Its My Dream

Its My Dream
Bujukan Papap



"Apa isi telfon ajudan tadi Pap?" tanya Bayu langsung saja ke inti pertanyaan yang ingin ditanyakannya kepada Papap.


"Bayu, sebaiknya besok kamu ketahui, saat kita rapat di kesatuan. Papap tidak mau menjawab hal itu" ujar Papap sambil mengalihkan pandangannya dari Bayu.


Bayu sudah paham apa yang akan disampaikan oleh Papap besok di rapat internal yang suratnya sudah di terima oleh Bayu. Biasanya Papap akan mengatakan hal apapun kepada Bayu tentang telpon dari siapapun, tetapi kali ini tidak, maka Bayu amat sangat yakin kalau hal yang ditelpon oleh ajudan tadi ada hubungannya dengan Bayu.


"Oh baiklah" ujar Bayu yang tidak ingin memperkeruh suasana malam ini di rumah dengan melakukan perdebatan dengan Papap tentang isi telpon dari ajudan pada saat mereka selesai makan malam.


"Bayu, apa kamu mengantar Rinjani sampai sampai Nak?" tanya Mamah yang asal comot pertanyaan saja untuk mencairkan kembali suasana yang sempat tegang karena Papap tidak mau menceritakan kepada Bayu apa isi telpon ajudan tadi.


"Mamah ada ada aja, ya jelas di antar sampai depan kosannya lah Mah. Nggak mungkin juga Bayu turunkan Jani di jalan" jawab Bayu yang mulai sedikit agak gimana dalam pembicaraan keluarga malam ini.


"Bayu istirahat dulu Pah Mah" ujar Bayu yang pada akhirnya memilih untuk menghindar dari percakapan yang tidak sehat itu.


Bayu tidak mau semakin dia lama di sana semakin membuat dia kesal, dan akan semakin menambah dosanya, Bayu tidak mau di cap sebagai anak durhaka. Bayu tidak menginginkan hal itu terjadi. Makanya saat Bayu masih bisa menghindar maka dia akan menghindar.


"Oke, selamat beristirahat sayang" ujar Mamah menjawab perkataan dari Bayu


Sedangkan Papap hanya bisa menyesali jawaban yang diberikan oleh dirinya tadi kepada Bayu. Tidak seharusnya Papap menjawab seperti tadi, padahal Papap tahu kalau waktunya dengan Bayu hanya tinggal hitungan hari saja lagi. Tetapi pada akhirnya Papap membuat kesalahan sendiri. Kesalahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi kalau saja Papap mau berbagi informasi dengan anaknya itu.


"Bawa lemon tea nya Bay" ujar Mamah meminta Bayu untuk membawa lemon tea yang sudah disiapkan oleh Mamah tadi saat Bayu baru datang dengan wajah sumringah dan seperti siap berbagi cerita hari ini dengan keluarganya itu.


Bayu membawa lemon tea dan juga sepotong puding regal yang memang adalah puding kesukaannya. Bayu kemudian berjalan menuju kamarnya yang terletak di bagian tengah rumah dinas itu. Rumah dinas yang sangat luar biasa luasnya. Bayu saja sampai heran ada rumah komandan yang sebegitu luasnya.


"Papap kenapa harus menjawab seperti itu kepada anak kita Pap. Papap tahukan kita hanya punya 28 malam lagi sama dia, itu belum Mamah kurangi dengan piket Papap. Papap benar benar sudah bikin mamah kecewa" ujar Mamah sambil setengah berbicara berteriak kepada Papap


Mamah sengaja tidak terlalu keras berkata kepada Papap. Mamah takut Bayu mendengar keributan antara Papap dan Mamah, Bayu sangat alergi melihat kedua orang tuanya bertengkar apa lagi gara gara dia. Tetapi kalau Bayu membuat ulah dan dengan sengaja membuat Papap dan Mamah marah, maka dia akan bersikap santai saja setelah itu.


"Mah. Papap juga menyesal kenapa menjawab seperti itu" ujar Papap mengatakan rasa penyesalannya karena sudah membuat Bayu menjadi sangat kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Papap tadi.


"Terserahlah Pap, Mamah sudah tidak tahu lagi mau berkomentar apa. Papap sudah membuat satu malam kita hilang dengan anak kita. Mamah tidak mau tahu besok saat sarapan semua sudah harus kembali normal."


"Kalau tidak maka Mamah akan ke kantor sendirian"


Mamah memberikan ancaman kepada suaminya. Mamah sangat tidak ingin keluarganya bertengkar, apalagi waktu kebersamaan dengan Bayu akan semakin berkurang. mereka akan bertemu lagi satu tahun ke depan dengan asumsi Bayu pulang dalam keadaan bernyawa, kalau tidak, maka hanya penyesalan yang ada di hati Papap dan Mamah yang tersisa.


