Its My Dream

Its My Dream
Acara Papap



"Mamah mau tau banget atau mau tau aja?"


Bayu kembali mengulang pilihan yang harus dipilih oleh Mamah, sebelum dirinya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mamah kepada mereka berdua. Bayu sengaja melakukan itu untuk mengerjai mamah yang dari tadi seperti tidak mau menyapa Bayu dan Rinjani.


"Mana ada pake pilihan kayak gitu"


Protes diajukan Mamah kepada Bayu dan Rinjani.


"Kenapa harus memilih? Tinggal jawab aja repot" lanjut mamah yang protes kepada Bayu dan Rinjani yang ntah kenapa mengajukan persyaratan yang nggak jelas tersebut.


"Masak mamah mengajukan pertanyaan anak mengajukan persyaratan, aturan dari mana coba."


Mamah melanjutkan protes nya kepada sepasang kekasih yang saling bergenggaman tangan itu. Dia benar benar bahagia melihat bagaimana romantisnya anak dan menantunya tersebut.


"eee eee eee eee ya nggak masalah lah Mamah. Asal mamahnya nggak merasa keberatan maka semua bisa dilaksanakan dan bisa diajukan" lanjut Bayu yang nggak mau kalah dengan Mamah.


Mereka berdua kembali terlihat berdebat. Beberapa dari tamu undangan dan peserta serah Terima melihat bagaimana perlakuan seorang Ibu yang bisa dilihat seperti sahabat dengan anak laki lakinya.


"Wow sepertinya Ibu baru kita akan melihat kita sebagai sahabat, bukan sebagai bawahan" ujar salah satu ibu persit yang sudah bisa membayangkan bagaimana sikap dan sifat Mamah.


"Ya, kita tidak akan terlihat sebagai bawahan saat bercerita dengan ibuk ketua" kata persit yang lain untuk memperkuat pendapat sahabatnya yang tadi sudah menilai bagaimana sifat mamah.


Tiba tiba......


"Lapor komandan, kita akan melakukan parade. Komandan diminta untuk mempersiapkan diri" ujar salah seorang anggota Bayu memberitahukan kalau mereka sudah siap untuk melakukan parade sedangkan Bayu masih belum bersiap siap.


"Oke sip. Kalian tunggu di tempat. Saya akan ke sana" jawab Bayu sambil melihat ke arah Rinjani kekasihnya itu.


Anggota Bayu berjalan terlebih dahulu meninggalkan Bayu yang akan berpamitan kepada kekasihnya dan juga akan menitipkan Rinjani kepada Mamah karena Bayu tidak bisa menemani Rinjani menyaksikan parade yang sebentar lagi akan dilakukan.


"Sayang, aku persiapan dulu ya" ujar Bayu berpamitan kepada Rinjani.


"Oke sip. Harus keren"


Rinjani mempersilahkan Bayu untuk pergi persiapan dan memberikan suntikan semangat kepada Bayu kekasihnya itu.


Bayu membalas perkataan dari Rinjani sambil tersenyum dan mengangguk memastikan kalau dia akan melakukan seperti yang dipesanlan oleh Rinjani kepada dirinya.


"Mamah jawaban dari pertanyaan mamah akan Bayu jawab sekarang." kata Bayu kepada Mamah sambil menatap ke wajah mamah.


"Bayu tadi meminta kepada Rinjani untuk menyaksikan parade dengan Papap dan mamah, karena Bayu tidak bisa menemani Rinjani" kata Bayu menjelaskan kepada Mamah apa yang dirinya ceritakan bersama dengan Rinjani tadi.


"Oh karena itu kalian terlihat berdebat?" tanya Mamah kepada Bayu.


"Di jawab Jani sama Mah. Aku harus buru buru" ujar Bayu yang langsung menyambar menciun pipi Rinjani di depan Mamah dan yang lainnya.


Jani hanya melongos tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Dia tidak menyangka akan mendapatkan ciuman mendadak dari Bayu di saat banyak orang yang memandang ke arah mereka berdua.


Bayu yang melihat ekspresi terkejut dari Rinjani hanya membalas sambil tersenyum simpul. Dia sudah bisa menebak bagaimana ekspresi Rinjani saat diberikan ciuman mendadak seperti itu.


