Its My Dream

Its My Dream
Malam H - 29



"Kok Papap dan Bayu bergegas sekali ya Mah, untuk mandi?" ujar Rinjani yang penasaran kenapa Papap dan Bayu bergegas untuk pergi mandi.


"Mereka akan pergi sholat maghrib berjamaah di mesjid kesatuan sayang. Jadi mereka akan makan malam setelah dari mesjid. tetapi kayaknya mereka tertarik dengan makanan pembuka yang kamu buat itu" ujar Mamah mengingatkan Rinjani yang tadi menyempatkan dirinya untuk membuat puding regal kesukaan Bayu.


"Oh ya bener. Pasti gara gara itu Bayu langsung ngebut masuk ke dalam kamar" kata Rinjani yang sudah menemukan apa penyebab Bayu langsung ngacir masuk ke dalma kamar untuk memberishkan badannya terlebih dahulu.


"Kamu memang sangat tahu gimana Bayu sayang" ujar Mamah dengan nada bangganya.


"Oh ya Jani, kalau boleh Mamah tahu, kamu menjalin hubungan dengan Bayu sudah berapa lama?" ujar Mamah yang penasaran dengan hubungan yang dijalin oleh Bayu dan Rinjani


"Udah jalan tiga tahunan lah Mah. Emang ada apa ya Mah?" ujar Rinjani yang penasaran dengan pertanyaan yang diajukan oleh Mamah kepada dirinya.


"Nggak ada kenapa kenapa sayang. Cuma penasaran aja, udah berapa lama kamu menjalin hubungan dengan Bayu" kata Mamah sambil melihat ke arah Rinjani.


"Kirain ada apa apa Mah" ujar Rinjani yang merasa Mamah ada tujuan lain saat bertanya sudah berapa lama Rinjani dan Bayu berhubungan.


"Ndak ada kenapa kenapa sayang" jawab Mamah meyakinkan Rinjani kalau Mamah memang tidak ada maksud apa apa saat bertanya hal yang tadi kepada Rinjani.


"Mamah mau nanyak ke Jani, kalau seandainya Bang Bayu harus berangkat ke daerah perbatasan atau daerah konflik apa Jani perbolehkan?" ujar Rinjani menebak apa yang melatar belakangi pertanyaan yang diajukan oleh Mami kepada dirinya.


"Kenapa kamu bisa menebak seperti itu sayang?" tanya Mamah penasaran dengan analisa dari Rinjani yang bisa menebak hal yang tadi dikatakan oleh dirinya.


"Ya karena satu hal Mamah. Bang Bayu sudah pernah mengatakan kalau dirinya mendapatkan tugas untuk berangkat ke daerah perbatasan yang aku juga tahu sedang ada konflik di sana."


"Aku memang pertamanya kaget dan kesal. Tetapi saat aku berdialog dengan salah seorang sahabat baik aku, dia mengatakan kalau kita mencintai seseorang maka kita harus mencintai pekerjaannya sekalian" ujar Rinjani menjelaskan kepada Mamah kenapa dirinya bisa menerima keadaan yang mengharuskan Bayu untuk pergi menuju daerah perbatasan negara.


Mamah kemudian memeluk Rinjani. Mamah sekarang semakin yakin kalau Rinjani memang adalah wanita yang paling tepat untuk menjadi pendamping Bayu. Rinjani yang dipeluk secara mendadak oleh Mamah langsung saja membalas pelukan yang diberikan oleh Mamah kepada dirinya.


"Hay kenapa main peluk pelukan?" ujar Papap yang baru selesai membersihkan badannya dan sudah memakai pakaian untuk ke mesjid.


"Mau tu aja. Rahasia perempuan" kata Mamah menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Papap kepada dirinya.


"Kamu udah mandi Jani?" tanya Papap kepada calon menantunya itu.


"Belum Pap. Siap ini Jani akan mandi" kata Jani yang memang belum sempat membersihkan badannya karena dari tadi sibuk memasak di dapur.


"Sana mandi. Kalau kamu nggak bawa pakaian ganti. Pilih aja di almari Mamah" ujar Papap memberitahukan kemana Rinjani harus mencari pakaian untuk dipakai dirinya.


"Siap Pap" jawab Rinjani.


Bayu yang juga telah selesai bersiap siap untuk pergi ke mesjid terlihat sangat gagah dengan stelan koko putih dan celana hitamnya tak lupa peci putih sudah bertengger di atas kepalanya.


"Wow kamu ganteng banget sayang" ujar Rinjani langsung bersorak saat melihat penampilan Bayu yang baru kali ini dilihat oleh Rinjani.


Papap dan Mamah tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Rinjani kepada Bayu. Rinjani langsung bersorak saja saat melihat penampilan Bayu yang memang baru kali ini dilihat oleh dirinya.


"Kan biasanya keren juga sayang" ujar Mamah mengoreksi perkataan Rinjani.


