
"Gue harus bertanya kepada Bayu langsung. Gue nggak bisa membiarkan hal ini. Gue memang harus bertanya kepada Bayu." ujar Rinjani yang sudah membulatkan tekadnya untuk bertanya kepada Bayu.
"Apapun itu gue harus tanyakan. Gue nggak mau nanti kaget saat Bayu mengatakan dia harus berangkat. Gue harus bisa memanfaatkan waktu berdua dengan dirinya, kalau dia memang harus pergi dalam waktu dekat ini" kata Rinjani dengan semangat yang menggebu gebu.
Rinjani kemudian mengambil handuk, dia sudah memutuskan sesuatu. Dia harus eksekusi keputusan itu sekarang, kalau di tunda bisa jadi Rinjani berubah pikiran dan membuat dirinya menjadi rugi sendiri. Rinjani membersihkan dirinya dalam kecepatan tinggi. Dia sama sekali tidak membuang buang waktu untuk menunda melakukan hal yang sudah diputuskan oleh dirinya harus dilakukan oleh Rinjani.
Rinjani berdiri di depan cermin. Dia sudah siap untuk pergi ke suatu tempat. Tetapi sebelumnya Rinjani harus menghubungi seseorang dulu untuk meminta bantuan kepada dirinya supaya maksud dan tujuan Rinjani bisa terlaksana dengan baik.
Rinjani mengambil ponsel miliknya. Dia kemudian mencari seseorang yang akan dihubungi oleh dirinya itu. Rinjani menunggu panggilan itu sampai tersambung dan diangkat oleh seseorang yang ditelpon oleh Rinjani.
"Hallo Jani, ada apa sayang? Kamu dalam keadaan baik baik saja kan?" ujar seseorang yang dihubungi oleh Rinjani untuk meminta tolong supaya apa yang direncanakan oleh Rinjani bisa berjalan dengan mulus.
"Mamah, Jani baik baik saja kok" ujar Rinjani menjawab pertanyaan yang langsung diajukan oleh Mamah saat dirinya mengangkat panggilan telpon dari Rinjani.
Ternyata seseorang yang dihubungi oleh Rinjani adalah Mamah. Seseorang yang memang sudah pas untuk diminta bantuan oleh Rinjani pada saat ini.
"Mamah, apa Rinjani bisa minta bantuan Mamah?" ujar Rinjani dengan nada memohon supaya Mamah tidak menolak keinginan yang diajukan oleh Rinjani.
"Minta bantuan apa sayang? Kalau Mamah bisa pasti Mamah akan bantu Jani" ujar Mamah yang memang pasti akan mengabulkan keinginan Rinjani saat Rinjani meminta tolong kepada dirinya.
"Jani ingin bertemu dengan Bang Bayu sekarang Mah" ujar Rinjani dengan nada pelan.
"Kamu ribut dengan Bayu semalam nak? Apa yang dikatakan oleh Bayu kepada kamu?" ujar Mamah yang menjadi sangat takut kalau Rinjani yang sangat baik itu tiba tiba disakiti oleh Bayu dengan perbuatan atau kata katanya.
"Nggak Mah, hubungan kami baik baik saja. Bang Bayu nggak ada marah atau melakukan apapun kepada Jani semalam" ujar Rinjani yang harus menenangkan Mamah. Bisa bisa Mamah langsung mengamuk ke Bayu kalau Rinjani tidak menjelaskan kepada Mamah apa yang terjadi sebenarnya.
"Terus kenapa pagi pagi begini kamu sudah mencari Bayu sayang? Kamu mendadak kangen sama Bayu?" ujar Mamah melanjutkan pertanyaannya kepada Rinjani.
"Kangen iya Mamah. Tetapi ada yang harus Jani bicarakan dengan Bang Bayu" ujar Rinjani mengatakan kepada Mamah apa keperluannya untuk menghubungi Mamah.
"Terus apa yang bisa Mamah bantu sayang?" tanya Mamah selanjutnya.
"Mamah bisa nggak mengirimkan mobil untuk menjemput Jani ke kos. Jani nggak tau dimana kantor Bang Bayu. Jani cuma tau rumah asramanya aja" ujar Rinjani yang sebenarnya segan meminta tolong kepada Mamah calon mertuanya itu. Tetapi Jani nggak ada pilihan lain, dia harus melakukannya. Minta tolong kepada Papap lebih tidak mungkin lagi.
"Mamah aja yang jemput ya. Nggak usah sopir" ujar Mamah yang langsung menawarkan dirinya untuk menjemput Rinjani ke kos.
"Tapi mamah kerja kan ya. Jani nggak mau merepotkan Mamah." kata Rinjani yang menjadi segan karena dia telah merepotkan Mamah.
"Mamah sedang nggak ada kegiatan sayang. Jadi, Mamah bisa menjemput kamu. Tapi ada syaratnya" ujar Mamah mengajukan satu syarat kepada Rinjani
"Apa Mah?" ujar Rinjani yang ingin secepatnya Mamah mengatakan kepada dirinya apa syarat yang diajukan oleh Mamah.
"Kamu harus pulang malam ini ke rumah Mamah. Kita akan masak makan malam lagi berdua" ujar Mamah mengatakan apa syarat yang harus di penuhi oleh Rinjani saat Mamah bersedia menolong Rinjani.
"Apa kamu bersedia sayang?" tanya Mamah sekali lagi kepada Rinjani.
"Apa harus Rinjani jawab Mamah?" ujar Rinjani menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mamah dengan sebuah pertanyaan lagi.
"Oke sayang, Mamah meluncur ke sana sekarang" kata Mamah yang setuju untuk langsung menjemput Rinjani.
