
"Baiklah Nyonya, Saya setuju untuk masuk ke dalam rumah Nyonya" ujar Rinjani yang akhirnya mengalah untuk mau masuk ke dalam rumah besar tersebut. Setelah pemilik rumah meminta Rinjani dan Bayu untuk masuk ke dalam rumah mereka dengan langsung mengajak Bayu dan Rinjani untuk masuk ke dalam.
Rinjani terlihat tidak bisa lagi untuk menolak ajakan dari Nyonya pemilik rumah tersebut. Rinjani merasa segan kalau dirinya menolak ajakan dari pemilik rumah untuk masuk ke rumah besar mereka.
Rinjani berjalan bersisian dengan Nyonya pemilik rumah. Sedangkan Bayu berjalan dengan suami Nyonya tersebut.
Nyonya rumah terus mengajak Rinjani ke bagian dalam rumahnya itu. Rinjani sedikit merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh pemilik rumah. Rinjani tidak bisa membayangkan kemana pemilik rumah itu akan membawa dirinya. Tetapi, Rinjani sudah memutuskan untuk ikut masuk ke dalam rumah. Terlebih lagi Rinjani merasa aman karena ada Bayu yang berjalan tepat di belakang dirinya saat ini. Rinjani semakin percaya diri dengan keamanannya karena ada Bayu yang berjalan di belakang Rinjani.
"Mari duduk Jani" ujar Nyonya pemilik rumah mengajak Rinjani untuk duduk di sofa ruang keluarga mereka.
Rinjani kemudian duduk di sebuah sofa yang berdampingan dengan Bayu. Bayu terlihat sangat akrab dan tidak asing lagi dengan pemilik rumah besar itu.
'Mereka siapa ya, kenapa Bayu seperti tidak asing lagi dengan mereka?' ujar Rinjani sambil melirik ke arah Bayu yang terlihat sangat santai saat berada di ruangan tersebut.
Rinjani menyebar pandangan matanya. Rumah sebesar itu sama sekali tidak ada tergantung fhoto pemilik rumah dan hal hal lainnya. Hanya tulisan kaligrafi dan lukisan abstrak yang terpampang nyata di dinding rumah besar itu. Sehingga Rinjani sangat sulit mencari tahu siapa pemilik rumah besar itu.
Bayu dan suami istri pemilik rumah menyadari apa yang dicari oleh Rinjani dengan pandangan matanya yang terlihat sangat liar itu.
"Kamu, cari fhoto Jani?" tanya Nyonya pemilik rumah menebak apa yang dicari oleh Rinjani dengan pandangan matanya yang sedikit liar itu.
Rinjani terkejut karena Nyonya pemilik rumah tahu apa yang dicari oleh Rinjani dengan pandangan matanya itu. Pipi Rinjani terlihat bersemu merah karena kelakuannya bisa di tebak oleh pemilik rumah. Rinjani menjadi merasa seperti maling yang tertangkap tangan sedang mengambil bukan miliknya.
"Kami memang tidak pernah memajang fhoto Jani. Tetapi kalau kamu memerhatikan beberapa lukisan yang kami pajang. Kamu akan melihat fhoto kami di sana. Tetapi perhatikan dengan sangat serius" ujar Nyonya pemilik rumah menjelaskan kepada Rinjani kenapa tidak ada satupun fhoto terpajang di dinding rumah mereka.
Bayu tersenyum kepada Rinjani. Dia memegang tangan Rinjani dan sedikit meremasnya. Bayu ingin kembali menenangkan perasaan Rinjani yang sedang merasa malu tersebut.
"Tidak usah malu Jani. Kami paham kok arti ketakutan kamu itu" ujar Nyonya besar sambil melihat ke arah Rinjani dan memberikan Rinjani senyuman yang menenangkan.
Rinjani membalas senyuman yang diberikan oleh Nyonya besar itu kepada dirinya. Dia sekarang sudah bisa menerima keberadaan dirinya yang harus berada di sana.
Nyonya rumah yang sudah melihat Rinjani sudah bisa menerima dirinya berada di rumah itu, memberikan kode kepada suaminya untuk mulai membicarakan hal hal yang harus dibicarakan dengan Rinjani.
"Jani, bisa kita bicara sebentar?" ujar Tuan pemilik rumah dengan ramah kepada Rinjani.
Rinjani kaget dan menatap ke arah tuan pemilik rumah tersebut. Rinjani tidak paham, apa yang akan diceritakan atau dibicarakan oleh tuan itu kepada dirinya.
