
Bayu yang baru selesai mencuci pakaian dinas dan juga pakaian mainnya langsung terkapar tidak berdaya di ruang tamu rumah dinas itu. Dia langsung merebahkan dirinya di atas karpet yang berbulu tebal tersebut. Bayu benar benar lelah setelah melakukan pekerjaan yang sudah lama tidak dia lakukan lagi. Terakhir Bayu mencuci pakaiannya dengan cara manual seperti tadi adalah pada saat dia masih sekolah pendidikan di akmil. Itu terakhir Bayu mencuci menggunakan tangan. Semenjak Bayu di lantik dan di tempatkan di kesatuannya yang sekarang ini, Bayu sama sekali tidak pernah mencuci sendiri pakaiannya, Bayu selalu mengantarkan ke loundry yang ada di komplek asrama itu. Kali ini karena Rinjani mencuci pakaiannya yang banyak itu dengan cara manual, ntah kenapa Bayu juga ikut ikutan untuk mencuci dengan cara manual pakaian miliknya yang terlalu banyak kotorannya itu. Apalagi pakaian dinas lapangan yang digunakan oleh Bayu untuk latihan, pakaian itu membuat tangan Bayu serasa mau lepas dari pundaknya.
"Untung saja gue udah makan. Bener kata Rinjani, gua akan terkapar setelah mencuci sebanyak itu" ujar Bayu yang pada akhirnya mengakui apa yang dikatakan oleh Rinjani ada benarnya juga. Dia memang tidak sanggup untuk mencuci sebanyak itu dan juga harus melanjutkan menyetrika pakaiannya yang sangat banyak itu. Bayu benar benar merasa kelelahan sekali sekarang.
"Gue biarlah di suruh lari seratus keliling lapangan bola, dari pada mencuci, bener bener bikin gue lelah. Sama sekali nggak sanggup gue" lanjut Bayu menyesali keputusannya yang mau mencuci sendiri pakaiannya itu.
Padahal Rinjani sudah berkali kali meminta Bayu untuk mengantarkan pakaiannya ke loundry dari pada Bayu mencuci sendiri pakaiannya itu. Tetapi Bayu tetap saja keras hati untuk mencuci sendiri pakainnya. Ternyata hasil akhirnya seperti ini, Bayu tidak sanggup melakukan apa apa lagi. Bayu hanya menginginkan dia untuk tidur dan beristirahat guna mengembalikan kondisi fisiknya yang sudah kelelahan. Apalagi ditambah dengan kejadian semalam, semakin membuat Bayu menjadi pusing dan sakit hati sendiri
"Menyetrika aku upahin ajalah lagi. Asli nggak kuat. Bisa remuk badan aku nanti" ujar Bayu yang telah memutuskan untuk mengantarkan pakaiannya ke loundry setelah kering nanti.
Bayu tidak mau menurutkan egonya lagi, dia benar benar angkat tangan kalau harus menyetrika lagi. Bagaimanapun juga Bayu akan tetap mengantarkan pakaiannya yang kering itu ke loundry dan meminta orang loundry untuk menyetrika pakaiannya. Walaupun orang loundry mengatakan dia sudah jatuh bangkrut karena sudah menyuci sendiri dan mengantarkan pakaian yang sudah bersih untuk di seterika di loundry.
Bayu kemudian memejamkan matanya, dia memutuskan untuk tidur terlebih dahulu sebelum makan siang, tadi Bayu menyempatkan diri untuk memasak telur dadar, sampai sekarang telur dadar itu masih ada setengah lagi untuk makan siang Bayu. Bayu kemudian tertidur karena kelelahan habis mencuci pakaian yang sebenarnya sedikit, tetapi kotorannya yang membuat Bayu menjadi kelelahan karena harus menggundar sampai bersih semua kotoran itu.
************************************************************************************************************************************
Tepat pukul setengah empat sore, Rinjani bangun dari tidurnya, dia merentangkan tangannya lebar lebar. Dia melihat Ranti yang sudah tidak ada lagi di atas kasurnya. Padahal tadi saat terbangun tidak sengaja Rinjani masih melihat Ranti yang masih memeluk bantal guling kesayangannya itu.
