
"Sayang, kita berhenti di dekat air terjun dulu ya. Aku tadi beli nasi kapau dua bungkus." ujar Rinjani mengajak Bayu untuk beristirahat di dekat air terjun sambil menikmati makan nasi kapau dan menyaksikan air terjun yang indah tersebut. Air terjun yang terkenal dengan nama lembah Anai. Air terjun yang aoabila hujan deras airnya akan sampai ke jalan saking besarnya volume air yang tumpah.
"Kok bisa beli nasi kapau dua bungkus kamu?" ujar Bayu yang heran kenapa Rinjani bisa membeli nasi kapau dua bungkus untuk mereka pulang kembali ke kota Padang.
"Pasti kamu udah nyusun rencana untuk pulang hari ini dengan aku ke Padang kan ya? Ngaku aja, jangan malu, makanya kamu sampai bela belain beli nasi dua bungkus dan berencana untuk makan di tepi jalan." ujar Bayu dengan rasa percaya dirinya kepada Rinjani.
"Hah" ujar Rinjani yang kaget mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Bayu kepada dirinya.
"Pake hah pulak. Ngaku ajalah nggak bayar juga" ujar Bayu masih tetap dengan kepercayaan dirinya untuk menggoda Rinjani.
"Makanya dengerin dulu orang ngomong sampai siap, baru di komentari. Ini ndak main komentar aja kayak petasan meletus. Jadinya salah paham kan ya" ujar Rinjani yang heran dengan sikap Bayu yang memang terkadang terlampau percaya diri jadi manusia.
"Percaya diri kamu terlalu besar sayang, makanya kadang jadi nggak paten dia dan mengakibatkan kamu menjadi nggak terlihat keren lagi" ujar Rinjani sengaja mengolok olok Bayu karena rasa percaya diri Bayu yang sungguh di luar batas pikiran seorang Rinjani.
"Kamu kepedean gini cukup di depan aku aja ya sayang. Depan orang lain jangan, malu kita nanti kalau tebakan kamu salah" lanjut Rinjani yang semakin menjadi jadi memberika nasehat kepada Bayu.
Bayu mengangguk anggukkan kepalanya saja. Dia sambil senyam senyum mendengar apa yang dikatakan oleh Rinjani sebentar ini.
"Jangan angguk angguk kayak burung perkutut aja sayang ku, cinta ku, my hero ku" ujar Rinjani sambil menarik narik pipi Bayu dengan gemasnya melihat cara Bayu yang mengangguk anggukkan kepalanya paham dengan apa yang dikatakan oleh Rinjani tadi.
"Haha haha haha. Emang kamu pernah tengok burung perkutut angguk anggukkan kepalanya sayang?" tanya Bayu dengan serius kepada Rinjani yang mengatakan kalau Bayu angguk angguk kayak burung perkutut saja.
"Nggak pernah. Cuma kata orang orang gitu. Kalau angguk angguk kosong, kayak angguk angguk burung perkutut" ujar Rinjani kepada Bayu.
"Jadi kembali ke topik semula. Kenapa kamu bisa beli nasi kapau dua bungkus?" ujar Bayu kembali menanyakan hal yang sama kepada Rinjani.
Rinjani terdiam, dia menatap lama ke arah Bayu yang tadi sudah dengan percaya dirinya ngomong karena Rinjani sudah memiliki rencana untuk pulang ke Padang hari ini juga.
"Jawabannya kalau ditanya kenapa beli nasi kapau dua bungkus, jawabannya adalah karena rencananya mau nginap di kontrakan Aleza dulu. Eee eee eee ternyata Aleza dibawa sama Aris. Ya udah nasi kapau nya untuk kita berdua aja" uajr Rinjani sambil menatap ke arah Bayu yang Rinjani tahu sangat suka dengan nasi kapau.
"Hem oke oke oke. Siapa yang beli tadi?" tanya Bayu sambil melihat ke arah Rinjani sekilas.
"Nggak perlu siapa yang beli. Sekarang yang paling perlu dimana kita akan makan." ujar Rinjani sambil mencari cari tempat makan yang asik untuk menyantap nasi kapau favorit mereka berdua.
"Kamu beli nasi kapau dimana?" tanya Bayu kepada Rinjani.
Bayu berharap Rinjani membeli nasi kapau di tempat biasa mereka makan. Bukan di tempat lain yang belum pernah mereka coba sama sekali. Bayu bukan tipe seseorang yang akan mencoba peruntungan di tempat lain untuk hal makanan. Bayu tidak akan pernah melakukan hal itu.
