
"Besok kamu ada kegiatan kemana sayang?" tanya Bayu kepada Rinjani saat mereka sudah memasuki pusat kota Padang. Bayu penasaran apa yang akan dilakukan oleh Rinjani pada saat hari minggu. Dulu sebelum Bayu mendapatkan surat cinta dari komandannya, Rinjani akan melakukan kegiatan rumah tangganya di hari sabtu kalau dia tidak ada mengajar tambahan. Ini karena suatu hal, Rinjani harus mencuci di hari minggu.
"Besok minggu kan ya?" ujar Rinjani bertanya kepada Bayu kalau besok adalah hari minggu, hari untuk menjadi babu sepanjang hari. Apalagi hari ini Rinjani sudah menghabiskan waktu seharian di luar rumah.
"Yup minggu. Kamu mau ngapain seharian besok?" Bayu mengulang kembali pertanyaannya kepada Rinjani.
Rinjani menatap ke arah Bayu. Bayu menaikkan alisnya meminta jawaban dari pertanyaannya kepada Rinjani. Rinjani sudah terbayang apa yang akan dilakukannya besok. Dua ember pakaian yang harus dibersihkan nya. Tiga ember pakaian yang harus diseterika oleh Rinjani. Hari hari yang benar benar melelahkan Rinjani akan terjadi besok.
"Rencana besok mau nyuci pakaian yang sudah seminggu nggak dicuci. Selesai mencuci, masak untuk makan siang, makan malam." ujar Rinjani mengingat ingat apa yang akan dilakukan oleh dirinya besok hari, bertepatan dengan hari minggu yang merupakan hari libur nasional katanya, tetapi ternyata berubah menjadi hari mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga.
"Euis banyaknya. Terus nggak menyetrika pakaian kamu?" tanya Bayu sambil melirik sekilas ke arah Rinjani.
Rinjani tersenyum kepada Bayu. Bayu seperti kehabisan bahan untuk mengobrol dengan Rinjani. Tetapi Rinjani mau mengubah topik pembicaraan juga tidak tahu harus mengubah topik ke arah mana. Akhirnya Rinjani hanya bisa mengikuti alur percakapan yang diajukan oleh Bayu kepada dirinya.
"Denger ya rencana kegiatan aku besok. Jam enam bangun terus melaksanakan kewajiban, jam setengah tujuh ke tempat buk cokro beli pical. Jam tujuh rendam kain plus langsung makan pical. Jam delapan mencuci dua baskom pakaian yang udah di pakai selama seminggu" ujar Rinjani mulai menjelaskan apa yang akan dilakukan oleh dirinya besok hari saat hari minggu.
"Terus jam sepuluh atau sebelas selesai mencuci, lanjut masak untuk menu makan siang dan makan malam. Nah siap masak baru menggosok pakaian yang di cuci minggu kemarennya lagi" lanjut Rinjani menjelaskan kepada Bayu apa saja yang akan dilakukannya seharian besok.
Pekerjaan yang sangat banyak akan dikerjakan oleh Rinjani esok hari. Bayu yang mendengar hanya bisa geleng geleng kepala saja mendengar semua yang dikatakan oleh Rinjani sebentar ini. Bayu sudah bisa membayangkan bagaimana lelahnya Rinjani pada hari senen. Mana biasanya senen Rinjani selalu mengajar di MAU menggantikan dosennya yang sedang sibuk menyelesaikan kuliah S3 nya itu.
"Sayang, gimana kalau pakaian kamu, kamu loundry aja. Biar aku yang bayar" ujar Bayu yang bermaksud ingin meringankan beban pekerjaan yang ditanggung oleh Rinjani untuk besok hari.
Rinjani menatap ke arah Bayu. Rinjani paham dengan apa yang dikatakan oleh Bayu kepada dirinya. Tetapi Rinjani adalah Rinjani, apa yang telah di rumuskan oleh dirinya akan tetap dikerjakan oleh dirinya sendiri.
"Mana uangnya?" ujar Rinjani sambil menampungkan tangannya kepada Bayu kekasihnya yang mau membayarkan jasa loundry pakaian Rinjani yang telah seminggu tidak dicuci oleh Rinjani.
