
Bayu yang sudah tahu dengan siapa Rinjani pulang, memilih untuk langsung pulang ke rumah dinasnya saja. Bayu tidak mau untuk langsung menemui Rinjani di kos, karena hanya akan sia sia saja. Rinjani dalam kondisi seperti ini tidak akan bisa diajak untuk berbicara baik baik, yang ada permasalahan mereka akan semakin runyam dan membuat Rinjani serta Bayu bisa saja mengambil keputusan yang tidak tepat.
Bayu juga memilih untuk tidak pulang ke rumah dinas Papap, karena di sana ada Mamah yang akan bertanya dimana Rinjani sekarang. Bayu tidak mau dengan Mamah bertanya tentang keberadaan Rinjani akan membuat Bayu semakin tidak tahu harus menjawab apa. Bayu sudah letih dengan semuanya untuk hari ini. Sudah tidak ada lagi space di otaknya untuk memikirkan hal ini lagi. Makanya Bayu lebih memilih untuk menyendiri terlebih dahulu. Bayu butuh ketenangan, kalau tidak maka akan bisa jadi keputusan yang akan membuat dirinya menyesal di ambil oleh Bayu. Bayu tidak mau hal itu terjadi.
Bayu yang sudah sampai di rumah dinas, langsung saja memasukkan mobilnya ke dalam garase. Bayu sudah sangat lama tidak ke rumah itu. Semenjak Papap pindah ke rumah dinas, Bayu sama sekali tidak pernah ke rumah dinasnya sendiri. Bayu kemudian masuk ke dalam rumah dinasnya itu. Setelah itu Bayu membersihkan badannya dan menukar pakaian dinasnya dengan pakaian biasa. Setelah selesai dengan membersihkan dirinya sendiri Bayu kemudian mengambil ponselnya miliknya. Dia harus menghubungi Mamah dan Papap mengabari kalau dia tidak pulang ke rumah Papap karena ada yang harus diambil Bayu di rumahnya sendiri.
Bayu menunggu panggilan telponnya terhubung dengan ponsel milik Mamah. Bayu sebenarnya ingin menghubungi Papap, tetapi nanti Mamah akan banyak tanya kenapa tidak ke ponsel Mamah saja menelpon. Bayu kemudian menceritakan kepada Mamah kenapa dirinya tidak pulang ke rumah Papap.
"Oh baiklah sayang. Bagi Mamah kamu dan Rinjani baik baik saja sudah buat Mamah senang" kata Mamah
"Ok Mah" jawab Bayu
Bayu kemudian menutup panggilan telponnya dengan Mamah. Semakin lama Bayu menghubungi Mamah akan semakin banyak kebohongan yang harus dibuat oleh Bayu dan akan semakin membuat Bayu menjadi banyak berdosa kepada Mamah. Bayu tidak mau menjadi anak durhaka, makanya Bayu memilih untuk cepat saja memutuskan panggilan telepon dirinya dengan Mamah.
Setelah selesai menghubungi Mamah, Bayu kemudian memilih untuk langsung beristirahat. Dia benar benar lelah dengan sikap yang ditampilkan oleh Rinjani sehari ini. Sikap yang benar benar bukan seorang Rinjani. Tetapi Bayu tidak bisa membuat Rinjani mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. Bayu hanya bisa berpikir kalau Rinjani hanya mempermainkan emosi dari Bayu saja. Dalam sekejap Bayu sudah tertidur.
Hal yang sama juga terjadi di kos Rinjani. Rinjani yang katanya akan mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya kepada Ranti, membatalkan niatnya karena Rinjani yang sudah ingin langsung beristirahat. Rinjani benar benar sudah lelah. Permainan emosi membuat dirinya semakin sakit kepala. Sehingga mau tidak mau Rinjani sudah harus beristirahat menenangkan pikirannya. Dalam sekejap Rinjani sudah langsung berpindah ke alam mimpi. Dia langsung tertidur dalam pikirannya yang luar biasa rumit tersebut. Ntah bagaimana Rinjani masih bisa beristirahat dalam pikirannya yang tidak stabil itu. Tetapi itu lah Rinjani. Dia akan tetap berusaha untuk tidur walaupun pikirannya sekarang sedang dalam tidak stabil.