"Sayang. Kamu cantik sekali. Papap tadi di depan sampai sampai ngomong ke mamah, mamah anak kamu cantik sekali" ujar mamah memberitahukan ke Rinjani apa yang dikatakan oleh Papap saat melihat Rinjani dan Bayu yang sudah duduk di kursi mereka.


"Ye papap lebay" kata Rinjani yang nggak suka dipuji seperti itu.


"Kamu akan melihat kelebayan papap yang lain lain besok nak" lanjut Mamah mengatakan bagaimana papap dalam bersikap kalau sudah mencintai seseorang.


"Haha haha. Jadi, Jani harus terbiasa dengan sikap Papap berarti ya Mamah?" kata Rinjani sambil berkata dan melirik ke arah Papap yang sedang mengobrol dengan beberapa rekan rekan yang lain.


"Yup, kamu harus terbiasa dengan perilaku Papap yang wow tersebut. Papap hampir sama dengan Bayu. Tapi nantilah kita cerita lebih lanjut" kata Mamah yang nggak mungkin menceritakan pada saat ini karena masih ada kegiatan lainnya selama sertijab ini.


Saat Mamah dan Rinjani sedang bercakap cakap terdengar pemberitahuan dari protokoler kalau acara parade akan di mulai.


Papap yang sedang mengobrol dengan rekan rekannya berjalan menuju Mamah dan Rinjani.


"Mamah, Jani ayuk kita ke podium." ujar Papap mengajak Mamah dan Rinjani menuju podium acara.


"Mamah, Jani nggak naik ke podium ya" ujar Rinjani yang terlihat enggan dan malu untuk naik ke atas podium.


"Kenapa Jani?" tanya Papap penasaran kenapa Rinjani menolak untuk ikut naik ke atas podium.


"Ya, karena aku rasa aku bukan siapa siapa Papap. Kenapa aku harus duduk di sana" kata Rinjani sambil menundukkan kepalanya lebih dalam lagi.


"Hay sayang, kamu adalah permata bagi kami. Kamu adalah keluarga kami. Kamu anak kami, jadi kamu layak duduk di sana" ujar Papap sambil meyakinkan Rinjani kalau Rinjani sangat layak untuk duduk di podium tersebut.


"Makasi Papap. Aku kira aku tidak layak untuk duduk di situ, karena aku belum sah menjadi istri Bang Bayu" kata Rinjani menjelaskan kenapa dia bisa berpikiran untuk tidak duduk di podium bersama dengan Papap dana Mamah


"Haha haha haha, sayang sayang, kami ini sudah menganggap kamu sebagai anak kami sayang. Jadi, dimanapun kami berada, kamu juga berada di sana" kata Papap yang nggak mau Rinjani menjadi malu dan merasa kalau Rinjani tidak pantas untuk berada di dekat Papap.


"Jadi????"ujar Rinjani mulai bercanda dengan Papap dan Mamah.


"Jadi, kamu akan duduk di sebelah Mamam" jawab Mamam sambil mencolek hidung Rinjani


"Oke sip. Aku mau melihat kekasih aku itu parade"


Rinjani bersemangat untuk melakukan hal itu. Dia sudah tidak sabar lagi untuk menyaksikan bagaimana penampilan Bayu saat melaksanakan parade tersebut.


"Aku benar benar nggak sabaran lagi sayang melihat kamu parade" ujar Rinjani dalam hatinya.


"Bagaimana Komandan, bisa kita jalan?" kata mantan komandan lama mengajak Papap dan Mamah serta Rinjani untuk menuju podium kehormatan.


"Siap. Oh ya perkenalkan ini menantu kamu, namanya Rinjani" kata Papap memperkenalkan Rinjani kepada komandan lama kesatuan tersebut.


"Rinjani" kata Rinjani dengan sopan sambil menundukkan kepalanya sedikit lebih dalam.


"Panggil jasa Om Hendra dan Tante Yuli" ujar komandan lama memperkenalkan dirinya.


Mereka semua kemudian berjalan menuju mimbar kehormatan untuk menyaksikan parade yang akan ditampilkan oleh masing masing kesatuan.