Bayu mengambil dompetnya yang ditaruh di dasbord. Bayu mengambil tiga lembar uang seratus ribuan untuk biaya loundry pakaian yang akan dicuci oleh Rinjani.
"Ini" ujar Bayu menaruh uang itu ke atas telapak tangan Rinjani.
"Cukup nggak sih tu segitu?" tanya Bayu yang nggak tau berapa biaya untuk loundry. Bayu sama sekali tidak pernah nge loundry pakaiannya. Bayu mencuci sendiri dan mebyetrika sendiri pakaiannya selama ini.
Rinjani tersenyum melihat uang yang ada di atas tangannya. Tiga lembar uang seratus ribu sekarang ada di dlam genggamannya.
"Cukup ini mah sayang. Lebih malahan. " uajr Rinjani sambil tersenyum penuh arti. Sayangnya senyuman Rinjani tidak terlihat oleh Bayu. Bayu masih sibuk dengan ketidakpercayaan dirinya terhadap pekerjaan Rinjani yang sangat banyak esok hari.
"Besok udah harus sudah ada di loundry ya. Nggak boleh nyuci sendiri" ujar Bayu kepada Rinjani dengan menekankan setiap kata katanya.
"Aku nggak mau kamu capek, terus sakit. Mending kalau aku bisa ngerawat, kalau ndak gimana" ujar Bayu yang sebenarnya itu adalah alasan paling utama Bayu menyuruh Rinjani untuk loundry saja pakaian Rinjani.
"aku janji akan sehat sehat saja" jawab Rinjani sambil melirik ke arah kekasih hatinya itu.
"jani serius. Besok loundry" ujar Bayu kembali mengulang apa yang akan dikatakannya kepada Rinjani.
"Males. Berhubung uangnya udah sama aku, ya terserah aku mau buat apa. Aku nyuci sendiri aja. Terus uangnya aku belikan untuk deterjen yang bisa dipake selama setahun lebih" ujar Rinjani yang memang tida suka memasukkan pakaiannya ke loundry.
Bagi Rinjani bukan masalah uangnya tetapi ntah kenapa Rinjani memang sangat tidak suka mengantarkan pakaian kotornya je loundry. Rinjani lebih suka mencuci pakaiannya itu sendirian tanpa bantuan dari orang lain.
"Yah kok gitu? Tapi mau loundry sayang?" ujar Bayu yang tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh kekasih hatinya itu saat ini.
"Tadikan ngomong minta uang untuk loundry, udah aku kasih. Tapi siap itu ngomong nggak jadi loundry, jadi maunya gimana?" lanjut Bayu bertanya kepada Rinjani.
Rinjani sukses membuat Bayu gagal paham dengan apa yang diinginkan oleh Rinjani. Rinjani tersenyum ke arah Bayu. Bayu menaik naikkan alisnya memberikan kode pertanyaan ada apa kepada Rinjani.
"Jadi gini maksudnya sayang. Aku nggak pernah mau memberikan pakaian aku kepada orang lain untuk dicuci. Berhubung kamu dari tadi maksa aku untuk memberikan pakaian aku ke tukang cuci ya udah aku ambil aja uangnya. Nyuci ya tetap aku" kata Rinjani menjelaskan aturan main yang dibuatnya sendiri kepada Bayu.
"Jadi aku bayar kamu untuk nyuci baju kamu sendiri sayang? Ghitu?" ujar Bayu yang sudah paham dengan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Rinjani kepada dirinya saat ini.
"Sayang sayang. Kamu emang wanita banget" ujar Bayu yang salut dengan apa yang dilakukan oleh Rinjani kepada dirinya. Bisa bisanya Bayu masuk karung Rinjani.
"Haha haha haha. Maaf sayang. Ini uangnya" ujar Rinjani memberikan uang milik Bayu tadi kembali.
"Mana ada dikembalikan. Untuk kamu aja, kenapa harus dipulangkan. Lagian uang itu bisa untuk beli deterjen." jawab Bayu sambil menatap ke arah Rinjani.
Bayu sengaja membalikkan apa yang diucapkan oleh Rinjani tadi kepada dirinya. Rinjani tersenyum kearah Bayu. Dia tidak menyangka kalau Bayu akan membalikkan apa yang diucapkannya tadi kepada Bayu.