Pagi harinya, Bayu yang sudah bangun pagi pagi sekali sudah siap untuk pergi ke kesatuan. Tetapi sebelum itu dia akan ke kos kosan Rinjani terlebih dahulu. Bayu semalam sudah meminta jadwal Rinjani kepada Ranti. Hari ini Rinjani free sampai jam sepuluh pagi. Jadi, Bayu bisa berbicara dengan Rinjani sampai jam sepuluh pagi.
Bayu kemudian membeli sarapan terlebih dahulu sebelum menuju kos kosan Rinjani. Bayu berharap Rinjani sudah kembali tenang dan bisa mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya selama ini. Setelah selesai membeli sarapan, Bayu kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kos kosan Rinjani. Jalanan di pagi hari lumayan padat, sehingga di beberapa titik terjadi kemacetan, walaupun macet tidak berhenti tetapi tetap membuat Bayu menjadi kesal karena dia butuh cepat sampai di kos kosan Rinjani.
Setelah melalui drama kemacetan di sepanjang jalan, mobil Bayu akhirnya sampai juga di depan kos Rinjani. Bayu dengan gagahnya turun dari dalam mobil. Bayu kemudian masuk ke dalam pekarangan kos kosan Rinjani. Bayu melihat ada seorang anak kos yang hendak keluar dari dalam kos.
"Maaf bisa minta bantuannya sebentar?" ujar Bayu kepada anak kos yang baru kali ini dilihat oleh Bayu.
"Bisa Bang. Ada keperluan apa ya Bang?" jawab anak kos itu sambil melihat ke arah Bayu sekilas saja.
"Bisa tolong panggilkan Rinjani, katakan ada yang mencarinya di bawah" ujar Bayu mengatakan kepada anak kos tersebut apa yang diinginkan oleh dirinya.
"Oh baiklah Bang. Tunggu sebentar" jawab anak kos itu.
Bayu memilih untuk duduk di sebuah kursi yang ada di teras rumah kos Rinjani. Dia akan menunggu Rinjani di sana sambil mengeluarkan ponsel miliknya. Bayu mengabarkan kepada Ivan kalau dirinya tidak bisa tiba seperti biasanya di kesatuan.
Tiba tiba pintu kos terbuka dari dalam. Bayu langsung berdiri berharap kalau yang datang adalah Rinjani. Tetapi ternyata tidak, yang keluar adalah Ranti, sahabat sekaligus teman sekamar Rinjani.
"Mana Rinjani, Ranti?" ujar Bayu bertanya kepada Ranti.
"Maaf Bang. Rinjani katanya ada perkuliahan ke luar. Tapi dia tidak mengatakan kemana." ujar Ranti yang merasa bersalah kepada Bayu karena dia sudah menjemput Rinjani kemaren sesuai dengan apa yang diminta oleh Rinjani.
"Oh baiklah. Terimakasih. Ini ada bekal sarapan. Kamu belum sarapankan, kamu makan aja, sebungkus lagi terserah mau di kasih sama siapa" ujar Bayu sambil menyerahkan sarapan yang rencananya akan dimakan oleh Bayu dengan Rinjani.
"Saya pamit dulu" kata Bayu
Bayu kemudian pergi meninggalkan kos kosan Rinjani. Bayu tahu kalau Rinjani ada di dalam kos kosan itu. Tetapi Bayu tidak ingin memaksa Rinjani untuk turun dan menemui dirinya. Bagi Bayu memaksa seseorang yang tidak ingin bertemu dengan dirinya bukanlah seorang Bayu.
"Baiklah Jani, kalau mau marah silahkan saja. Aku sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi" ujar Bayu sesaat setelah berada di dalam mobil, dan melihat ke arah kamar Rinjani yang berada di lantai dua kos kosan mewah itu.
Bayu kemudian menghidupkan mobilnya. Dia kemudian mengarahkan mobilnya menuju kesatuan. Tetapi sebelum itu, Bayu sudah tidak mengaktifkan ponselnya lagi. Bayu hanya mengaktifkan ponsel yang nomornya terdaftar di kesatuan. Bayu hanya akan fokus dengan pekerjaannya untuk hari ini.
Sedangkan Ranti yang sudah kembali dari menemui Bayu ke teras, langsung saja menaruh sarapan yang diberikan oleh Bayu kepada dirinya ke atas meja dengan sedikit kesal dan marah kepada Rinjani. Rinjani menatap ke arah Ranti yang kesal tersebut.
