
Rinjani melihat Bayu yang sudah duduk di atas kasur. Dia menatap Rinjani dengan tatapan tajam penuh cinta dan memuja Rinjani. Rinjani balas menatap Bayu. Rinjani memberikan senyuman terbaiknya kepada Bayu. Bayu membalas senyuman yang diberikan oleh Rinjani kepada dirinya.
"Hay, kenapa memandang aku seperti itu? Ada apa? Apa ada sesuatu yang aneh? Atau penampilan aku kali ini tidak secantik biasanya?" tanya Rinjani sambil melihat ke dirinya sendiri. Rinjani melihat ke dirinya untuk meyakinkan bahwa di dirinya tidak ada yang aneh.
Rinjani takut kalau dirinya ada yang aneh. Karena Bayu memandang dia dengan pandangan seperti itu.
"Perasaan warna pakaian aku tidak ada yang bentrok. Kok kamu nengoknya gitu banget ya sayang?" tanya Rinjani kepada Bayu. Rinjani benar benar heran dengan Bayu. Ntah apa yang menyebabkan Bayu menatap dirinya seperti itu.
"Nggak ada yang aneh. Cuma aku kurang paham dengan perubahan yang terjadi pada dirimu sayang. Dari yang kata Bang Aris kamu sangat tomboy, sekarang berubah menjadi sangat sangat perempuan sekali. Kenapa? Apa ada sesuatu yang membuat kamu trauma?" tanya Bayu sambil berdiri dari kasur dan menggenggam pundak Rinjani.
Rinjani tersenyum kepada Bayu, sambil memegang tangan Bayu yang memegang pundaknya itu. Rinjani menatap Bayu sekilas.
"Nggak ada sayang. Nggak ada trauma sama sekali. Bukan apa apa ya. Kalau dalam pikiran kamu, aku trauma karena aku pernah di tolak pria karena aku tomboy. Itu salah besar. Sangat salah" ujar Rinjani sambil tersenyum dan menggeleng kepada Bayu.
Rinjani berdiri dan menggenggam tangan Bayu ke dadanya. Rinjani menatap Bayu dengan tatapan cinta yang sangat tulus diberikan oleh Rinjani.
"Kamu adalah cinta pertamaku. Kamu adalah orang pertama yang berhasil membuat aku merasakan apa itu cinta dan apa itu kebahagiaan" ujar Rinjani sambil menatap mata Bayu dengan sangat dalamnya.
"Jadi, apapun itu masa lalu kita berdua, dia akan tetap menjadi masa lalu. Dia akan tetap berada di belakang kita." lanjut Rinjani.
"Jangan pernah membiarkan masa lalu merusak masa depan kita" ujar Rinjani sambil tetap menggenggam tangan kekasih hatinya itu.
Bayu adalah laki laki pertama yang mampu membuat Rinjani merasakan cinta dan kasih sayang seseorang yang berlawanan jenis dengan dirinya. Rinjani sangat senang bisa menjadi kekasih dari seorang Bayu. Kekasih yang akan selalu dibela dan dijaga oleh Bayu.
Bayu tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Rinjani. Bayu membawa Rinjani ke dalam pelukannya. Dia sangat bahagia memiliki kekasih seperti Rinjani. Kekasih yang selalu bisa membuat dia tersenyum dikala kejenuhan melanda Bayu.
"Aku mencintaimu" ujar Bayu sambil memeluk Rinjani. Bayu menaruh kepalanya di atas kepala Rinjani. Bayu sangat mencintai sosok wanita yang ada dalam pelukannya ini. Wanita yang salalu menjadi prioritasnya. Wanita yang akan selalu di jaga oleh Bayu dengan segala kemampuan yang dimiliki oleh Bayu.
"Aku juga mencintaimu" jawab Rinjani sambil tersenyum bahagia dalam pelukan Bayu.
Tok tok tok. Terdengar ketukan pintu dari arah luar.
"Ada aja yang ganggu" ujar Bayu sambil melepaskan pelukannya dari Rinjani.
Rinjani kembali duduk di depan televisi. Dia melanjutkan menonton seorang pria gundul yang berjalan jalan di suatu daerah dan membuat masakan asli daerah teraebut.