"Kemana Ranti ya?" ujarĀ Rinjani yang tidak melihat Ranti di atas kasur dan juga di dalam kamar mereka. Rinjani mulai memikirkan hal hal yang jelek terjadi kepada Ranti.
"Tidak biasanya tu anak pergi nggak ngomong ngomong sama gue. Biasanya dia selalu memberitahu kepada gue kalau dia akan pergi" ujar Rinjani yang habis pikir dengan kelakuan Ranti saat ini.
Rinjani berharap kalau Ranti sedang menyetrika di meja seterikaan di luar, mana tahu Ranti bangkik rajin dan memilih untuk menyetrika pakaian yang baru saja di cucinya pagi tadi. Rinjani kemudian berjalan keluar dari dalam kamarnya, dia melihat ke arah tempat menyetrika, di sana hanya ada Eki yang sibuk dengan seterikaannya yang setinggi gunung.
"Kay, nampak Ranti?" tanya Rinjani kepada Eki yang terlihat sedang sibuk menyetrika pakaiannya tersebut. Eki sama sekali tidak mendengar apa yang ditanyakan oleh Rinjani karena dia memakai handset di telinganya.
Rinjani kemudian berjalan ke arah Eki. Dia menepuk pundak Eki. Eki yang merasa pundaknya di tepuk dari belakang menoleh ke orang yang menepuk dirinya itu. Eki melepaskan headset yang bertengger di telinganya.
"Apa, Kak?" tanya Eki kepada Rinjani yang terlihat sedang mencari sesuatu yang sedang hilang itu.
"Nampak Ranti kamu?" tanya Rinjani yang mengulang kembali pertanyaannya kepada Eki.
"Tadi, saat aku mulai menyetrika, Kak Ranti pergi keluar membawa helm. Sepertinya Kak Ranti pergi keluar Kak" jawab Eki menjelaskan kapan dia melihat Ranti.
"Pakai helm?" ujar Rinjani mengulang kembali apa yang dikatakan oleh Eki.
"Iya kak, pakai helm. Tetapi aku nggak tau kemana perginya kak Ranti" ujar Eki menjawab pertanyaan Rinjani.
Ranti memeng tidak memberitahukan kepada Eki kemana dia akan pergi. Ranti sebenarnya pergi dalam keadaan terburu buru, makanya dia tidak sempat mencari salah satu anak kos untuk menyampaiakn kepada Rinjani kalau dirinya akan pergi ke agen bus untuk mengambil kiriman dari kampung.
"Oh Baiklah, terimakasih. Lanjutkan mendengar musiknya dan menyetrika pakaiannya" ujar Rinjani memberikan semangat kepada Eki untuk melanjutkan mendengar musik dan juga menyetrika pakaiannya yang terlihat luar biasa tingginya itu.
Rinjani dan Ranti kebiasaan mencuci sekali seminggu. Hal berbeda terjadi kepada Eki. Dia mencuci dan menyeterika pakaian adalah sekali dua minggu. Makanya jangan heran kalau melihat Eki menjemur pakaian. Satu tempat akan penuh oleh pakaian Eki saja. Makanya Eki sering mencuci pakaian di hari hari kuliah, jadi dia sendiri penguasa jemuran kain itu
Rinjani kembali ke dalam kamar. Dia meraih ponselnya yang sedang di cas tersebut. Rinjani kemudian menghubungi nomor ponsel Ranti. Tapi sayangnya ponsel Ranti berdering di atas kasur milik Ranti.
"Yah tu anak nggak bawa ponsel lagi" ujar Rinjani yang nggak habis pikir dengan kelakuan Ranti saat ini.
"Mana pergi nggak ninggalin pesan lagi" ujar Rinjani yang berdiri dan mengambil handuk. Rinjani sangat terlihat kesal dengan kelakuan Ranti, pergi tanpa pesan dan tidak membawa ponsel.
Rinjani ada janji dengan Bayu untuk makan malam berdua. Tetapi sebelum pergi makan malam mereka terlebih dahulu akan pergi bermain ke tepi laut, kawasan yang paling disukai oleh Rinjani. Saat mau mengambil ember sabun, Rinjani melihat sebuah kertas yang terbang ke sana. Rinjani membaca pesan tersebut. Pesan yang ditulis oleh Ranti sebelum dia pergi meninggalkan kos.
