Its My Dream

Its My Dream
58



Rinjani yang sudah sampai di kamar kosnya, mengambil perlengkapan untuk mandi. Rinjani tidak mungkin tidak mandi, dia sangat tidak bisa tidur kalau dia masih belum mandi dari pagi.


Rinjani kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Rinjani membasuh badannya dengan tergesa gesa. Air yang dipakai oleh Rinjani sangatlah dingin. Hal ini membuat Rinjani ingin cepat menyelesaikan ritual mandinya itu.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Rinjani kemudian memakai pakaian tidur miliknya yang dipakainya semalam. Rinjani kemudian naik ke atas ranjang kecil miliknya itu. Rinjani berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk besok diberikan kesehatan dan juga rezeki yang melimpah. Setelah selesai berdoa Rinjani mulai memejamkan mata cantiknya itu.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Bayu. Bayu membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah itu barulah dia pergi ke kamar dan membaringkan tubuhnya yang sangat lelah ditambah lagi pikirannya yang juga sedang berdansa. Bayu benar benar dalam kondisi tersulit nya saat ini.


"Gimana cara aku berbicara dengan Rinjani ya? Aku bener bener nggak tau bagaimana cara memulainya" ujar Bayu sambil menatap langit langit kamarnya.


"Kalau seandainya benar aku dapat surat perintah untuk pergi ke daerah konflik itu, maka mau tidak mau aku harus memberitahukan kepada Rinjani" lanjut Bayu berbicara sendirian sambil masih menatap ke arah langit langit kamarnya.


"Apa sebaiknya aku memberikan gambaran kepada Rinjani perihal aku harus pergi dinas ya?" kata Bayu selanjutnya.


Bayu sangat sibuk dengan semua analisanya sendiri. Bayu terlalu sibuk dengan berandai andai sehingga sulit menemukan bagaimana mengungkapkan fakta yang sebenarnya.


"Baiklah aku harus ngomong sama Rinjani. Aku nggak mau seminggu mau berangkat baru ngomong dengan Rinjani. Apalagi kalau memang jadi aku berangkat, maka aku harus latihan dulu selama dua bulan. Latihan yang sangat padat dan membuat aku akan susah bertemu dengan Rinjani" ujar Bayu yang akhirnya memutuskan untuk tetap akan berbicara kepada Rinjani dengan cara memberikan gambaran gambaran apa yang akan terjadi ke depannya.


Bayu kemudian mematikan lampu kamarnya dan mengaktifkan AC kamar. Suasana kamar terasa sangat panas sekarang ini.


"Apa Rinjani nggak merasakan panas ya? Kamarnya kan nggak ada AC." ujar Bayu yang teringat kalau kamar kos kosan milik Rinjani tidak ada AC.


Bayu kemudian memejamkan mata elangnya yang membuat siapapun melihat ke arah Bayu akan langsung terbuai dengan mata indah Bayu. Mata yang bisa membuat siapa saja menjadi mabuk kepayang. Rinjani saja bisa naksir dan menerima cinta bayu memang karena mata indah Bayu. Hal itu sudah diakui Rinjani kepada Bayu.


...****************...


Pagi harinya, Rinjani sudah bangun sebelum pukul lima dini hari. Rinjani kemudian mengambil handuk dan perlengkapan mandi miliknya. Rinjani melihat semua pintu kamar kos masih tertutup rapat, begitu juga dengan lampu kamar yang juga masih mati.


"Mahasiswa memanglah ya, kalau udah libur semua juga libur. Nanti jam sepuluh berebut ingin mandi. Sekarang aja mandi enak nggak ada kak aku siap itu ya" ujar Rinjani sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah menghabiskan waktu selama lima belas menit, Rinjani ke luar dari dalam kamar mandi. Rinjani menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


"Woi mau kemana loe sengah enam aja belum loe udah mandi." ujar Ranti yang keheranan melihat Rinjani yang sudah selesai mandi.