"Di tempat biasa kita makan lah sayang. Aku juga nggak mau coba tempat lain. Ee ee ee kirabya nanti rasanya berbeda dengan yang biasa kita coba. Aku nggak mau hal itu terjadi" ujar Rinjani yang ternyata juga memiliki kesamaan dalam hal persoalan makanan dengan Bayu.
Bayu memberhentikan mobilnya di saung saung yang ada di tepi jalan raya itu. Ternyata banyak juga pengunjung yang memilih beristirahat di sana dan memakan bekal yang mereka bawa.
"Banyak juga ya sayang, orang makan di sini. Aku kira sedikit tadi" ujar Bayu saat melihat begitu ramai pengunjung memilih untuk makan di saung itu dari pada di restoran atau rumah makan yang ada di sepanjang jalan tersebut.
"Ide kamu benar juga sayang. Sudah ayuk turun, nanti keduluan orang lain pula" ujar Bayu yang langsung turun dari dalam mobil.
Rinjani mengambil nasi kapau yang dibelinya tadi dan juga dua botol air mineral yang selalu ada di dalam mobil Bayu. Setelah mengambil bekal yang akan mereka makan, Rinjani kemudian menyusul Bayu yang sudah duduk dengan nyaman di saung saung tersebut sambil melihat ke bawah air sungai yang alirannya cukup deras da membuat siapa saja akan takut melihat ke bawah.
"Sayang buka kedua bungkusnya atau satu aja dulu?" tanya Rinjani yang ragu mau membuka kedua bungkus nasi kapau itu, atau akan membuka satu bungkus saja terlebih dahulu.
"Satu aja dulu sayang. Aku tadi udah makan sate dengan Aris" ujar Bayu yang takut mubazir lalau membuka ke dua bungkus nasi kaapu tersebut.
Rinjani kemudian membuka satu bungkus nasi kapau dan juga lengkap dengan lauk dan sayuran nya. Rinjani menuang kuah gulai kapau yang terkenal lezat itu ke atas nasi yang menggugah selera tersebut.
"Mari makan" ujar Bayu saat nasi kapau sudah siap untuk disantap.
Bayu kemudian memimpin doa untuk makan. Setelah itu dia dan Rinjani menikmati nasi kapau yang benar benar terasa sangat lezat di tenggorokan itu.
"ini bener bener cetar membahana" ujar Rinjani sambil memberikan jempol untuk kenikmatan nasi kapau yang mereka makan itu.
"Nggak cetar lagi sayang. Ini bener bener enak" kata Bayu sambil memakan kacang panjang yang memang sesuai namanya panjang.
Rinjani merekam Bayu yang makan kacang panjang seperti sedang makan mie rebus itu.
"Sayang, makannya santai aja. Nggak perlu juga kali makan kacang panjang di seruput kayak makan mie rebus" ujar Rinjani mengkomolent cara makan Bayu.
"Alay jatuhnya nanti lagi sayang" lanjut Rinjani sambil memberikan gaya anak alay kepada Bayu.
"haha haha haha sayang sayang. Kalau aku jadi alay, gimana pulalah bentuknya itu sayang. Aku ngondek nggak jelas" ujar Bayu sambil menlentikkan jari jarinya saat mengambil botol air minum.
"Haha haha. Jijik aku nengoknya sayang. Udah ah jangan kayak gitu. Berdiri ini bulu kuduk aku jadinya" ujar Rinjani protes dengan apa yang dilakukan oleh Bayu
"Kamu tadi yang ngomong kalau aku alay. Makanya tangan aku jadi ngelentik kayak gini. Ini namanya meresapi peran sayang" ujar Bayu yang masih belum juga mengembalikan jari jarinya seperti semula.
Rinjani kemudian kembali menormalkan jari jari tangan Bayu kembali seperti semula.
"Aku ogah punya pacar ngondek sayang. Nggak kuat aku" ujar Rinjani sambil menahan tawanya melihat Bayu yang terkenal sebagai lelaki tulen mendadak menjadi ngondek seperti itu.
"aku juga oga sayang. Kamu ada ada aja." ujar Bayu.
Mereka berdua kemudian mengobrol ringan membahas tentang permasalahan berbagai hal yang terjadi dari tadi pagi. Mereka membahas itu supaya hal yang sama tidak terjadi dalam hubungan mereka yang hampir masuk dua tahun tersebut.
Setelah dirasa istirahatnya cukup. Bayu dan Rinjani kembali masuk ke dalam mobil. Mereka akan meneruskan perjalanan menuju kita Padang tempat mereka sehari hari melakukan aktifitas masing masing.