
Rinjani yang baru bangun menatap langit langit kamarnya. Rinjani masih berbaring di atas kasur yang bisa dikatakan sudah tidak empuk lagi karena sudah digunakan lebih dari enam semester atau tiga tahun. Rinjani menatap kosong langit langit kamar yang selama Rinjani tinggal di kamar itu belum sekalipun di cat oleh pengelola kos kosan besar tersebut.
"Kenapa?" ujar Ranti yang baru selesai membersihkan tubuhnya karena ada perkuliahan pagi.
"Ada yang sedang gue pikirkan" ujar Rinjani menjawab pertanyaan dari Ranti.
"Apa bisa dibagi dengan gue?" ujar Ranti bertanya sambil duduk di tepi ranjang Rinjani.
"Tapi gue sambil bersiap siap tidak masalahkan?" lanjut Ranti meminta izin kepada Rinjani kalau dia akan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rinjani sambil bersiap siap untuk ke kampus.
"Oke tidak masalah" jawab Rinjani yang sangat bahagia ada sahabat untuk berbagi pikiran seperti Ranti.
"Jadi ada apa?" tanya Ranti mengulang kembali pertanyaannya kepada Rinjani.
Rinjani duduk dari posisi berbaringnya. Dia duduk sambil memeluk boneka teddy beard yang dibelikan oleh Bayu untuk dirinya sebagai kado ulang tahun Rinjani.
"Kamu ingatkan dulu aku sempat mengatakan kalau Bayu akan pergi ditugaskan ke daerah konflik?" ujar Rinjani memulai ceritanya dengan memberikan pertanyaan yang harus di jawab oleh Ranti.
"Ya kalau tidak salah beberapa bulan yang lalu, hal yang membuat kamu kabur ke Padang Panjang tempat Aleza sahabat kamu kuliah" ujar Ranti menjawab pertanyaan yang diajukan oleh RInjani kepada dirinya.
"Terus ada apa? Apa Bayu akan berangkat dalam waktu dekat?" ujar Ranti yang sedikit mencoba menebak arah pembicaraan dari Rinjani.
"Kalau sampai di situ aku belum tahu, Bayu, Papap maupun Mamah sama sekali belum ada mengatakan hal itu kepada aku." jawab Rinjani
Ranti menatap ke arah Rinjani saat Rinjani menjawab pertanyaannya dengan jawaban seperti yang diberikan oleh Rinjani kepada Ranti.
"Cuma semalam saat gue dan Mamah selesai menyiapkan menu makan malam, Mamah sempat bertanya kepada gue sudah berapa tahun hubungan gue berjalan dengan Bayu"
Rinjani mulai kembali melanjutkan ceritanya kepada Ranti.
"Terus gue jawab saja udah jalan tiga tahun kurang."
"Terus Mamah nanyak lagi, apakag aku siap kalau Bayu harus pergi ke daerah konflik" ujar Rinjani mengulang kembali pertanyaan yang diajukan oleh Mamah kepada dirinya tadi saat mereka selesai menyiapkan menu makan malam.
"Terus apa loe jawab?" ujar Ranti yang penasaran dengan jawaban yang diberikan oleh Rinjani kepada Mamah Bayu.
"Gue jawab, gue sudah tau kalau Bayu akan dikirim ke daerah perbatasan yang juga sedang mengalami konflik tersebut." kata Rinjani sambil melihat ke arah Ranti
"Kerenkan gue bisa menjawab seperti itu" kata Rinjani memberikan pertanyaan ntah pernyataan kepada Ranti
"Keren. Apa Mamah tidak bertanya kenapa kamu bisa mengatakan hal seperti itu?" lanjut Ranti bertanya kepada Rinjani
"Ya, aku menjawab, Ranjani sudah tahu konsekuensinya dari awal Mah. Pertamanya Rinjani memang marah dan tidak menerima kenyataan kenapa nama Bayu ada di dalam list tentara yang akan ditugaskan ke sana. Tetapi setelah Rinjani berbicara dengan dua orang sahabat terbaik Rinjani akhirnya Rinjani bisa menemukan jawabannya. Itu gue katakan ke Mamah." kata Rinjani menjelaskan panjang lebar kepada Ranti tentang percakapannya dengan Mamah
"Terus, apa reaksi Mamah saat loe selesai ngomong seperti itu?" kata Ranti yang lebih penasaran dengan apa tanggapan yang diberikan oleh Mamah saat Rinjani menjawab pertanyaan Mamah dengan jawaban dewasa seperti itu.
"Mamah meluk gue. Nah di saat mamah meluk gue inilah timbul pertanyaan dalam benak gue dan menjadi beban pikiran gue sampai sekarang" ujar Rinjani menjelaskan kepada Ranti kenapa beban pikiran sampai ada di kepala Rinjani.
