Its My Dream

Its My Dream
19



Pagi harinya Rinjani sudah bersiap siap untuk pergi menuju kampus. Hari ini dia ada kuliah sampai jam empat sore. Dosen mendoubleskan pertemuan karena minggu depan dosen itu tidak bisa masuk kelas.


'Sayang, aku kuliah sampai jam empat sore hari ini. Maaf kalau nanti nggak bisa angkat telpon atau balas pesan chat. Dosennya lumayan killer sayang' bunyi pesan chat yang dikirimkan oleh Rinjani saat dia sarapan di kantin kampus dengan Ranti.


'Kamu hati hati menggunakan senjata sayang. Aku nggak mau denger kamu kenapa kenapa' lanjut Rinjani membalas pesan chat berikutnya.


Setelah mengirimkan dua pesan chat ke Bayu, Rinjani kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku saku tas ransel. Rinjani melanjutkan sarapannya.


"Jani, serius tu dosen mau ngajar dari jam delapan sampai pukul empat sore. Gile bener gue hrus belajar pragmatik selama itu. Gue jamin ni rambut gue bakalan kriting kayak indomie belum di rebus" ujar Ranti yang tidak bisa membayangkan dirinya harus belajar pragmatik selama itu, tujuh jam normal.


"Hahahahaha. Mau gimana lagi Dan, terpaksa dijalani aja lagi. Minggu besok kan kita libur" ujar Rinjani kepada Ranti yang mulutnya sudah mancung lima senti itu.


"Libur sih libur, bagi gue biarlah nggak libur minggu besok, asalkan jangan tujuh jam belajar. Berasap kepala gue Jani. Kalau elo ya enak otak encer kayak susu cap enak, nah gue, otak gue beku kayak batu es, nggak sanggup lah mikir pragmatik selama itu" lanjut Ranti yang masih saja kesal sampai sekarang.


"Loe dari semalem kesal apa nggak capek Dan. Gue aja yang denger loe kesal udah capek. Apalagi elo yang kesal." ujar Rinjani yang heran dengan sikap Ranti yang satu ini.


"Nggak, malahan gue seneng bisa ngomong kayak gini. Jadi, otak gue plong" ujar Ranti yang memang bersikap kalau tidak suka dan senang, akan langsung ngomong, sayangnya Ranti ngomong nggak langsung ke orang yang dia tidak suka. Tetapi ngomong ke Rinjani.


Rinjani berdiri dari kursinya saat melihat jarum jam tangannya sudah menunjukkan pukul delapan kurang seperempat, mereka akan kuliah di gedung lantai empat, perjuangan naik lift harus mereka lakukan sekarang.


"Ngomong sama bakwan aja loe ye. Enak aja loe ngomong dan bikin kepala gue sakit. Mending ngomong sekali ini ndak, udah berkali kali, capek denger bro. Ngomong ama bakwan aja ya" ujar Rinjani kepada Ranti.


Rinjani berjalan menuju kasir, dia akan membayar makanan yang dimakan dirinya dan Ranti. Ranti yang melihat Rinjani udah pergi, langsung mengambil ranselnya, dia menyusul Rinjani.


"Gile loe, gue suruh ngomong sama bakwan. Nanti bakwan nya ngejawab omongan gue piye? Ngadi ngadi loe jadi orang" ujar Ranti ngomel ke Rinjani karena dia disuruh Rinjani ngomong sama bakwan.


"Mending masih sama bakwan, kalau sama guguk gimana?" ujar Rinjani menjawab omelan panjang Ranti yang sudah seperti kereta api shinkansen di Jepang, panjang plus cepat.


"Ya nyalak terus lah gue. Pusing amat" ujar Ranti yang masih menjawab perkataan Rinjani.


Rinjani memilih untuk diam saja lagi, Ranti semakin dilawan maka akan semakin panjang rentetan kata kata yang akan keluar dari mulut seksinya itu. Jadi, dari pada Ranti menghabiskan tenaga dan pikirannya untuk ngoceh nggak jelas juntrungannya, lebih baik Rinjani sebagai lawan bicaranya memilih diam.


"Loe kok diam Jani?" tanya Ranti yang tidak mendapatkan respon balasan dari Rinjani setiap dia ngomong tadi.


"Yang waras ngalah" jawab Rinjani sambil langsung lari menghindar dari Ranti.


"Jani" teriak Ranti yang baru sadar apa maksud perkataan dari Rinjani.


"Awas loe ya Jani. Berani beraninya ngomongin gue nggak waras. Ketemu loe gue piting. Sudahlah gue harus kuliah dengan dosen pemarah itu, sekarang malah dikatain Jani nggak waras lagi. Nasib gue apes bener." ujar Ranti mengomel sendirian.