Bayu membuka pintu kamar, ternyata yang berdiri di depannya adalah Bagas. Salah satu pelatih yang satu angkatan dengan Bayu.
"Bay, kita di panggil komandan. Katanya ada yang harus dirembukkan untuk kegiatan besok" ujar Bagas memberitahukan kepada Bayu kalau mereka berempat diminta berkumpul oleh komandan di ruangannya.
"Oke bentar ya" ujar Bayu yang kembali masuk ke dalam kamar.
Bagas melihat kalau Rinjani sibuk menonton televisi. Sedangkan kasur Bayu masih tegang seperti tadi pagi habis dibersihkan oleh Bayu sendiri.
"Sayang, aku rapat dengan komandan dulu ya. Kamu mau di sini aja atau ikut dengan aku? Tapi kalau ikut, kamu terpaksa nunggu di mobil sayang" ujar Bayu memberitahukan kepada Rinjani kalau dia mendadak ada rapat.
"Aku belik hotel ajalah sayang. Nggak mungkin aku di sini sendirian" ujar Rinjani yang malas berada di wisma Bayu sendirian. Walaupun kamar Bayu hanya di huni oleh Bayu saja.
"Tapi" ujar Bayu yang cemas melepas Rinjani sendirian ke hotel tempat dia menginap.
"Nggak masalah sayang. Nggak usah pakai tapi tapian. Aku berangkat sendiri aja ya" ujar Rinjani kepada Bayu.
"Aku bisa kok sayang, berangkat sendirian. Tenang aja" ujar Rinjani yang malas berada di wisma tempat Bayu menginap.
"Pake apa ke sana?" tanya Bayu.
"Pake taksi online aja." jawab Rinjani dengan singkat.
"Aku pesan kan ya?" ujar Bayu yang tau Rinjani marah kepada dirinya.
"Aku aja." jawab Rinjani
Bayu terdiam. Dia tau Rinjani kesal dan marah kepada dirinya. Tapi Bayu tidak bisa berbuat apa apa. Dia tidak mungkin melanggar perintah dari komandannya.
"Kamu hati hati ya pulang ke hotel. Aku jalan dulu" ujar Bayu sambil mengusap rambut Rinjani.
"Nanti siap rapat aku ke hotel." lanjut Bayu sebelum menutup pintu kamar wisma.
Rinjani kemudian memesan taksi online untuk dirinya. Dia harus berjalan kaki menuju gerbang utama tempat Bayu latihan kali ini. Perjalanan yang lumayan jauh saat Rinjani harus berjalan kaki. Dia sudah bisa membayangkan betapa jauhnya dia harus berjalan kaki saat ini.
"Huft capek juga" ujar Rinjani saat dia sampai di pintu gerbang komplek tentara itu.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan Rinjani.
"Dengan Nona Rinjani?" tanya sopir taksi online.
"Benar Pak" jawab Rinjani.
Rinjani kemudian masuk ke dalam taksi onlinenya itu. Dia meminta supir taksi untuk mengantarkannya ke hotel tempat dia menginap.
Setelah sampai di hotel. Rinjani mengambil semua barang barangnya. Dia akan melakukan chekout dari hotel itu dan memilih untuk menginap di tempat salah seorang mahasiswinya. Tempat dimana biasanya Rinjani menginap.
Rinjani telah menghubungi mahasiswi tersebut. Rinjani sudah mengkonfirmasi kalau dia akan menginap di sana selama dua malam. Mahasiswi yang juga teman Rinjani itu memperbolehkan Rinjani untuk menginap di kamarnya.
Sopir taksi online mengantarkan Rinjani ke tempat yang ditujunya.
"Nona, kita sudah sampai" ujar sopir taksi online kepada Rinjani yang terlihat termenung di kursi belakang sopir.
"Terimakasih Pak. Ini ongkosnya" ujar Rinjani memberikan selembar uang lima puluh ribu kepada sopir taksi online.
"Ambil aja kembaliannya Pak" ujar Rinjani meminta sopir taksi online mengambil saja kembalian uang ongkos Rinjani.