'Maaf nggak ngasih tau elo, dan juga nggak membangunkan elo. Gue keluar sebentar, mau jemput kiriman sambal dan yang lain lain ke loket, ponsel gue tinggal karena sedang gue chas' bunyi pesan yang ditulis oleh Ranti sebelum dia pergi menjemput kiriman paketnya dari kampung.
Rinjani lupa kalau hari ini adalah hari minggu. Hari dimana paket Ranti akan selalu datang dari kampung. Biasanya segala jenis buah buahan yang sedang musim di Sijunjung akan dikirimkan oleh orang tua Ranti dari sana. Sama seperti akhir tahun kemaren, Sijunjung sedang musim durian, orang tua Ranti mengirimkan satu karung durian untuk anak kos. Akhirnya anak kos pada hari itu begadang durian Sijunjung yang terkenal lezat itu.
"Gue kira loe kemana Ranti, Ranti" ujar Rinjani yang sudah panik mencari keberadaan Ranti dari tadi di kos kosan. Untung saja saat Rinjani mengambil ember sabun dia melihat sepucuk surat yang ternyata terbang dihembus angin kipas ke arah ember sabun. Kalau seandainya Rinjani tidak menemukan memo itu tadi, maka sudah bisa dipastikan kalau Rinjani akan menggagalkan pertemuan makan malamya dengan Bayu. Dia akan mengajak Bayu untuk berkeliling mencari Ranti.
Rinjani kemudian masuk ke dalam kamar mandi, dia membersihkan badannya terlebih dahulu sebelum pergi dengan Bayu. Setelah selesai mandi, Rinjani kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya. Dia membuka almarinya dan memilih celana kulot cream, dengan kemeja sebatas pinggul berwarna merah hati untuk oufit yang akan dipakainya saat makan malam dengan Bayu. Rinjani yang telah selesai memakai pakaiannya mulai berhias, dia hanya akan memakai hiasan senatural mungkin sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Bayu kepada dirinya.
Sedangkan di rumah dinas, Bayu yang sebenarnya masih lelah, harus melawan rasa lelahnya itu dengan mandi keramas. Apalagi dia ada janji dengan Rinjani untuk makan malam di luar. Bayu tidak mau Rinjani marah marah kepada dirinya karena tidak jadi pergi makan malam bersama.
Bayu meraih handuk yang dijemur di luar pintu, tapi sebelum mandi Bayu melihat pakaian yang siap dicucinya itu. Bayu merasakan kain tersebut, ternyata pakaian yang dicucinya tadi sudah kering. Bayu kemudian mengangkat semua pakaian itu dan melipatnya serta memasukkan ke dalam keranjang.
"Puas banget rasanya melihat kain itu kering dan juga wangi. Rasa capek saat mencucinya langsung sirna saat melihat pakaian Bayu lebih bersih dibandingkan dengan di cuci diupahin itu" ujar Bayu memuji sendiri hasil karya mencuci pakaiannya itu.
"Kalau tahu sebahagia ini rasanya, Gue maulah mencoba menyetrikanya mana tau lebih licin dari pada yang diupahin. Sedangkan mencuci saja lebih bersih kita yang nyuci dari pada yang diupahin" ujar Bayu kembali memuji hasil karyanya pada hari ini.
Bayu sudah memutuskan kalau dia akan menyetrika sendiri pakaian kerjanya besok siang setelah dia melakukan apel pagi dan latihan setengah hari. Bayu akan mencoba kembali hidup seperti itu, karena sebentar lagi dia harus masuk ke daerah konflik. Sehingga jangankan loundry untuk mencuci pakaiannya sendiri ntah bisa ntah tidak dilakukan oleh Bayu di sana.
"nanti bilang sama Rinjani aja, kalau pakaian yang gue cuci lebih bersih dari pada yang diupahin. Terus aku juga akan katakan mau menggosok sendiri, biar Rinjani menjadi kaget mendengar semuanya." ujar Bayu yang sebentar lagi akan mengatakan kepada Rinjani kalau pekerjaan mencuci pakaiannya berhasil dengan hasil pakaian yang luar biasa bersih dan tidak ada cela sama sekali. Malahan Bayu akan melanjutkan sampai menyeterika pakaian yang telah dicucinya itu. Pikiran Bayu dalam sekejap bisa langsung berubah setelah melihat bagaimana wanginya dan bersihnya pakaian yang dicuci sendiri oleh Bayu.