"Keren kali ini mah. Kalau saat pakai baju dinas mah Bang Bayu pria gagah" jawab Rinjani yang ntah dirasuki setan apa bisa mengatakan hal seperti itu kepada Bayu dihadapan Papap dan Mamah.


"Gitu mah, ada kriteria dan kelasnya" ujar Papap berkata kepada Mamah sambil mengedipkan matanya.


"Hus Papap. Mantu kita mulai malu itu" ujar Mamah sambil mencubit pinggang suaminya tersebut.


"Udah udah, ayuk jalan." kata Papap mengajak Bayu untuk langsung berangkat menuju mesjid yang ada di kesatuan.


"Nggak makan puding dulu Pap?" ujar Mamah yang teringat puding regal yang dibuat oleh Rinjani.


"nanti aja mah. Pulang dari mesjid atau siap makan malam" jawab Papap


Papap memang menggalakkan kegiatan beribadah ke mesjid dan tempat ibadah lainnya kepada semua anggota menurut kepercayaan mereka masing masing.


Kali ini Papap hanya didampingi oleh Ryan, karena Josua keyakinannya berbeda dengan Papap.


"Jo, kamu di panggil Ibuk" ujar Papap menyampaikan pesan dari Mamah kepada Josua


"Siap komandan" jawab Josua.


Papap dan Bayu kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Josua. Mobil yang dikemudikan oleh Ryan bergerak meninggalkan rumah dinas tersebut.


Josua yang melihat mobil telah menghilang di makan jalan, langsung masuk ke dalam rumah dinas.


"Selamat sore Ibuk. Tadi Bapak ngomong kalau Ibuk mencari saya" ujar Josua dengan santai.


"Bener Jo. Berapa orang piket sekarang Jo?" tanya Mamah.


Rinjani sudah masuk ke dalam kamar Bayu untuk membersihkan badannya. Mamah sudah memberikan kepada Rinjani gaun sepanjang lutut yang berwarna crem.


"Piket ada berempat Buk. Tambah saya dan Ryan berarti ada enam" jawab Josua menerangkan kepada Mamah berapa orang yang ada di rumah dinas sekarang.


"oh oke baiklah. Berarti ada enam ya Jo" ujar Mamah.


Mamah kemudian mengambilkan alat memasak nasi yang sudah terisi nasi full. Kemudian berbagai hidangan yang sama dengan yang akan dimakan oleh Papap dan anggota keluarga yang lain.


"Bawa ke depan ya Jo. Kalau bisa makan malamnya tunggu Ryan pulang dari mesjid ya" ujar Mamah berpesan kepada Josua untuk menunggu Ryan kembali dari mesjid.


"Siap Ibu. Piket yang lainnya juga sedang sholat" jawab Josua.


"Terimakasih banyak ibu" jawab Josua.


Josua kemudian membawa alat penanak nasi tersebut ke meja panjang yang ada di dekat kantor jaga. Josua melihat salah seorang anggota yang piket sudah duduk kembali di pos jaga.


"Bro, ini bekal makan malam. Gue pergi ambil lauk sama sayur ke dalam dulu ya" ujar Josua.


Josua sudah selesai menaruh semua menu makanan di atas meja panjang tersebut. Mereka hanya tinggal menunggu Ryan yang sedang memarkir mobil. Saat Ruan sudah kembali duduk di dekat Josua dan empat orang piket jaga lainnya, mereka kemudian menikmati menu makan malam.


"Kali ini rasanya beda ya?" ujar Ryan berkata kepada Josua saat mereka sudah kembali berdua duduk di teras belakang rumah dinas.


"Sepertinya bukan Ibuk yang masak tapi Nona Rinjani" ujar Josua mencoba menerka nerka kemungkinan yang terjadi.


"Bisa jadi juga" kata Ryan.


Mereka berdua akan berjaga di dalam rumah dinas. Josua dan Ryan memiliki kamar sendiri di dalam rumah dinas itu.


Papap dan Bayu sudah masuk kembali ke dalam rumah dinas tersebut sekembalinya dari mesjid kesatuan. Mamah dan Rinjani juga sudah selesai menata hasil masakan Rinjani di atas meja makan.


"Ayuk duduk. Papap sudah tidak sabaran lagi mau menyicipi masakan dari Jani" ujar Papap yang langsung duduk di kursinya dengan semangat saat melihat menu yang dibuat oleh Rinjani.


"sabar sedikit kenapa Pap" kata Mamah menanggapi perkataan Papap.


"Nggak bisa sabar Mah. Papap udah kelaperan banget" ujar Papap sambil memegang perutnya.


Mamah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya yang terkadang ya gitulah.


Mamah mengambilkan nasi serta lauk yang dipilih oleh Papap. Begitu juga dengan Rinjani. Rinjani mengambilkan makanan untuk Bayu.


Mereka berempat kemudian menyantap menu makanan yang telah disiapkan oleh Rinjani dan Mamah. Menu yang sama dengan yang biasanya di buat oleh Mamah, tetapi Rinjani membuat resep berbeda dengan yang biasa dipakai oleh Mamah.