"Makasi Nona" jawab sopir taksi online.
Rinjani kemudian masuk ke dalam gerbang kos kosan sahabatnya itu. Dia akan menginap di sana.
"Tumben loe malam nyampe Jani? Biasanya sore loe udah nangkring depan kos kosan gue" ujar wanita cantik itu.
"Biasa lah za. Macet" jawab Rinjani yang menjadikan macet sebagai alasan kenapa dirinya bisa terlambat datang sampai di kos kosan Aleza.
"Masuk sini." ujar Aleza mempersilahkan Rinjani untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Loe udah makan malam?" tanya Aleza yang baru saja selesai memasak menu makan malam untuk dirinya.
"Belum. Emang loe masak hari ini?" tanya Rinjani yang memang sudah dalam keadaan lapar. Janji makan malam dengan Bayu dan Aris buyar gara gara mendadak ada panggilan rapat dengan komandan tempat mereka melatih tentara baru itu.
"Masak. Yuk makan. Tapi gue cuma masak cah kangkung dengan telur dadar" ujar Aleza yang memang hanya memasak menu sederhana untuk makan malamnya kali ini.
"Lumayan lah tu dari pada harus makan mie instant lagi" jawab Rinjani yang masih bersyukur Aleza ada memasak makanan walaupun dengan menu sederhana.
Aleza mengeluarkan nasi dan juga sambal yang tadi telah dibuatnya. Rinjani dan Aleza menikmati makan malam mereka berdua. Makan malam dengan menu sederhana yang telah dimasak oleh Aleza tadi sore.
"Kemaren bukannya loe bilang, kalau loe akan nginap di hotel, karena Bayu sedang dinas di sini. Kenapa akhirnya nggak jadi? Loe ribut dengan Bayu?" tanya Aleza sambil menatap ke arah Rinjani yang sedang menikmati makan malamnya itu.
"Gue habisin dulu ya makan malamnya. Nanti gue lanjutin ceritanya" ujar Rinjani sambil mengangkat piringnya yang masih ada isinya seperempat lagi.
Aleza mengangguk setuju, mereka berdua kemudian melanjutkan makan malamnya. Setelah selesai makan malam barulah Rinjani akan menceritakan kepada Aleza kenapa dia bisa berakhir di kontrakan Aleza.
"Nah jadi gini, tadi tu gue sampe sini kan siang. Gue udah ambil kamar di hotel bawah itu, lupa gue namanya. Terus gue udah pergi makan dengan Bayu. Nah, udah janjian makan malam juga kan ya sama Aris" ujar Rinjani memulai cerita kepada Aleza.
"Aris? Siapa Aris?" tanya Aleza yang baru kali mendengar nama Aris di sebut oleh Rinjani.
"Sahabat lama gue. Dia teman baik gue dari bayi. Jadi, baru ketemu lagi tadi siang." jawab Rinjani menjelaskan siapa Aris kepada Aleza.
"Terus, kok bisa gagal makan malamnya dan membuat loe berakhir di kamar gue ini?" lanjut Aleza penasaran dengan Rinjani yang berakhir di kontrakannya hari ini.
"Mereka harus bertemu dengan komandan tempat Bayu ngelatih sekarang" jawab Rinjani dengan nada kesal.
"Terus loe marah dan kabur ke sini?" tebak Aleza dengan sangat tepat.
"Ya. Gue kabur ke sini. Males gue kalau Bayu datang ke hotel." jawab Rinjani yang tiba tiba menjadi tidak bersikap dewasa sama sekali.
Aleza terdiam, dia tidak menyangka kalau Rinjani bisa bersikap menjadi tidak dewasa seperti sekarang ini.
"Boleh gue ngomong sesuatu ke elo?" tanya Aleza sambil melihat ke arah Rinjani.
"Gue tau apa yang mau loe omongin ke gue" ujar Rinjani sambil melihat ke arah Aleza.
"Loe pasti mau ngomong kalau gue hari ini benar benar tidak dewasa dan tidak masuk di akal apapun yang gue lakuin. Benerkan ya?" ujar Rinjani menyebutkan apa yang ada dalam pikirannya tentang apa yang akan dikatakan oleh Aleza.