"Siap Mah. Papap akan pastikan kalau besok saat sarapan kita sudah dalam kondisi baik baik saja" jawab Papap menjawab tantangan yang diberikan oleh Mamah kepada dirinya.


"Pegang janji Papap, Mamah tidak mau, hanya karena keegoisan Papap membuat Mamah kehilangan anak mamah. Mamah tidak mau itu terjadi Pap" ujar Mamah kembali mengatakan kekesalannya kepada Papap


"Oke Mah. Maafkan Papap" kata Papap yang menyadari kalau istrinya sedang dalam keadaan sangat marah.


Maka tidak akan bisa diobati dengan berolahraga lagi. Tetapi memang hanya Bayu yang bisa membuat Mamahnya kembali menjadi seperti semula. Tidak dalam keadaan seperti sekarang ini.


"Gimana cara ngomong ke Bayu ya?" ujar Papap melihat ke arah dalam rumahnya itu.


Papap terlihat berpikir keras. Saat itulah ajudan Papap yang bernama Jusua masuk ke dalam rumah untuk mengambil air minum.


Josua langsung berjalan ke arah komandannya itu.


"Kamu kalau sedang kesal sama orang tua kamu, terutama Ayah kamu, apa yang kamu inginkan untuk dilakukan ayah kamu?" ujar Ayah bertanya kepada Josua.


"Maaf sebelumnya komandan, apa Komandan Bayu sedang marah kepada Komandan?" tanya Josua menanyakan kepastian dari alasan pertanyaan yang diajukan oleh Papap kepada dirinya.


"Ya begitulah" jawab Papap dengan santainya


Josua terlihat berpikir, Tetapi Josua ragu apakah idenya ini tepat dan disukai oleh komandan Bayu atau tidak sama sekali.


"Ayolah Josua kenapa harus selama itu banget kamu berpikrinya. Tinggal katakan saja apa salahnya" ujar Papap yang sudah tidak sabaran lagi ingin mendengar jawaban yang diberikan oleh Josua kepada dirinya.


"Kalau saya, saya lebih suka diajak mengobrol santai ke kafe oleh Ayah saya Komandan"


Akhirnya Josua mengatakan apa yang selalu dilakukan oleh dirinya dan Ayah saat mereka sedang memiliki masalah berdua. Mereka memang akan selalu ke kafe untuk saling berbagi cerita.


"Oh oke makasi" kata Papap.


Papap langsung berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah. Papap menuju kamar Bayu. Dia harus mengajak Bayu ke kafe untuk nongkrong dan saling bercakap cakap mengeluarkan semua unek unek yang mengganjal dan membuat mereka ribut dengan ujungnya Mamah yang langsung marah kepada Papap.


Josua yang melihat komandan langsung berdiri dan berjalan menuju kamar Bayu langsug teringat kepada Ayahnya sendiri. Sang Ayang juga akan melakukan hal itu saat tahu kalau Josua sedang merajuk kepada dirinya.


"Ayah semoga Ayah tenang selalu di sana" ujar Josua sambil menatap ke arah langit malam yang penuh dengan bintang tersebut.


Tok tok tok. Papap mengetuk pintu kamar Bayu dengan tiga kali ketukan sesuai dengan ciri ciri yang selalu dilakukan oleh Papap saat Papap mengetuk pintu rumah, kamar atau apapun. Bayu yang sangat mengenal ketukan seperti itu langsung saja membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Pap?" tanya Bayu saat melihat Papap yang berdiri di depan kamarnya saat ini.


"Bisa kita keluar sebentar? Papap pengen membawa kamu ke kafe untuk minum kopi. Kita sudah lama tidak keluar berdua" kata Papap mengatakan keinginannya kepada Bayu.


"apa mamah di ajak?" ujar Bayu


"Tidak, malam ini adalah malam ayah dan anak" jawab Papap sambil tersenyum kepada Bayu.


"Oke, mari berangkat. menjalankan malam ayah dan anak" ujar Bayu yang langsung menutup pintu kamarnya.


Papap dan Bayu kemudian berjalan keluar dari rumah. Josua sudah membukakan pintu mobil untuk komandan dan anaknya itu.


"Kamu dan Ryan ikut dengan kami Jo. Tetapi pakai mobil yang lain" ujar Papap membawa dua orang ajudannya.


"Siap komandan" jawab Josua.


Josua dan Ryan kemudian masuk ke dalam mobil yang berbeda. Mereka melajukan mobil tepat di belakang mobil yang dikemudikan oleh Bayu. Dua mobil hitam dove itu berjalan beriringan menuju sebuah kafe.