
"Gue jalan dulu ya. Loe hati hati pergi nanti dengan Bram" ujar Rinjani kepada Ranti sahabat terbaiknya itu
Ranti terlihat masih sibuk dengan segala jenis makeupnya yang sangat lengkap dibandingkan dengan Rinjani. Kalau Rinjani hanya modal serum, pelembap, bedak tabur dan lipstik saja. Sedangkan Ranti semua produk sesuai dengan urutannya hadir lengkap di wajah cantiknya yang semakin cantik itu. Ranti memang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk berhias karena rentetan produk makeup yang harus di taruh di wajahnya itu.
"Bilang Bram jangan bawa mobil ngebut ngebut" lanjut Rinjani sambil memasang sendal feminim cantiknya yang baru di belinya hari itu dengan Ranti ke mall terbesar di kota Padang. Ntah kenapa pada saat itu Rinjani tergerak sekali hatinya untuk membeli sendal tersebut. Padahal selama ini Rinjani sama sekali tidak tertarik dengan sendal sendal feminim itu. Ternyata Tuhan menunjukkan Rinjani untuk apa membeli sendal itu.
"Oke. loe juga hati hati. Jalan sama mertua masalahnya" ujar Ranti yang mulai usil menggoda Rinjani
"Ngeng" jawab Rinjani, sambil menutup pintu sebelum berjalan dengan setengah berlari menuju lantai satu kontrakan.
Rinjani kemudian langsung berjalan dengan cepat menuruni tangga menuju lantai satu kontrakan mereka itu. Dia tidak mau Mamah mertuanya menunggu lama. Rinjani bisa segan nantinya. Rinjani berjalan dengan sangat cepat.
"Maaf mah, udah lama menunggu" ujar Rinjani saat sudah berada di dalam mobil tepat di sebelah kursi Mamah.
Rinjani melihat ke arah Mamah Bayu. Mamah tersenyum ke arah Rinjani.
"Kamu nggak telat Jani. Mamah juga baru sampe. Benerkan Ryan?" ujar Mamah bertanya kepada Ryan yang sekarang bertugas menjadi driver Mamah menuju asrama kompi C.
"Siap tidak Nona Jani. Ibuk baru saja sampai di sini" jawab Ryan dengan nada formal.
"Ryan kita tidak dalam mode profesional. Saya tidak kunjungan resmi ke sana. Jadi tolong bahasanya jangan formal seperti itu" ujar Mamah meminta Ryan supaya tidak formal menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepada dirinya.
"Siap Ibuk" jawab Ryan yang sama sekali tidak akan pernah membantah apa yang dikatakan oleh Komandan, Ibuk dan juga Bayu.
"Jalan Ryan, kita langsung ke asrama kompi C" ujar Mamah meminta Ryan untuk langsung mangantarkan mereka berdua ke asrama kompi C.
"Mamah sudah ngomong sama Bang Bayu kalau kita mau ke kompi C?" ujar Rinjani saat dalam perjalanan menuju asrama kompi C dimana Bayu menjadi komandannya di sana.
"Belum sayang. Kamu sudah?" tanya Mamah kepada Rinjani
Rinjani menggeleng.
"Berarti sukses itu. Mamah mau melihat bagaimana keseharian mereka. Makanya Mamah tidak ngomong dengan Bayu, tetapi ke Papap, mamah ada ngomong dan meminta Papap untuk tidak memberitahukan kepada siapapun" ujar Mamah berkata kepada Rinjani.
"Keren Mah. Lebih asik ibuk ibuk di sana tidak tahu kalau kita akan datang. Jadi, mereka tidak perlu mempersiapkan segala sesuatunya dengan mengada adakan yang tidak ada" jawab Rinjani yang memang sangat tidak suka penyambutan secara formal. Apa lagi sekarang statusnya belumlah sebagai Nyonya Bayu Anggara. Makanya Rinjani tidak ingin ada penyambutan secara formal. Tetapi kalau untuk menyambut Mamah terserah kepada Ibuk ibuk di kompi C itu saja.
Mobil yang dikemudikan oleh Ryan sudah mau masuk ke asrama kompi C. Mamah yang sekarang tidak memakai mobil dinas, sama sekali tidak di sapa oleh Ibuk Ibuk yang sedang asik mengobrol di Kompi A.
"Yah mereka tidak mengetahui kalau Ibuk komandan lewat, ibuk" ujar Ryan yang menyaksikan bagaimana ibuk ibuk itu masih asik mengobrol di depan salah satu rumah anggota. Mereka semua memang tidak menyadari kalau mobil yang di dalamnya ada ibuk ketua mereka sama sekali tidak mereka acuhkan.