Aleza mengangguk.
"Yup, itu yang mau gue omongin ke elo. Gue bener bener nggak nyangka loe bisa menjadi seperti anak kecil" ujar Aleza.
"Anak kecil maksud loe?" tanya Rinjani sambil melihat ke arah Aleza.
"Ya anak kecil, ini maaf ya. Bukan maksud gue ngajarin loe atau gimana gimananya" kata Aleza meminta maaf sebelum dia melanjutkan apa yang akan dikatakan oleh dirinya.
"Bayu nggak bisa makan malam sama elo kan karena dia ada kerja, bukan karena dia sengaja untuk membatalkan makan malamnya. Nah, sekarang gue tanya elo. Nanti Bayu datang ke hotel, dan ternyata elonya udah chek out. Apa coba yang akan dilakukan oleh Bayu?" ujar Aleza berusaha membuka pikiran dan perasaan Rinjani.
"Elo mau dia muter muter ne kota untuk cari elo. Kota ini kecil Jani, hotelnya tidak seberapa, sangat gampang bagi Bayu mencari di setiap hotel." lanjut Aleza memberikan nasehat dan gambarannya atas apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Saat Bayu tidak menemukan elo di semua hotel yang ada di sini, loe ke bayang nggak. Kalau dia akan berkeliling kota tengah malam, tanpa ada tujuan pastinya" kata Aleza kembali ingin membuka pikiran dari seorang Rinjani.
Rinjani terdiam, semua omongan dari Aleza ada benarnya juga. Dia memang egois untuk kali ini. Tetapi, apa mau dikata, semua sudah terlanjur. Dia nggak mungkin kembali ke hotel itu lagi.
"Kok loe diam? Nyesel?" tanya Aleza kepada Rinjani.
"Dikit" jawab Rinjani.
"Haha haha haha. Makanya semua ya itu pikirnya pake otak bukan pakai emosi." jawab Aleza sambil geleng geleng kepala.
"Chat aja" jawab Aleza yang ingat dengan alat komunikasi milik Rinjani.
"Oke" ujar Rinjani.
Rinjani kemudian mengetik sebuah pesan chat kepada Bayu.
'Aku nginap rumah teman. Besok harus ngajar pagi. Jadi, aku harus memilih tempat yang paling dekat dengan kampus.' tulis pesan chat yang dikirim oleh Rinjani kepada Bayu.
Setelah mengirim pesan chat yang hanya centang satu itu. Rinjani menon aktifkan ponsel miliknya. Rinjani kemudian mencharger ponselnya yang ternyata batrainya hanya tinggal lima persen.
"Besok loe ngajar dimana? " tanya Aleza sambil berbaring di atas kasur.
"MKU lah. Mana besok ngajar enam sks lagi. Banyak kan" ujar Rinjani kepada Aleza.
"Mayan lah banyak. Biasanya bukannya kamu rangkap ya yang satu kelas terakhir itu?" tanya Aleza sambil melihat langit langit kamar.
"Iya. Besok males. Lagian sekali sekali gue menikmati kampus elo apa salahnya. Besok loe kuliah jam berapa?" tanya Rinjani kepada sahabatnya itu
"Empat jam awal. Tapi siap itu gue ada latihan. Mau nolong senior untuk ngerjain tugas akhirnya. Dia minta tolong gue untuk jadi pemusik utamanya" ujar Aleza yang mengingat apa aja besok kegiatannya seharian.
"Ooo. Sip. Besok siap gue ngajar yang empat sks pertama, gue ke tempat elo. Gue ngajar setelah itu jam ke tujuh sampai delapan" ujar Rinjani.
"Oke sip. Udah malam, tidur lagi yuk. Besok setengah delapan udah harus di kampus" ujar Aleza yang besok akan kuliah dengan dosen yang lumayanlah ya.
"Oke sip. Mari kita istirahat. Gue juga udah ngantuk banget" ujar Rinjani yang setuju dengan Aleza untuk tidur dan beristirahat malam.