"Mamah harus hati hati" ujar Rinjani
"Oke sayang. Kamu langsung tunggu di bawah ya" ujar Mamah
"Siap Mamah"
Mamah memutuskan panggilan telponnya dengan Rinjani. Setelah itu Mamah menuju ke ruangan Papap untuk memberitahukan kepada Papap kalau Mamah mau menjemput Rinjani ke kos.
"Bawa Ryan, Mah" ujar Papap yang memang sama sekali tidak mengizinkan Mamah untuk menyetir mobil sendirian
"tapi Pap" ujar Mamah yang komplent dengan permintaan dari Papap.
"Dengan Ryan atau tidak sama sekali" ujar Papap mengakhiri komplen yang akan diajukan oleh Mamah sekali lagi
"Tapi Pap" ujar Mamah yang masih berusaha bernegosiasi.
"Papap telpon Bayu aja ya, supaya Bayu aja yang pergi menjemput Rinjani bagaimana?" tanya Papap memberikan penawaran berikutnya kepada Mamah.
"Nggak" ujar Mamah
"Kalau begitu dengan Ryan" kata Papap mengatakan sekali lagi dengan siapa Mamah harus berangkat menjemput Rinjani ke kos.
Mamah sudah berkali kali mencoba peruntungannya. Tetapi nyatanya, setiap Mamah mencoba setiap kali pula Mamah gagal dalam rencananya itu.
"Ryan, tolong antar Ibuk ke tempat Jani ya" ujar Mamah kepada Ryan yang sedang duduk dengan Josua dan yang lainnya di sofa ruang tunggu.
"Siap Ibuk" ujar Ryan yang sama sekali tidak pernah menolak.
"Ibuk boleh tanya sesuatu?" ujar Josua
"Jawabannya sama Josua. Nggak berhasil" jawab Mamah
"Haha haha. Berarti udah yang ke dua ratus ibuk kena tolak Bapak" ujar Josua
"Ya bisa jadi lebih Jo" jawab Mamah
"Kami jalan dulu Jo. Atau kamu mau ikut juga?" ujar Mamah menawarkan kepada Josua untuk ikut dengan mereka berdua ke kos kosan Rinjani
"Nggak usah Buk. Bapak kelihatannya sebentar lagi ada acara" ujar Josua mengatakan kepada Mamah.
"Lah mobil ibuk pake. Bapak pake apa?" tanya Mamah yang langsung sedikit ragu untuk memakai mobil Papap pergi menjemput Rinjani.
"Pakai mobil Komandan Bayu aja Buk. Kuncinya ada sama Ryan" ujar Josua
"Kamu Ryan kenapa nggak bilang kalau kita akan pergi dengan memakai mobil Bayu" ujar Mamah yang langsung menyemprot Ryan
"Ibuk nggak tanya" ujar Ryan membela dirinya.
Mamah yang diantar oleh Ryan pergi menjemput Rinjani ke kos. Mamah sudah memberitahukan Rinjani kalau Mamah tidak sendirian menuju kos kosan Rinjani melainkan dengan Ryan atas permintaan Papap. Rinjani yang membaca pesan Mamah hanya bisa tersenyum bahagia
"Papap sama Bayu sama sama protektif kalau sudah cinta" ujar Rinjani mengomentari isi pesan chat Mamah yang menceritakan bagaimana perjuangan Mamah untuk bisa mengemudikan mobil sendiri tanpa ada seseorang yang menyupiri.
'Jani. Mamah hampir sampe'
Bunyi pesan chat yang dikirimkan oleh Mamah kepada Rinjani.
'Jani sudah di depan gerbang Mah'
Balas pesan chat yang dikirimkan oleh Rinjani kepada Mamah
Tepat tiga menit setelah pesan chat dikirim oleh Rinjani, mobil yang disupiri oleh Ryan dan mobil yang sangat dikenal oleh Rinjani.
"Jani sini masuk" ujar Mamah kepada Rinjani
Rinjani kemudian masuk ke dalam mobil. Rinjani duduk di sebelah Mamah
"Maaf merepotkan Mamah" ujar Rinjani saat dirinya sudah duduk di sebelah Mamah di bangku belakang mobil.
"Tidak ada yang direpotkan sayang" jawab Mamah sambil tersenyum kepada Rinjani
"Maaf sudah merepotkan Ryan" ujar Rinjani meminta maaf kepada Ryan
"Tidak ada yang perlu dimaafkan Nona" jawab Ryan.
Rinjani dan Mamah bercerita sepanjang jalan tentang rencana mereka untuk pergi ke asrama kompi C pada hari sabtu. Mamah dan Rinjani menyusun kegiatan apa yang akan mereka lakukan di sana. Serta apa saja yang akan mereka bawa ke sana.
Tak terasa Rinjani sudah sampai di sebuah komplek yang semua bangunannya berwarna hijau. Sebuah komplek yang terlihat orang berlalu lalang memakai pakaian warna hijau dan loreng. Ini adalah kali pertama Rinjani menginjakkan kakinya di kantor Bayu.
"Nah sayang, apa kamu akan Mamah temani pula ke ruangan Bayu?" tanya Mamah sambil melihat ke arah Rinjani yang masih belum turun dari dalam mobil
"Kalau Mamah bersedia" ujar Rinjani
"Oke sayang. Mari kita turun." ujar Mamah yang mengabulkan kehendak Rinjani untuk Mamah menemani Rinjani turun ke ruangan Bayu.
"Kamu tunggu di sini Ryan" ujar Mamah memberikan instruksi kepada Ryan
"Siap Ibuk" ujar Ryan
Mamah dan Rinjani turun dari dalam mobil. Beberapa orang tentara yang kenal dengan Mamah langsung memberikan hormat kepada Mamah karena pangkat Mamah lebih tinggi dari pada mereka semua yang berada di kompi C.