Its My Dream

Its My Dream
4 Tentara Nongkrong #



"Pap, sebelumnya aku minta maaf ya, tetapi aku harap Papap tidak marah dengan apa yang akan aku tanyakan kali ini" ujar Bayu yang masih mengingat bagaimana reaksi Papap saat Bayu bertanya tentang telpon ajudan tadi saat mereka selesai makan malam bersama.


"Sebelumya Papap cuma mau minta maaf sama kamu Bay atas kesalahan Papap menjawab pertanyaan kamu saat kamu selesai mengantarkan Rinjani tadi ke kos. Saksinya ini Josua dan Ryan" ujar Papap yang pada akhirnya meminta maaf kepada Bayu.


"Papap ini ada ada aja. Mana ada orang tua yang minta maaf kepada anaknya Pap" ujar Bayu yang sangat sangat tidak suka kalau ke dua orang tuanya meminta maaf kepada dirinya. Apalagi sekarang ada Josua dan Ryan, Bayu tidak mau harga diri Papapnya menjadi terhempas hanya karena Papap meminta maaf kepada dirinya.


"Pap, dimana mana anak yang minta maaf kepada orang tua. Bukan sebaliknya. Kalau masalah yang tadi, aku sama sekali tidak marah dengan Papap."


"Ini pasti Mamah yang marah ke Papap karena aku pergi tadi kan?" ujar Bayu.


Bayu sudah merangkai semua jalan peristiwa itu, mulai dari Papap yang mendadak mengajak Bayu pergi ke kafe, kedua permintaan maaf Papap tentang kesalahan Papap menjawab pertanyaan Bayu.


"Mamah memanglah ya. Kadang masih juga menganggap aku anak kecil" ujar Bayu sambil geleng geleng kepala melihat kelakuan Mamah yang memaksa Papap untuk meminta maaf kepada Bayu.


"Emang apa ancaman Mamah ke Papap sehingga Papap harus meminta maaf kepada Bayu di depan Josua dan Ryan?" ujar Bayu yang penasaran apa ancaman yang diberikan oleh Mamah kepada Papap, sehingga Papap melakukan semua ini.


Papap menatap ke arah Bayu.


"Mamah tidak ada memberikan ancaman apa apa kepada Papap. Mamah tadi cuma ngomong, gara gara kamu anak aku jadi merajuk, sana bujuk kembali. Kemudian mamah masuk kamar" jawab Papap mengulang kembali apa yang dikatakan oleh Mamah kepada Bayu.


"Hah, segitu doang udah bikin Papap kebakaran jenggot kayak gini."


"Bestie lemah" ujar Bayu mengejek Papap yang langsung saja melakukan apa yang diinginkan oleh Mamah.


"Bukannya lemah Bay. Tapi karena cinta. Jadi apapun kata Mamah kamu, Papap pasti akan berikan asalkan bukan permintaan yang sangat egois" jawab Papap menerangkan kepada Bayu apa yang menjadi alasan kenapa Papap selalu mengikuti apa yang dikatakan oleh Mamah kepada dirinya.


"Oh jadi karena cinta?" ujar Bayu sambil menatap ke arah Papap.


"Yup. Kamu juga pasti akan melakukan hal itu kepada istri istri kalian besok. Hal yang sama juga pasti akan dilakukan oleh Josua dan Ryan, kalian pasti akan sangat rela melakukan sesuatu untuk orang yang kalian sayangi dan cintai" ujar Papap menjelaskan kepada ketiga anak muda yang belum mempunyai istri itu.


"Bagi kita para laki laki, membahagiakan seorang istri adalah sebuah kewajiban. Tidak hanya dengan memberi mereka uang, tetapi saat membuat hati mereka menjadi bahagia itu adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang suami"


Papap menjelaskan kepada Bayu, Joshua dan Ryan apa kewajiban dari seorang suami kepada istrinya selain dari memberi nafkah saja.


"Pap, aku rasa Papap membawa aku ke sini bukan akan membahas masalah itu deh. Pasti ada masalah lain bukan?" ujar Bayu yang sangat mengerti dengan bagaimana seorang Papap nya ini.


"Yup bener. Papap ke sini mau membahas tentang apa isi pembicaraan Papap tadi dengan ajudan." ujar Papap menjawab pertanyaan dari Bayu.


