Its My Dream

Its My Dream
116 LANJUT



"Siap untuk jadi tukang teman wanita-wanita yang sedang berbelanja?" kata Papap kepada Bayu yang sekarang sedang berjalan berdampingan.


" siap tidak siap ya harus siap lah Pah. Mau gimana lagi, kita sudah memilih untuk menangani wanita-wanita yang kita sayangi itu pergi berbelanja. Mau tidak mau, suka tidak suka, ya kita harus menemani" jawab bayu sambil menatap lurus ke arah mamah dan kekasihnya yang terlihat sudah masuk ke dalam sebuah toko yang menjual pakaian pakaian untuk wanita.


Papa dan bayu kemudian mengikuti mama dan rinjani yang masuk ke dalam toko tersebut.


" saatnya kita harus bersabar menunggu sampai mereka berdua menemukan apa yang diinginkan oleh mereka masing-masing dan dirasa cocok untuk mereka pakai" kata papa saat melihat mamah dan rinjani sudah masuk ke dalam toko pakaian dengan logo huruf H tersebut.


"Haha haha haha, nikmati aja lagi papa. Sama yang kita lakukan kalau kita nikmati maka hasilnya tidak akan mengecewakan" kata bayu sambil melihat ke arah papa yang sekarang sedang duduk di sofa toko tersebut.


Bayu kemudian mengikuti papa yang sudah duduk terlebih dahulu. Papa dan Bayu kemudian melihat kearah mama dan rinjani yang sekarang sedang terlihat sibuk untuk memilih pakaian, yang akan dipakai oleh Rinjani saat mereka akan menghadiri acara pisah sambut dan serah Terima papa dengan komandan kesatuan yang lama.


"Mamah, apa benar Rinjani boleh ikut acara itu? Kan Rinjani belum resmi menjadi menantu mamah lagi" ujar Rinjani yang kembali ragu untuk ikut dalam acara tersebut.


"Nggak ada masalah jani. Biasa aja. Kamu akan berdiri di sebalah Bayu" jawab mamah yang berusaha meyakinkan kembali Rinjani kalau dia tidak perlu ragu untuk hadir di acara itu.


"Kamu tidak perlu ragu. Oke?" kata Mamah sambil menatap ke arah Rinjani.


Rinjani mengangguk, dia sekarang sudah bertambah yakin untuk hadir di acara tersebut. Rinjani tidak ingin mengecewakan calon mertuanya itu.


"Baiklah mamah. Rinjani sekarang semakin yakin untuk datang di acara tersebut." kata Rinjani sambil melihat ke arah mamah yang sekarang sudah tersenyum bahagia karena Rinjani tidak menolak untuk hadir dalam acara besok.


"Makasi sayang. Mari kita pilih pakaian untuk kamu" ajak Mamah sambil menggenggam tangan Rinjani.


Mamah dan Rinjani tidak seperti calon mertua dan calon menantu. Tetapi sudah seperti menantu dan mertua saja. Mereka berdua terlihat sangat akrab sekali. Rinjani sangat bahagia, karena dia mendapatkan seorang ibu di daerah rantau tempat dia menuntut ilmu.


Sedangkan Mamah juga sangat bahagia dan senang saat melihat Rinjani yang bahagia dan juga senang mendapatkan mamah sebagai ibunya. Mamah seperti mendapatkan seorang anak perempuan. Apalagi Rinjani tidak sungkan lagi dengan mamah.


"Mah, kalau ini gimana?" tanya Rinjani kepada mamah sambil memperlihatkan kepada mamah sebuah midi dress warna hijau toska dengan bunga bunga kecil di ujung gaun itu.


Mamah melihat pilihan Rinjani. Model gaun itu sangat sederhana, tetapi elegan. Apalagi warna yang dipilih Rinjani akan sangat sesuai dengan pakaian dinas Bayu.


Mamah memberikan dua jempolnya kepada Rinjani. Mamah sangat setuju dengan pilihan gaun yang dipilih oleh Rinjani itu.


"Itu gaun yang keren dan bagus sayang. Mamah suka. Apalagi warnanya" ujar Mamah sambil tersenyum dengan pilihan Rinjani.