Bayu kemudian masuk ke dalam kamar mandi, dia membersihkan badannya terlebih dahulu. Setelah itu barulah dia memakai pakaiannya dan berangkat menuju kos kosan Rinjani tepat pada pukul setengah lima sore. Ntah kenapa Bayu begitu semangat kali ini. Ntah karena dia berhasil mencuci pakaian dengan kualitas yang sangat bersih, atau karena dia akan menceritakan kejadian yang terjadi kemaren, dimana dia di katakan mengalami kecelakaan saat perjalanan dari pantai aia manih ke kota Padang.
Bayu melajukan mobilnya meninggalkan rumah dinasnya itu. Saat itulah Bayu berselisih dengan teman satu letingnya yang terlihat mau datang ke rumahnya.
"Hay bro, loe mau ke rumah?" ujar Bayu menyapa teman satu letingnya yang baru di pindah tugaskan ke kesatuan Bayu. Teman Bayu ini juga baru pulang dari daerah konflik.
"Ya, gue mau memastikan kalau loe dalam keadaan baik baik saja bro" jawab kawan satu leting Bayu yang sangat cemas sewaktu membaca berita yang mengatakan kalau Letnan Satu Bayu Anggra meninggal dalam kecelakaan tunggal di kawasan wisata pantai aia manih.
"Haha haha haha pasti loe mendengar berita itu juga kan bro. Gue nggak habis pikir kenapa orang orag tidak mencari tahu dulu mereka itu dari kesatuan mana, sehingga tidak terjadi hal seperti ini" kata Bayu yang tidak habis pikir kenapa semua orang tergesa gesa mengambil keputusan dengan mengatakan kalau korban adalah berasal dari kesatuan Bayu.
"Loe kelihatan mau pergi Bay" ujar teman satu leting Bayu saat melihat Bayu sudah sangat rapi seperti akan pergi keluar saja. Teman satu leting Bayu tidak mau menjadi perusak acara yang sudah disusun oleh Bayu dengan matang, jadi teman Bayu lebih memilih untuk kembali ke tempat tinggalnya.
"Ya, gue mau keluar, biasalah menghabiskan hari hari dengan kekasih tercinta sebelum harus pergi tugas" jawab Bayu kepada temannya itu.
"kayak loe yang nggak aja waktu mau pergi dinas keluar kota" ujar Bayu kepada sahabatnya itu. Sahabat Bayu memang sudah alumni medan konflik, dia baru pulang enam bulan yang lalu dari daerah konflik.
"haha haha haha. Ya udah jalan sana. Malam lah nanti gue ke sini lagi. Gue tidur di mess belakang" ujar teman lama Bayu yang juga statusnya single sama seperti Bayu, tetapi dia baru pindah kesatuan satu minggu yang lalu, makanya dia masih tinggal di mes karena belum mendapatkan rumah dinas.
"Oke nanti malam gue akan ke mes belakang. Tunggu gue di sana ya" ujar Bayu yang menjanjikan akan datang ke mes nanti setelah selesai bertemu dengan Rinjani.
"Sip, gue tunggu" jawab kawan Bayu yang sudah berjalan kembali menuju mes yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah dinas milik Bayu.
Bayu mengemudikan mobilnya menuju kos kosan Rinjani. Dia tidak mau telat sampai dan membuat Rinjani uring uringan seperti biasanya. Bayu sudah sangat hafal bagaimana seorang Rinjani yang akan langsung marah saat dia tidak dijemput atau tidak datang tepat pada waktunya. Bayu melajukan mobil dalam kecepatan sedang, dia tidak mau berita semalam tentang dirinya menjadi kenyataan. Bayu tidak mau hal itu terjadi kepada dirinya sekarang ini. Makanya Bayu membawa mobil dalam kecepatan empat puluh sampai enam puluh kilometer perjam. Kecepatan yang masih bisa dikatakan sedang sampai pelan.