"Maksud loe gimana? Gue kurang paham" kata Ranti yang memang sangat kurang paham dengan apa yang dikatakan oleh Rinjani kepada dirinya.
"Maksud gue gini, saat Mamah memeluk gue, dalam pikiran gue Bayu akan pergi dalam waktu dekat ini ke daerah konflik itu" ujar Rinjani berbagi pikirannya dengan Ranti.
"Menurut analisa loe gimana?"
"Apa loe nggak berusaha bertanya kepada Bayu?" ujar Ranti yang ingin mencari celah supaya bisa sedikit lebih lama memikirkan jawaban apa yang akan diberikan oleh Ranti kepada Rinjani.
"Ada sih keinginan untuk bertanya kepada Bayu saat dia mengantarkan aku pulang semalam. Tetapi ntah kenapa hati, mulut dan pikiran gue nggak singkron semalam. Jadi, apa yang mau gue tanyakan itu bisa lupa dia" ujar Rinjani yang memang semalam berniat untuk bertanya kepada Bayu, tetapi ntah kenapa akhirnya Rinjani memutuskan untuk tidak bertanya kepada Bayu.
"Atau gini" ujar Ranti
"Jangan atau gini atau gana, menurut loe gimana. Jawab itu aja Ranti" ujar Rinjani menyela kalimat Ranti yang belum sampai di titiknya.
"Kalau loe tanyak gue, maka analisa gue adalah, ini maaf ya maaf banget. Gue nggak bermaksud untuk menambah beban pikiran elo, tapi ini adalah menurut analisa gue saja" kata Ranti meminta maaf kepada Rinjani sebelum Ranti menjawab dan menjelaskan kepada Rinjani apa analisa yang disimpulkan oleh Ranti atas peristiwa pembicaraan Mamah Bayu dengan Rinjani.
"Menurut gue, Bayu akan pergi dalam waktu dekat ke daerah tersebut" ujar Ranti memberikan jawaban menurut versi dirinya.
"Sama dengan yang gue simpulkan." ujar Rinjani sambil berbisik.
Rinjani memang sudah memikirkan kemungkinan yang satu itu. Tetapi dia tidak ingin hanya dirinya saja yang menyimpulkan hal itu, makanya dia meminta pendapat dari Ranti. Ternyata pendapat yang diberikan oleh Ranti sama persis dengan apa yang dipikirkan oleh Rinjani.
"Jadi gue harus gimana menurut elo?" tanya Rinjani yang sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa saat sekarang ini.
"Bertanya kepada Mamah atau Papap adalah sesuatu yang tidak mungkin" kata Rinjani mejawab sendiri alternatif yang dia pikirkan itu.
"Kenapa nggak tanya Bayu aja?" ujar Ranti memberikan usulan untuk bertanya kepada Bayu langsung saja.
"Yakin loe dia mau jawab?" ujar Rinjani yang ragu dengan usulan Ranti
"Apa loe mulai meragukan Bayu?" kata Ranti sambil melihat ke arah Rinjani
"Nggak" jawab Rinjani dengan pasti.
Rinjani sama sekali tidak pernah meragukan Bayu. Dia sangat percaya dan yakin dengan Bayu.
"Ya udah tanyakan aja. Ajak aja dia janjian dimana kek. Nah loe tanyakan aja langsung ke dia" ujar Ranti memberikan usulan kepada Rinjani
Ranti kemudian melihat alarm ponselnya yang sudah berdering nyaring
"Gue jalan dulu ya. Ingat langsung tanya Bayu" ujar Ranti mengulang sekali lagi usulannya kepada Rinjani
"Oke nanti gue chat dia supaya ketemuan di luar saja" jawab Rinjani
"Makasi udah bantu" lanjut Rinjani mengucapkan terimakasihnya kepada Ranti
"Sama sama. Itu guna sahabat" jawab Ranti
Ranti meninggalkan kos kosan, dia akan kuliah pagi. Sedangkan Rinjani perkuliahannya dimulai pukul delapan lima puluh wib, makanya dia bisa nyantai nyantai kaya di pantai
"Gue harus bertanya kepada Bayu langsung" ujar Rinjani yang sudah membulatkan tekadnya untuk bertanya kepada Bayu.
"Apapun itu gue harus tanyakan. Gue nggak mau nanti kaget saat Bayu mengatakan dia harus berangkat. Gue harus bisa memanfaatkan waktu berdua dengan dirinya, kalau dia memang harus pergi dalam waktu dekat ini" kata Rinjani
Rinjani kemudian mengambil handuk, dia sudah memutuskan sesuatu. Dia harus eksekusi keputusan itu sekarang, kalau di tunda bisa jadi Rinjani berubah pikiran dan membuat dirinya menjadi rugi sendiri.