Rinjani melihat ke arah Ranti yang masih memeluk bantal guling kesayangannya pemberian dari seseorang yang sangat dicintai oleh Ranti dahulunya. Tetapi sekarang cinta Ranti sudah beralih kepada dosen tampan yang menemani Ranti di rumah sakit, saat Ranti dirawat itu.


"Mau kemana loe?" tanya Ranti sekali lagi kepada Rinjani yang telah selesai memakai pakaiannya itu


"Mau pergi dengan Bayu. Kenapa? Mau ikut?" tanya Rinjani kepada Ranti.


"yah ngomong kek dari kemaren. Kan bisa kita double date" ujar Ranti sambil memukul kaki Rinjani dengan bantal gulingnya.


Dia sangat harus gerak cepat karena berjanji jam enam dengan Bayu.


"Cepat banget loe. Emang janji jam berapa dengan Bayu?" tanya Ranti saat melihat Rinjani begitu tergesa gesa sekarang.


"Janji jam enam. Har saja udah jam enam kurang seperempat. Gue nggak mau dia nunggu lama di bawah. Segan masih subuh" ujar Rinjani yang dengan cepat kilat memoles wajah cantiknya dengan riasan sederhana. Rinjani hanya bermodalkan serum, cream siang, bedak dan lipstik saja.


Rinjani mematut dirinya di depan cermin besar yang ada di kamar itu. Setelah Rinjani merasa oke, Rinjani meraih dua botol air minum. Rinjani juga sudah memasukkan empat potong roti bakar untuk mengganjal perutnya sebelum dia makan siang.


"Gue jalan dulu ya" ujar Rinjani pamit kepada Ranti.


"Yup. Gue nanti rencananya juga mau keluar dengan doi. Loe hati hati di jalan" ujar Ranti berpesan kepada Rinjani untuk berhati hati di jalan.


"Yupi Loe juga harus hati hati ya. Gue duluan" ujar Rinjani sambil menutup pintu kamar.


Rinjani kemudian berjalan ke lantai satu kos kosan yang terdiri dari dua lantai itu. Rinjani membuka pintu utama kos. Dia tidak mau kalau harus Bayu yang menunggunya. Lebih baik Rinjani yang menunggu karena hal itu mengurangi fitnah yang akan hadir diantara mereka.


Bertepatan dengan Rinjani keluar dari dalam kos. Mobil Bayu juga berhenti di depan pintu pagar kos.


"Hay sayang. Ontime ini" ujar Bayu kepada Rinjani.


"sengaja sayang. supaya kamu tidak menunggu aku. Hari masih subuh, nanti lain kata orang kalau melihat kamu berdiri di sini. makanya aku cepat cepat turun supaya hal itu tidak terjadi" ujar Rinjani menjelaskan kepada Bayi kenapa dirinya cepat turun dari lantai dua kos kosan itu.


"Benar itu sayang, aku juga cemas hal itu tadi. Kalau kamu lama turun tentu banyak ibuk ibu atau bapak bapak balek dari mesjid melihat ke mobil ini. Mereka akan mengira kalau kamu pulang pagi nanti. Untung aja kamu cekatan sayang." ujar Bayu kepada Rinjani.


"itu yang paling aku suka dari kamu sayang. Kamu sangat cekatan berpikir seperti ini" ujar Bayu memuji Rinjani.


"Kamu udah minum belum?" tanya Rinjani kepada Bayu yang sekarang sudah mengemudikan mobil di jalan utama.


"Sudah tadi air putih satu gelas" ujar Bayu menjawab pertanyaan dari Rinjani.


"Kamu?" Bayu balik bertanya kepada Rinjani.


"Belum, tapi aku bawa dua botol air mineral dan empat potong roti bakar. Kamu mau roti bakarnya?" tanya Rinjani kepada Bayu.


"mau mana? kebetulan banget aku laper sayang" ujar Bayu yang emang belum makan apa apa semenjak mereka terkahir makan di tepi laut itu.


Rinjani memberikan kepada Bayu roti bakar yang sempat dibuatnya tadi. Bayu mengambil satu dan memegang sebelah tangan. Bayu tetap fokus mengemudikan mobilnya menuju singkarak tempat wisata yang ingin didatangi oleh Bayu.