiarkan saja Bayu seperti itu.
"Ibu maafkan Bapak buk. Terima Bapak kembali Buk" suara teriakan beberapa orang mahasiswa dan mahasiswi jurusan musik yang sedang berlatih untuk tugas akhir salah satu dosen mereka.
"Udah Jani. Loe juga cinta diakan ya. Maafkan aja" ujar Aleza sambil tersenyum kepada Rinjani.
Rinjani menatap ke arah Bayu, kekasih hatinya itu. Dia benar benar tidak menyangka kalau Bayu akan melakukan hal gila itu.
Rinjani mengambil buket bunga tersebut. Dia tersenyum kepada Bayu. Rinjani mengambil tangan Bayu dan mengajaknya untuk berdiri.
"Maafkan aku" ujar Bayu sekali lagi.
"Aku mencintaimu" jawab Rinjani sambil tersenyum kepada Bayu.
Bayu membawa Rinjani ke dalam pelukannya. Dia benar benar bahagia mendengar jawaban dari Rinjani. Pengungkapan kata cinta dari Rinjani kepada Bayu membuat Bayu benar benar bahagia.
Plok plok plok terdengar tepukan yang sangat luar biasa dari setiap orang yang ada di sana. Rinjani baru tersadar kalau mahasiswa ramai di dalam ruangan itu.
"Sayang lepasin, mahasiswa aku ramai di sini" ujar Rinjani meminta Bayu untuk melepaskan pelukannya.
"Biarin aja sayang. Biar mereka tau kalau dosen cantiknya yang bernama Rinjani adalah kekasih aku. Kekasih dari seorang letda Bayu Anggara" ujar Bayu dengan bangganya.
"Ya ya ya. Rinjani adalah kekasih Bayu Anggara. Lepasin sayang" ujar Rinjani yang sudah risih dengan pelukan yang diberikan oleh Bayu di tengah keramaian mahasiswanya.
Bayu melepaskan pelukannya dari Rinjani. Semua lampu kemudian dihidupkan. Rinjani bisa melihat jelas ke arah tempat duduk penonton, begitu banyak mahasiswanya yang duduk di sana.
Bayu dan Rinjani kemudian turun dari panggung mereka berjalan ke sebuah spot untuk menikmati makan siang. Begitu banyak hidangan makan siang yang ada di sana.
Rinjani mengambil dua piring makan siang untuk dirinya dan juga untuk Bayu. Rinjani kemudian membawa dua piring makan siang itu ke dekat Bayu duduk. Para mahasiswa dan mahasiswi lain juga mengambil makan siang mereka.
"Ibuk Rinjani sering sering aja ngambek ya. Jadi kami bisa dapat makan siang gratisan dari Bapak Bayu" ujar salah satu mahasiswa yang memang sudah di kenal oleh Rinjani.
"Haha haha. Aman itu." jawab Rinjani sambil menatap lembut penuh cinta kepada Bayu kekasih hatinya itu.
Mereka akhirnya menikmati makan siang tersebut. Rinjani dan Bayu sudah seperti semula lagi. Aleza sangat senang melihat sahabatnya itu udah baikan lagi dengan kekasih hatinya.