"Rinjani milih warna ini karena pakaian yang di pakai oleh Bang Bayu warna ini Mah" ujar Rinjani menjawab kenapa dirinya sampai memilih warna itu untuk dipakai di acara besok pagi.


Setelah memutuskan gaun apa yang akan dipakai oleh Rinjani. Mamah dan Rinjani kemudian menuju ke arah tempat duduk Papah dan Bayu.


"Gimana? Apa udah diputuskan?" tanya Papah saat melihat Mamah dan Rinjani sudah berada di depan mereka berdua.


"Udah. Tu udah mamah tarok di kasir" jawab mama sambil tersenyum ke arah papah dan Bayu.


Papa dan Bayu kemudian berjalan menuju kasir. mereka berdua sudah paham kode yang diberikan oleh Mama kepada Papa.


apa kemudian membayar belanjaan yang dibeli oleh Mama. sedangkan Bayu yang tadinya sempat bersedekah sedikit dengan papa berhasil meyakinkan papa kalau dia yang akan membayar belanjaan Rinjani dengan uangnya sendiri.


Rinjani Sebenarnya tadi sedikit malas. dia tadi ingin membayar belanjaannya sendiri. tetapi Mama memaksa kalau yang membayar semua belanjaan mereka adalah para lelaki bukan perawan wanita. makanya dengan berat hati Rinjani membiarkan Bayu membayar belanjaannya kali ini.


Apa agama Dia memberikan paperback kepada Mama. Hal yang sama juga dilakukan oleh Bayu kepada Rinjani. Bayu juga memberikan paper bag yang di dalamnya sudah ada gaun milik Rinjani.


" Makasih sayang" ujar Rinjani kepada Bayu sambil menatap wajah tampan kekasihnya itu.


" sama-sama sayang" jawab ayo kepada Rinjani


Papa dan Mama menatap ke arah sepasang kekasih tersebut, Bapak dan Mama sangat yakin kalau Bayu pasti akan sangat bahagia saat dia bisa memiliki Rinjani secara utuh.


" semoga rencana benar-benar menjadi menantu kita ya Pah" ujar nama kepada Bapak sambil menatap ke arah sepasang kekasih yang sekarang sedang memperebutkan siapa yang akan membawa belanjaan Rinjani.


" Amin mamah. Papa juga sangat berharap kalau Rinjani akan menjadi menantu kita" kata Papa sambil menatap ke arah Rinjani dan Bayu yang sekarang sudah tidak ribut lagi.


Jadi terlihat sudah mengikhlaskan bahwa semua belanjaannya akan dibawa oleh Bayu. Rinjani Mengalah bukan karena dia rela Bayu membawa semua belanjaan miliknya. tetapi semata-mata karena tidak ingin mereka berdua menjadi tontonan para pengunjung butik terkenal tersebut


" akhirnya sayang kalian berdua berhenti ribut juga" kata mami sambil menatap ke arah Bayu dan Rinjani. Mami Ma geleng-gelengkan kepalanya seakan tidak percaya saat melihat keributan kecil yang dilakukan oleh Bayu dan Rinjani yang disebabkan oleh siapa yang akan membawa belanjaan milik Rinjani


" ribet-ribet dikit mah nggak apa-apa juga kan?" kata Bayu bertanya kepada Mamanya itu


" nggak apa-apa tapi lihat-lihat juga lah tempatnya. masak di butik sebegini ramainya kalian bisa bertengkar. malu lah nanti kalau orang melihat ke arah kalian berdua. atau Kalian berdua mau jadi tontonan mereka?" kata mami memberikan sebuah nasehat tetapi dibawa ke dalam konteks yang tidak serius.


Bayu dan Rinjani kemudian saling bertatapan. mereka berdua sekarang sadar kalau mereka sudah salah dalam melakukan sesuatu hal. Mereka akan berjanji untuk tidak ribut di sembarangan tempat lagi. Apalagi tempat seramai ini mau di mana ditaruh harga diri dan wajah Rinjani serta Bayu. Apalagi kalau ada orang-orang yang mengenal mereka, melihat mereka dalam posisi bertengkar seperti ini, maka mereka berdua akan semakin malu. serta tidak tahu lagi apa ya apa yang akan mereka perbuat saat itu.