"Biarkan saja Ryan. Saya hanya mau ke kompi C tidak ke kompi yang lainnya. Besok besok ada jadwal saya untuk ke sana Ryan" kata Mamah memberikan tanggapan kepada apa yang dikatakan oleh Ryan kepada Mamah.
"Siap Ibuk" ujar Ryan.
'Syukur syukur mobil yang masuk mobil saudara mereka kalau tidak' ujar Ryan yang saking kesalnya lupa kalau di depan mereka sudah melewati pos jaga yang sudah mengetahui siapa yang masuk ke dalam komplek asrama kesatuan itu.
Mobil yang dikemudikan oleh ryan terus melaju menuju asrama kompi C yang letaknya di belakang asrama kompi A.
"Kamu udah berapa kali ke asrama itu Jani?" tanya Mamah saat mereka sudah akan sampai di asrama kompi C
"Belum pernah Mah. Sama sekali belum pernah. Beberapa kali Bang Bayu mengajak untuk main volly sore sore bersama ibuk ibuk, tetapi Jani segan mah, karena Jani belum syah menjadi nyonya Bayu Anggara" jawab Rinjani sambil tersenyum ke arah Mamah.
"Jadi kamu mau nih ceritanya jadi Nyonya Bayu Anggara?" ujar Mamah sambil tersenyum ke arah Rinjani.
"Ya maulah Mah. Cuma Bang Bayu nya aja yang nggak peka dan nggak pernah lamar aku" ujar Rinjani menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mamah dengan menggebu gebu.
Ryan yang sedang membawa mobil susah untuk tertawa saat mendengar apa yang dikatakan oleh Rinjani kepada Mamah. Ryan berencana menceritakan apa yang didengarnya kepada Bayu, supaya anak komandannya itu bisa menentukan sikap dan melamar Rinjani sebelum Bayu Anggara pergi ke medan perang.
"Loh bukannya hari itu pas serah terima jabatan Papap, kamu sudah dilamar sayang?" ujar Mamah bertanya kepada Rinjani.
Rinjani memang sudah dilamar oleh Bayu saat acara serah terima jabatan antara Papap dengan komandan kesatuan yang lama, tetapi itu di depan semua orang.
"Bener mamah, tetapi kan bukan ke orang tua Jani" ujar Rinjani menjawab pertanyaan dari Mamah.
Mamah sekarang mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Rinjani. Mamah akan membicarakan hal ini dengan Papap saat Mamah sudah sampai di rumah lagi nanti sehabis perjalanannya menghabiskan hari dengan Rinjani di kompi C dan juga di warung yang akan mereka berdua kunjungi.
"Ibuk, kita sudah masuk area kompi C. Ibuk mau saya antarkan kemana? Ke rumah perwira atau ke rumah bintara?" ujar Ryan yang belum mendapatkan gambaran akan mengantarkan Ibuk komandannya itu kemana hari ini.
"Turun setelah pos jaga saja Ryan, biar saya dan Rinjani berjalan masuk ke dalam kompleks asramanya" jawab Mamah
"Gimana Jani? Kamu setuju sayang?" tanya Mamah kepada Rinjani.
Rinjani mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mamah kepada Ryan. Memang lebih asik berjalan ke dalam komplek asrama. Mereka akan langsung bisa melihat apa yang dilakukan oleh ibuk ibuk asrama dan anak anak saat hari libur seperti sekarang ini.
"Setuju Mah, kita bisa langsung menyapa Ibuk Ibuk asrama kalau mereka ada di depan rumahnya"
Rinjani memberikan pendapatnya sekaligus persetujuannya kepada Mamah untuk mereka berdua berjalan saja masuk ke dalam komplek asrama kompi C.
"Lagian kita berdua mau nengok ya Mah, gimana asrinya komplek asrama yang dikatakan oleh orang orang,, asrama hijau itu" lanjut Rinjani yang sangat ingat apa yang dikatakan oleh ibuk ibuk perwira yang rumahnya di dekat rumah Bayu.
"Wow bener kamu Jani. Memang lebih asik jalan kaki kayaknya" jawab Mamah yang super semangat saat mendengar julukan dari asrama kompi C itu.
Ryan yang mendengar percakapan antara Ibuk komandan dan calon menantunya itu hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat. Mamah sudah kembali seperti seusia Rinjani.
"Ibuk sudah dalam mode Nona Rinjani" ujar Ryan dengan pelan yang hanya bisa di dengar oleh dirinya saja.