"Ada apa Tuan?" tanya Rinjani kepada Tuan besar itu.
"Eeee ada yang harus saya bicarakan dengan kamu. Apa kamu akan marah dengan saya kalau saya membahas tentang masalah ini?" tanya Tuan besar kepada Rinjani.
"Jani, kami berdua sangat tahu kalau kamu pertama kali tidak ingin masuk ke dalam rumah ini. Kami paham akan alasanmu jani" acara tuhan pemilik rumah mulai membuka percakapannya dengan Rinjani.
Rinjani mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Tuan pemilik rumah tersebut kepada dirinya.
" apa aku salah tuan kalau aku tidak mau masuk ke dalam rumah orang yang tidak aku kenal sama sekali?" Kata rinjani balik bertanya kepada Tuan tersebut.
" tidak Rinjani kamu tidak salah. Memang seharusnya sikap wanita seperti itu, tidak asalmu masuk ke dalam rumah orang lain yang sama sekali belum dikenal oleh dirinya" jawab tuan pemilik rumah.
" apa boleh Rinjani yang bertanya duluan?" kata rinjani yang akhirnya mama oleh pertanyaan lebih dulu kepada pemilik rumah tersebut
" silahkan saja kan sudah saya bilang kita akan mengobrol" jawab Tuan pemilik rumah besar tersebut.
" jadi sebenarnya siapa pemilik rumah besar ini tuan? Kenapa bayu membawa saya ke sini?" kata rinjani yang akhirnya menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya kepada pemilik rumah tersebut.
"Haha haha haha, kamu memang tidak sabaran sekali Jani" ujar pemilik rumah besar itu.
Rinjani melihat ke arah Bayu dan kepada kedua orang memiliki nama itu. Dari pandangan rinjani terlihat kalau rinjani meminta sebuah penjelasan tentang apa yang sudah ditanyakan nya kepada pemilik rumah itu.
Bayu dan kedua pemilik rumah tersebut saling pandang memandang dan akhirnya mengangguk untuk memutuskan memberitahukan kepada rinjani siapa sebenarnya pemilik rumah itu yang kenapa Bayu membawa rinjani ke rumah tersebut.
"Baiklah Rinjani, kami berdua sebenarnya adalah orang tua kandung dari Bayu kekasih kamu" kata tuan pemilik rumah sambil tersenyum ke arah Rinjani
Rinjani yang kaget langsung membulatkan mulutnya tidak percaya dengan apa yang didengar oleh dirinya sendiri tentang siapa yang sekarang sedang duduk di hadapannya saat ini.
" maafkan kami tidak memberitahukan kepada kamu dari tadi. Kamu jangan marah kepada Bayu ya, karena sebenarnya itu adalah permintaan dari kami berdua" ujar Tuan pemilik rumah besar itu kepada Rinjani
Rinjani menetap ke arah Bayu cukup lama, Dia kemudian melihat ke arah kedua pemilik rumah tersebut yang mengaku sebagai orang tua kandung dari kekasihnya ini. Rinjani benar-benar mengamati ketiga wajah orang di depannya itu. Rinjani kemudian dapat menarik kesimpulan bahwasanya Ketiga orang itu memang memiliki guratan-guratan yang sama di wajah mereka.
Rinjani kemudian tersenyum bahagia, dia akhirnya bisa bertemu dengan orang tua kandung kekasih hatinya itu. Bayu yang semula takut akan reaksi Rinjani, Akhirnya bisa bernafas lega saat melihat Rinjani yang tersenyum dan sama sekali tidak terlihat menuduh Bayu telah melakukan kebohongan kepada dirinya.
" jadi Jani harus memanggil dengan kata sapaan apa?" Kata Rinjani yang tidak mau terlihat sombong atau tidak sopan kepada kedua orang tua Bayu.
" panggil saja kami dengan sapaan papap dan mamam" jawab mamam dengan nada bahagia karena calon menantunya sangat cantik dan tidak sombong sama sekali.
" Papap mamam" kata Rinjani mengulang kembali panggilan untuk kedua orang tua Bayu tersebut. Rinjani sengaja mengulangnya dengan pelan karena malu dan segan dengan orang tua Bayu.
Papap dan mamam tersenyum melihat ke arah Rinjani. Kegembiraan di wajah mereka sama sekali tidak bisa mereka tutupi saat mereka berdua mengenal Rinjani yang ternyata sangat baik itu.