"Ranti" sapa dosen yang tadi di maki maki oleh Ranti melalui omelan omelan nggak jelas ya itu.


"Semenjak Kamu mengatakan saya sebagai dosen pemarah" ujar dosen muda yang baru selesai S3 itu berbicara kepada Ranti.


"Eh maaf Pak. Maksud saya bukan Bapak yang pemarah" ujar Ranti terbata bata berbicara kepada dosen ganteng itu


"oh nggak apa apa Ranti. Saya memang pemarah kok" ujar dosen sambil berlalu dari Ranti.


"Kamu kalau mau masuk dengan kuliah Saya, maka tidak boleh di belakang Saya" ujar dosen muda itu sambil tersenyum kepada Ranti.


Ranti berlari mendahului dosen muda yang bernama Bram itu. Ranti tidak ingin perjuangan bangun paginya, belum lagi perjuangan menaiki jenjang ke lantai empat ini, plus perjuangan omongannya di dengar dosen itu terbuang percuma saja.


"Maaf Pak, Saya sudah sampai." ujar Ranti membalas ucapan dosen tersebut.


Bram yang mendengar apa yang diucapkan oleh Ranti hanya bisa geleng geleng kepala saja. Bram sebenarnya sangat penasaran dengan Ranti. Sosok mahasiswi yang sebenarnya kemampuannya hampir sama dengan Rinjani, tetapi ntah kenapa Ranti sama sekali tidak menunjukkan kepintarannya itu, sehingga dia selalu tenggelam oleh Rinjani. Bram akan menyelidiki semua itu. Bram berencana untuk mengambil Ranti sebagai asistennya.


Bram kemudian masuk ke dalam kelas. Dia berdiri di depan kelas dengan gagahnya. Ranti yang masuk terkahir, terpaksa duduk di kursi paling depan. Sedangkan Rinjani mendapatkan tempat duduk di barisan nomor dua dari belakang.


"Dasar loe" ujar Ranti dengan gerakan mulutnya kepada Rinjani.


Rinjani membalas dengan mengeluarkan lidahnya. Dia sangat senang melihat Ranti duduk paling depan, tepat di mana biasanya dosen senang berdiri. Saat menjelaskan materi perkuliahan.


"Pagi semua, hari ini kita akan kuliah sampai jam empat sore. Karena minggu depan saya tidak bisa menemani kalian. Makanya minggu ini saya padatkan jadwalnya." ujar Bram membuka perkuliahan.


Beberapa mahasiswi yang biasanya tebar pesona kepada setiap dosen dan asisten dosen muda dan ganteng akan selalu duduk paling depan, tetapi saat perkuliahan dengan Bram, mereka akan mencari kursi paling belakang. Mereka sangat cemas dengan gaya perkuliahan Bram yang main tunjuk saja mahasiswi untuk menjelaskan apa yang baru saja dijelaskan oleh Bram.


"Nah sebelum saya memulai perkuliahan hari ini. Saya mengucapkan permintaan maaf kepada kalian semua, kalau selama ini saya sering marah kepada kalian. Sebenarnya itu bukan maksud saya, tetapi karena kekhilafan saya saja. Jadi tolong maafkan saya" ujar Bram sambil menatap ke arah Ranti.


"Kami memaafkan Bapak" teriak salah satu mahasiswi dengan sangat bersemangat.


"yang lain gimana? Ranti, apa kamu tidak akan memaafkan saya?" tanya Bram kepada Ranti yang hanya diam saja dari tadi.


"Memaafkan Pak" ujar Ranti menjawab tanpa melihat wajah ganteng Bram.


Bram tersenyum. Bram kemudian mulai menjelaskan materi perkuliahannya hari ini. Cara dan pola mengajar Bram diubahnya. Dia sama sekali tidak memakai nada tinggi saat ada mahasiswa yang kurang benar menjawab pertanyaan dari Bram. Ranti merasa senang kuliah dengan Bram hari ini. Tak terasa perkuliahan harus berakhir karena harus istirahat dan sholat.


"Baik, untuk pertemuan pagi ini kita cukupkan sampai di sini. Nanti jam dua kita masuk lagi. Masih di ruangan ini" uajr Bram menyebutkan jam berapa pertemuan kedua akan dilaksanakan.


Bram keluar dari ruangan kelas. Rinjani dan Ranti serta mahasiswi juga keluar setelah memastikan Bram sudah turun ke lantai dasar. Mereka semua akan istirahat dan makan siang. Setelah itu baru mereka akan naik kembali ke lantai empat gedung perkuliahan FBSS itu.