"Haha haha haha. Ingat aja apa yang aku katakan tadi" ujar Rinjani sambil tersenyum bahagia kepada Bayu.
Mereka berdua kemudian terdiam. Bayu dan Rinjani sama sama kehabisan bahan untuk mengatakan apa yang akan mereka obrolin lagi. Sehingga jalan satu satunya adalah diam sejenak sambil memikirkan apa yang akan dikatakan selanjutnya.
"Sayang kamu nggak laper?" tanya Rinjani kepada Bayu.
Rinjani memang lapar sekarang ini. Dia sama sekali belum makan selain makan di tempat mereka liburan tadi. Itupun tidak banyak
"Mau makan apa?" tanya Bayu kepada Rinjani.
Sebenarnya Bayu juga lapar, tetapi karena satu dan lain hal membuat Bayu tidak mengatakan kalau dia juga lapar kepada Rinjani.
"Pecal lele khatib aja gimana?" ujar Rinjani mengusulkan tempat makan kepada Bayu.
"LO?" ujar Bayu yang kurang tahu dengan tempat yang dikatakan oleh Rinjani kepada dirinya.
"Nggak kalau dari sini mah sesudah LO" ujar Rinjani memastikan tempat yang akan mereka tuju kepada Bayu.
"Hem aku nggak tau. Kamu arahin aja ya kemana jalannya setelah ini" ujar Bayu yang sudah masuk ke jalan khatib sesuai dengan arah yang ditunjuk oleh Rinjani kepada dirinya.
"terus aja dulu sayang. nanti kalau udah mau sampe, aku akan suruh berhenti" ujar Rinjani sambil melirik ke arah Bayu yang membawa mobil dengan kecepatan sangat pelan sekali.
Bayu kemudian menormalkan kembali laju mobil yang dikemudikan oleh Bayu. Rinjani akan siap memberikan aba aba kalau Bayu sudah harus menepikan mobil yang dikemudikan oleh Bayu.
"Pas lampu merah itu sayang. Noh warungnya" ujar Rinjani menunjuk warung yang berjarak sepuluh meter dari lampu merah tempat Bayu dan Rinjani sedang berdiri.
Bayu kemudian memarkir mobilnya di tepi jalan. Mereka berdua kemudian turun dari dalam mobil. Rinjani memesan dua porsi pical ayam kepada si penjual.
"Wow non Jani, udah lama nggak kesini kesini" ujar penjual yang ternyata kenal dengan Rinjani.
Bayu menatap ke arah Rinjani menuntut penjelasan kenapa pelayan itu kenal dengan Rinjani.
Rinjani menjelaskan kepada Bayu, kenapa dia bisa sampai dikenali dengan akrab oleh penjual pecal lele tersebut. Bayu yang mendengar apa yang diceritakan oleh Rinjani hanya bisa geleng geleng kepala saja mendengar kelakuan anak kos Rinjani yang bisa mendadak lapar jam dua belas malam.
Tak menunggu lama, pesanan Rinjani dan Bayu akhirnya datang juga. Mereka berdua langsung menyantap pecal lele tersebut.
"gimana?" tanya Rinjani kepada Bayu yang terlihat sangat menikmati makan pecal lele tersebut.
"Enak" jawab Bayu sambil mengangkat kedua jempolnya.
Pecal lele yang sedang mereka makan benar benar enak. Makanya menjadi langganan anak kos kosan tempat Rinjani tinggal.
Setelah menikmati pecal lele tersebut. Rinjani dan Bayu kemudian pulang. Bayu mengantarkan Rinjani hanya sampai gerbang kos kosan besar itu saja. Setelah itu Bayu langsung menuju rumah asramanya. Dia benar benar lelah hari ini. Tetapi lelah Bayu terbayar dengan senyuman yang diberikan oleh Rinjani kepada dirinya sepanjang hari.
Mereka berdua kemudian tertidur setelah membersihkan diri. Besok adalah hari sibuk bagi Rinjani. Hal yang sama juga terjadi dengan Bayu. Bayu membersihkan pekarangan rumahnya yang begitu banyak tanaman sayur sayuran yang bisa dipetik saat Bayu butuh.