"Apa Pap?"


Bayu, Josua dan Ryan mendadak menjadi sangat penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh Papap kepada Bayu tetapi boleh di dengar oleh Josua dan Ryan.


"Tadi tu ajudan ngomong bahwasanya besok Papap ada zoom dengan panglima."


Papap memulai cerita yang akan dibagi nya dengan Bayu dan yang lainnya itu.


"Pasti Papap sudah dapat bocoran apa yang akan dirapatkan bukan dengan panglima?"


Bayu tau sekali kalau Papap sangat dekat dengan ajudan itu. Bagi Papap siapapun orangnya Papap akan selalu berteman, sekalipun piket jaga.


Papap akhirnya mengakui kelemahannya kepada Bayu. Papap memang sama sekali tidak bisa mengatakan apa yang harus dikatakan oleh Papap kepada Bayu.


"Pap, apapun itu."


Bayu meyakinkan kepada Papap, apapun yang harus diketahui oleh Bayu. cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya.


"Huft"


Papap menghela nafasnya dengan berat. Hal inilah yang paling ditakuti oleh Papap di saat Bayu tidak bisa dibohongi oleh Papap lagi.


Bayu dengan sabar menunggu Papap yang mau membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu yang memang seharusnya dikatakan oleh Papap kepada dirinya.


Bayu tidak ingin mendesak Papap. Bayu memberikan Papap waktu seluas luasnya untuk berpikir.


"Bay" panggil Papap dengan suara tegasnya.


Papap sudah memutuskan untuk mengatakan hal sebenarnya kepada Bayu. Papap tidak ada niat lagi untuk menyembunyikan permasalahan ini dari Bayu. Lambat laun Bayu akan tetap mengetahuinya juga. Tetapi sebagai anak dari komandan yang akan memberikan perintah, Papap berkeyakinan kalau dia harus memberitahukan terlebih dahulu kepada anaknya itu.


Bayu yang mendengar suara merdu Papap memanggil dirinya langsung saja melihat ke arah Papap.


"Ya Pap" jawab Bayu.


Bayu sekarang memfokuskan dirinya untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Papap sebentar lagi.


"Kemaren saat Papap berusaha bertanya kepada ajudan apa yang akan diperbicangkan oleh Panglima, ajudan cuma menjawab sepertinya tentang pengiriman anggota ke wilayah perbatasan." kata Papap menjelaskan kepada Bayu apa yang dikatakan oleh ajudan saat menghubungi Papap.


"Kapan Pap rencananya?"


Bayu bertanya kapan waktunya bukan karena apa apa tetapi murni karena ingin menghabiskan waktu yang tersisa dengan keluarga dan juga kekasihnya rinjani.


"Waktu pastinya belum ada. Tetapi kata ajudan berkemungkinan sebulan lagi" jawab Papap sambil melihat kepada anak tunggalnya itu. Dimana nama Bayu ada di dalam surat tugas untuk berangkat memimpin pasukannya.


"oh sebulan lagi" ujar Bayu.


Bayu berhitung dengan waktu yang tersisa. Dia hanya punya waktu sangat sebentar untuk bisa menghabiskan waktunya dengan keluarga dan rinjani.


Papap melihat Bayu yang termenung, reaksi inilah yang tadinya ditakuti oleh Papap. Reaksi Bayu termenung memikirkan sisa sisa hari pertemuan antara dirinya dengan keluarga dan juga rinjani.


"Kenapa termenung Bay?" tanya Papap kepada Bayu.


"Mikir hanya tinggal sekian hari lagi untuk aku berkumpul dengan Papap, Mamah dan Jani" ujar Bayu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Papap kepada dirinya.


"Bay, boleh Papap berbicara sesuatu kepada kamu?" tanya Papap kepada Bayu.


"Bolehlah Pap. Papap mau bertanya apa? Sekarang adalah waktu yang bebas bagi kita berdua untuk saling mengobrol Pap" ujar Bayu sambil tersenyum kepada Papap.


Bayu tahu Papap sekarang sedang dalam kondisi bersedih karena harus mengantarkan anaknya ke garis terdepan melawan musuh yang masih dari negara sendiri.