"Kenapa kesal?"
"Kan loe yang minta untuk menemui Bayu. Bukan gue yang nyuruh. Yang gue suruh adalah anak kos yang tadi menyampaikan kalau ada seseorang yang mau menemui gue" ujar Rinjani yang hati dan pikirannya masih sumpek sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Terserah elo. Sekarang silahkan nikmati sendiri pergulatan pikiran yang loe buat sendiri, Gue nggak peduli" ujar Ranti. Ranti tidak menyangka kalau kalimat itu yang akan dikatakan oleh Rinjani kepada dirinya.
Ranti mengambil handuknya. Dia harus segera pergi dari kamar ini. Ranti tidak mau terbawa bawa tidak mood seperti yang terjadi kepada Rinjani.
"Rinjani benar benar sudah keterlaluan" ujar Ranti saat dirinya sudah berada di dalam kamar mandi.
Ranti kemudian bergegas pergi mandi, setelah itu dia memakai pakaiannya. Ranti sama sekali tidak ada melihat ke arah Rinjani, Ranti benar benar sudah kesal dengan kelakuan Rinjani kali ini.
Rinjani hanya menatap ke arah Ranti sekilas saja. Dia kemudian sibuk dengan ponselnya kembali. Rinjani hari ini memang bebas sampai jam sepuluh. Dia akan mulai kuliah tepat di pukul sepuluh lewat sepuluh. Jadi dia rencananya akan ke kampus pukul setengah sepuluh saja, sekalian untuk sarapan saat sampai di kampus.
"Loe mau ke kampus sekarang?" tanya Rinjani kepada Ranti
"Ya, gue akan pergi ke kampus sekarang" jawab Ranti yang masih kesal dengan sikap yang ditunjukkan oleh Rinjani saat ini.
Ranti serasa tidak kenal dengan Rinjani. Rinjani yang biasanya bisa bersikap dewasa dan tenang, sekarang malah bersikap seperti bocah abg yang labil dan lebih mengedepankan ego. Ini benar benar bukan seorang Rinjani. Musibah bagi Ranti kalau masih tetap di dekat Rinjani.
Ranti yang telah selesai bersiap siap, mengambil tas ransel miliknya. Dia kemudian pergi meninggalkan Rinjani tanpa pamit kepada Rinjani. Rinjani hanya menatap kepergian Ranti yang sama sekali tidak pamit itu.
"Semuanya marah dan kesal ke gue" ujar Rinjani
"Mereka semau nggak mau paham dengan gue" kata Rinjani lagi yang masih mengedepankan keegoisannya sebagai seorang perempuan.
Rinjani yang tinggal sendirian, kemudian mengambil handuknya. Rinjani juga memilih untuk pergi dari kos kosannya ini.
"Bisa semaput gue kalau di sini terus" ujar Rinjani yang juga kesal dengan sikap dari seorang Ranti.
"Kenapa harus gue aja yang paham dengan semua orang. Kenapa orang nggak bisa paham dengan apa yang gue inginkan" kata Rinjani dengan kesalnya.
Rinjani yang telah selesai mandi, kemudian bersiap siap. Dia kali ini membawa lebih banyak pakaian. Rinjani memasukkan pakaian yang sudah diambilnya ke dalam sebuah tas yang lumayan besar. Rinjani sudah memutuskan untuk menghilang sejenak dari kos kosannya itu.
"Gua akan tetap mengajar tetapi tidak kuliah" ujar Rinjani.
Setelah menyiapkan semua barang barangnya. Rinjani kemudian mengunci kamar kos kosannya itu. Dia menatap lama ke kamarnya yang akan ditinggalkan untuk beberapa hari ke depan. Rinjani sudah membayangkan akan tinggal dimana selama menenangkan dirinya itu. Rinjani benar benar akan memutus hubungannya dengan semua orang yang di kenalnya.
Rinjani kemudian meninggalkan kos kosannya. Dia sudah memesan taksi online untuk menuju suatu tempat. Rinjani akan melaksanakan aktifitasnya dari sana, sehingga siapapun tidak akan bisa mengganggu dirinya lagi. Rinjani akan berada di sana sampai dirinya aman dan tenang. Setelah itu baru dia akan kembali menghadapi dunia yang nyata dan penuh dengan lika liku kehidupan itu.